Artikel ini bersumber pada : https://www.katolisitas.org/
Hal penumpangan tangan ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan dicatat dalam Kitab Suci sudah ada sejak Perjanjian Lama:
Untuk memberikan berkat: Yakub memberikan berkatnya kepada Efraim dan Manaseh dengan menumpangkan tangannya atas mereka (Kej 48:14). (Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye?jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung.)
Untuk memberikan tugas: Nabi Musa menumpangkan tanggannya atas Yosua agar ia meneruskan kepemimpinannya atas bangsa Israel (Bil 27:18,23). (Lalu TUHAN berfirman kepada Musa: "Ambillah Yosua bin Nun, seorang yang penuh roh, letakkanlah tanganmu atasnya, lalu ia meletakkan tangannya atas Yosua dan memberikan kepadanya perintahnya, seperti yang difirmankan TUHAN dengan perantaraan Musa.)
Sebagai upacara religius memberikan tahbisan: Pentahbisan Harun dan anak-anaknya untuk menerima jabatan imam (Kel 29, Im 8).
Untuk menguduskan kurban: Dalam ritual Musa, sebelum kurban dipersembahkan, imam menumpangkan tangan atas kepala kurban tersebut (Im 8:18). (Kemudian disuruhnya membawa domba jantan korban bakaran, lalu Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala domba jantan itu.)
Penumpangan tangan ini juga dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para Rasul:
Untuk menyembuhkan dan membangkitkan:
Tuhan Yesus menumpangkan tangan untuk menyembuhkan orang-orang sakit (Mat 9:18; Mrk 5:23, 6:5, 8:22-25; Luk 4:40, 13:13), dan membangkitkan anak perempuan Yairus (Mat 9:18).
Para Rasul menyembuhkan dengan menumpangkan tangan (lih. Kis 28:8).
Untuk mencurahkan Roh Kudus dan menyalurkan karunia-karunia Roh Kudus: Para Rasul menumpangkan tangan kepada jemaat, dan mereka menerima Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya (lih. Kis 8:17,19; 19:6).
Untuk mendatangkan rahmat tahbisan: Para Rasul meletakkan tangannya atas murid Kristus yang tertentu untuk mengangkat mereka sebagai pembantu mereka melakukan tugas penggembalaan umat Tuhan (Kis 6:6; 13:3; 1Tim 4:14; 2Tim 1:6).
Sampai sekarang, doa penumpangan tangan dalam Gereja Katolik tetap ada, baik dalam upacara liturgis, maupun non- liturgis.
Doa penumpangan tangan memberikan rahmat sakramen, seperti dalam sakramen Tahbisan (untuk memberikan rahmat tahbisan); dalam sakramen Penguatan/ Krisma (untuk memberikan rahmat sakramen Krisma dan karunia Roh Kudus); dalam sakramen Pengurapan orang sakit (untuk memberikan rahmat penyembuhan rohani dan jasmani). Dalam tahbisan imam, penumpangan tangan dilakukan oleh uskup atas diakon yang oleh tahbisan itu diangkat menjadi imam. Dalam sakramen Krisma, penumpangan tangan dilakukan oleh Uskup, atau imam yang diberi kuasa oleh Uskup, untuk memberikan sakramen Krisma, yang maknanya adalah menyalurkan karunia Roh Kudus, agar yang menerimanya sanggup menjadi saksi-saksi Kristus, dan agar menjadi dewasa secara rohani. Penumpangan tangan dalam penerimaan sakramen Tahbisan dan Krisma ini (seperti halnya rahmat sakramen Baptis), memberikan efek meterai di jiwa.
Penumpangan tangan dalam upacara liturgis untuk memberikan rahmat sakramen ini tidak dilakukan oleh umat awam, melainkan oleh para tertahbis. Penumpangan tangan oleh kaum tertahbis ini menyampaikan rahmat Allah yang mempersatukan, menguduskan dan menyertai Gereja di sepanjang sejarah, dan dengan demikian menghubungkan kita dengan jalur apostolik yang dimiliki oleh Gereja Katolik.
Penumpangan tangan yang dilakukan di luar upacara liturgis, tidak memberikan efek sakramen namun tetap menyampaikan berkat Tuhan:
Para imam dapat menumpangkan tangan untuk mendoakan anak-anak, umat yang sakit ataupun umat yang meminta berkat, dengan menumpangkan tangannya.
Orang tua dapat mendoakan anak-anaknya dengan menumpangkan tangannya, seperti yang dulu dilakukan oleh Yakub bagi anak-anaknya, Efraim dan Manaseh.
Terutama dalam komunitas Karismatik Katolik, doa penumpangan tangan juga dapat dilakukan, misalnya oleh para saudara/i yang bertindak sebagai bapa atau ibu rohani bagi anak-anak rohani mereka dalam komunitas tersebut.
Dasar bahwa sebagai sesama umat beriman kita dapat saling mendoakan (lih. Yak 5:16) dan menyampaikan berkat adalah karena melalui rahmat sakramen Baptis, kita memperoleh peran imamat bersama (lih. KGK 1268). Namun tetap perlu disadari bahwa penumpangan tangan oleh awam tidak sama artinya dan karena itu tidak dapat disamakan dengan penumpangan tangan oleh para tertahbis. Sekalipun tidak sama artinya, tidak berarti bahwa doa dari sesama awam tidak ada artinya, sebab melalui doa-doa tersebut, Allah tetap dapat berkarya dan memberikan berkat-Nya. Sebab Tuhan telah mengikatkan rahmat-Nya pada sakramen-sakramen, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada sakramen-sakramen-Nya (lih. KGK 1257).
Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 12, mengajarkan bahwa tidak hanya melalui sakramen-sakramen Roh Kudus menyucikan Gereja-Nya:
“Selain itu, tidak hanya melalui sakramen- sakramen dan pelayanan Gereja saja, bahwa Roh Kudus menyucikan dan membimbing Umat Allah dan menghiasinya dengan kebajikan- kebajikan, melainkan, Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat istimewa, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, sebab karunia- karunia tersebut sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaannya secara layak/ teratur, termasuk dalam wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).”
Katekismus Gereja Katolik artikel 1257.
Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan Bdk. Yoh 3:5.. Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.. Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini Bdk. Mrk 16:16.. Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh "kelahiran kembali dari air dan Roh". Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.
Katekismus Gereja Katolik artikel 1268.
Orang yang sudah dibaptis menjadi "batu hidup" yang dipergunakan untuk membangun "rumah rohani" dan "imamat kudus" (1 Ptr 2:5). Oleh Pembaptisan mereka mengambil bagian dalam imamat Kristus, dalam perutusan-Nya sebagai nabi dan raja. Mereka adalah "bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya [mereka] memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil [mereka] keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Ptr 2:9). Pembaptisan memberi bagian dalam imamat bersama umat beriman.
Mat 9:18
"Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya."
Mrk 5:23, 6:5, 8:22-25;
dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."
Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia.Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?". Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon." Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.
Luk 4:40, 13:13
Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.
Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.
Kisah Para Rasul 28:8
Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya; ia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuhkan dia.
Kisah Para Rasul 8:17,19; 19:6
Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.
serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus."
Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.
Kis 6:6; 13:3; 1Tim 4:14; 2Tim 1:6
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem.
Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.
Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
"Hidup personil KKI adalah pribadi yang bersemangat"