PROPOSAL
PROJECT BASED LEARNING
"Aksi Pencegahan Stunting"
PROPOSAL
PROJECT BASED LEARNING
"Aksi Pencegahan Stunting"
DISUSUN OLEH:
1. Enggar Oktav Maulana (11)
2. Jesica Aurel Siagian (19)
3. Kafka Harta Hermansyah (20)
4. Rasya Andhina Hidayat (26)
5. Rehan FIrmansyah (29)
6. Revani Esniati (30)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan projek dengan judul “Aksi Pencegahan Stunting” dengan baik.
Projek ini disusun sebagai salah satu bentuk kegiatan pembelajaran di sekolah sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap masalah stunting. Melalui projek ini, kami mempelajari berbagai faktor yang dapat menyebabkan stunting serta pentingnya pola hidup sehat, pemenuhan gizi seimbang, dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak sejak dini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan projek ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar projek ini dapat menjadi lebih baik.
Kami mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing, orang tua, teman-teman, serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung pelaksanaan projek ini. Semoga projek “Aksi Pencegahan Stunting” dapat memberikan manfaat dan menambah kesadaran kita semua akan pentingnya pencegahan stunting sejak dini.
Jakarta, 28 Agustus 2026
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa anak-anak merupakan periode emas (golden age) yang sangat menentukan kualitas pertumbuhan fisik serta perkembangan kognitif anak di masa depan. Pada fase ini, pemenuhan nutrisi gizi seimbang yang mencakup zat gizi makro dan mikro merupakan hal yang sangat krusial. Stunting adalah keadaan di mana pertumbuhan balita terhambat akibat kurangnya asupan nutrisi yang cukup selama masa pertumbuhan awal mereka. Masalah stunting ini dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak ataupun kurangnya kebiasaan orang tua untuk memberikan balitanya asupan protein dan sayuran yang cukup secara rutin.
Di lapangan, para orang tua sering menghadapi kendala perilaku anak yang sulit makan (picky eater), khususnya penolakan terhadap sayuran hijau dan olahan ikan yang kerap dianggap berbau amis atau memiliki tekstur yang kurang disukai anak. Kebanyakan anak-anak lebih menyukai makanan olahan instan komersial seperti nugget, yang sayangnya sering kali tinggi karbohidrat pengisi dan bahan pengawet, namun sangat minim kandungan protein berkualitas tinggi, serat, serta vitamin alami.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Kelompok 6 kelas XI-F2 SMA Negeri 4 Jakarta merancang proyek NUGETIN (Nugget Sehat Cegah Stunting). Produk olahan nugget ini memadukan daging ikan kembung segar yang kaya akan protein hewani, zat besi, serta asam lemak omega-3 (DHA dan EPA) dengan sayur pakcoy (kaya asam folat, kalsium, dan vitamin C) serta tambahan wortel (tinggi beta-karoten/vitamin A dan serat pangan alami). Pakcoy yang digunakan juga didukung oleh pemanfaatan teknik budidaya hidroponik berbasis media air yang praktis dan efisien. Perpaduan nutrisi ini sangat sinergis, di mana kandungan vitamin C pada pakcoy secara aktif meningkatkan efisiensi penyerapan zat besi dari ikan kembung, sekaligus menciptakan cita rasa gurih yang menyamarkan bau amis ikan dan rasa pahit sayuran.
Namun, pemberian solusi gizi tidak akan efektif tanpa adanya media edukasi yang tepat bagi masyarakat. Banyak orang tua membutuhkan panduan visual yang menarik serta bukti nyata bahwa makanan sehat bisa terasa lezat. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan luaran utama berupa Majalah Digital NUGETIN yang dilengkapi dengan rencana Pembagian Sampel Produk NUGETIN. Majalah digital ini berfungsi sebagai media interaktif berisi edukasi stunting, panduan step-by-step cara pembuatan nugget ikan kembung-pakcoy-wortel, serta teknik budidaya hidroponik di rumah. Sementara itu, sampel produk nugget fisik dirancangkan untuk dibagikan bersamaan dengan pembacaan majalah digital guna memberikan pengalaman sensorik langsung (uji organoleptik) kepada responden mengenai cita rasa produk. Melalui kombinasi produk digital dan sampel fisik ini, NUGETIN diharapkan mampu menjadi media edukasi dan inovasi pangan yang efektif dalam mendukung pencegahan stunting.
1.2 Rumusan Masalah
Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada anak?
Bagaimana pentingnya pemenuhan gizi seimbang dalam mencegah stunting?
Bagaimana cara meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya remaja dan orang tua, mengenai pencegahan stunting?
Bagaimana penerapan makanan bergizi dan terjangkau sebagai salah satu upaya pencegahan stunting?
Apa bentuk aksi sederhana yang dapat dilakukan pelajar dalam membantu meningkatkan kesadaran tentang pencegahan stunting?
1.3 Tujuan
Mengetahui pengertian dan penyebab stunting.
Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya asupan gizi yang seimbang.
Mengenalkan makanan bergizi yang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi.
Mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan stunting.
Meningkatkan kepedulian pelajar terhadap masalah stunting di lingkungan sekitar.
Menghasilkan aksi atau produk sederhana yang dapat mendukung upaya pencegahan stunting.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Stunting
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis atau berulang sejak dalam kandungan hingga awal masa kanak-kanak, sehingga tinggi badannya berada di bawah standar usianya. Anak yang mengalami stunting berisiko tidak mencapai potensi tinggi badan serta kognitif yang optimal. Selain berdampak pada kesulitan belajar yang berpotensi menurunkan tingkat pendapatan saat dewasa, stunting juga meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas di kemudian hari dibanding anak berprestasi tinggi badan normal (UNICEF, 2023).
2.2 Penyebab Stunting
Anak mengalami stunting sebagai akibat dari kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor utama, seperti rendahnya asupan gizi ibu selama masa kehamilan, pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kurang optimal, seringnya anak terkena penyakit infeksi berulang, keterbatasan akses ke layanan kesehatan, serta sanitasi lingkungan dan kebersihan air yang buruk.
2.3 Dampak Stunting
Dampak stunting terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak sangat merugikan, terutama pada anak berusia di bawah dua tahun. Anak-anak yang mengalami stunting pada umumnya akan mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif dan motoriknya, yang kelak memengaruhi kapasitas belajar serta produktivitasnya saat dewasa. Selain itu, anak yang mengalami stunting memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita penyakit tidak menular di masa depan, seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung. Secara makro, kondisi ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar dan menjadi beban pembiayaan kesehatan bagi negara (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2018).
2.4 Pencegahan Stunting
Pencegahan stunting dapat dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan, serta pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya setelah usia 6 bulan. Selain itu, pencegahan juga perlu didukung dengan pemantauan pertumbuhan balita di posyandu, peningkatan akses air bersih, serta pemeliharaan kebersihan lingkungan (Sutarto et al., 2018). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018) menekankan tiga pilar utama dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan pola makan, perbaikan pola asuh, serta penyediaan sanitasi dan air bersih.
Hal ini sejalan dengan pendapat Muslihah et al. (2016) bahwa intervensi untuk mencegah kekurangan gizi harus difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode usia 6 hingga 24 bulan merupakan masa yang sangat krusial karena anak berada pada tahap transisi dari ASI ke MPASI. Pada fase ini, anak rentan mengonsumsi makanan dengan jumlah dan kualitas yang kurang baik. Pola pemberian makan yang buruk inilah yang menjadi salah satu penyebab utama terjadinya stunting, yang sering kali disertai dengan penyakit infeksi dan gangguan kesehatan lainnya.
2.5 Gizi Seimbang
Pola makan yang tampak baik belum tentu menjamin terpenuhinya asupan nutrisi yang tepat bagi tubuh. Banyak balita memiliki pola makan yang teratur, tetapi komposisi serta jumlah zat gizinya belum memenuhi standar gizi seimbang (Widyaningsih & Anantanyu, 2018). Padahal, asupan gizi seimbang dari makanan memegang peranan yang sangat penting dalam mendukung proses pertumbuhan anak (Mentari & Agus, 2018), serta menjadi bagian paling krusial dalam mengatasi permasalahan stunting (Kementerian Kesehatan RI, 2018).
Penerapan pola makan gizi seimbang menekankan pada keanekaragaman pangan, baik dari segi jenis maupun jumlah, untuk mencegah timbulnya masalah gizi pada anak. Komponen utama gizi seimbang harus memenuhi ketercukupan kuantitas dan kualitas, mencakup zat gizi makro dan mikro (energi, protein, vitamin, dan mineral), serta mampu memberikan cadangan gizi yang cukup bagi kebutuhan tubuh (Izwardi, 2016). Masih tingginya prevalensi stunting serta terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pola makan gizi seimbang inilah yang menjadi pertimbangan utama mendasar dilakukannya inovasi dan penelitian ini.
2.6 Aksi Pencegahan Stunting
Aksi pencegahan stunting dilakukan melalui pendekatan integratif yang menggabungkan inovasi pangan lokal, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta media edukasi digital. Adapun bentuk aksi yang dirancang meliputi:
Inovasi Pangan Fungsional (NUGETIN): Mengolah nugget dari gabungan ikan kembung (protein hewani & omega-3), pakcoy (kalsium & vitamin C), dan wortel (vitamin A & serat) sebagai solusi makanan bergizi yang disukai anak picky eater. Vitamin C pada pakcoy juga membantu penyerapan zat besi dari ikan kembung secara maksimal.
Media Edukasi Digital (Majalah Digital): Menyediakan majalah digital interaktif yang berisi informasi edukasi stunting (1.000 HPK), panduan resep nugget step-by-step, dan cara tanam hidroponik.
Uji Daya Terima (Organoleptik): Membagikan sampel nugget fisik dan Kode QR majalah digital untuk menguji tingkat kesukaan masyarakat terhadap rasa, aroma, warna, dan tekstur produk.
BAB III
METEDELOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan proses formulasi produk NUGETIN, dengan penyusunan media Majalah Digital, serta gambaran respons dan tanggapan masyarakat terhadap inovasi produk tersebut.