BAB I
PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dikalangan remaja sering dijumpai adanya perilaku yang menyimpang. Menurut BPS & Jurnal Akademis (2022): Angka kenakalan dan perilaku menyimpang remaja tercatat naik menjadi 7,13% dibandingkan tahun sebelumnya. Perilaku menyimpang merupakan hasil dari proses pencarian jati diri yang tidak disosialisasikan dan diarahkan dengan benar. Kelompok yang paling rentan dalam perilaku menyimpang yaitu para remaja. Perilaku menyimpang di kalangan remaja merupakan tantangan yang kompleks dan membutuhkan penanganan yang sistematis. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih maraknya pelanggaran tata tertib sekolah seperti membolos, merokok, perkelahian, konsumsi minuman keras serta keterlambatan dan perilaku menyimpang lainnya yang mengganggu proses pembelajaran dan pembentukan karakter remaja.
Perilaku menyimpang semakin diperburuk dengan adanya era digitalisasi, karena banyak influencer media sosial menormalisasikan perilaku menyimpang seperti seks bebas, judi, mengkonsumsi minuman keras, LGBT, memakai obat-obatan terlarang dan lain-lain. Hal tersebut terkadang dijadikan sebuah tren yang dianggap "keren" oleh kalangan remaja tertentu.
Oleh karena itu, diperlukan strategi pencegahan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk meminimalkan terjadinya perilaku menyimpang pada remaja. Strategi pencegahan tersebut melibatkan peran aktif berbagai pihak, khususnya keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama, sekolah sebagai lembaga formal pembentuk karakter, serta masyarakat sebagai lingkungan sosial tempat remaja berinteraksi. Pendidikan karakter, penguatan nilai-nilai agama dan moral, serta pembinaan disiplin menjadi langkah penting dalam membentengi remaja dari pengaruh negatif lingkungan dan media sosial.
Selain itu, pemanfaatan media digital secara bijak juga perlu ditanamkan kepada remaja melalui literasi digital yang memadai. Remaja harus dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, memahami dampak dari setiap perilaku yang ditampilkan di media sosial, serta memiliki kesadaran untuk tidak meniru perilaku menyimpang yang dinormalisasikan oleh influencer.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Masih sering terjadinya perilaku menyimpang di kalangan remaja, khususnya di lingkungan sekolah.
Kurangnya pengawasan dan pendampingan remaja dalam proses pencarian jati diri.
Kuatnya pengaruh media sosial yang menormalisasikan perilaku menyimpang.
Belum optimalnya pendidikan karakter serta penguatan nilai moral dan agama.
Rendahnya literasi digital remaja dalam menyaring informasi.
C. RUMUSAN MASALAH
Mengapa perilaku menyimpang masih sering terjadi di kalangan remaja, khususnya di lingkungan sekolah?
Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya perilaku menyimpang pada remaja di era digital?
Bagaimana peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mencegah perilaku menyimpang pada remaja?
Bagaimana strategi pencegahan perilaku menyimpang melalui pendidikan karakter, penguatan nilai moral dan agama, serta literasi digital dapat diterapkan secara efektif?
D. TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui penyebab masih sering terjadinya perilaku menyimpang di kalangan remaja, khususnya di lingkungan sekolah.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi munculnya perilaku menyimpang pada remaja di era digital.
Menganalisis peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam upaya pencegahan perilaku menyimpang pada remaja.
Mendeskripsikan strategi pencegahan perilaku menyimpang remaja melalui pendidikan karakter, penguatan nilai moral dan agama, serta literasi digital.
Memberikan gambaran upaya pencegahan yang dapat diterapkan secara efektif dan berkelanjutan dalam membentuk perilaku remaja yang positif.
E. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai perilaku menyimpang remaja serta strategi pencegahannya di era digital.
Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam upaya mencegah perilaku menyimpang remaja melalui pendidikan karakter, penguatan nilai moral dan agama, serta literasi digital.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. REMAJA DAN KARAKTERISTIK PERKEMBANGANNYA
Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Menurut Hurlock, masa remaja adalah periode pencarian identitas diri yang ditandai dengan keinginan untuk diakui, rasa ingin tahu yang tinggi, serta kebutuhan akan kebebasan dalam menentukan sikap dan perilaku. Pada fase ini, remaja mulai membangun nilai dan prinsip hidupnya sendiri.
Perubahan tersebut membuat remaja berada pada kondisi yang cukup rentan terhadap pengaruh lingkungan. Apabila tidak disertai dengan bimbingan yang tepat, remaja dapat mengalami kebingungan dalam menentukan batas antara kebebasan dan perilaku yang sesuai dengan norma sosial (Hurlock, 2004).
B. PENGERTIAN KEBEBASAN DALAM KEHIDUPAN REMAJA
Kebebasan merupakan hak setiap individu untuk bertindak dan mengekspresikan diri sesuai dengan kehendaknya. Namun, kebebasan tidak bersifat mutlak. Menurut Soekanto, kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat harus dibatasi oleh nilai dan norma yang berlaku agar tidak menimbulkan konflik sosial (Soekanto, 2017).
Dalam konteks remaja, kebebasan sering dimaknai sebagai kebebasan bergaul, berpendapat, dan menggunakan media sosial. Apabila kebebasan tersebut tidak diiringi dengan tanggung jawab dan pengendalian diri, maka dapat mendorong remaja melakukan perilaku yang menyimpang dari norma yang berlaku.
C. PERILAKU MENYIMPANG REMAJA
Perilaku menyimpang adalah tindakan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, perilaku menyimpang merupakan perilaku yang dianggap melanggar aturan sosial dan mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat (Soekanto, 2017).
Pada remaja, perilaku menyimpang dapat berupa pelanggaran tata tertib sekolah, pergaulan bebas, penyalahgunaan media digital, tindakan kekerasan, hingga penyalahgunaan zat terlarang. Perilaku ini sering muncul sebagai bentuk ekspresi kebebasan yang tidak terkontrol.
D. FAKTOR PENYEBAB PERILAKU MENYIMPANG REMAJA
Faktor keluarga
Faktor lingkungan pergaulan
Faktor sekolah
Faktor media dan teknologi
Faktor individu
E. STRATEGI PERILAKU MENYIMPANG REMAJA
Penguatan peran keluarga, dengan membangun komunikasi yang terbuka dan memberikan teladan yang baik.
Pembinaan di lingkungan sekolah, melalui penanaman nilai karakter, kedisiplinan, dan kegiatan positif.
Pengawasan dan pendampingan penggunaan media digital, agar remaja tidak terjerumus pada konten negatif.
Pengembangan kegiatan positif, seperti diskusi, kreativitas, dan media edukatif yang dekat dengan dunia remaja.
Peningkatan kesadaran diri remaja, agar mampu membedakan antara kebebasan dan penyimpangan.
F. PODCAST SEBAGAI MEDIA EDUKASI REMAJA
Podcast merupakan media audio digital yang bersifat fleksibel dan mudah diakses. Menurut McHugh, podcast efektif digunakan sebagai media edukasi karena mampu menyampaikan informasi secara santai, personal, dan mudah dipahami oleh pendengar muda (McHugh, 2016).
Bagi remaja, podcast dapat menjadi sarana pembelajaran yang menarik karena sesuai dengan perkembangan teknologi dan gaya komunikasi mereka. Oleh karena itu, podcast dipilih sebagai media dalam proyek ini untuk menyampaikan pesan pencegahan perilaku menyimpang secara lebih dekat dan relevan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. METODE PEMBUATAN PRODUK
Metode pembuatan produk pada kegiatan Project Based Learning (PJBL) ini menggunakan pendekatan partisipatif dan bertahap. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif peserta didik dalam setiap proses pembuatan podcast, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Metode ini dipilih karena podcast tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian informasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan refleksi bagi remaja terkait isu kebebasan dan perilaku penyimpangan.
Pembuatan produk podcast berjudul "Kebebasan Is a Scam? (Kalau Gak Tau Batasannya)" dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu penentuan tema dan tujuan proyek, pengumpulan data mengenai strategi pencegahan perilaku penyimpangan remaja, penyusunan naskah serta pembagian peran, proses perekaman dan penyuntingan audio, serta publikasi podcast. Setelah podcast dipublikasikan, dilakukan evaluasi terhadap isi dan respons pendengar untuk mengetahui efektivitas podcast sebagai media edukasi.
B. DESAIN PRODUK
1. Gambaran Umum Produk
Produk yang dikembangkan dalam proyek ini adalah podcast edukatif berjudul "Kebebasan Is a Scam? (Kalau Gak Tau Batasannya)". Podcast ini dirancang sebagai media audio yang membahas strategi pencegahan perilaku penyimpangan remaja dengan pendekatan diskusi dan penyampaian pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja. Produk ini dapat diakses secara daring sehingga mudah dijangkau oleh pendengar.
2. Prinsip dan Ide Dasar Produk
Podcast ini dibangun berdasarkan prinsip edukatif, relevan, dan reflektif. Isi pembahasan diarahkan untuk membantu remaja memahami bahwa kebebasan memiliki batas dan tanggung jawab. Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang sederhana, tidak menghakimi, dan mendorong pendengar untuk berpikir kritis terhadap pilihan sikap dan perilaku mereka.
Podcast berfungsi sebagai sarana komunikasi yang membuka ruang diskusi dan kesadaran remaja mengenai pentingnya pencegahan perilaku penyimpangan sejak dini.
3. Spesifikasi Produk
Judul Podcast: "Kebebasan Is a Scam? (Kalau Gak Tau Batasannya)"
Bentuk Produk: Konten audio digital (podcast)
Sasaran Pendengar: Murid SMA Negeri 4 Jakarta
Gaya Penyampaian: Diskusi santai dan narasi edukatif
Durasi Rata-rata: 8-15 menit
Media Distribusi: Platform digital dan media sosial
Elemen Pendukung:
a. Naskah pembahasan
b. Tim host dan pengisi suara
c. Musik pembuka dan penutup
d. Deskripsi dan ringkasan materi
4. Alur Penerapan Produk
a. Tahap Awal: Persiapan Konten
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan ide, penentuan fokus pembahasan, serta penyusunan kerangka materi podcast. Tim proyek menentukan alur diskusi dan pesan utama yang ingin disampaikan kepada pendengar.
b. Tahap Pelaksanaan: Produksi Podcast
Podcast direkam sesuai naskah yang telah disusun. Proses ini melibatkan peserta didik sebagai host dan tim produksi. Hasil rekaman kemudian disunting agar suara terdengar jelas dan alur pembahasan runtut.
c. Tahap Lanjutan: Penyebaran dan Tindak Lanjut
Podcast yang telah selesai dipublikasikan melalui media digital. Setelah dipublikasikan, dilakukan pengamatan terhadap respons pendengar sebagai bahan refleksi dan pengembangan konten podcast selanjutnya.
C. TIMELINE
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan pelaksanaan proyek Project Based Learning (PJBL) dengan produk berupa podcast berjudul "Kebebasan Is a Scam? (Kalau Gak Tau Batasannya)", dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang remaja tidak terlepas dari cara remaja memahami dan memanfaatkan kebebasan yang dimilikinya. Pada masa remaja, keinginan untuk bebas sering kali muncul bersamaan dengan pencarian jati diri, sehingga diperlukan pemahaman yang kuat mengenai nilai, norma, dan tanggung jawab sosial agar kebebasan tersebut tidak berkembang menjadi perilaku menyimpang.
Podcast yang dikembangkan dalam proyek ini berperan sebagai media edukasi yang relevan dengan dunia remaja. Melalui penyampaian materi yang komunikatif dan mudah dipahami, podcast mampu memberikan gambaran mengenai bentuk perilaku menyimpang remaja serta strategi pencegahannya. Dengan demikian, podcast ini dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan kesadaran remaja dalam menggunakan kebebasan secara bijak dan bertanggung jawab.
B. SARAN
Podcast "Kebebasan Is a Scam? (Kalau Gak Tau Batasannya)" diharapkan dapat dimanfaatkan oleh remaja sebagai sarana refleksi dalam menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab. Sekolah disarankan mendukung penggunaan media podcast sebagai bagian dari edukasi dan pembinaan karakter. Kedepannya, konten podcast dapat dikembangkan agar lebih variatif dan menjangkau pendengar yang lebih luas.