SEGAR
Solusi Ekstrak Guna Aromatik Ramah Lingkungan
Anggota Kelompok 2:
1.Sultan Yordan Novanda
2.Jessica Suryaningtyas Wahyudi
3.Muhammad Raihan Kurniawan
4.Muhammad Ramadhan
5.Ridho AL Bukhori
6.Fauziah Putri Hasanah
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal yang berjudul “Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk sebagai Bahan Tambahan Aromatik pada Pembuatan Pupuk Organik” dengan baik dan tepat waktu. Proposal ini disusun sebagai salah satu bentuk kegiatan dan pembelajaran mengenai pemanfaatan limbah organik yang ada di lingkungan sekitar. Melalui proposal ini, penulis berharap dapat memberikan informasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik serta pemanfaatan kulit jeruk yang sering dianggap sebagai limbah. Kulit jeruk dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan aromatik dalam pembuatan pupuk organik sehingga limbah tersebut dapat memiliki nilai guna yang lebih bermanfaat.
Dalam proses penyusunan proposal ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat berbagai kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar proposal ini dapat menjadi lebih baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada guru, teman-teman, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan serta bantuan dalam penyusunan proposal ini. Akhir kata, penulis berharap proposal ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca serta menambah wawasan mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan memanfaatkan limbah organik secara bijak. Semoga kegiatan yang direncanakan dalam proposal ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan salah satu hal penting yang harus dijaga oleh seluruh masyarakat. Namun, hingga saat ini permasalahan sampah masih menjadi salah satu masalah yang sering ditemukan di lingkungan sekitar. Sampah yang dihasilkan setiap hari berasal dari berbagai kegiatan manusia, baik dari rumah tangga, sekolah, pasar, maupun tempat lainnya. Salah satu jenis sampah yang cukup banyak dihasilkan adalah sampah organik, seperti sisa makanan, daun, sayuran, kulit buah, dan bahan alami lainnya. Salah satu limbah organik yang sering dibuang begitu saja adalah kulit jeruk. Buah jeruk merupakan buah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena memiliki rasa yang segar serta kandungan vitamin yang bermanfaat bagi tubuh. Setelah bagian buahnya dikonsumsi, kulit jeruk biasanya dianggap sebagai sampah dan langsung dibuang. Padahal, kulit jeruk masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Kulit jeruk memiliki aroma khas yang berasal dari kandungan minyak alami di dalamnya sehingga dapat memberikan aroma segar.
Namun, dalam proses pembuatan pupuk organik, campuran bahan organik dapat menghasilkan aroma yang kurang nyaman, terutama ketika proses penguraian berlangsung. Oleh karena itu, diperlukan inovasi sederhana yang dapat membantu memberikan aroma alami pada bahan pengomposan. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan adalah limbah kulit jeruk. Aroma khas dari kulit jeruk diharapkan dapat menjadi bahan tambahan aromatik yang membuat proses pengolahan sampah organik menjadi lebih nyaman.
Pemanfaatan limbah kulit jeruk dalam pembuatan pupuk organik tidak hanya bertujuan untuk memberikan nilai tambah pada limbah tersebut, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Melalui kegiatan ini, siswa dan masyarakat dapat belajar untuk tidak langsung membuang limbah organik, melainkan mencoba mengolah dan memanfaatkannya kembali. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan suatu kegiatan mengenai pemanfaatan limbah kulit jeruk sebagai bahan tambahan aromatik pada pembuatan pupuk organik. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kreativitas, pengetahuan, dan kesadaran masyarakat. Jeruk merupakan buah yang banyak dikonsumsi dan diolah menjadi jus, makanan, maupun minuman. Dalam pemanfaatannya, bagian kulit umumnya tidak digunakan sehingga menjadi limbah organik. Limbah kulit jeruk yang tidak dikelola dengan baik dapat menumpuk dan menimbulkan masalah lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa limbah buah jeruk merupakan salah satu jenis limbah organik yang ditemukan dalam jumlah besar di lingkungan pasar.
Kulit jeruk sebenarnya memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali karena mengandung berbagai senyawa organik dan mineral. Pengolahan limbah kulit jeruk menjadi pupuk organik dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pembuangan limbah sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat bagi tanaman. Penelitian mengenai pemanfaatan limbah kulit jeruk menunjukkan bahwa bahan tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk organik cair.
Meskipun kulit jeruk berpotensi dijadikan pupuk organik cair, kandungan unsur hara yang dihasilkan tidak selalu memenuhi kebutuhan tanaman. Salah satu penelitian terhadap POC berbahan limbah buah jeruk menemukan bahwa kandungan N dan K masih rendah, sedangkan kandungan P pada beberapa perlakuan memenuhi standar yang digunakan dalam penelitian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi bahan, proses fermentasi, dan konsentrasi POC perlu diperhatikan agar penggunaannya dapat memberikan pengaruh yang optimal terhadap pertumbuhan tanaman.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, identifikasi masalah dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut:
Penumpukan limbah organik yang tidak di kelola dengan baik dapat menimbulkan bau yang kurang nyaman.
Kurangnya pengetahuan dan kreativitas dalam mengolah limbah organik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi lingkungan.
Limbah kulit jeruk masih sering dibuang begitu saja dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga masih belum banyak dilakukan masyarakat.
1.3 Pembatasan Masalah
Pupuk organik yang dibuat menggunakan bahan-bahan organik yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti kulit buah-buahan.
Limbah yang digunakan dalam kegiatan ini adalah kulit jeruk yang berasal dari sisa konsumsi.
Pembahasan difokuskan pada pemanfaatan kulit jeruk, proses pembuatan, dan perubahan aroma pada pupuk organik cair.
1.4 Perumusan Masalah
Bagaimanakah cara memanfaatkan limbah kulit buah-buahan?
Bagaimana jika hanya menggunakan 1 jenis kulit buah yaitu kulit jeruk?
Apa saja manfaat yang dapat dilihat dari hasul pembuatan POC kulit jeruk tersebut?
1.5 Tujuan Kegiatan
Kegiatan PJBL ini bertujuan untuk:
1.Mengetahui cara mengolah dan memanfaatkan limbah kulit jeruk agar tidak langsung menjadi sampah.
2.Memanfaatkan kulit jeruk sebagai bahan tambahan aromatik dalam proses pembuatan pupuk organik.
3.Mengurangi jumlah limbah organik yang dibuang ke lingkungan.
4.Mengenalkan pembuatan pupuk organik sebagai salah satu bentuk pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
1.6 Manfaat Kegiatan
A. Teoritis
Kegiatan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari kulit jeruk diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah organik sebagai bahan yang memiliki nilai guna. Selain itu, kegiatan ini dapat memberikan pemahaman mengenai proses pengolahan dan fermentasi limbah kulit jeruk menjadi POC serta penerapannya dalam mendukung pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
B. Praktis
Mengurangi limbah kulit jeruk yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga maupun lingkungan sekitar.
Memanfaatkan kulit jeruk menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai guna.
Menghasilkan POC yang dapat digunakan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi tanaman.
Mengurangi penggunaan pupuk kimia secara berlebihan melalui pemanfaatan bahan organik.
Meningkatkan keterampilan peserta dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat.
Mendorong kesadaran masyarakat untuk melakukan pengelolaan limbah secara kreatif dan ramah lingkungan.
Mendukung penerapan konsep pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pupuk Organik Cair (POC)
Pupuk organik cair (POC) kulit jeruk merupakan pupuk yang dibuat dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk melalui proses fermentasi. Kulit jeruk yang biasanya dibuang sebagai limbah dapat diolah menjadi bahan yang lebih bermanfaat bagi tanaman. Proses fermentasi umumnya melibatkan mikroorganisme atau aktivator seperti EM4 untuk membantu menguraikan bahan organik. Penelitian menunjukkan bahwa POC berbahan kulit jeruk dapat mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).
Salah satu karakteristik yang dapat diamati dari POC kulit jeruk adalah aromanya. Kulit jeruk memiliki senyawa aromatik dan minyak atsiri yang memberikan aroma khas jeruk. Aroma tersebut dapat memberikan karakteristik tersendiri pada POC yang dihasilkan. Selama proses fermentasi, aroma awal bahan dapat berubah karena aktivitas mikroorganisme dalam menguraikan senyawa organik. POC yang mengalami fermentasi dengan baik umumnya memiliki aroma khas hasil fermentasi dan tidak didominasi oleh bau busuk yang menyengat.
Selain menghasilkan aroma khas, proses fermentasi kulit jeruk juga menghasilkan cairan yang mengandung senyawa organik dan unsur hara yang dapat dimanfaatkan tanaman. Sebuah penelitian mengenai ecoenzyme dari limbah kulit jeruk menunjukkan bahwa produk hasil fermentasi tersebut mengandung asam organik dan unsur hara penting serta dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif bayam hijau. Konsentrasi yang digunakan juga memengaruhi hasil pertumbuhan tanaman, sehingga POC tidak sebaiknya diberikan secara berlebihan.
Dari segi lingkungan, pemanfaatan kulit jeruk menjadi POC memiliki keuntungan karena dapat mengurangi jumlah limbah organik. Limbah kulit jeruk yang sebelumnya hanya dibuang dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi pertanian. Pemanfaatan tersebut juga telah diterapkan dalam kegiatan pemberdayaan petani sebagai salah satu cara mengolah limbah buah jeruk menjadi pupuk organik cair.
Dengan demikian, POC kulit jeruk memiliki potensi sebagai alternatif pupuk organik yang memanfaatkan limbah rumah tangga atau pertanian. Aroma khas jeruk menjadi salah satu karakteristik yang membedakannya dari POC berbahan lain, sedangkan kandungan unsur hara dan hasil fermentasinya menjadi faktor yang lebih penting dalam menentukan kualitas dan efektivitasnya terhadap tanaman. Oleh karena itu, pembuatan POC perlu memperhatikan komposisi bahan, jenis aktivator, lama fermentasi, serta konsentrasi saat diaplikasikan pada tanaman.
2.1.1 Teoritis POC
Pupuk organik cair (poc) merupakan pupuk yang berasal dari bahan-bahan organik yang telah mengalami proses penguraian atau fermentasi dan berbentuk cair. POC mengandung unsur hara yang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman serta dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pupuk yang lebih ramah lingkungan.
Kulit jeruk merupakan salah satu limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan poc. Pemanfaatan kulit jeruk sebagai poc dapat mengurangi jumlah limbah organik sekaligus mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna. Proses fermentasi membantu menguraikan bahan organik sehingga kandungan di dalamnya lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman.
2.1.2 Manfaat POC
Penggunaan poc dapat memberikan beberapa manfaat bagi tanaman dan lingkungan. Bagi tanaman, poc dapat membantu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan, seperti pembentukan daun, batang, dan perkembangan tanaman. selain itu, penggunaan pupuk organik dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik.
Dari sisi lingkungan, pembuatan poc dari limbah kulit jeruk dapat mengurangi penumpukan limbah organik. Pemanfaatan limbah menjadi pupuk juga menerapkan prinsip pengolahan limbah dan pemanfaatan kembali bahan yang masih memiliki potensi.
Namun, efektivitas poc tidak hanya bergantung pada bahan pembuatnya, tetapi juga pada proses fermentasi, kandungan hara, konsentrasi, serta cara aplikasinya. Penelitian terhadap berbagai poc menunjukkan bahwa konsentrasi dan kandungan hara dapat memengaruhi respons pertumbuhan tanaman.
2.2 Penelitian
Penelitian mengenai pemanfaatan limbah organik sebagai poc telah dilakukan pada berbagai jenis tanaman. Salah satunya adalah penelitian mengenai poc dari limbah kulit pisang kepok yang diaplikasikan pada tanaman okra. Penelitian tersebut menggunakan beberapa konsentrasi poc dan menunjukkan bahwa pemberian poc kulit pisang kepok belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan produksi okra dibandingkan pupuk anorganik. salah satu penyebabnya adalah kandungan unsur hara poc yang masih rendah.
Penelitian lain mengenai poc berbahan limbah kulit pisang kepok dan kulit nanas pada tanaman pakcoy menunjukkan bahwa poc mampu memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kontrol, meskipun pertumbuhannya masih lebih rendah dibandingkan penggunaan nutrisi ab mix. Hasil tersebut menunjukkan bahwa limbah organik berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan poc, tetapi efektivitasnya tetap dipengaruhi oleh kandungan hara dan konsentrasi yang digunakan.
Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, pemanfaatan limbah organik sebagai poc memiliki potensi untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus mengurangi limbah. Oleh karena itu, penelitian mengenai pemanfaatan kulit jeruk sebagai bahan poc perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.
2.3 Cara Berpikir
Limbah kulit jeruk yang tidak dimanfaatkan dapat menyebabkan penumpukan limbah organik. Kulit jeruk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik cair melalui proses fermentasi. POC yang dihasilkan kemudian diaplikasikan pada tanaman dengan konsentrasi yang berbeda.
Perbedaan konsentrasi poc diduga akan menghasilkan respons pertumbuhan tanaman yang berbeda. Pertumbuhan tanaman dapat diamati melalui beberapa parameter, seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan kondisi tanaman.
Alur cara berpikir:
limbah kulit jeruk
↓
pemanfaatan sebagai bahan poc
↓
proses fermentasi
↓
poc kulit jeruk
↓
pemberian poc dengan beberapa konsentrasi
↓
penyerapan unsur hara oleh tanaman
↓
pertumbuhan tanaman
↓
pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, dan kondisi tanaman
2.4 Hipotesis
Pemberian pupuk organik cair (poc) berbahan dasar kulit jeruk berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah pengumpulan bahan. Limbah kulit jeruk dikumpulkan dari sisa konsumsi buah jeruk. Selain itu, bahan organik lainnya seperti sisa sayuran, kulit buah, dan daun kering juga dikumpulkan untuk digunakan dalam proses pembuatan pupuk.
Tahap kedua adalah persiapan bahan. Kulit jeruk dan bahan organik lainnya dipotong atau diperkecil ukurannya agar lebih mudah tercampur dan mengalami proses penguraian. Selanjutnya, semua bahan dimasukkan ke dalam wadah pengomposan secara bertahap.
Tahap ketiga adalah pencampuran bahan. Limbah kulit jeruk dicampurkan bersama bahan organik lainnya. Campuran tersebut kemudian diaduk agar bahan-bahan dapat tercampur dengan baik. Air dapat ditambahkan secukupnya agar kondisi bahan tidak terlalu kering.
Tahap berikutnya adalah proses penguraian. Bahan-bahan organik yang telah dicampurkan dibiarkan dalam wadah untuk mengalami proses pengomposan. Selama proses berlangsung, kondisi campuran perlu diperhatikan agar proses penguraian dapat berjalan dengan baik. Setelah melalui proses penguraian, bahan organik akan berubah menjadi pupuk yang dapat digunakan untuk tanaman.
3.2 Waktu dan Lokasi Kegiatan
3.3 Bentuk Kegiatan
Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan dan pengolahan limbah organik menjadi pupuk organik dengan memanfaatkan kulit jeruk sebagai bahan tambahan aromatik. Kegiatan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan bahan, persiapan alat dan bahan, pencampuran bahan organik, hingga proses penguraian.
Kulit jeruk yang digunakan berasal dari sisa konsumsi buah jeruk yang masih layak untuk diolah. Kulit jeruk tersebut kemudian dicampurkan bersama bahan-bahan organik lainnya. Dengan adanya tambahan kulit jeruk, diharapkan campuran bahan organik memiliki aroma alami yang khas.
3.4 Alat Dan Bahan
A. Alat
Alat-alat yang diperlukan dalam kegiatan ini antara lain:
Ember atau wadah pengomposan
Pisau atau gunting
Sarung tangan
Pengaduk atau tongkat kayu
Wadah untuk mengumpulkan bahan organik
B. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan antara lain:
Limbah kulit jeruk
Sisa sayuran dan buah
Daun kering
Tanah atau kompos sebagai bahan pendukung
Air secukupnya
Bahan organik lain yang mudah terurai
3.5 Manfaat Kegiatan
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, baik bagi siswa, masyarakat, maupun lingkungan. Bagi siswa, kegiatan ini dapat menambah pengetahuan mengenai cara pengelolaan sampah organik dan pemanfaatan limbah yang ada di sekitar. Siswa juga dapat belajar untuk lebih kreatif dalam melihat sesuatu yang dianggap sebagai sampah menjadi bahan yang masih dapat digunakan. Selain itu, kegiatan ini dapat meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan.
Bagi masyarakat, kegiatan ini dapat memberikan contoh sederhana mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga, khususnya kulit buah dan sisa bahan organik. Masyarakat dapat mencoba menerapkan cara pengolahan sampah organik secara sederhana di lingkungan rumah masing-masing.
Bagi lingkungan, pemanfaatan limbah kulit jeruk dan bahan organik lainnya dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang. Sampah organik yang diolah menjadi pupuk juga dapat dimanfaatkan kembali untuk membantu menyuburkan tanaman. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi salah satu langkah kecil dalam mendukung lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
3.6 Sasaran Kegiatan
Sasaran dari kegiatan ini adalah siswa dan masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah organik. Kegiatan ini juga dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun rumah sebagai salah satu bentuk kegiatan peduli lingkungan.
Dengan melibatkan siswa dalam kegiatan ini, diharapkan muncul kebiasaan positif untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi kebiasaan membuang sampah organik secara sembarangan.
3.7 Hasil Yang Diharapkan
Melalui kegiatan ini, diharapkan limbah kulit jeruk yang sebelumnya hanya dibuang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan tambahan dalam pembuatan pupuk organik. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan di lingkungan sekitar.
Hasil lain yang diharapkan adalah meningkatnya kreativitas siswa dalam menciptakan inovasi sederhana yang bermanfaat bagi lingkungan. Pupuk organik yang dihasilkan nantinya juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pertumbuhan tanaman di rumah maupun di lingkungan sekolah.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
BAB V
PENUTUPAN/KESIMPULAN
5.1 Penutup/Kesimpulan
Pemanfaatan limbah kulit jeruk sebagai bahan tambahan aromatik pada pembuatan pupuk organik merupakan salah satu bentuk inovasi sederhana dalam mengolah sampah organik. Kulit jeruk yang biasanya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali bersama bahan organik lainnya sehingga memiliki nilai guna yang lebih baik.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembuatan pupuk organik, tetapi juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga lingkungan. Dengan memanfaatkan limbah yang ada di sekitar, kita dapat belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan setiap hari.
Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan menjadi inspirasi untuk melakukan berbagai inovasi lainnya dalam pemanfaatan limbah.
DAFTAR PUSTAKA
Ediyono, R. P. (2017). Pemanfaatan limbah kulit buah-buahan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair. Jurnal Unmul Journal of Health Technology, 1(2), 120-128.
Kurniawati, D., Ana, A. P., Bahri, R. R., & Ningsih, S. R. (2025). FORMULASI PUPUK ORGANIK CAIR (POC) BERBAHAN LIMBAH KULIT BAWANG MERAH, KULIT JERUK, KULIT NANAS, DAN AIR CUCIAN BERAS DENGAN PENAMBAHAN EM4: Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Kulit Bawang Merah, Kulit Jeruk, Kulit Nanas dan Air Cucian Beras dengan Penambahan EM4. Jurnal Crystal: Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya, 7(1), 85-91.
Meriatna, M., Suryati, S., & Fahri, A. (2018). Pengaruh waktu fermentasi dan volume bio aktivator EM4 (effective microorganisme) pada pembuatan pupuk organik cair (POC) dari limbah buah-buahan. Jurnal Teknologi Kimia Unimal, 7(1), 13-29.