Pemanfaatan Daun Kering di Lingkungan SMAN 4 Jakarta sebagai Pelet Kompos Biomassa untuk Mendukung Pertumbuhan Nutrisi Tanaman
NAMA ANGGOTA KELOMPOK :
Annisatun Mahmudah
Arifa Azzahra
Azka Ingrid Vallerie
Marsya Nuranggriani
Qirana Natasya Kuselawati
Zaskia Fadillah Syolahuddin
PERSETUJUAN PEMBIMBING
PROPOSAL PROJECT BASE LEARNING
SUB TEMA : PELET KOMPOS BIOMASSA
Dengan ini menyatakan bahwa proposal Project Based Learning dengan sub tema Pelet Kompos Biomassa telah disetujui untuk dilaksanakan.
Guru Pembimbing
Sri Setyo Handayani S,Pd
NIP. 197012242008012018
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
"Dari daun yang jatuh, kita belajar memberi manfaat. Dari yang dianggap sampah, kita ciptakan sesuatu yang bernilai."
Karya kami ini, kami persembahkan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan semangat selama proses pelaksanaan PJBL (Project Baseed Learning). Terutama kepada guru pembimbing yang telah memberikan arahan, kepada orang tua yang selalu mendukung, serta kepada teman-teman kelompok yang turut membantu dalam menyelesaikan projek pembuatan pelet berbahan biomassa ini. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan manfaat dan menjadi salah satu bentuk nyata dari pemanfaatan biomassa menjadi sesuatu yang lebih berguna.
ABSTRAK
Daun kering merupakan salah satu jenis limbah organik yang banyak ditemukan di lingkungan sekolah. Daun yang gugur umumnya dikumpulkan dan dibuang, padahal bahan tersebut masih mengandung bahan organik yang dapat dimanfaatkan melalui proses pengomposan. Pengelolaan daun kering menjadi kompos dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi limbah organik sekaligus menghasilkan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk tanah dan tanaman. Penelitian mengenai dekomposisi serasah daun menunjukkan bahwa selama proses penguraian dapat terjadi pelepasan unsur hara, termasuk fosfor dan kalium.
Projek ini bertujuan untuk memanfaatkan daun kering di lingkungan SMAN 4 Jakarta sebagai bahan baku pembuatan pelet kompos biomassa. Pelet dibuat agar bahan kompos memiliki bentuk yang lebih ringkas, praktis, mudah disimpan, dan mudah diaplikasikan pada tanaman. Dalam proses pembuatannya, daun kering terlebih dahulu dipilah, dicacah, dan melalui proses pengomposan. Setelah bahan menjadi kompos yang cukup matang, bahan dicampurkan dengan perekat alami dari tepung tapioka kemudian dicetak menggunakan cetakan sederhana dari barang bekas.
Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen sederhana dengan pengamatan terhadap kualitas fisik pelet dan penggunaannya pada tanaman. Parameter yang diamati meliputi bentuk, kepadatan, tekstur, daya tahan pelet, waktu pengeringan, serta perubahan pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman dan jumlah daun. Penggunaan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dilakukan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman yang diberi pelet kompos dengan tanaman yang tidak diberi pelet.
Pada tahap pencetakan, bahan dibuat dalam kondisi lembap dan dapat menyatu ketika ditekan, bukan terlalu basah. Setelah dicetak, pelet dikeringkan hingga cukup kering untuk penyimpanan sehingga mengurangi risiko jamur dan kerusakan bentuk. Kondisi lembap diperlukan dalam proses pengomposan, sedangkan produk pelet yang telah selesai dicetak perlu dikeringkan sebelum disimpan. Penelitian tentang pelletisasi kompos menunjukkan bahwa penggunaan pati tapioka sebagai perekat dapat meningkatkan pembentukan dan daya tahan pelet.
Melalui projek ini, diharapkan daun kering yang sebelumnya menjadi limbah dapat dimanfaatkan menjadi produk berbasis biomassa yang lebih praktis dan bernilai guna serta berpotensi menjadi sumber bahan organik bagi tanaman.
Kata kunci: daun kering, biomassa, kompos, pelet kompos, tepung tapioka, limbah organik, tanaman
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan proposal Project Based Learning yang berjudul “Pemanfaatan Daun Kering di Lingkungan SMAN 4 Jakarta sebagai Pelet Kompos Biomassa untuk Mendukung Pertumbuhan Nutrisi Tanaman” dengan baik.
Proposal ini disusun sebagai bentuk perencanaan pelaksanaan projek pemanfaatan limbah organik di lingkungan sekolah. Projek ini berfokus pada pemanfaatan daun kering yang sering dianggap sebagai sampah menjadi bahan baku pelet kompos biomassa yang lebih praktis dan memiliki nilai guna.
Melalui projek ini, kami ingin mengetahui bagaimana daun kering dapat diolah melalui proses pengomposan dan kemudian dibentuk menjadi pelet dengan menggunakan perekat alami dari tepung tapioka. Selain itu, kami juga ingin mengetahui karakteristik pelet yang dihasilkan serta potensinya dalam mendukung pertumbuhan tanaman.
Dalam penyusunan proposal ini, kami mendapatkan bantuan, arahan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing, orang tua, serta teman-teman yang telah membantu dan memberikan dukungan selama proses penyusunan proposal dan pelaksanaan projek.
Kami menyadari bahwa proposal ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar projek ini dapat dilaksanakan dan dikembangkan dengan lebih baik.
Semoga proposal ini dapat memberikan manfaat dan menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian siswa terhadap lingkungan melalui pemanfaatan limbah organik.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................................................
ABSTRAK .............................................................................................................................................
MOTTO ..................................................................................................................................................
KATA PENGANTAR .............................................................................................................................
BAB I — PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................................................................
1.2 Identifikasi Masalah ..........................................................................................................................
1.3 Batasan Masalah ................................................................................................................................
1.4 Rumusan Masalah ..............................................................................................................................
1.5 Tujuan Penelitian ................................................................................................................................
1.6 Manfaat Penelitian ..............................................................................................................................
BAB II — LANDASAN TEORI
2.1 Daun Kering sebagai Bahan Baku Kompos .......................................................................................
2.2 Lem Alami dari Tepung Tapioka ........................................................................................................
2.3 Pelet Kompos dan Keunggulannya ....................................................................................................
2.4 Pemanfaatan Barang Bekas sebagai Cetakan .....................................................................................
2.5 Variabel Penelitian ..............................................................................................................................
2.6 Kajian Relevan ...................................................................................................................................
2.7 Hipotesis Penelitian ............................................................................................................................
BAB III — METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................................................................
3.2 Populasi dan Sampel ..........................................................................................................................
3.3 Jenis Penelitian ...................................................................................................................................
3.4 Pendekatan Penelitian ........................................................................................................................
3.5 Teknik Pengambilan Sampel ..............................................................................................................
3.6 Teknik Pengumpulan Data ..................................................................................................................
3.7 Teknik Analisis Data ...........................................................................................................................
3.8 TIMELINE..........................................................................................................................................
BAB IV — HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi lokasi penelitian..................................................................................................................
4.2 Data temuan penelitian........................................................................................................................
4.3 Hasil analisa data ( Pembahasan ).......................................................................................................
BAB V — PENUTUP
5.1 Kesimpulan ........................................................................................................................................
5.2 Saran ..................................................................................................................................................
BAGIAN PENUTUP
1. Daftar Pustaka ......................................................................................................................................
2. Lampiran ..............................................................................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Lingkungan sekolah merupakan salah satu tempat yang memiliki banyak pepohonan dan menghasilkan limbah organik, salah satunya berupa daun kering. Di sekitar lingkungan SMAN 4 Jakarta, daun-daun yang berguguran biasanya dikumpulkan sebagai sampah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, daun kering merupakan bahan organik yang dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Jika dibiarkan menumpuk, daun kering dapat mengganggu kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan daun kering adalah mengolahnya menjadi pelet kompos biomassa. Pelet kompos biomassa merupakan bahan organik yang diolah dan dipadatkan menjadi bentuk pelet sehingga lebih mudah digunakan. Daun kering yang telah mengalami proses pengomposan dapat menghasilkan bahan organik yang berpotensi memberikan nutrisi bagi tanaman. Nutrisi dari bahan organik tersebut dapat membantu menyediakan unsur yang dibutuhkan tanaman untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Pemanfaatan daun kering sebagai pelet kompos biomassa juga dapat menjadi alternatif dalam mengurangi limbah organik di lingkungan sekolah. Selain itu, penggunaan bahan yang berasal dari lingkungan sekitar membuat proses pemanfaatan limbah menjadi lebih sederhana dan memiliki nilai guna. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan melalui penerapan prinsip pengolahan dan pemanfaatan kembali limbah organik.
Penggunaan pelet kompos biomassa dari daun kering sebagai nutrisi tanaman diharapkan dapat memberikan manfaat bagi tanaman sekaligus mengurangi jumlah limbah daun yang dihasilkan di lingkungan SMAN 4 Jakarta. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui pemanfaatan daun kering tersebut dalam bentuk pelet kompos biomassa dan pengaruh penggunaannya terhadap pertumbuhan tanaman.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan dengan judul “Pemanfaatan Daun Kering di Lingkungan SMAN 4 Jakarta sebagai Pelet Kompos Biomassa untuk Mendukung Pertumbuhan Nutrisi Tanaman”. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan suatu alternatif pemanfaatan limbah daun kering yang ramah lingkungan serta dapat digunakan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi tanaman.
I.2 IDENTIFIKASI MASALAH
1. Daun kering yang terdapat di sekitar lingkungan SMAN 4 Jakarta masih sering dianggap sebagai sampah dan belum dimanfaatkan secara optimal, padahal daun kering merupakan limbah organik yang dapat diolah menjadi bahan kompos.
2. Penumpukan atau pembakaran daun kering dapat mengganggu kebersihan lingkungan dan menimbulkan polusi udara, sehingga diperlukan alternatif pengelolaan daun kering yang lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai guna.
3. Pemanfaatan daun kering menjadi pelet kompos biomassa diharapkan dapat menghasilkan bentuk kompos yang lebih praktis sekaligus menjadi sumber nutrisi tambahan bagi tanaman, sehingga perlu diketahui potensi dan pengaruh penggunaannya terhadap pertumbuhan tanaman.
I.3 BATASAN MASALAH
1. Penelitian ini difokuskan pada pemanfaatan daun kering di lingkungan SMAN 4 Jakarta sebagai bahan utama pembuatan pelet kompos biomassa.
2. Penelitian ini membatasi pengolahan daun kering sebagai alternatif untuk mengurangi penumpukan dan pembakaran daun kering, dengan mengolahnya menjadi pelet kompos yang memiliki nilai guna bagi tanaman.
3. Penelitian ini difokuskan pada pembuatan pelet kompos biomassa yang praktis dan dapat digunakan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi tanaman, dengan menggunakan tepung tapioka sebagai perekat alami dan cetakan sederhana dari barang bekas.
I.4 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pemanfaatan daun kering yang menumpuk di lingkungan SMAN 4 Jakarta sebagai bahan utama dalam pembuatan pelet kompos biomassa?
2. Bagaimana pembuatan pelet kompos biomassa dari daun kering dapat menjadi alternatif pengelolaan limbah organik dibandingkan dengan membuang atau membakar daun kering?
3. Seberapa efektif penggunaan tepung tapioka sebagai perekat alami dan cetakan dari barang bekas dalam menghasilkan pelet kompos biomassa yang praktis dan dapat digunakan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi tanaman?
I.5 TUJUAN PENELITIAN
1. Memanfaatkan daun kering yang menumpuk di lingkungan SMAN 4 Jakarta sebagai bahan utama dalam pembuatan pelet kompos biomassa.
2. Menghasilkan pelet kompos biomassa sebagai alternatif pengelolaan limbah daun kering sehingga dapat mengurangi penumpukan dan pembakaran daun kering di lingkungan sekitar.
3. Mengetahui efektivitas penggunaan tepung tapioka sebagai perekat alami dan cetakan dari barang bekas dalam menghasilkan pelet kompos biomassa yang praktis dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi tanaman.
I.6 MANFAAT PENELITIAN
1.6.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai pemanfaatan limbah daun kering sebagai bahan pembuatan pelet kompos biomassa. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan pengetahuan mengenai penggunaan bahan perekat alami dan metode sederhana dalam membentuk bahan organik menjadi pelet yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman.
1.6.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Siswa
Memberikan pengalaman dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat, meningkatkan kreativitas dan keterampilan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
2. Bagi Sekolah
Membantu mengurangi penumpukan daun kering di lingkungan sekolah dan menghasilkan alternatif bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman di lingkungan sekolah.
3. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi mengenai cara sederhana memanfaatkan daun kering menjadi pelet kompos biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan organik untuk tanaman dengan memanfaatkan bahan dan alat yang mudah diperoleh.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 KERANGKA TEORI
2.1.1 Sampah Organik & Daun Kering
Sampah organik adalah limbah yang berasal dari makhluk hidup, mudah terurai secara alami oleh mikroorganisme, dan tidak mengandung zat berbahaya. Daun kering merupakan salah satu jenis sampah organik yang paling banyak ditemukan di lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar. Daun kering mengandung unsur karbon tinggi, serat selulosa, serta unsur hara seperti kalium, kalsium, dan magnesium yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Jika hanya ditumpuk atau dibuang begitu saja, daun kering justru menumpuk menjadi sampah yang memakan tempat dan dapat menimbulkan bau jika membusuk. Namun dengan pengolahan yang tepat, daun kering dapat diubah menjadi produk bernilai guna, salah satunya adalah kompos.
2.1.2 Kompos Biomassa
Kompos adalah hasil penguraian bahan organik oleh mikroba (bakteri, jamur) dalam kondisi lembap, hangat, dan dengan sirkulasi udara yang baik. Biomassa merujuk pada bahan organik yang berasal dari tumbuhan dan sisa makhluk hidup yang dapat diolah menjadi bahan baku pupuk. Kompos dari biomassa daun kering berfungsi memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, serta menyediakan unsur hara secara perlahan bagi tanaman. Berbeda dengan pupuk kimia, kompos organik tidak merusak keseimbangan tanah dan aman bagi lingkungan dalam jangka panjang.
2.1.3 Teknologi Pelet Kompos
Peletisasi kompos adalah proses pembentukan kompos menjadi butiran padat berbentuk silinder atau bulat. Teknologi ini dilakukan dengan tujuan memadatkan bahan kompos agar lebih mudah disimpan, diangkut, dan didistribusikan tanpa mudah hancur. Keuntungan pelet kompos dibanding kompos biasa antara lain: ukuran yang lebih ringkas sehingga menghemat ruang penyimpanan, kadar air yang lebih rendah sehingga tidak mudah berjamur, serta pemberian dosis yang lebih terukur saat digunakan. Penggunaan alat sederhana dari barang bekas (tutup botol, suntikan mainan) membuktikan bahwa teknologi pelet dapat dilakukan secara sederhana dan murah, tidak memerlukan mesin khusus yang mahal.
2.1.4 Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
Prinsip 3R merupakan dasar dalam pengelolaan limbah yang berkelanjutan: Reduce (mengurangi timbulan sampah), Reuse (memanfaatkan kembali barang bekas), dan Recycle (mengolah sampah menjadi produk baru). Proyek Ecobloom menerapkan ketiga prinsip ini sekaligus: mengurangi tumpukan sampah daun kering di sekolah, memanfaatkan tutup botol dan suntikan bekas sebagai alat pembentukan pelet, serta mendaur ulang bahan organik menjadi pupuk yang bermanfaat. Penerapan prinsip ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membentuk pola pikir hemat dan kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada.
2.1.5 Manfaat Kompos bagi Tanah & Lingkungan
Penggunaan kompos pelet memiliki manfaat ganda, baik bagi tanaman maupun lingkungan. Bagi tanah, kompos meningkatkan porositas sehingga akar tanaman lebih mudah bernapas dan menyerap air serta unsur hara. Bagi lingkungan, pengolahan daun kering menjadi kompos mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir, serta mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia yang produksinya dapat mencemari lingkungan. Dengan demikian, pemanfaatan daun kering menjadi pelet kompos adalah langkah nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung program pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
2.2 PENELITIAN RELEVAN
1. Hadiwidodo, Sutrisno, Handayani, dan Febriani (2018)
Penelitian Hadiwidodo dkk. (2018) membahas pemanfaatan sampah daun kering menjadi kompos melalui proses pengomposan aerobik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun kering dapat diolah menjadi kompos yang sebagian besar kandungannya memenuhi standar kualitas kompos. Persamaannya dengan penelitian kelompok adalah sama-sama memanfaatkan daun kering untuk mengurangi limbah dan menghasilkan produk yang bermanfaat. Perbedaannya, penelitian tersebut menghasilkan kompos sebagai pupuk organik, sedangkan penelitian kelompok menghasilkan pelet sebagai bahan bakar rumah tangga.
2. Welerubun, Lainsamputty, dan Sairudy (2024)
Penelitian Welerubun dkk. (2024) membahas pemanfaatan daun kering menjadi pupuk kompos dengan bantuan EM4 melalui proses pencacahan dan pengomposan selama 15 hari. Hasilnya menunjukkan bahwa daun kering dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman serta mengurangi limbah organik. Persamaannya dengan penelitian kelompok adalah sama-sama memanfaatkan daun kering sebagai bahan utama. Perbedaannya, penelitian tersebut menghasilkan pupuk kompos, sedangkan penelitian kelompok menghasilkan kompos biomassa berbentuk pelet dengan tepung tapioka sebagai perekat.
3. Hidayanto, Arifin, Purnamasari, dan Zahwa dkk. (2024)
Penelitian Hidayanto dkk. (2024) membahas pemanfaatan serasah daun kering menjadi pupuk kompos menggunakan teknologi komposter dan EM4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun kering dapat diolah menjadi kompos yang matang dan bernilai tambah. Persamaannya dengan penelitian kelompok adalah sama-sama memanfaatkan daun kering sebagai bahan utama. Perbedaannya, penelitian tersebut menggunakan EM4 dan kotoran kambing dengan teknologi komposter, sedangkan penelitian kelompok menggunakan tepung tapioka sebagai perekat dan menghasilkan kompos biomassa berbentuk pelet.
2.3 KERANGKA BERPIKIR
Daun kering yang menumpuk di lingkungan sekolah umumnya hanya dianggap sampah dan dibuang begitu saja, padahal mengandung unsur karbon, selulosa, serta unsur hara seperti kalium, kalsium, dan magnesium yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Jika dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan yang tepat, daun kering justru menambah volume sampah, memakan tempat, dan dapat menimbulkan bau serta mengundang hama. Pengolahan daun kering menjadi kompos adalah salah satu cara terbaik untuk memanfaatkannya kembali, namun kompos dalam bentuk serbuk atau gumpalan memiliki keterbatasan: mudah berantakan, sulit disimpan, mudah berbau, dan tidak praktis untuk didistribusikan. Oleh karena itu, peletisasi atau pembentukan kompos menjadi butiran padat merupakan solusi untuk mengatasi kendala tersebut. Pelet kompos lebih padat, ukurannya seragam, mudah disimpan, tidak mudah berbau, dan dosis penggunaannya lebih terukur. Meskipun alat pembuat pelet kompos di pasaran harganya mahal, proses pembentukan pelet sebenarnya dapat dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang tersedia di sekitar kita, seperti tutup botol plastik dan suntikan mainan. Hal ini sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang mengutamakan pengurangan limbah, penggunaan kembali barang bekas, dan pendaurulangan bahan organik menjadi produk yang bernilai guna.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Tempat : SMA Negeri 4 Jakarta
Waktu
Sesi 1 : Kamis, 27 Agustus 2026 - Kamis, 2 September 2026
Sesi 2 :
3.2 POPULASI DAN SAMPEL
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh daun kering yang terdapat di lingkungan SMA Negeri 4 Jakarta. Sampel yang digunakan adalah daun kering yang telah jatuh, benar-benar kering, bersih dari kotoran, dan tidak berawa, yang diambil secara acak dari beberapa titik di sekitar area sekolah.
3.3 JENIS PENELITIAN
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen sederhana, yaitu melakukan percobaan pembuatan pelet kompos dengan variasi bahan dan proses tertentu untuk mengetahui kualitas produk yang dihasilkan, kemudian mendeskripsikan hasilnya secara sistematis.
3.4 PENDEKATAN PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan bentuk, warna, bau, dan kekuatan fisik pelet, sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur berat awal, berat akhir, dan menghitung persentase penyusutan berat setelah pengeringan.
3.5 TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Pengambilan sampel daun kering dilakukan dengan cara mengambil daun yang sudah benar-benar kering dan bersih dari beberapa lokasi di sekolah. Daun kemudian dipilah untuk memisahkan ranting besar, plastik, dan kotoran.
3.6 TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap proses pembuatan dan perubahan fisik pelet pada setiap tahap kegiatan, pengukuran berat bahan sebelum dan sesudah pengolahan, serta dokumentasi berupa catatan tertulis dan foto setiap tahap kerja. Pengamatan kualitas fisik meliputi bentuk, kekuatan, warna, bau, dan tingkat kekeringan pelet.
3.7 TEKNIK ANALISIS DATA
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan cara mendeskripsikan proses pembuatan, kualitas fisik produk, serta kendala yang ditemukan. Data berat awal dan berat akhir dihitung persentase penurunannya untuk mengetahui efektivitas proses pengeringan. Hasil analisis kemudian disimpulkan untuk mengetahui apakah pelet kompos yang dibuat memenuhi kriteria yang diharapkan, yaitu padat, tidak mudah hancur, berwarna gelap, berbau tanah segar, dan kering sempurna.
3.8 TIMELINE
BAB IV
HASIL PENELITIAN / PEMBAHASAN
4.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Penelitian pembuatan pelet kompos biomassa dilaksanakan di lingkungan SMA Negeri 4 Jakarta, meliputi area halaman sekolah, dan area terbuka untuk proses pengeringan serta pematangan kompos, serta dilakukan juga di lingkungan sekitar rumah untuk mencari daun - daun kering. Lokasi ini dipilih karena ketersediaan bahan baku daun kering yang melimpah di sekitar sekolah dan lingkungan tempat tinggal, memudahkan pengambilan sampel tanpa biaya tambahan, serta memenuhi standar keamanan dan kenyamanan kegiatan.
4.2 DATA TEMUAN PENELITIAN
4.3 HASIL ANALISA DATA
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
5.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Muazzinah, M., Meriatna, M., Bahri, S., ZA, N., & Ishak, I. (2022). Pemanfaatan Limbah Ampas Kopi Menjadi Biomassa Pelet (Biopelet) sebagai Sumber Energi Terbarukan. Chemical Engineering Journal Storage, 2(3), 85-94.