Dr.Johansyah Lubis, M.Pd & Hendro Wardoyo, M.Pd
Organisasi pencak silat di Indonesia Yang disebut dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia atau disingkat IPSI didirikan Pada Tanggal 18 mei 1948 di surakarta, yang diprakarasi oleh Mr. Wongsonegoro, yang saat ini menjabat sebagai ketua pusat kebudayaan kedu.
Mulai PON I sampai dengan PON VII pencak silat dipertandingkan secara ekshibisi dan pada PON VIII tahun 1975 di jakarta, pada kepemimpinan Bpk. Cokropranolo pencak silat resmi dipertandingkan . sejak saat itu pencak silat khususnya kategori tanding mulai sering dipertandingkan dan menjadi primadona IPSI, seperti dalam Pekan olahraga Bank (PORBANK), Pekan Olahraga Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (PORABRI), Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS), Pekan Olahraga Pelajar (POPNAS), Oekan Olahraga Nasional (PON), dan Pekan Olahraga Negara-Negara ASEAN ( SEA Games). Di tingkat asian Games, pencak silat tahun 2002 masuk dalam agenda Sport Cultural Event di Busan Korea Selatan, sasaran selanjutnya PB IPSI berupaya memasukkan pencak silat resmi menjadi cabang yang dipertandingkan di Asian Games Qatar 2006, dimana dengan pengiriman pelatih dan atlet dari negara-negara Yamen, untuk berlatih di jakarta agar menyiapkan diri, serta mencari dukungan-dukungan dari negara-negara Asia Timur dan seperti Korea, Jepang.
Panglima Teritorium III waktu itu Kolonel R.A. Kosasih membentuk PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia) yang berkembang di wilayah Lampung, Jawa Barat termasuk Jakarta, Jawa Tengah Bagian Barat termasuk DI Yogyakarta. Akan tetapi, dampaknya terjadi dualisme pembinaan, hal tersebut membuat kesatuan pencak silat semakin terancam dengan berdirinya organisasi diluar IPSI misalnya Bapensi, Perpi, Silaat Betawi dan lain-lain.
IPSI dan PPSI berupaya agar bisa masuk PON, akan tetapi pemerintah lebih mengenal IPSI sebagai induk organisasi olahraga karena pemerintah turut mendirikan IPSI di tahun 1948. apalagi pada tanggal 31 Desember 1969 IPSI ikut mendirikan KONI. Menjelang Kongres IPSI IV tahun 1973 Mr. Wongsonegoro diganti oleh Brigjen Tjokropronolo (Gubernur DKI Jakarta) sebagai ketua PB IPSI. beliau dibantu perguruan pencak silat dalam melakukan pendekatan kepada PPSI, yang akirnya bergabung ke dalam IPSI, Perguruan-perguruan tersebut antara lain :
Tapak Suci : Tanamas, Haryadi M.
KPS Nusantara : Hadi Mulyo, Rahmadi, Djoko Waspodo
Perisai Diri : Arnowo Adji
Pushadja Mataram : Sutardjonegoro
Perpi Harimuti : Sukowinadi
Perisai Putih : Maramis, Runtu, Sutedjo, dan Himantoro
Putra Betawi : H. Saali
Setia Hati : Harsoyo dan H.M Zain
Setia Hati Teratai : Januarno, Imam Suyitno Pamudji
PPSI : H. Suhari Sapari
Kuda-Kuda
Istilah Kuda-kuda sangat akrab digunakan dalam beladiri pencak silat. Kuda-kuda merupakan teknik dasar untuk melakukan teknik pencak silat lanjutan. Kuda-kuda adalah teknik yang memperlihatkan sikap dari kedua kaki dalam keadaan statis. Teknik ini digunakan untuk mendukung sikap pasang pencak silat. Kuda-kuda juga digunakan sebagai latihan dasar pencak silat untuk memperkuat otot-otot kaki. Otot yang dominan dalam melakukan kuda-kuda adalah quadriseps femoris dan hamstring.
sikap Pasang
Sikap Pasang berarti kondisi siap tempur yang optimal. Dalam pelaksanaannya, sikap pasang merupakan kombinasi dan kordinasi kreatif dari kuda-kuda, sikap tubuh, dan sikap tangan. Sikap Pasang di tinjau dari taktik penggunaan terdiri dari sikap pasang terbuka, yakni sikap pasang dengan sikap tangan dan lengan yang tidak melindungi tubuh dan sikap pasang tertutup, yakni sikap pasang yang sikap tangan dan lengan yang melindungi tubuh.
Pola Langkah
Langkah merupakan teknik gerak kaki dalam pemindahan dan pengubahan posisi untuk mendekati atau menjauhi lawan guna mendapati posisi yang lebih baik atau menguntungkan yang dikombinasikan dan dikordinasikan dengan sikap tubuh dan sikap tangan.
Belaan
Belaan adalah upaya untuk menggagalkan serangan dengan tangkisan atau hindaran. belaan terbagi dua, yakni tangkisan dan hindaran.
Tangkisan adalah suatu teknik belaan untuk menggagalkan serangan lawan dengan melakukan tindakan menahan serangan lawan dengan tangan, kaki, dan tubuh.
Hindaran adalah suatu teknik menggagalkan serangan lawan yang dilakukan tanpa tanpa menyentuh tubuh lawan.
Serangan
serangan terdiri dari dari dua jenis yaitu serangan tangan dan serangan tungkai serta kaki.
Tangkapan
Tangkapan adalah teknik menangkap tangan, kaki, ataupun anggota badan lawan dengan satu atau dua tangan dan akan dilanjutkan dengan gerakan lain.
Kuncian adalah teknik untuk menguasai lawan atau membuat lawan tidak berdaya dengan mengunakan kaki, tangan, ataupun angota badan lainnya yang diawali dengan teknik tangkapan.
Bantingan adalah teknik menjatuhkan dengan mengangkat anggota tubuh lawan, yang diawali dengan teknik tangkapan.