Wacana Penutupan Prodi yang Tidak Relevan dengan Industri : Realita dan Makna di Baliknya
Wacana Penutupan Prodi yang Tidak Relevan dengan Industri : Realita dan Makna di Baliknya
Penulis: Rindang Ramadhan
Akhir-akhir ini, rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, terkait efisiensi pada beberapa program studi yang dianggap kurang relevan dengan industri sedang marak diperbincangkan. Rancangan ini didasarkan pada tren jangka pendek yang menunjukkan bahwasanya pasokan lulusan perguruan tinggi di beberapa bidang mengalami oversupply. Salah satunya di bidang pendidikan yang dalam setahun dapat mencetak kurang lebih 490.000 lulusan, padahal kebutuhan di sektor tersebut hanya sekitar 20.000 lulusan saja (Mardianti, 2026; Tim News, 2026). Ditambah lagi, beberapa program studi sepi peminat juga direncanakan untuk dihapus. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat ketidakseimbangan antara demand dan supply yang mengakibatkan sumber daya manusia (SDM) lulusan perguruan tinggi kurang dapat diserap secara optimal.
Apalagi, Indonesia kini sedang berada dalam fase bonus demografi yang membuat permasalahan oversupply lulusan ini menimbulkan dampak yang jauh lebih besar di masa yang akan datang jika tidak ditanggapi dengan serius. Menanggapi hal tersebut, selain melakukan pemangkasan beberapa program studi, Kemendiktisaintek juga menyarankan akan adanya pembukaan, perluasan, dan penyesuaian menuju delapan bidang industri strategis nasional, yakni kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, dan maritim (Wulandari, 2026). Rekonstruksi ini diharapkan mampu menyelaraskan kembali lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri dan pasar kerja.
Apakah hal tersebut benar adanya? Untuk menjawabnya, kita perlu menilik kembali realitas penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Faktanya, di bidang pendidikan, terjadi pertumbuhan yang signifikan dari jumlah pensiunan guru dari tahun ke tahun, yakni 64.773 pada tahun 2024, 77.535 pada tahun 2025, dan 88.296 pada tahun 2026 (Jayani, 2022). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia akan memerlukan pasokan pengganti dalam bidang pendidikan. Kondisi ini diikuti dengan berita mengenai kekurangan tenaga sebagai guru di berbagai daerah di Indonesia. Terhitung pada tahun 2024, Indonesia mengalami kekurangan guru sebesar 1.3 juta tenaga kerja (Anonymous, 2023). Kondisi ini tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga bisa ditemui pada tingkat daerah. Salah satu contohnya terjadi di Pangkal Pinang yang dilaporkan mengalami kekurangan tenaga pendidik sebesar 76 orang dan bisa terus bertambah mengingat akan ada beberapa guru yang pensiun (dikbudpgk, 2026).
Menurut Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG), Nunuk Suryani, masalah sebenarnya dari Indonesia bukanlah hanya soal kekurangan secara pasokan, melainkan juga soal pemerataan SDM (Yanuar, 2025). Data di atas menunjukkan bahwa sebenarnya permasalahan bukanlah pada supply, melainkan tentang pemerataan atau distribusi dari tenaga kerja yang tidak merata. Selain itu, permasalahan di beberapa jurusan yang dianggap “kurang relevan” ada pada link and match antara program studi dan lapangan pekerjaan yang kurang tepat. Atas dasar tersebut, wacana kebijakan penutupan prodi yang kurang relevan ini sebenarnya tidak menjawab akar permasalahan yang ada. Maka dari itu, alih-alih langsung menghilangkan prodi terkait, langkah yang lebih tepat adalah melakukan revitalisasi terlebih dahulu melalui pembaruan kurikulum, penyesuaian mata kuliah, dan pertimbangan lebih lanjut terkait dengan apa yang sebenarnya “dibutuhkan” oleh lapangan pekerjaan saat ini serta upaya bagaimana pemerataan pemenuhan pekerjaan di Indonesia dapat terpenuhi.
Lebih dari itu, berkaca dari argumen-argumen sebelumnya yang lebih membahas kebutuhan industri menunjukkan bahwa penanganan masalah secara jangka pendek masih digunakan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.apakah fungsi pendidikan hanya sebagai mesin cetak tenaga kerja? Apakah tujuan menuntut ilmu hanya sesempit untuk mendapatkan sejumlah pendapatan? Lalu, dimanakah tempat tumbuhnya diskursus-diskursus baru bila tidak di lingkungan kampus? Hal tersebut penting untuk dibahas karena pendidikan sejatinya bukan dijalani untuk menjadi budak korporasi, melainkan menjadi insan cerdas yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan ilmu yang mumpuni. Menurut penulis, perlu dilakukan asesmen kembali secara komprehensif terkait kebijakan ini. Suatu kebijakan harus sesuai dengan realitas lapangan sehingga tidak meleset dalam menanggapi permasalahan ini. Selain itu, juga diperlukan penyadaran bahwasanya pendidikan tidak hanya sebatas pemenuh kebutuhan pasar, tetapi juga ruang perkembangan akademik, inovasi, dan diskursus kritis.
Referensi
Anonymous. (2023). Indonesia Kekurangan 1,3 Juta Guru di 2024. Iknpost. https://iknpost.id/advertisement/edukasi/indonesia-kekurangan-13-juta-guru-di-2024/2023/
dikbudpgk. (2026). Tahun 2026, Dindikbud Kota Pangkalpinang Kekurangan 76 Guru, Kebutuhan Guru SD Paling Banyak. Dikbud Pangkal Pinang. https://dikbud.pangkalpinangkota.go.id/2026/01/03/tahun-2026-dindikbud-kota-pangkalpinang-kekurangan-76-guru-kebutuhan-guru-sd-paling-banyak/
Jayani, D. H. (2022). Kemendikbud Proyeksi 316,5 Ribu Guru Pensiun pada 2022-2026. https://databoks.katadata.co.id/pendidikan/statistik/cc10cf9465b640d/kemendikbud-proyeksi-3165-ribu-guru-pensiun-pada-2022-2026
Mardianti, D. L. (2026). Kemendikti Akan Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri. Tempo. https://www.tempo.co/politik/kemendikti-akan-tutup-prodi-yang-tak-relevan-dengan-industri-2131624
Tim News. (2026). Wacana Tutup Massal Prodi Tak Relevan Industri, DPR: Kampus Bukan Pabrik Tenaga Kerja. Liputan 6. https://www.liputan6.com/news/read/6324279/wacana-tutup-massal-prodi-tak-relevan-industri-dpr-kampus-bukan-pabrik-tenaga-kerja#google_vignette
Wulandari, T. (2026). Kemdikti Bakal Tutup Sejumlah Prodi, Simak Lagi 20 Prodi dengan Lulusan Terbanyak. Detikedu. https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8463110/kemdikti-bakal-tutup-sejumlah-prodi-simak-lagi-20-prodi-dengan-lulusan-terbanyak
Yanuar. (2025). Jumlah Guru di Indonesia Ideal, Tetapi Tidak Merata. Kemendikdasmen. https://puslapdik.kemendikdasmen.go.id/jumlah-guru-di-indonesia-ideal-tetapi-tidak-merata/#:~:text=Masih menurut Nunuk%2C berdasarkan perhitungan,di berbagai satuan pendidikan negeri