Merawat Suara dalam Arus Perjuangan Demokrasi Bangsa
Pada hari Selasa, 20 Mei 2025, bertempat di Seminar Timur FISIPOL UGM, telah terselenggara kegiatan “Nonton dan Diskusi Film” yang merupakan bagian dari program kerja kolaboratif antara Divisi Pengembangan Wawasan dan Keilmuan (PWK) dan Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) LPPM SINTESA. Kegiatan yang mengangkat tema “Kebebasan Bersuara” ini dirancang sebagai ruang belajar bersama, refleksi kritis, dan momentum kesadaran atas kondisi demokrasi Indonesia hari ini.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar menonton film, tetapi menjadi ruang perenungan kolektif atas berbagai dinamika kebebasan sipil di Indonesia. Melalui pemutaran dua film dokumenter—Bungkam I: Diam Ditindas, Berdiri Ditangkap, Bersuara Dibungkam dan Bungkam II: Memaknai 25 Tahun Reformasi—peserta diajak menyelami narasi nyata tentang represifitas negara terhadap suara-suara kritis, khususnya aktivis HAM dan jurnalis.
Kedua film produksi Watchdoc Images tersebut menampilkan kisah perlawanan sipil dalam menghadapi berbagai bentuk pembungkaman, mulai dari kriminalisasi aktivis hingga lemahnya komitmen negara dalam menegakkan nilai-nilai reformasi. Film Bungkam I menyorot kasus Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti dalam perjuangan mereka mengangkat isu tambang di Papua. Sementara itu, Bungkam II menjadi catatan retrospektif tentang Indonesia pasca-Reformasi, menyadarkan kita bahwa kebebasan bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang terus diperjuangkan.
Usai pemutaran film, sesi diskusi dipandu oleh moderator Rangga Diaz Octavian. Diskusi ini turut menghadirkan narasumber utama, Agung Purwandono, Pimpinan Redaksi Mojok.co. Dalam paparannya, Mas Agung membagikan refleksi mendalam tentang kebebasan pers, pengalaman redaksi dalam menghadapi tekanan kekuasaan, serta pentingnya keberanian sipil untuk terus menyuarakan kebenaran di ruang publik. Diskusi berlangsung dinamis, dengan partisipasi aktif dari peserta yang menyampaikan pertanyaan, analisis, hingga keresahan atas kondisi demokrasi hari ini. Di penghujung kegiatan, moderator menyampaikan kesimpulan diskusi yang menggambarkan pentingnya menjaga ruang-ruang kritis dan merawat keberanian untuk bersuara.
Kegiatan ini diharapkan menjadi refleksi kritis untuk menumbuhkan kesadaran terkait realitas sosial yang tidak hanya menjadi momentum untuk menonton dan berdiskusi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa fakta demokrasi tidak hadir dengan sendirinya. Fakta demokratis harus tetap diperjuangkan, dijaga, dan disuarakan oleh seluruh lapisan elemen masyarakat, terutama generasi muda.