Pengantar, Bentuk, dan Strategi Efektif Advokasi
Kegiatan Kelas Advokasi #1 ini diselenggarakan sebagai bagian dari program kerja Divisi Advokasi dan Propaganda (Advopro) yang bertujuan untuk menguatkan pemahaman tentang advokasi itu sendiri. Kegiatan ini terbuka untuk Mahasiswa PSdK maupun kalangan umum. Pada kegiatan kali ini, Divisi Advopro menghadirkan beberapa narasumber, antara lain Ramadhani Tareq Kemal Pasha (Manajer PKBI DIY) dan Syarifudin Tamim, (Ketua Divisi Advopro KAPSTRA 2024). Kelas Advokasi #1 dilaksanakan di kantor PKBI DIY pada hari Senin, 17 Maret 2025, serta dipandu oleh Reyhan Adityawan, selaku master of ceremony (MC). Acara diawali dengan kedatangan peserta, sebanyak 25 orang, di kantor PKBI DIY pada pukul 16.30 WIB.
Sesi pertama dibuka dan dipandu oleh MC dengan Ramadhani Tareq Kemal Pasha, atau yang biasa akrab dipanggil Mas Gong, sebagai narasumber pertama. Materi yang disampaikan pada sesi pertama adalah materi seputar pengantar advokasi. Sebelumnya, panitia meminta narasumber untuk membawakan materi tersebut dengan tujuan pengetahuan yang didapat akan dijadikan sebagai dasar pengetahuan Divisi Advopro selama bekerja salam satu periode kepengurusan. Mas Gong menyampaikan materi berlandaskan dengan pengalaman yang didapatkan selama bekerja di PKBI DIY. Beliau menyampaikan berbagai pengantar terkait kegiatan advokasi dengan berlandaskan pada empat poin utama yaitu What, Why, Who, Where, dan How.
Advokasi merupakan upaya terstruktur untuk menyuarakan kepentingan, memperjuangkan keadilan, dan mendorong perubahan, terutama bagi kelompok yang tidak memiliki kekuatan akses terhadap pengambilan keputusan. Mas Gong kemudian menyampaikan sebuah advokasi dilakukan karena adanya ketimpangan kekuasaan antara kelompok tertentu yang melakukan pengabaian hak, serta ketidaksetaraan akses yang mudah bagi semua orang. Kegiatan advokasi dapat dilakukan dalam berbagai skala mulai dari individu hingga pada level kelompok atau organisasi. Selanjutnya, pemateri menyampaikan bahwa umumnya kegiatan advokasi dilakukan pada 3 macam, yakni:
Advokasi lokal, berlangsung pada tingkat desa, daerah, kota, dsb berfokus pada isu isu yang berdampak pada masyarakat setempat.
Advokasi nasional, berlangsung pada tingkat nasional. Advokasi lokal bisa naik ke advokasi nasional karena cara kerja negara adalah vertikal
Advokasi internasional, berlangsung pada tingkat multinasional.
Pada pertengahan hingga akhir sesi, Mas Gong memberikan penjelasan yang cukup panjang terkait bagaimana advokasi dilakukan. Beliau mengatakan bahwa sebuah organisasi mahasiswa terkadang lupa bahwa mereka memiliki privilege yang kemudian mengantar pada tindakan menindas kelompok yang seharusnya diadvokasikan aspirasinya. Materi dilanjutkan dengan pembahasan tentang modal dalam advokasi, hal yang sering dilupakan. Modal dapat berupa uang, relasi atau modal sosial berupa pengetahuan atau soft skill, simbol atau legitimasi, dan bahasa. Hal penting yang perlu dilakukan seseorang saat sedang melakukan advokasi adalah memetakan modal yang dimiliki supaya tidak terjadi kejahatan berlapis atau ketimpangan berlapis. Modal subjek yang akan diadvokasikan juga perlu dipetakan untuk memudahkan penentuan fokus isu. Adapun hal-hal lain yang perlu diperhatikan ketika melakukan proses advokasi adalah environmental input dan instrumental input. Keduanya berguna untuk melihat pengaruh serta kekuatan selama proses berlangsung.
Sesi pertama selesai pada pukul 17.30 WIB. Kegiatan selanjutnya adalah buka puasa bersama yang diikuti oleh seluruh panitia beserta peserta acara. Panitia memberikan waktu untuk makan dan istirahat sekitar 60 menit hingga pukul 18.30 WIB. Selanjutnya, sesi kedua dimulai dengan sesi tanya jawab terlebih dahulu bersama narasumber pertama.
Pada sesi kedua, dilaksanakan sharing session bersama Mas Tamim, yang ternyata membawa satu temannya bernama Mas Danang. Mereka berdua kemudian berbagi pengalaman terkait pengalaman pribadi seputar advokasi dan apa saja yang telah dilakukan Divisi Advopro di periode kepengurusan sebelumnya. Sesi kedua tersebut diawali dengan pertanyaan pemantik dari salah satu peserta seputar, "Bagaimana cara berkomunikasi dan berinteraksi kepada kelompok marjinal dengan mengatasnamakan sebuah instansi, tetapi tetap terlihat napak tanah?" Mas Tamim dan Mas Danang berpesan bahwasannya advokasi pada tingkat organisasi mahasiswa tidak perlu terlalu membawa perubahan besar (misalnya audiensi dengan pemerintahan), tetapi dimulai dari exposure suatu isu yang diangkat bisa meningkat. Posisikan diri sebagai mahasiswa yang mau belajar lewat kegiatan advokasi yang sedang dan akan dilakukan.