JEJARING PENYELAMATAN PANGAN JAWA TENGAH
JIPAN Jawa Tengah merupakan jejaring kolaboratif yang dibangun untuk memperkuat upaya pencegahan pemborosan pangan dan penyelamatan pangan di Provinsi Jawa Tengah melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, organisasi masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya.
JIPAN menjadi wadah koordinasi dan kolaborasi dalam menghubungkan sumber pangan berlebih yang masih layak konsumsi dengan masyarakat yang membutuhkan, sekaligus mendorong perubahan perilaku untuk mencegah terjadinya pemborosan pangan sejak dari sumbernya.
Jika pangan yang berpotensi terbuang terselamatkan, dapat memberi makan setara 61–125 juta orang atau 29–47% populasi Indonesia. Ironisnya, di satu sisi masyarakat yang berkecukupan membuang makanannya, di sisi lain masih banyak masyarakat yang kebutuhan pangannya belum terpenuhi. Sebanyak 62 kabupaten/kota termasuk dalam kelompok daerah rentan rawan pangan (Peta FSVA Badan Pangan Nasional, 2024).
Selain itu, FLW menyebabkan kerugian ekonomi Indonesia sebesar 4–5% PDB dan menyumbang 7,29% emisi gas rumah kaca nasional. Emisi ini berdampak pada perubahan iklim yang memengaruhi pola curah hujan dan pada akhirnya menurunkan produktivitas pertanian—yang bermuara pada melemahnya ketahanan pangan.
Sumber data:
Bappenas, 2021. Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia.
FSVA, 2024. Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan – Badan Pangan Nasional.
DAMPAK JIPAN JAWA TENGAH
Selama Triwulan III Tahun 2026, sebanyak 40.201,56 kg pangan berhasil diselamatkan melalui kolaborasi berbagai pihak untuk disalurkan kepada masyarakat dan mengurangi pemborosan pangan.
Setara kebutuhan pangan sekitar 1.116 orang selama 90 hari.
Estimasi berdasarkan asumsi 400 gram pangan per orang per hari. Angka aktual bergantung pada jenis dan komposisi pangan.