"JAGA ALAS"
Gerakan Saput Poleng: Program Pengabdian Integratif Ekologis Chipko dan Filosofi Saput Poleng
Gerakan Saput Poleng: Program Pengabdian Integratif Ekologis Chipko dan Filosofi Saput Poleng
Pedoman Praktis Gerakan Saput Poleng: Integrasi Konservasi Pohon Suci Berbasis Kearifan Lokal
Video Dokumenter
"Saput Poleng: Menyelubungi Pohon, Merawat Keseimbangan"
Poster Infografis:
Visualisasi jenis pohon ritual/obat, makna filosofis poleng, dan langkah pelestarian.
Kelas Nyurya Sewana
Kelas Nyurya Sewana menggunakan pendekatan realisitk kelas alam bernuansa ekofilosofi yang mengenalkan Pohon Kayu larangan seputar Danau Tamblingan
Masyarakat Adat Dalem Tamblingan menghadapi krisis sosio-ekologis multidimensi, di mana degradasi hutan (khususnya alas Mertajati) akibat alih fungsi lahan dan tekanan pariwisata mengancam pohon sakral vital seperti Beringin dan Majegau kritis sebagai water catchment dan bahan ritual hingga menyebabkan penurunan debit mata air tradisional. Secara paralel, terjadi disintegrasi kultural yang mendalam, ditandai 68% generasi muda yang kehilangan pemaknaan filosofi sakral Saput Poleng dan Tri Hita Karana, melemahkan kearifan lokal pengatur keharmonisan ekologis. Tujuan program adalah menciptakan model konservasi integratif berbasis kearifan lokal untuk: (1) merestorasi fungsi ekologis-spiritual pohon sakral dan ekohidrologi, (2) mereaktualisasi filosofi adat sebagai etika konservasi, (3) memperkuat kelembagaan adat, dan (4) memproduksi pengetahuan berkelanjutan. Metode intervensinya mengintegrasikan epistemologi lokal dengan teknologi kontemporer melalui tiga pilar: Konservasi Partisipatif "Chipko-Poleng", Pelatihan Ekofilosofi Poleng, dan Sistem Pemantauan Sosio-Ekologis Integratif, pemberdayaan Poleng Ranger dengan aplikasi pelaporan, sistem peringatan dini terpadu). Luaran utama mencakup produk konkret (modul edukasi, video dokumenter, aplikasi "Jaga Alas Tamblingan", laporan riset, artikel ilmiah) serta dampak holistik: peningkatan survival rate pohon sakral >80%, stabilisasi mata air, peningkatan pemahaman filosofi >50% pada pemuda, revitalisasi ritual, terbentuknya Tapak & Korps Poleng Ranger, produk turunan berbasis pohon obat, Perarem Desa baru, dan adopsi model oleh desa lain.