Kegiatan penyediaan makanan sudah ada sejak “Groot Militair Hospital Weltevreden” berfungsi yaitu dengan adanya unit dapur yang dikepalai oleh seorang kepala dapur. Pada saat Leger Hospital diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Kepala dapur dipimpin oleh Setjo Atmojo, dan bagian diet dikepalai oleh Zr. De Haas, Seksi Makanan oleh Sersan Yan Sampouw dan bagian perbekalan dijabat oleh Kapten Senduk yang membawahi dapur, gudang dan pakaian.
Sersan Sampouw mengepalai Seksi Makanan sampai tahun 1954. Pada tahun 1955 diganti oleh Sersan M. Moudji Taba sampai tahun 1958, kemudian tahun 1958 sampai dengan 1964 kepala dapur dipimpin oleh Sersan Sugiman.
Pada tahun 1975 unit dapur pada saat ini bisa dibilang sudah modern mulai dibangun dengan luas lantai 2.715 m2, termasuk ruang cuci alat dan boiler (pembuat air panas). Unit dapur sendiri menggunakan lantai seluas 650 m2 tidak bertingkat. Peralatan dapur termasuk boiler dan peralatan pencucian alat menelan biaya satu milyar seratus tujuh puluh delapan juta tiga ratus empat puluh delapan ribu rupiah. Unit dapur ini selesai dibangun dan mulai dipergunakan pada tanggal 15 Februari 1977, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 27 Oktober 1978.
Pada tahun 1977, dapur dirubah namanya menjadi Biro Gizi, diserahterimakan dari Djuki Kartasantana kepada seorang ahli gizi Ibu Yusnalaini Y Mukawi, M.Sc. Pada tahun 1979 Biro Gizi berganti nama menjadi Bagian Gizi yang bertanggung jawab kepada As Um RSPAD Gatot Soebroto. Pimpinan dapur kemudian diserahkan kepada Mayor Ckm Munthe.
Pada tahun 1986 Bagian Gizi berubah menjadi Seksi Penyediaan Makanan disingkat ‘Si Diamak” yang dikepalai oleh Kapten Ckm (K) Taslimah dan bertanggung jawab kepada Direktur Penunjang Umum, pada tahun 1989 Kasi Diamak diganti oleh Kapten Ckm (K) Farida SKM seorang ahli gizi, dan pada tahun 1994 diganti oleh PNS Sumiarti, SKM sampai dengan tahun 2002.
Pada tahun 2002 Sie Diamak berubah menjadi Unit Gizi yaitu pada tanggal 25 April 2002 berdasarkan Surat Perintah Kepala RSPAD Gatot Soebroto Nomor 419/IV/2002 tanggal 25 April 2002, dengan fungsi dan tugasnya meliputi penyediaan makanan untuk pasien rawat inap, penyuluhan, konsultasi gizi, penelitian dan pengembangan gizi terapan. Unit Gizi dikepalai seorang Perwira Kesehatan berpangkat Letnan Kolonel. Kepala Unit Gizi sementara dijabat oleh PNS Sumiarti, SKM, kemudian pada bulan Juli 2002 Kepala Unit Gizi pertama dijabat oleh Mayor Ckm Ir. Irdan Ridwan, S.P., M.Kes., kemudian pada bulan Oktober 2002 naik pangkat menjadi Letnan Kolonel.
Letnan Kolonel Ckm Ir. Irdan Ridwan memimpin Unit Gizi dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007. Kepala Unit Gizi dilanjutkan oleh Letnan Kolonel Ckm Prima Haris Simamora, S. Sos., sampai dengan 2011. Pada tahun 2011 sampai dengan 2015 kepala Unit Gizi dipimpin oleh Letnan Kolonel Ckm Ishiko Herianto, S.Pd., M.Kes.
Letnan Kolonel Ckm Ishiko Herianto, S.Pd, M.Kes menjabat sebagai Kepala Unit Gizi sampai tahun 2015. Pada akhir tahun 2015 kepemimpinan Unit Gizi dilanjutkan oleh Letnan Kolonel Ckm Ronny Hendrik Medellu, SE. Sampai dengan akhir 2019. Selanjutnya Unit Gizi dipimpin oleh Plh Mayor Ckm (K) Noviati, SKM., M.Si,
kemudian pertengahan Agustus dipimpin oleh Plh Kolonel Ckm Didik Sartono, S.ST., FT sampai bulan Oktober 2020, Kepala Instalasi Gizi dijabat kembali oleh Letnan Kolonel Ckm Ronny Hendrik Medellu, SE yang kemudian naik pangkat satu tingkat pada bulan April 2021 menjadi Kolonel.
Pada akhir bulan Mei 2022 kepala Instalasi Gizi dijabat oleh Kolonel Ckm Ishiko Herianto, S.Pd., M.Kes sampai dengan saat ini. Pejabat yang pernah menjadi Pimpinan Instalasi Gizi dapat dilihat sebagai berikut :
1. Setijo Atmojo (1950-1958) jabatan Kepala Dapur
2. Sersan Sugiman (1958-1964) jabatan Kepala Dapur
3. Maidah (1964-1977) jabatan Pengatur Gizi
4. Djuki Karta Sasmita (1977) jabatan Seksi Makanan
5. Yusnalaini Y. Mukawi (1977-1979) jabatan Biro Gizi
6. Mayor Ckm Munthe (1979-1986) jabatan Sie Diamak
7. Kapten Ckm (K) Taslimah (1986-1989) jabatan Sie Diamak
8. Kapten Ckm (K) Farida, SKM (1989-1994) jabatan Sie Diamak
9. Sumiarti, SKM (1994-2002) jabatan Sie Diamak
10. Letnan Kolonel CKM Irdan Ridwan, S.P., M.Kes (2002-2007) jabatan Kepala Unit Gizi
11. Letnan Kolonel CKM Prima Harris, S.Sos (2007-2011) jabatan Kepala Unit Gizi
12. Letnan Kolonel CKM Ishiko Herianto, S.Pd., M.Kes. (2011-2015) jabatan Kepala Unit Gizi
13. Letnan Kolonel CKM Ronny Hendrik Madellu, S.E. (2015-2020) jabatan Kepala Unit Gizi
14. Kolonel CKM Ronny Hendrik Madellu, S.E. (Oktober 2020 - Mei 2022) jabatan Kepala Instalasi Gizi
15. Kolonel CKM Ishiko Herianto, S.Pd., M.Kes. (Mei 2022 – saat ini) jabatan Kepala Instalasi Gizi
Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan yang diberikan dan disesuaikan dengan keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuh. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi pasien yang semakin buruk karena tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk perbaikan organ tubuh. Fungsi organ yang terganggu akan lebih memburuk dengan adanya penyakit dan kekurangan gizi. Selain itu masalah gizi lebih atau obesitas sangat erat hubungannya dengan terjadinya penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, kanker yang sangat memerlukan terapi gizi untuk membantu penyembuhannya.
Instalasi Gizi merupakan satuan kerja di bawah Dirjangum RSPAD Gatot Soebroto yang bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan di bidang pelayanan gizi di lingkungan RSPAD Gatot Soebroto. Pelayanan gizi rumah sakit merupakan salah satu pelayanan penunjang medik dalam pelayanan kesehatan paripurna rumah sakit yang terintegrasi dengan kegiatan lainnya. Pelayanan gizi mempunyai peranan penting dalam mempercepat pencapaian tingkat kesehatan baik bersifat promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif. Kegiatan pokok pelayanan gizi di rumah sakit meliputi :
a. Penyelenggaraan makanan rumah sakit.
b. Asuhan gizi pasien rawat inap.
c. Asuhan gizi rawat jalan.
d. Penelitian dan pengembangan gizi.
Pelayanan gizi secara umum bertujuan menciptakan sistem pelayanan gizi yang bermutu dan paripurna sebagai bagian dari pelayanan kesehatan di rumah sakit. Semenjak berdirinya unit dapur dari awal berdirinya rumah sakit sampai saat ini telah banyak mengalami perubahan kearah kemajuan meliputi empat bidang pelayanan yaitu :
A. PENYELENGGARAAN MAKANAN RUMAH SAKIT
Pada awal berdirinya rumah sakit, dapur saat itu menggunakan bahan bakar gas yang bersumber dari gas negara, tetapi karena kadang-kadang saluran gasnya mengalami gangguan maka juga menggunakan tungku kayu bakar dengan peniup api yang dipompa genjotan. Pada waktu dapur dibangun di tempat yang sekarang, kayu-kayu dari bangunan tua dapat diminta untuk dijadikan kayu bakar keperluan masak di dapur lama, walaupun saat itu menggunakan kompor minyak yang dipompa, tetapi kompor minyak (solar) tahun 1955 ini mudah rusak. Pada tahun 1954 penyimpanan bahan makanan menggunakan lemari yang dapat diisi es balok sebagai pendingin, tetapi untuk penyimpanan daging telah ada 2 unit fregadir (freezer) besar kira-kira ukuran 2 meter kubik.
Lokasi dapur yang terletak sebelah utara gedung Perawatan Umum (PU) saat ini Paviliun Darmawan di belakang rumah sakit ini, dengan adanya rencana pengembangan rumah sakit (pengembangan unit baru) memungkinkan lokasi ini menjadi strategis dan mudah dijangkau dan akan bertambah baik sehingga distribusi makanan dapat berjalan lancar. Keadaan gedung dapur sekarang, lantai terbuat dari keramik bergaris, semen dan teraso. Dinding terbuat dari bahan porselin warna putih sehingga mudah dibersihkan. Atap/langit-langit tinggi terbuat dari asbes dan seng tebal dan penerangan/cahaya, cukup baik. Secara keseluruhan, area diamak dibagi dalam ruang-ruang sebagai berikut:
Kantor Kepala, kantor Administrasi Umum kantor Administrasi Dapur
1. Tempat persiapan bahan makanan, dibagi menjadi :
2. Tempat Pengolahan/ Pemasakan
3. Tempat pendistribusian makanan
4. Meja distribusi makanan biasa dan diet
5. Loket distribusi
6. Tempat pencucian alat
7. Gudang beras
8. Gudang bahan makanan kering
9. Lemari pendingin untuk bahan makanan basah
10. Gudang alat masak, alat makan dll
11. Ruang komunikasi dan istirahat pegawai pria
12. Mushola wanita dan pria
13. Kamar mandi/ WC pria dan Wanita.
Pada akhir 2021, setelah 43 tahun dari diresmikannya gedung unit dapur oleh Presiden Soeharto, Instalasi Gizi mengajukan renovasi total gedung Instalasi Gizi untuk mendukung peningkatan pelayanan gizi pasien dan petugas serta untuk mendukung Hospital Tourism yang sedang digalakkan oleh Pimpinan Rumah Sakit. Di dalam rancangannya, Instalasi Gizi mengajukan konsep dapur modern dengan dua lantai. Lantai 1 berfungsi sebagai dapur penyelenggaraan makanan, dilengkapi dengan ruangan khusus pencucian alat makan pasien (dishwaser) serta cafe sehat.Kegiatan penyelenggaraan makanan di dapur dapat dipantau dari gedung lantai 2. Lantai 2 dirancang sebagai pusat perkantoran dan litbang Instalasi Gizi serta dirancang dapat menyaksikan kegiatan penyelenggaraan makanan secara langsung.
Pada tahun 2003 didirikan dapur makanan cair, sebelumnya dapur susu menyatu dengan dapur makanan biasa, belum mempunyai ruangan khusus, dengan adanya ruangan khusus maka pengolahan makanan cair lebih steril dan terjaga kualitasnya.
Dapur pengolahan makanan cair tempo dulu
Dapur pengolahan makanan cair saat ini
Penyelenggaraan makanan yang baik berawal dari penerimaan bahan makanan yang berkualitas baik dan bebas dari kandungan bahan-bahan yang berbahaya. Pengecekan pada saat penerimaan bahan sampai dengan distribusi makanan. Pada saat penerimaan bahan makanan dilakukan pengecekan bahan makanan yang diterima disesuaikan dengan spesifikasi bahan makanan. Sejak tahun 2009 diadakan pemeriksaan bahan makanan (food security) untuk mengetahui dan memastikan bahan makanan bebas dari bahan-bahan berbahaya seperti pewarna, borak, formalin, dan bahan pengawet lain.
Dapur pengolahan makanan cair saat ini
Peralatan penyimpanan makanan sangat mempengaruhi kualitas bahan makanan apabila bahan makanan tidak langsung digunakan. Saat ini Instalasi Gizi dilengkapi dengan 2 unit chiller sayuran, 1 unit chiller bumbu dan 1 chiller lauk nabati, 2 unit freezer untuk menyimpan bahan makanan lauk hewani, 1 buah lemari es khusus untuk retain food yaitu sampel makanan matang yang disimpan selama 3 hari, sebagai bahan yang digunakan untuk pemeriksaan apabila terjadi kejadian yang tidak diinginkan seperti keracunan makanan.
Peralatan Freezer
Peralatan Chiller
Penyimpanan bahan makanan kering dan food suplement disediakan gudang khusus bahan makanan kering yang bersih dan termonitor suhu dan kelembabannya.
Proses pengolahan makanan dimulai dari persiapan bahan makanan, saat ini telah disediakan peralatan dan ruangan khusus untuk persiapan bahan makanan. Pada tahun 2015 didukung 2 unit alat pemotong sayuran yang digunakan untuk memotong sayuran agar lebih cepat dan efektif.
Peralatan pengolahan makanan mengalami banyak kemajuan seperti pemasak nasi pada tahun 2015 Unit Gizi mendapatkan dukungan alat pemasak nasi “Rice Cooker” berkapasitas 30-60 kg beras, alat ini sangat mendukung produksi makanan agar lebih efektif dan efisien. Alat Rice Cooker yang diterima sebanyak 2 unit, alat ini menggunakan bahan bakar gas. Sebelum menggunakan alat ini Unit Gizi masih menggunakan alat tradisional berupa dandang besar sebagai alat penanak nasi. Pada
tahun 2019, Unit Gizi mendapat dukungan alat 2 buah combioven, alat ini dapat memasak dengan sistem dipanggang, dan dikukus dalam satu waktu, alat ini dilengkapi dengan sistem digital, menggunakan bahan bakar gas.
Alat penanak nasi (Rice cooker)
Alat Combioven
Proses pengolahan bubur untuk pasien dan petugas
Proses pengolahan nasi goreng untuk pasien dan petugas
Pada tahun 2017 Unit Gizi mendapatkan dukungan peralatan Pastry yaitu 2 unit oven, 1 unit profer, dan 2 unit mixer serta peralatan pendukung lainnya. Peralatan Pastry ini untuk mendukung produksi snack pasien, snack untuk kegiatan rapat dilingkungan rumah sakit, serta snack untuk petugas paramedis dinas sore dan malam. Produksi snack didukung juga oleh sumber daya manusia yang disiapkan dengan memberikan pelatihan dan kursus pastry .
Peralatan dan kegiatan pengolahan snack di dapur pastry
Pada tahun 1978 pengolahan makanan masih menggunakan alat-alat yang sederhana, distribusi makanan masih menggunakan rantang dan ompreng. Pada saat ini distribusi makanan mengalami kemajuan. Alat makan pasien menggunakan alat makan keramik untuk kelas I dan VIP, serta menggunakan alat bento untuk kelas III. Pada saat distribusi makanan diawasi dan dimonitor oleh nutrisionis, serta dilakukan pengecekan sebelum makanan didistribusikan ke ruangan pasien untuk memastikan ketepatan diet apakah sudah sesuai dengan etiket makanan pasien.
Proses distribusi bahan makanan tempo dulu
Penyelenggaraan makanan di Paviliun Kartika dilakukan dengan sistem desentralisasi, dilaksanakan oleh catering dan disupervisi oleh Instalasi Gizi.
Proses Distribusi Makanan Oleh Pramusaji Di Ruang Rawat Inap
Hidangan makananan pasien VIP
Hidangan makananan pasien VIP
Kegiatan Pelayanan gizi rawat inap oleh Instalasi Gizi meliputi asuhan Gizi dan penyajian makanan. Saat ini telah adanya perkembangan asuhan gizi, dari intervensi gizi konvensional menjadi Asuhan Gizi yang terstruktur dan terstandar. Asuhan Gizi dimulai dengan melakukan skrining gizi awal, yaitu mengidentifikasi ada tidaknya risiko pasien terhadap masalah gizi. Hal ini bertujuan mencegah penurunan status gizi yang dapat terjadi pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Pasien yang berisiko penurunan status gizi akan dilanjuti oleh nutrisionis dengan metode Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). PAGT merupakan pemecahan masalah gizi yang sistematis, berpikir kritis dan membuat keputusan dan terdiri dari 4 tahap (ADIME) yaitu asesmen Gizi (Pengumpulan data antopometri, biokimia, fisik klinis Riwayat gizi dan Riwayat personal), Diagnosis Gizi (Mengindentifikasi nama masalah gizi), Intervensi Gizi dan Monitoring dan evaluasi (Mengukur perkembangan dari intervensi gizi). Kegiatan ini dilakukan oleh Nutrisionis yang kompeten dan terintegrasi tercatat di CPPT (Catatan perkembangan pasien terintegrasi). Edukasi gizi pasien rawat inap. juga disampaikan ke pasien dan keluarga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga sehingga dapat memilih/ mengatur makanan sesuai diet.
Koordinasi dan Kolaborasi dilakukan oleh Nutrisionis dengan PPA (Profesional Pemberi Asuhan) lainnya bersinergi dalam memecahkan masalah gizi pasien. Nutrisions bertanggung jawab disetiap ruang rawat inap termasuk ruang perawatan Covid-19. Nutrisionis ikut serta dalam kegiatan pelayanan Gizi ruang rawat inap covid sesuai ketentuan/ protokol yang berlaku. Nutrisionis dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga menjadi kompeten dan profesional dengan mengikuti seminar/pelatihan/ workshop terkait gizi dan mengembangkan gizi dengan penelitian.
Kegiatan Pelayanan Gizi Ruang Rawat Inap Covid-19 Sesuai Ketentuan / Protokol Yang Berlaku
Kegiatan Pelayanan Gizi lainnya adalah penyajian makanan pasien yang dilakukan oleh pramusaji di bawah supervisi oleh nutrisionis. Makanan yang disampaikan ke pasien tepat diet dengan melakukan identifikasi pasien sebelum makanan disajikan. Selain Ketepatan diet, Ketepatan waktu serta Sisa makanan merupakan indikator mutu Gizi.
Evaluasi pelayanan Gizi rawat inap dilakukan rutin oleh pimpinan dan Staf instalasi Gizi sebagai tindak lanjut untuk mencapai pelayanan Gizi pasien yang optimal.
Evaluasi Pelayanan Gizi Rawat Inap
Instalasi Gizi selain melayani penyelenggaraan makanan dan edukasi pasien rawat inap juga melaksanakan kegiatan pelayanan gizi rawat jalan di Poliklinik. Poliklinik Gizi Departemen Penyakit Dalam resminya berdiri tahun 1981, sebelumnya sudah ada seorang petugas Gizi Seksi Diamak yang bertugas menerangkan gizi pada pasien rawat jalan yaitu Sdri. Maria, lulusan sekolah pengatur gizi. Poliklinik gizi ini dikembangkan oleh Yusnalaini Y. Mukawi, MSc. pada saat itu sebagai Kepala Departemen Penyakit Dalam adalah Kolonel Ckm Dr. Prawira. Pada saat perintisan poli gizi, hanya ada dua orang petugas yaitu seorang Ahli Gizi dan seorang Tata Usaha (Pince Timang). Dengan adanya peningkatan pengunjung Poliklinik, tenaga Tata Usaha kewalahan, lalu mendapat bantuan satu orang tenaga siswa sekolah pengatur rawat silih berganti. Keadaan ini pun tidak dapat mengatasi permasalahan, sehingga tahun 1982, diberi tenaga Perawat Zr. Yani Sofiani
Edukasi Pada Tahun 1981
Pada tahun 1983 aktifitas Poli Gizi ditingkatkan, selain konsultasi pasien rawat jalan, juga ada program penurunan BB, dengan terapi diet dan olahraga. Pada tahun tersebut Poli Gizi dapat bantuan tenaga Konsultan dr. Waluyo Soedjodibroto Ph.D. dari bagian Gizi FKUI. Setelah itu berhubung dengan kesehatan yang tidak memungkinkan, sebagai penggantinya adalah dr. Rachmat Sugih. Bersamaan itu pula Poli Gizi mendapat Penambahan satu tenaga perawat Zr. Sumini. Kegiatan Poli Gizi terus meningkat dengan banyaknya permintaan untuk ceramah Gizi, baik di lingkungan ABRI maupun diluar. Demikian, juga di Mas Media baik berupa artikel-artikel di majalah wanita maupun mengisi acara di TVRI. Tahun 1984 ruang Poliklinik Gizi berada di Gedung Kebidanan dipindah ke Gedung Satrio lantai 4. Tahun 1987 mendapat tambahan ahli gizi Prima Harris, B. Sc yang membantu kegiatan di Poli Gizi dan rawat inap Perawatan Umum (PU).
Guna menunjang kegiatan tersebut Poli Gizi mendapat penambahan tenaga satu orang Ahli Gizi Sumiarti, SKM., dan satu orang perawat Zr. Tialida Sianipar yang bertugas sebagai Kaur Poli Gizi. Pada saat berdirinya Pav. Kartika Sumiarti SKM, ditarik sebagai Ahli Gizi Pav. Kartika sebagai penggantinya Endang Hidayat, DCN sampai 1997 karena yang bersangkutan melanjutkan pendidikan ke Program Diploma, Bag. Gizi FKUI.
Pada tahun 1990, Poli Gizi juga mendapatkan tambahan Ahli Gizi Sri Noerwati, DCN. Semenjak tahun 1988 kegiatan Poli Gizi bertambah dengan penanganan pasien rawat inap dan Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa D3 Gizi kemudian menyusul PKL D4 Gizi. Pada saat tersebut sebagai Kepala Departemen Penyakit Dalam adalah Kolonel Ckm dr. Widodo Soeprapto, Sp. PD. Tahun 1991, sebagai pengganti Sri Nurwati, DCN adalah Sumedi B.Sc.
Pada saat Kolonel Ckm dr. Untung Sudomo, Sp. PD., sebagai Kadep Penyakit Dalam yaitu pada tahun 1994, Penyakit Dalam mendapat tambahan tenaga dokter dengan pendidikan S2 Gizi yaitu dr. Joosje Jansari Hassan MS, dua tahun berikutnya yaitu tahun 1996, Penyakit Dalam mendapat tambahan lagi dua orang tenaga dengan pendidikan S2 Gizi yaitu dr. Natalia Emmy Luciana MS, dan dr. Ira Marisa MS.
Mulai saat ini pula Poli Gizi lebih dikenal sebagai Bagian Gizi Departemen Penyakit Dalam. Dengan adanya Penambahan tenaga Ahli kegiatan Bagian Gizi makin meningkat terutama pelayanan rawat inap. Bagian Gizi melayani seluruh permasalahan gizi yang dikonsulkan, dari berbagai Departemen yang ada di rumah sakit ini.
Penyelenggaraan praktek tenaga gizi oleh Nutrisionis/ Dietisien khususnya tentang edukasi dan konseling gizi sesuai Permenkes RI No. 26 Th 2013, meliputi pengkajian gizi dengan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan serta komposisi tubuh dengan menggunakan alat Body Composition analyzer dan quantum magnetic resonance body analyzer. Alat ini berfungsi menganalisis komposisi gizi di dalam tubuh meliputi gizi makro dan mikro.
Selain di ruang edukasi gizi, kegiatan pelayanan gizi rawat jalan juga dilaksanakan di poliklinik Anak, kegiatan ini telah dilaksanakan sejak tahun 2016.
Pengukuran Tinggi Badan
Pengukuran Body Composition Analyzer Saat Ini
Pengukuran Menggunakan Alat Quntum Magnetic Resonance Body Analyzer
Kegiatan Edukasi Saat ini
Instalasi Gizi melaksanakan kegiatan di bidang Penelitian dan Pengembangan salah satunya adalah sebagai tempat PKL (Praktek Kerja Lapangan) Mahasiswa Jurusan Gizi. Awal mula kegiatan ini dilakukan pada tahun 1998 sampai dengan sekarang. Beberapa institusi pendidikan yang bekerja sama dengan Instalasi Gizi RSPAD sebanyak 15 Perguruan Tinggi jurusan gizi yaitu Poltekkes Kemenkes RI Jakarta II, Padang, Bengkulu, Tasikmalaya, Lampung, Riau, Pontianak dan Universitas Indonesia, IPB, Esa Unggul, Binawan, dan Darussalam Gontor.
Kegiatan Presentasi Laporan Mahasiswa
Kegiatan Modifikasi Menu Mahasiswa
Pada tahun 2021 Instalasi Gizi mendapatkan juara ke-1 Lomba Mutu Pelayanan RSPAD Gatot Soebroto Award 2021 dalam Kategori Instalasi Tindakan dan Penunjang
Sertifikat
Dalam bidang pengembangan inovasi penyelenggaraan makanan pada tahun 2021 Instalasi Gizi membuat aplikasi untuk pemesanan makanan yang dipelopori oleh PNS Yunita, SKM., MPH. Aplikasi ini bertujuan untuk mempermudah pemesanan makanan pasien rawat inap dari ruang perawatan ke bagian administrasi makan pasien di Instalasi Gizi sehingga dapat memperkecil kejadian kesalahan diet pasien.
Pada tahun 2022 pengembangan inovasi dilanjutkan oleh PNS Sri Martini, SKM., MKM dengan membuat aplikasi Indikator Mutu Gizi (Si Imut Gizi) meliputi sisa makan pasien, ketepatan waktu pemberian makan pasien dan ketepatan diet makan pasien. Aplikasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan dan memudahkan pramusaji dan tim quality control dalam pengisian indikator mutu di Instalasi Gizi, aplikasi ini juga dapat diakses oleh Pimpinan untuk mengevaluasi indikator mutu di Instalasi Gizi dalam mencapai tingkat kepuasan pasien.
Aplikasi Pekanpadi
Aplikasi Si Imut Gizi
Instalasi Gizi melaksanakan kegiatan Pelayanan Gizi meliputi Penyelenggaraan Makanan, Pelayanan Gizi Rawat Inap. Pelayanan Gizi Rawat Jalan serta Penelitian dan Pengembangan Gizi.
Demikian sekilas sejarah Instalasi Gizi dari masa ke masa, semoga dapat memotret masa lalu dan memberikan gambaran bagi generasi penerus saat ini serta sebagai pijakan untuk terus membangun RSPAD Gatot Soebroto khususnya di bidang gizi dan bersyukur atas pencapaian saat ini karena jasa para pendahulu.