Meningkatkan Gerakan Numerasi Nasional Berbasis Kebiasaan
(Strategi Mendalam untuk Membudayakan Literasi Numerasi di Lingkungan Pendidikan)
Meningkatkan Gerakan Numerasi Nasional Berbasis Kebiasaan
(Strategi Mendalam untuk Membudayakan Literasi Numerasi di Lingkungan Pendidikan)
Oleh
Dudi Wahyudi
Sekretaris Jenderal Matematika Nusantara
Pendahuluan
Gerakan numerasi merupakan salah satu inisiatif penting dalam dunia pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis dan matematis masyarakat. Namun, tantangan terbesar dalam gerakan ini adalah bagaimana numerasi tidak hanya dipelajari di ruang kelas, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Di tengah tantangan global, penguasaan numerasi menjadi pondasi utama dalam membangun generasi yang cerdas, kreatif, dan siap bersaing. Dengan menjadikan numerasi sebagai kebiasaan, diharapkan masyarakat dapat lebih terampil memecahkan masalah dan mengambil keputusan berbasis data dalam kehidupan nyata.
Pentingnya Numerasi dalam Pendidikan
Numerasi bukan hanya sekadar kemampuan menghitung, melainkan juga keterampilan berpikir kritis, analitis, dan problem solving. Siswa yang terbiasa dengan aktivitas numerasi akan lebih mudah memahami berbagai konsep dalam pelajaran lain, seperti sains, teknologi, bahkan ekonomi. Di banyak daerah, rendahnya tingkat numerasi berimbas pada rendahnya prestasi akademik dan daya saing lulusan. Oleh karena itu, menanamkan kebiasaan numerasi di sekolah menjadi langkah strategis untuk membentuk masyarakat yang literat dan produktif. Selain itu, penguatan gerakan numerasi dapat dilakukan dengan membudayakan diskusi kelompok kecil yang membahas solusi atas masalah nyata yang dialami siswa di lingkungan sekitar. Misalnya, siswa diajak berdiskusi tentang cara menghemat pengeluaran keluarga, memprediksi kebutuhan air di musim kemarau, atau mengatur jadwal belajar yang efektif berdasarkan waktu yang tersedia. Dengan pendekatan ini, numerasi menjadi alat berpikir yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep matematika secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam berbagai situasi nyata.
Pendekatan Organik dalam Pembiasaan Numerasi
Pembiasaan numerasi hendaknya ditanamkan secara alami dalam keseharian siswa, bukan sekadar berbasis tugas formal di ruang kelas. Guru dapat mengintegrasikan numerasi dalam rutinitas harian, misalnya dengan menggunakan kalender kelas untuk menghitung hari, meminta siswa mencatat suhu udara setiap pagi, atau menantang mereka menghitung jumlah langkah dari gerbang sekolah ke kelas. Kebiasaan sederhana ini menanamkan pemahaman bahwa matematika bukan hanya pelajaran, tetapi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.
Selain contoh pembiasaan sederhana yang telah disebutkan, guru juga dapat memanfaatkan waktu-waktu transisi di sekolah, seperti saat pergantian pelajaran atau antre makan siang, untuk mengajak siswa bermain teka-teki matematika atau kuis cepat berhitung. Kegiatan interaktif ini dapat memperkuat kebiasaan numerasi tanpa terasa membebani siswa, sekaligus membangun suasana belajar yang menyenangkan dan penuh semangat gotong royong.
Tantangan dan Solusi dalam Implementasi Gerakan Numerasi
Beberapa tantangan dalam mengembangkan kebiasaan numerasi di sekolah antara lain keterbatasan sumber daya, kurangnya pemahaman guru tentang pembelajaran numerasi berbasis kebiasaan, serta resistensi dari siswa yang merasa numerasi sulit atau tidak menarik. Solusinya, pemerintah dan dinas pendidikan perlu menyediakan pelatihan intensif bagi guru, memperkaya fasilitas pembelajaran, serta melakukan kampanye literasi numerasi secara masif dan berkelanjutan.
Selain keterbatasan sumber daya dan pemahaman guru, tantangan lain yang kerap dihadapi adalah minimnya dukungan lingkungan sekitar terhadap pembiasaan numerasi. Banyak orang tua yang masih menganggap numerasi sebagai urusan sekolah saja, sehingga kurang terlibat dalam aktivitas numerasi di rumah. Di beberapa daerah, akses terhadap media pembelajaran numerasi juga masih terbatas, baik dari segi bahan ajar maupun teknologi pendukung. Hal ini menyebabkan kesenjangan dalam penerapan gerakan numerasi, khususnya di wilayah terpencil atau dengan fasilitas minim.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, dibutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga, dan komunitas. Solusi yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan literasi numerasi bagi orang tua melalui sosialisasi dan pelatihan sederhana, serta mengembangkan bahan ajar numerasi berbasis kearifan lokal yang mudah diakses dan relevan dengan kehidupan masyarakat setempat. Sekolah juga dapat membangun jejaring dengan komunitas lokal, seperti kelompok arisan atau karang taruna, untuk mengadakan kegiatan numerasi bersama. Selain itu, optimalisasi pemanfaatan teknologi sederhana, seperti aplikasi kalkulator atau permainan angka tradisional, dapat menjadi alternatif di lingkungan yang belum memiliki akses internet memadai. Dengan demikian, upaya pembiasaan numerasi tetap dapat berjalan merata di seluruh Indonesia.
Strategi Meningkatkan Gerakan Numerasi Berbasis Kebiasaan
Agar gerakan numerasi benar-benar efektif, sekolah perlu mengintegrasikan kebiasaan numerasi dalam aktivitas sehari-hari dan budaya sekolah. Berikut beberapa strategi mendalam yang dapat diterapkan:
1. Pembiasaan Numerasi dalam Kegiatan Harian Sekolah
2. Integrasi Numerasi pada Semua Mata Pelajaran
3. Pemanfaatan Media dan Teknologi
4. Kolaborasi dengan Orang Tua dan Komunitas Sekolah
5. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual
Numerasi berbasis kebiasaan berarti kemampuan berhitung, menganalisis data, dan berpikir logis diterapkan terus-menerus dalam aktivitas harian. Hal ini tidak hanya meningkatkan kecakapan individu, tetapi juga memperkuat budaya literasi numerasi di masyarakat. Kebiasaan ini dapat membentuk generasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama dalam menghadapi tantangan globalisasi dan era digital.
Contoh Praktik Baik
· Mengajak anak-anak menghitung jumlah anggota keluarga sebelum makan bersama.
· Melibatkan siswa dalam pencatatan keuangan sederhana saat mengelola kantin sekolah.
· Membiasakan membaca data atau grafik yang terpampang di tempat umum, seperti grafik perkembangan kasus kesehatan di puskesmas.
· Mengadakan lomba cerdas cermat matematika di tingkat RT atau RW.
Selain itu, penting untuk menanamkan pemahaman bahwa numerasi tidak terbatas pada angka dan rumus semata, namun juga mencakup keterampilan memecahkan masalah sehari-hari secara kreatif dan kritis. Misalnya, saat merencanakan perjalanan keluarga, anak-anak dapat diajak menghitung estimasi waktu tempuh, membandingkan harga tiket, atau menentukan prioritas belanja sesuai anggaran. Dengan demikian, pembiasaan numerasi dapat tumbuh secara alami melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus saling bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung budaya literasi numerasi. Misalnya dengan memasang poster infografis numerasi di ruang publik, mengadakan pekan numerasi, atau membuat pojok numerasi di perpustakaan sekolah. Guru perlu mengaitkan materi numerasi dengan situasi nyata yang sering ditemui siswa. Misalnya, membuat proyek menghitung luas halaman sekolah, menganalisis data jumlah kehadiran siswa, atau membuat survei sederhana di lingkungan sekitar.
Dengan cara ini, siswa akan terbiasa menggunakan numerasi dalam kehidupan nyata. Di era digital, banyak aplikasi dan permainan edukasi yang dapat dimanfaatkan untuk membiasakan numerasi, seperti aplikasi pengelolaan keuangan, permainan logika, atau video pembelajaran matematika. Guru dan orang tua dapat memilih media yang sesuai usia dan kebutuhan anak agar proses pembiasaan numerasi menjadi lebih menarik dan relevan. Peran keluarga sangat penting dalam menanamkan kebiasaan numerasi. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi tentang harga barang, menghitung kembalian, atau membuat anggaran belanja bersama. Selain itu, kegiatan komunitas seperti arisan, bazar, atau lomba matematika sederhana juga dapat menjadi wahana pembiasaan numerasi secara kolektif.
Kunci utama adalah mengaitkan konsep numerasi dengan aktivitas rutin, seperti berbelanja di pasar, mengatur keuangan keluarga, memasak dengan takaran, atau bahkan bermain permainan tradisional yang melibatkan hitungan. Melalui pendekatan ini, numerasi tidak terasa sebagai beban belajar, melainkan menjadi sesuatu yang alami dan menyenangkan.
Guru dapat merancang pembelajaran berbasis proyek yang mengharuskan siswa menggunakan keterampilan numerasi untuk memecahkan masalah nyata. Contohnya, siswa diminta menghitung anggaran untuk kegiatan kelas, menganalisis data hasil survei, atau membuat perencanaan bisnis sederhana. Pendekatan ini membuat numerasi semakin relevan dan membumi.
Melibatkan orang tua dalam gerakan numerasi sangat penting. Sekolah dapat mengadakan workshop atau seminar tentang pentingnya numerasi, serta memberikan modul aktivitas numerasi yang bisa dilakukan di rumah. Selain itu, komunitas sekolah seperti OSIS atau klub matematika dapat membuat program kreatif, seperti lomba cerdas cermat numerasi atau bazar matematika.
Sekolah bisa memanfaatkan aplikasi edukasi numerasi, video pembelajaran interaktif, dan permainan digital untuk membiasakan siswa berinteraksi dengan angka dan logika. Teknologi memungkinkan proses pembelajaran numerasi menjadi lebih menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Numerasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru matematika. Guru bahasa Indonesia dapat melatih siswa membaca teks yang mengandung data dan angka, guru seni dapat mengajak siswa membuat pola geometris, guru olahraga dapat mengajak siswa menghitung skor atau statistik pertandingan. Dengan cara ini, numerasi menjadi kebiasaan lintas mata pelajaran. Guru dan tenaga kependidikan dapat memasukkan aktivitas numerasi dalam rutinitas pagi, misalnya melalui permainan angka, tebak-tebakan logika, atau diskusi singkat mengenai fenomena matematika yang terjadi di lingkungan sekitar. Misalnya, saat upacara bendera, siswa diajak menghitung jumlah peserta, atau saat istirahat, mereka diajak mengestimasi jumlah makanan yang tersedia di kantin.
Kesimpulan
Meningkatkan Gerakan Numerasi Nasional berbasis kebiasaan di sekolah membutuhkan komitmen bersama antara guru, siswa, orang tua, dan pemerintah. Dengan strategi yang tepat dan pendekatan yang mendalam, numerasi dapat menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya sekolah dan kehidupan sehari-hari siswa. Upaya ini bukan hanya untuk meningkatkan nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter generasi Indonesia yang cerdas, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Saran
Agar gerakan ini semakin sukses, sekolah diharapkan terus berinovasi dalam menciptakan aktivitas numerasi yang menarik dan relevan, memperkuat kolaborasi dengan semua pihak, serta mengintegrasikan evaluasi numerasi dalam setiap aspek pendidikan. Dengan demikian, kebiasaan numerasi akan tumbuh dan berkembang, membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing tinggi.
Berbagi Contoh Penerapan Taksonomi Bloom Revisi dalam Pembelajaran Matematika
BERBAGI CONTOH PENERAPAN TAKSONOMI BLOOM REVISI
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
OLEH
DUDI WAHYUDI
Para guru khususnya guru matematika, tentu tidak asing dengan taksonomi Bloom, yaitu taksonomi yang membahas jenjang ranah kognitif. Tetapi, apakah kita sudah menerapkan taksonomi ini untuk melayani siswa dengan berbagai kemampuan dalam pembelajaran yang kita lakukan di kelas?
Dalam Panduan analisis konteks untuk satuan pendidikan yang memuat analisis standar proses, pada tahap awal kita tahu sebelum membuat silabus pembelajaran dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kita perlu mengembangkan terlebih dahulu analisis mata pelajaran, analisis tujuan mata pelajaran, analisis/pemetaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK/KD) baru kita lanjutkan untuk melakukan proses pengembangan Silabus dan RPP serta diakhiri dengan pemenuhan standar penilaian pembelajaran. Ketika kita telaah, dalam konteks KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) pemenuhan itu berkisar pada tahap pemenuhan standar minimal kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa yaitu pada tingkatan ranah Kognitif (C), ranah Afektif (A) dan ranah Psikomotorik (P). Ketiga ranah ini tergambarkan sebagai bentuk kompetensi siswa dalam mata pelajaran yang sesuai dengan permendiknas no 22 tahun 2006 tentang standar Isi.
Dalam Standar kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK/KD) termuat kata kerja operasional yang merupakan kompetensi minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik. Kata kerja operasional (KKO) itu tercermin sebagai bentuk gambaran dari ketiga ranah tersebut. Pengetahuan akan KKO dalam tingkatan ranah merupakan dasar dari pengembangan silabus dan RPP untuk mencapai kompetensi minimal.
Matematika dalam KTSP memuat dua ranah yaitu ranah kognitif dan ranah Afektif. Pengembangan pembelajaran matematika dalam konteks pemahaman taksonomi Bloom sangat penting untuk dilakukan. Tetapi seringkali kita bertanya, sudahkah kita menerapkan taksonomi Bloom yang pertama dan yang revisi untuk ranah kognitif dalam pembelajaran ? Penulis yakin kita seringkali dan sudah menerapkannya dalam pembelajaran matematika….
Taksonomi Bloom digagas oleh Benjamin S. Bloom (1913 – 1999), membagi ranah kognitif menjadi 6 jenjang yaitu :
1. Pengetahuan (Knowledge / C1), yaitu kemampuan mengingat materi yang telah dipelajari dari pengalaman belajar.
2. Pemahaman (Comprehension / C2), yaitu kemampuan untuk menjelaskan arti materi pelajaran yang berupa kata, angka, dan sebab-akibat.
3. Aplikasi (Aplication/ C3) yaitu kemampuan menggunakan materi pelajaran yang telah dipelajari lewat pengalaman belajar terhadap situasi dan kondisi yang lebih konkrit.
4. Analisis (Analysis/ C4) yaitu kemampuan memecah materi menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasi materi dapat dimengerti.
5. Sintesis (synthesis/ C5) yaitu kemampuan menempatkan bagian-bagian secara bersama sehingga mambentuk sesuatu yang baru sebagai suatu kesatuan.
6. Evaluasi (Evaluation/ C6) yaitu kemampuan mengambil keputusan untuk memberikan penilaian atau pertimbangan tehadap suatu materi pelajaran sesuai dengan tujuannya.
Jenjang 1 sampai dengan 3 digolongkan sebagai keterampiln berfikir dasar (basic thinking skill), sedangkan jenjang 4 sampai dengan 6 dimasukan ke keterampilan berfikir yang lebih tinggi (higher order thinking skill). Taksonomi Bloom sangat besar manfaatnya dalam merencanakan pembelajaran dan mengorganisasi keterampilan berfikir dalam 6 jenjang, dari mulai yang paling dasar sampai ke tingkat yang lebih tinggi.
Perkembangan berikutnya, Lorin W. Anderson bersama David R. Krathwohl menyadari bahwa sesungguhnya belajar itu adalah proses aktif, sehingga jenjang-jenjang dalam taksonomi Bloom semestinya juga harus menggambarkan proses aktif itu. Anderson dan Krathwohl pada tahun 2001 (dalam Iriyanti) merevisi taksonomi Bloom dalam bukunya yang berjudul : A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing : A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Revisi yang mereka lakukan mencakup beberapa perubahan antara lain :
(1) Mengubah jenis kata dalam taksonomi Bloom, dari jenis kata benda (noun) menjadi kata kerja (verb),
(2) Melakukan organisasi ulang urutan jenjang,
(3) Mengganti kategori pengetahuan (knowledge) menjadi mengingat (remembering), pemahaman (comprehension) menjadi memahami (understanding) dan sintesis (Synthesis) menjadi menciptakan (creating).
Lebih lengkapnya, jenjang dalam taksonomi Bloom revisi adalah sebagai berikut :
1. Mengingat (remembering)
Indikator-indikator untuk jenjang ini adalah mengenali (recognizing), mendaftar (listing), menggambarkan (describing), mengidentifikasi (identifying), menamakan (naming), meletakan (locating) dan menemukan (finding).
2. Memahami (understanding)
Indicator- indikatornya adalah menafsirkan (interpreting), mencontohkan (exemplify), merangkum (summarizing), menyimpulkan (inferring), menyatakan kembali (paraphrasing), mengklasifikasi (classifying), membandingkan (comparing) dan menjelaskan (explaning).
3. Menerapkan (Applying)
Indikator-indikatornya adalah menjalankan (implementing), melaksanakan (carrying out), menggunakan (using) dan menyelesaikan (executing).
4. Menganalisa (analyzing)
Indicator jenjang ini adalah membandingkan (comparing)
5. Mengevaluasi (evaluating)
Indikator-indikatornya adalah memeriksa (checking), membuat dugaan (hypothesizing), mengkritisi (critiquing), melakukan percobaan (experimenting), menilai (judging), menguji (testing), mendeteksi (detecting), dan memonitor (monitoring).
6. Menciptakan (creating)
Indikator-indikatornya adalah mendesain (designing), menkonstruksi (constructing), merencanakan (planning), menghasilkan (producing), menemukan (inventing), menciptakan (devising) dan membuat (making).
Dengan memahami taksonomi Bloom Revisi, kita sebagai guru matematika dapat memahami dan menerapkan jenjang-jenjang itu sesuai dengan kondisi siswa di dlam kelasnya. Beberapa kemungkinan yang dapat diterapkan dalam situasi kelas adalah :
1. Semua siswa melakukan aktivitas mengingat dan memahami, kemudian beberapa siswa dapat melakukan aktivitas pada jenjang yang lebih tinggi (higher order thinking skills).
2. Beberapa siswa bekerja pada keterampilan berfikir jenjang dasar (basic thinking skills), sementara beberapa siswa lain yang lebih cepat berfikirnya bekerja pada jenjang yang lebih tinggi.
3. Beberapa siswa melakukan aktivitas jenjang dasar, kemudian mereka dapat memilih aktivitas pada jenjang yang lebih tinggi.
4. Beberapa aktivitas dikatakan wajib dikerjakan (essensial), sedangkan yang lainnya digolongkan sebagai pilihan (optional).
5. Guru menerapkan proses pembelajaran diawali dengan membawa masalah yang berjenjang kemudian siswa dirangsang untuk aktif berfikir pada tingkatannya.
Beberapa diantaranya contoh penerapan taksonomi Bloom Revisi dalam pembelajaran matematika di kelas :
1. Aspek Bilangan
Untuk jenjang pendidikan / kelas IV sekolah dasar semester 1
a. Mengingat
Buatlah daftar jenis makanan dan minuman yang dapat kamu beli dengan harga Rp 500, Rp 5.000, dan Rp 20.000.
b. Memahami
Jelaskan besaran uang rupiah yang dapat digunakan untuk membayar barang-barang tersebut.
c. Menerapkan
Hitunglah kembalian yang kamu terima jika uangmu Rp 1.000, Rp 10.000 atau Rp 20.000 untuk makanan/minuman yang kamu beli.
d. Menganalisa
Tentukan dan catat operasi hitung apa yang kamu gunakan untuk menghitung kembalian tersebut.
e. Mengevaluasi
Kriteria apa yang kamu gunakan untuk mengetahui apakah jawabanmu benar atau salah?
f. Menciptakan
Buatlah daftar pesanan makanan yang terdiri dari 3 macam makanan yang harganya mendekati atau seharga Rp 2.500, Rp 7.500 dan Rp 25.000. Hitung harga total pesananmu ! jika kamu diberikan uang sebesar Rp 50.000, hitung uang kembaliannya!
2. Aspek Geometri dan Pengukuran
Untuk kelas V SD semester 1
a. Mengingat
Apa pengertian kubus?
b. Memahami
Sebutkan barang-barang di sekitarmu yang mempunyai bentuk kubus?
c. Menerapkan
Guntinglah/irislah sebuah karton yang berbentuk kubus menuruti rusuk-rusuknya sehingga terbentuk jarring-jaring kotak tersebut yang disebut juga jarring-jaring kubus.
d. Menganalisa
Ada berapa banyak jarring-jaring kubus yang terbentuk? Untuk keperluan ini kamu bisa menggunakan kertas berpetk untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk yang berbeda.
e. Mengevaluasi
Jelaskan alasanmu mengatakan banyaknya jarring-jaring kubus di atas.
f. Menciptakan
Ciptakn suatu desain kotak kado berbentuk kubus dari lembaran karton seperti ini! (guru dapat memilih karton yang berbentuk bangun datar tidak teratur yang ada rincian ukurannya). Gambar sketsa jarring-jaringnya dan berilah alasan mengapa kamu memilih jarring-jring tersebut!
3. Aspek Geometri
Untuk kelas VIII SMP semester 2
a. Mengingat
Sebutkan dua bentuk bangun ruang. Catatlah komponen-komponen bangun itu!
b. Memahami
Sebutkan barang-barang di sekitarmu yang mempunyai bentuk-bentuk bangun itu!
c. Menerapkan
Gambarlah bangun-bangun tersebut dan tentukan ukurannya. Hitunglah luas permukaan dan volum bangun itu.
d. Menganalisa
Unsur- unsure apakah yang harus diketahui supaya kamu dapat menenukan volume dan luas permukaan bangun tersebut? Catatlah!
e. Mengevaluasi
Jelaskan alasan mengapa barng-barang yang kamu contohkan mengambil bentuk bangun-bangun itu.
f. Menciptakan
Ciptakan barang-barang yang mengambil bentuk bangun-bangun ruang yang kamu sebutkan sebelumnya. Gambar desainnya dan berilah keterangan yang menjelaskan ukuran barang-barang itu dan manfaatya.
4. Aspek Aljabar
Untuk kelas X SMA semester 1
a. Mengingat
Sebutkan dua jenis fungsi yang kamu ketahui.
b. Memahami
Tuliskan contoh bentuk umum fungsi-fungsi tersebut sebagai fungsi dalam x dan berikan contoh khusus.
c. Menerapkan
(a) Gambarkan grafik masing-masing contoh itu dalam koordinat cartesius.
(b) Tentukan persamaan grafik fungsi berikut ini! (guru memberikan gambar grafik fungsi linear, kuadrrat dengan beberapa informasi yang dibutuhkan).
d. Menganalisa
Jika kita mau menentukan rumus suatu fungsi yang bentuk grafiknya terbatas, syarat apa yang har us ditambahkan?
e. Mengevaluasi
Kriteria apa yang kamu gunakan untuk mengetahui apakah jawabanmu benar atau salah?
f. Menciptakan
Buatlah suatu gambar benda-benda dalam khidupan sehari-hari (missal gambar rumah, perahu, orang dll), yang terdiri dari 3 jenis fungsi yang kamu sebutkan sebelumnya dalam koordinat cartesisus! Berilah penjelasan rumus fungsi yang kamu gunakan beserta domainnya untuk masing-masing grafik.
Catatan ;
Kegiatan ini juga dapat dirancang untuk siswa SD dengan syarat sudah pngenalan koordinat kartesius dan siswa SMP hanya untuk fungsi linear saja dengan pertanyaan yang dikembangkan lagi.
Proses penerapan taksonomi Bloom Revisi tentu saja harus dianalisis tingkat kebutuhan dan karakteristis siswa/peserta didik yang kita ajar, proses pengetahuan gambaran awal kemampuan siswa tertera dalam Kriteria Ketuntasan minimal (KKM) khususnya intake siswa.
Tidak bermaksud untuk menggurui, tulisan ini hanyalah sepenggal gambaran dari penerapan taksonomi Bloom revisi dalam pembelajaran matematika yang sebetulnya dapat lebih kita kembangkan lagi mulai dari jenjang berfikir dasar sampai ke jenjang berfikir lebih tinggi. Akan terasa manfaatnya ketika kita mulai mencoba untuk menerapkannya tidak hanya tahu dan memahami tentang taksonomi Bloom revisi. Pepatah bijak mengatakan “Tuliskan apa yang akan kita lakukan dan Lakukan segera apa yang telah kita tuliskan” demi pengembangan kemampuan peserta didik kita khususnya bidang matematika. Amien.
Referensi
_____________. 2006. Lampiran Permendiknas no. 22 dan 41 tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Proses untuk mata pelajaran matematika SD, SMP dan SMA. Jakarta : Depdiknas.
Setiawan, dkk. 2008. Pengembangan pembelajaran dan penilaian untuk memfasilitasi Higher Order Thinking. Bahan ajar Diklat Guru Pengembang Matematika SMA jenjang Lanjut. Yogyakarta : PPPPPTK Matematika.
Iriyanti, P. 2008. Taksonomi Bloom Revisi. Yogyakarta : PPPPPTK Matematika.