Materi ini berfokus pada hadis yang secara kualitas berada di bawah hadis hasan, termasuk definisi, faktor penyebab kelemahan, jenis-jenisnya, dan sanad yang terputus.
Fokus Materi yang Diujikan:
Definisi dan Sebab Kelemahan: Hadits da'if secara bahasa berarti lemah. Hadits da'if tidak dapat dijadikan dasar atau hujjah karena dua faktor, yaitu faktor sanad dan matan. Secara terminologi, hadits dlo'if adalah hadits yang tidak memenuhi ketentuan dari hadits ḥasan (dan ṣaḥīḥ).
Pembagian Hadits Da'if: Hadits dlo'if dilihat dari cacatnya periwayat terbagi menjadi dua, yaitu disebabkan tidak adil dan tidak dlobit. Pembagian hadits dlo'if yang disebabkan riwayatnya meliputi hadis maudlu', matruk, munkar, dan mursal. Pertanyaan uraian meminta penyebutan pembagian hadits dlo'if karena periwayatnya tidak adil.
Sanad Paling Lemah: Diujikan mengenai sanad hadis paling da'if, yang sering disebut silsilatu alkazbi, yaitu muhammad bin marwan dari al-kallabi dari abi salih dari ibnu abbas, dan diminta menyebutkan sanad ini dalam bentuk uraian.
Hadits Mu'dal: Diuji mengenai definisi hadits mu'dal, yaitu hadits yang sanadnya terputus dua atau lebih secara berturut turut.
Materi ini membahas hadis yang dibuat-buat dan didustakan atas nama Nabi SAW, termasuk sejarah, faktor penciptaan, dan hukum pengamalannya.
Fokus Materi yang Diujikan:
Definisi dan Hukum: Hadits maudhu' adalah sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi SAW dengan cara mengada-ngada dan dusta. Diharamkan mengamalkan hadits maudlu, kecuali hanya untuk menjelaskan kepalsuan dari hadits itu.
Faktor Penyebab dan Ciri-ciri: Faktor penyebab muncul dan tersebarnya hadits maudhu' meliputi faktor politik, kebencian dan permusuhan, kebodohan, dan fanatisme yang keliru. Faktor budaya diidentifikasi sebagai pengecualian yang bukan merupakan faktor penyebab munculnya hadits maudhu'. Salah satu ciri hadits maudlu' terkait dengan rawi adalah perawi dikenal pendusta. Diujikan bahwa ciri hadits maudlu' adalah perawi harus tsiqoh (pernyataan yang salah).
Konsekuensi: Akibat munculnya hadits maudlu' salah satunya adalah dapat mengaburkan pemahaman terhadap Islam.
Larangan Berdusta: Hadits tentang larangan berdusta mengandung pemahaman larangan berdusta atas nama nabi SAW. Pertanyaan uraian menanyakan faktor-faktor penyebab munculnya hadits palsu.
Kelompok materi ini mengklasifikasikan hadis berdasarkan kondisi sanadnya, seperti kesinambungan, ciri khas periwayatan, dan tinggi/rendahnya jumlah perawi.
Fokus Materi yang Diujikan:
Hadits Muttasil: Hadits yang bersambung sanadnya dari yang menceritakan sampai akhir sanad sampai kepada Rasulullah SAW disebut hadits muttasil. Secara etimologi, muttasil berarti bersambung, dan secara terminologi, artinya bersambung baik sampai Rasulullah SAW maupun terhenti sampai sahabat.
Hadits Musnad: Diujikan mengenai definisi Musnid sebagai orang yang meriwayatkan hadits dengan menggunakan sanad. Salah satu syarat hadits musnad selain sanad harus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW adalah juga harus liqa' (bertemu).
Hadits Musalsal: Deskripsi periwayatan di mana Rasulullah SAW menyampaikan hadits kepada Abu Hurairah dengan menepuk pundaknya terlebih dahulu, diikuti oleh perawi berikutnya, merupakan contoh hadits musalsal. Hadits yang periwayatnya mengikuti keadaan periwayat sebelumnya ketika menyampaikan hadits disebut musalsal bi ahwal ar-ruwah. Faedah tasalsul (kesinambungan) menurut Ibnu Katsir adalah menjauhkan suatu hadits dari pemalsuan dan keterputusan.
Hadits 'Aly dan Nazil: Diujikan bahwa hadits nazil bukan nama lain dari hadits 'ali.
Syarat Muttasil: Pertanyaan uraian meminta penyebutan syarat muttasil menuruti Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Materi ini mengklasifikasikan hadis berdasarkan siapa yang menjadi sandaran matan (Allah SWT, Nabi SAW, Sahabat, atau Tabi'in), termasuk istilah-istilah terkait penyandaran.
Fokus Materi yang Diujikan:
Pembagian Sumber: Hadits muttasil diidentifikasi sebagai pengecualian yang bukan termasuk pembagian hadits dari segi sumbernya yang pertama (yaitu qudsi, marfu', mauquf, dan maqtu').
Hadits Qudsi: Hadits yang disandarkan kepada Nabi SAW dan disandarkan kepada Tuhannya selain Al-Qur'an disebut hadits qudsi. Diujikan bahwa hadits Qudsi lafalnya dari Allah SWT dan maknanya dari Nabi Muhammad SAW.
Hadits Marfu': Hadits Marfu' adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW baik berupa perkataan, perbuatan, dan keadaan. Definisi hadits marfu' hukmi adalah hadits yang tidak tegas penyandaran sahabat terhadap sabda Nabi, melainkan dengan perantara qorinah (tanda) lain. Marfu taqriri hukmi adalah apabila pemberitaan sahabat diikuti dengan kalimat "sunnatu" atau "minas-sunnati".
Hadits Mauquf: Diujikan definisi hadits mursal sahabi (sahabat yang masih kecil meriwayatkan hadits dari Nabi, padahal tidak menerima langsung dari beliau). Hadits mauquf qauli dicontohkan melalui perkataan Abdullah bin Mas'ud tentang larangan taqlid agama. Pertanyaan uraian meminta penulisan pembagian hadits mauquf.
Hadits Maqtu': Tokoh ulama yang menggunakan istilah maqtu' untuk munqati' adalah imam asy-syafi'i dan at-tabrani.