Perjuangan Pedagang Menggapai Asa
Pak Karjin dan bu Paimah, pasangan suami-istri yang bersahaja berhasil mengantarkan ke tiga anaknya menjadi orang sukses dan dibanggakan. Ketiga anaknya menjadi seorang guru.
Semua keberhasilan yang mereka dapatkan sekarang merupakan kerja keras dan usaha yang pantang menyerah. Bertahun-tahun lamanya semua tantangan dan rintangan mereka lalui agar ke tiga anaknya menjadi orang sukses.
Pak Karjin bekerja sebagai pedagang es dawet keliling dengan penghasilan yang pas-pasan. Dan ibu Paimah yang bekerja sebagai buruh tani.
"Saya bekerja seperti ini agar segala kebutuhan dan keperluan sekolah anak saya semuanya dapat terpenuhi." kata bu Paimah.
Mereka bekerja seharian penuh bahkan malampun pak karjin masih berjualan kolak kacang hijau. Ke empat anaknya pun juga bahu membahu menyelesaikan tugas rumah seperti menyapu, mencuci piring, dan masih banyak lagi. Itu semua dilakukan untuk sedikit meringankan pekerjaan orang tua mereka.
Setiap bulan Pak Karjin harus membayar iuran SPP ke empat anaknya. Hingga suatu saat tiba membayar uang SPP tersebut, Pak Karjin belum bisa membayar SPP ke empat anaknya. Sehingga terjadi tunggakan dalam pembayaran. Namun Pak Karjin sangat beruntung karena pihak sekolah masih memberikan perpanjangan waktu pembayaran SPP. Setelah beberapa hari, waktunya tanggal jatuh tempo untuk membayar SPP ternyata Pak Karjin belum juga mendapatkan uang tersebut.
”Suami saya terpaksa menggadaikan cincin yang merupakan peninggalan dari orang tuanya.” kenang bu Paimah.
Setelah menggadaikan cincin tersebut Pak Karjin segera pergi ke sekolah untuk membayar SPP ke tiga anaknya. Pak Karjin selalu berusaha dengan sekuat tenaga agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah dan berharap kelak suatu saat semua anaknya menjadi orang yang berhasil.
Setiap hari Pak Karjin dan ibu Paimah selalu berdoa dan memberikan semangat kepada anak-anaknya agar tetap belajar walaupun hanya berbekal dengan lampu teplok karena keluarga tersebut tidak mampu memasang listrik.
Aliran listrik yang didapatkannya dari tetangga depan rumahnya pun harus diputus ketika Dewi anak ketiga Pak Karjin tes semesteran. Karena pemilik listrik tersebut takut bila suatu saat rumahnya dikontrol oleh petugas PLN. Pemutusan aliran listrik tersebut harus ia terima dengan lapang dada dan penuh keikhlasan. Dan mengharuskan Dewi belajar dengan penerangan seadanya.
Tidak hanya itu, keluarga Pak Karjin ini juga mendapat banyak cacian dan makian dari tetangga dekat yang lainnya. Cacian yang ia terima juga sangat menyakitkan hati. Keluarga ini di caci-maki karena menjadi keluarga miskin, mempunyai banyak anak, tidak punya listrik, tinggal di rumah yang tua dan jelek.
"Saya ikhlas dan sabar dalam menghadapi caci-maki tetangga " ujar bu Paimah dengan tetesan air mata di pipinya.
Hari demi hari mereka lalui hingga beberapa tahun kemudian anak pertama hingga ketiga berhasil menjadi seorang guru di SMK
Sekarang Pak Karjin dan ibu Paimah pun bisa memetik hasil perjuangan yang telah mereka kerahkan selama ini dan hanya tinggal menikmati sisa-sisa umur di hari tuanya.
Manusia harus selalu bersyukur, pantang menyerah, tidak tumbang jika di caci maki dan selalu berusaha yang terbaik.
Semua manusia akan mendapatkan keadilan dari Sang Maha Kuasa. Maka harus mampu dan kuat dalam menghadapi setiap tantangan, rintangan, dan hambatan hidup yang ada. Karena sejatinya roda kehidupan itu selalu berputar, yang di atas tidak selamanya diatas dan yang dibawah tidak selamanya di bawah.
Dan tanpa pendidikan yang tinggi pun seseorang bisa menjadi sukses asalkan mempunyai semangat pantang menyerah, tekun, berusaha, dan selalu berdoa.