Pernahkah anda mempelajari sesuatu dan sulit untuk menguasainya, semakin berusaha mempelajarinya, malah semakin sulit melekat di pikiran. Seperti yang dialami oleh klien saya, Tika. Sudah hampir dua tahun beliau mempelajari bahasa turki, baik melalui kursus online maupun belajar mandiri, namun masih merasa belum percaya diri untuk bicara bahasa turki, karena merasa belum mahir. Ya, selama ini dirinya merasa sulit mengingat kosa kata bahasa turki yang sudah dipelajarinya. Dan yang membuatnya galau, satu bulan lagi beliau harus sudah berangkat ke Turki untuk menemui calon suaminya yang berkewarganegaraan Turki. Satu minggu lalu Tika datang ke kantor Minda Brilliant untuk menjalani sesi hipnoterapi meningkatkan kompetensinya berbicara Bahasa Turki.
Di Ruang terapi, saat mengisi intake form matanya mulai berkaca-kaca, terutama saat menuliskan intensitas emosi yang dirasakan. Dari sekala 0 sampai 10, Tika menuliskan skala 8 untuk hampir semua emosi negatif seperti marah, sakit hati, menyesal, takut, sedih, merasa tidak berharga dan merasa kecil. Dalam proses terapi, intensitas emosi yang tinggi ini tentu menjadi bahan bakar yang efektif membantu klien melepaskan dan menetralisir emosinya.
Selain ingin meningkatkan kemampuan dalam mengingat pelajaran bahasa sehingga mahir, Tika juga mengeluhkan gusinya yang selalu mengeluarkan darah hampir setiap bangun tidur. Dirinya juga merasa sangat sensitif secara emosi, mudah tersinggung dan sulit bersosialisasi dengan orang lain.
Dengan teknik hipnoanalisis, dalam kondisi hipnosis yang dalam, ditemukan beberapa hal yang menjadi penyebab klien ini sulit menguasai bahasa turki. Pertama, adanya Ego Personality (EP) atau bagian diri klien yang bertugas menghambat klien untuk menguasai bahasa turki. Pikiran Bawah Sadar klien menyebut EP ini dengan nama Kasihan. EP Kasihan bertugas menghalangi data di memory terkait bahasa turki supaya tidak bisa diakses oleh Pikiran sadar, sehingga sulit untuk diucapkan. EP ini muncul sejak dua tahun lalu, dimulai dari ketertarikan klien dengan bahasa turki dan klien berkenalan dengan seorang pria dari Turki melalui sosial media, perkenalan ini berlanjut semakin intens hingga keduanya saling merasa cocok dan ingin mengeratkan dalam hubungan pernikahan. Untuk merealisasikannya klien sudah siap melepaskan kewarganegaraan Indonesia dan hijrah ke Turki. Ketika hal ini disampaikan kepada adik laki-lakinya, adiknya merasa sangat sedih, karena selama ini klien yang selalu membela dan menghiburnya. Klien pun sebenarnya kasihan dan tidak tega meninggalkan adiknya.
Tika adalah anak ke 4 dari lima bersaudara, sejak kecil dirinya sering menerima perlakuan yang keras dan tidak menyenangkan dari ibunya. Pukulan dengan tangan atau kayu, rambut dijambak, tubuh diseret adalah hal yang sering diterima sejak dirinya belum masuk SD hingga kelas 3 SMA. Klien merasa ibunya tidak menginginkan dirinya, dan ibunya pernah mengatakan kalau kehadiran dirinya adalah aib bagi keluarga, tika kecil tentu tidak mengerti sebabnya, meskipun sewaktu SMP ayahnya pernah mengatakan kalau dirinya bukan ayah kandungnya, tapi Tika tidak mempercayayinya dan menganggap ayah hanya bercanda. Karena memang dalam keluarga, ayahnya adalah satu-satunya orang yang membela dan menyayanginya, ketika Ibu tidak mengizinkan Tika kuliah, meskipun mendapat beasiswa, Ayahlah yang mengizinkan dan mendukungnya kuliah. Sejak Ayahnya meninggal 5 tahun lalu, sosok pembela dan pelindung Tika pun tiada. Karena kakak dan abangnyapun seperti memusuhi dirinya. Hanya adik laki-lakinya yang masih kecil selalu baik padanya dan Tika pun sangat menyayangi adiknya. Adik laki-lakinya pun sering menerima perlakuan yang keras dari ibunya.
Setelah ayahnya meninggal, Tika merasa sangat sedih, kesepian. Apalagi sikap ibunya masih belum berubah, meskipun sejak Tika kuliah tidak ada lagi pukulan yang menyakitkan, tapi sikap dan ucapan yang keluar dari mulut ibunya masih menyakitkan. Itu juga sebabnya, selesai kuliah tika tidak kembali ke rumah ibunya, tapi mencari pekerjaan di kota lain. Jauh dari rumah dan keluarganya membuat tika merasa nyaman, dan dia merasa, bila dirinya pergi keluar negeri yang jauh, dapat melepaskan dan membebaskan diri dari rasa sakit hati. Itu sebabnya, ketika mendapat informasi tentang negara Turki, tika sangat antusias untuk kesana. Menyiapkan diri belajar bahasa Turki, hingga berkenalan secara intens dengan pemuda Turki dan bersiap menikah dengannya. Namun yang menjadi kendala, semakin dekat dengan tanggal keberangkatannya ke Turki, perasaan kasihan pada adiknya semakin besar, dan kemampuan belajar bahasa turki dirasakan semakin melambat.
Dalam proses hipnoterapi yang dilakukan pada Tika, ada tiga hal penting yang saya dan klien lakukan; pertama, menguras emosi negatif pada ibu seperti marah, kesal, sedih yang dibawanya sejak kecil, emosi ini perlu dilepaskan agar tidak mengganggu. Setelah mengalami abreaksi yang luar biasa, akhirnya PBS bersedia melepaskan dan memaafkan ibunya dengan ikhlas.
Kedua; melakukan negosiasi terhadap Ego Personality yang menjadi penghambat belajar bahasa turki, dan Alhamdulillah EP Kasihan bersedia bekerjasama serta mau diberi tugas baru untuk mendukung kesuksessan Tika.
Ketiga; menanamkan belief dan program baru yang lebih positif dan memberdayakan di Pikiran Bawah Sadar untuk memudahkannya mencapai tujuan.
Seusai terapi yang berlangsung tiga jam, Tika menyampaikan dirnya sangat lega, tubuhnya terasa ringan. Dan tiga hari setelah terapi beliau mengirimkan pesan via watshap menyampaikan kemajuan positif yang dialaminya. Ini tentu sangat menggembirakan saya sebagai terapis. Semoga demikian selanjutnya.
Sahabat, jika kisah klien ini penting diketahui untuk menjadi pembelajaran bersama, anda boleh saja share tanpa perlu izin saya, semoga bermanfaat buat kita semua.
Certified Hypnotherapist,
Khairul Anwar, S.Psi.,CHt
Catatan: Dengan tetap menjaga kerahasiaan, Identitas diri klien dalam kisah terapi ini sudah diubah.
Sahabat, pernahkah mengalami kegagalan ? sekecil apapun boleh jadi pernah ya. Tapi, pernahkah mengalami kegagalan pada suatu hal secara berulang-ulang? Sebagian dari anda boleh jadi pernah. Dan...seperti yang banyak dikatakan orang bahwa kesuksessan ada polanya, demikian juga dengan kegagalan. Kisah klien saya berikut boleh jadi diantaranya.
Seorang wanita berusia 36 tahun, sebut saja Bu Ratna, beliau bekerja di sebuah BUMN di Riau beberapa waktu lalu datang ke kantor minda brilliant untuk menjalani sesi hipnoterapi. Sebelumnya saat janji terapi beliau mengatakan sangat bingung, tidak tahu apa yang dirasakan dan mau dilakukan, sulit tidur dan bahkan mau bunuh diri.
Bu Ratna menyampaikan dia sangat depresi, dua bulan yang lalu calon suaminya memutuskan hubungan pertunangan melalui telepon dan menyampaikan tidak jadi menikahinya, alasannya karena Bu Ratna tetap tidak mau berhenti bekerja setelah menikah, padahal kedua pihak keluarga sudah menetapkan tanggal pernikahan keduanya, dan itu adalah 10 hari sebelum bu Ratna hadir di ruang terapi. Bu Ratna sudah membayar DP untuk penyewaan gedung dan catering. Bahkan drinya juga sudah membayar DP pembelian rumah yang rencana akan ditempati bersama usai menikah. Tentu sangat menyakitkan, apalagi keputusan pembatalan itu hanya disampaikan melalui telepon, setelah itu semua kontak tidak bisa dihubungi. dan ini adalah kali kedua dirinya gagal menikah.
Dua tahun sebelumnya beliau juga gagal menikah dengan pria lain, saat itu bahkan undangan sudah dicetak, kebaya pernikahan sudah selesai dijahit dan semua teman dikantornya sudah tahu dirinya akan menikah. Tunangannya membatalkan pernikahan dua minggu sebelum tanggal pernikahan yang ditetapkan dengan alasan orang tua Bu Ratna terlalu keras dan selalu dominan dalam urusan mereka berdua.
Dua kali gagal menikah dengan usia yang sudah kepala tiga tentu membuatnya sangat malu, kecewa, marah. Apalagi teman-teman dikantor yang seusia dirinya hampir semua sudah memiliki anak. Dirinya menjadi malas, tidak bergairah untuk melakukan aktivitas terutama terkait pekerjaan, sejak dua bulan lalu menjadi sulit tidur, merasa perasaannya datar saja, tidak bisa menangis, sulit untuk tertawa, tidak memiliki motivasi apapun.
Pada awalnya dirinya sangat yakin kondisi yang dialami secara psikis dan fisik ini disebabkan oleh kedua hal tersebut diatas. Namun sepanjang pengalaman praktek sebagai hipnoterapist klinis, saya memahami, seringkali simtom fisik, perilaku ataupun psikologi yang dimunculkan oleh pikiran bawah sadar pada saat ini, disebabkan oleh akumulasi emosi negatif yang intens sejak masa kecil bahkan sejak dalam kandungan hingga saat ini, kejadian akhir hanyalah pemicu saja.
Melalui proses hipnoterapi yang berlangsung selama 2 jam 40 menit, pada kondisi hipnosis yang dalam dengan teknik regresi, pikiran bawah sadar bu Ratna memunculkan beberapa kejadian dengan emosi marah, kesal, sedih yang intens yang pernah dialami di masa remaja dan kecilnya.
Sejak usia 4 tahun Ratna kecil selalu melihat ayah dan ibunya bertengkar, ayahnya keras, pemarah dan sangat otoriter. Ratna anak kedua dari 4 bersaudara. Ayahnya sangat berharap pada Ratna untuk berhasil dalam hidupnya, itu sebabnya sejak masuk SD Ratna sering dituntut untuk belajar dan mendapat nilai yang tinggi, jika ulangan atau ujian mendapat nilai dibawah 8 ayahnya pasti akan memukulnya dengan tangan, tali pinggang bahkan kabel listrik. Hal ini terus berlangsung sampai Ratna SMA. Namun hal itu tidak berlaku pada kakak dan adiknya jika mendapat nilai rendah, ayahnya hanya marah sambil ngomel saja. Ratna kecil sebenanrnya sangat tidak suka dengan sikap ayahnya, ia merasa kesal, marah dan benci namun tidak berani mengungkapkannya. Ratna kecil sering merasa lelaki seperti ayahnya membuat ibunya dan dirinya selalu bersedih, dirinya berharap setelah dewasa nanti tidak akan menikah dengan lelaki seperti itu.
Seiring dirinya dewasa perlakuan ayahnya sudah tidak sekeras dulu, tidak lagi memukul meskipun pendapatnya tetap harus dituruti. Dirinya yang dewasa sudah terbiasa dan mulai memahami, memaafkan ayahnya. Meskipun sebenarnya perasaan marah, kesal, benci dan dendam atas perlakuan ayahnya tersimpan dan tersembunyi dalam dirinya.
Sesuai prinsip emosi, emosi negatif yang dirasakan dan tidak bisa diekspresikan atau dilepaskan akan tetap bertahan dalam diri, semakin sering mengalami emosi negatif yang sama maka semakin lama energi negatif semakin intens. Namun karena emosi terletak di pikiran bawah sadar, seringkali pikiran sadar tidak menyadarinya. Itu juga sebabnya proses terapi yang hanya mengakses pikiran sadar sulit menghilangkan simtom yang muncul, atau kalaupun hilang hanya sebentar saja. Untuk menghilangkan simtom perilaku, psikis maupun fisik yang dirasakan Bu Ratna, saat proses hipnoterapi, klien dibimbing untuk mengakses dan mengalami kembali kejadiannya, hingga sampai pada kejadian awal yang memiliki muatan emosi negatif dan belief negatif. Setelah emosi negatif dilepaskan dan menjadi netral, klien dengan ikhlas bisa memaafkan.
Setelah proses terapi, Bu Ratna merasa sangat lega, tubuhnya lebih ringan, sakit kepalanya sudah hilang. Ini tentu hal yang positif. Dan seminggu kemudian beliau menyampaikan via watshap kalau sudah bisa tidur dengan nyaman, dan keinginan untuk bunuh diri sudah hilang. Semoga semakin hari semakin baik tentunya.
Sahabat...jika merasa saat ini hidupmu belum berhasil dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga meskipun sudah berupaya sangat keras, boleh jadi ada bagian diri /ego personality yang menghalangimu. Berhentilah sejenak, lihat dalam diri, toleh ke masa lalumu, apakah ada pribadi kecil yang masih menyimpan luka, jika ada, selesaikan dan berdamailah. Jika sulit sendiri, carilah teman atau bantuan professional untuk mengatasinya. Semoga mulai saat ini dan seterusnya kita semakin sehat dan bahagia.
Certified Hypnotherapist,
Khairul Anwar, S.Psi.,CHt
Catatan: Dengan tetap menjaga kerahasiaan, Identitas diri klien dalam kisah terapi ini sudah diubah.