Padang, PANITIA ALEK GIZI 2025 — Himpunan Mahasiswa Departemen Gizi (HIMA Gizi) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas sukses menyelenggarakan Alek Gizi 2025 pada Sabtu (1/11/2025) di Convention Hall Universitas Andalas. Acara tahunan ini kembali menjadi ruang pertemuan seluruh civitas akademika Departemen Gizi untuk memperkuat relasi dan mempererat kebersamaan lintas generasi. Pada tahun ini Alek Gizi mengusung tema “Manjago Nan Alah Ado, Manyambuang Nan Ka Tibo” yang memiliki makna menjaga hubungan baik yang sudah terjalin (alumni, nilai, tradisi) sekaligus menyambut dengan hangat yang akan datang (mahasiswa baru, generasi penerus
Kegiatan resmi dibuka oleh Wakil Dekan I FKM UNAND, Dr.Idral Purnakarya, SKM,MKM setelah sebelumnya diawali dengan laporan penyelenggaraan oleh Aisyah Nurul Jannah selaku Ketua Pelaksana. Acara turut dihadiri jajaran pimpinan, termasuk Rizki Ramadhani Arbi selaku Ketua HIMA Gizi, Nazwa Safa Salsabila selaku ketua DPA HIMA Gizi, Dr. Frima Elda S.K.M., M.K.M. selaku pembina hima gizi dan Dr. Syahrial, SKM, M.Biomed selaku Ketua Departemen Gizi, serta jajaran dosen dan tenaga pendidik program studi Gizi FKM UNAND
Memasuki rangkaian berikutnya, peserta mengikuti Sharing Hearing bersama dosen, menghadirkan Faza Yasira Rusdi, S.Gz., M.Gz. sebagai pemateri. Pada sesi ini, beliau membahas perjalanan akademik, tantangan di bidang gizi, serta langkah strategis yang dapat dipersiapkan mahasiswa untuk membangun karier sejak dini. Dilanjutkan dengan Talkshow menarik menghadirkan Aldi Ananda Saputra yang merupakan alumni jurusan gizi Universitas andalas yang pada saat ini bergabung menjadi salah satu bagian dari Badan Gizi Nasional, yang membahas tentang “Membangun Karier Sejak di Bangku Kuliah: Bagaimana Pengalaman, Tips, dan Keterampilan Penting Membentuk Masa Depan? "
Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya penampilan dosen, pemberian Dosen Award, serta berbagai penampilan bakat mahasiswa dari angkatan 2023, 2024, dan 2025. Seluruh penampilan berjalan meriah dan mendapat apresiasi besar dari peserta yang hadir. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi ISHOMA sebelum memasuki agenda pada siang hari.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah Catwalk yang meampilkan berbagai seragam yang digunakan oleh mahasiswa jurusan gizi fkm unand, seperti Almamater UNAND Baju kuliah mahasiswa/i FKM UNAND, Seragam jurusan gizi, Jas laboratorium, Baju kerja Hima Gizi KM FKM UNAND, Baju koki dan Baju kepaniteraan. Catwalk ini menunjukkan identitas mahasiswa gizi dari berbagai sudut pandang profesi dan berhasil menambah antusiasme seluruh peserta.
Padang – Andalas Nutrition Fair (ANFA) 2025 kembali digelar dengan rangkaian kegiatan edukatif dan inspiratif yang berlangsung sepanjang bulan Agustus hingga September 2025. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Gizi Universitas Andalas ini mengusung semangat peningkatan literasi gizi dan kesehatan bagi masyarakat luas, melalui tiga acara utama, yaitu Webinar Nasional, Lomba Poster, dan Pekan Gizi.
Webinar Nasional ANFA 2025
Kegiatan pertama berupa Webinar Nasional yang dilaksanakan pada Minggu, 24 Agustus 2025 melalui platform Zoom Meeting. Webinar ini menghadirkan dua narasumber kompeten, yaitu dr. Mohamad Hildan serta Fhadila Amelia, S.Gz., M.MedSc, salah satu dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.
Dengan topik “From Stress to Strength: How to Beat Emotional Eating and Sugar Addiction”, para pemateri membahas secara mendalam cara mengelola stres agar tidak berujung pada pola makan emosional dan kebiasaan konsumsi gula berlebih.
Webinar diikuti oleh sekitar 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa se-Indonesia serta tenaga kesehatan. Setiap peserta mendapatkan 2 SKP, sementara peserta aktif yang memberikan pertanyaan dan kontribusi dalam diskusi memperoleh reward khusus dari panitia.
Acara ditutup dengan penyerahan plakat serta sertifikat penghargaan kepada kedua pemateri sebagai bentuk apresiasi atas ilmu yang telah dibagikan.
Lomba Poster ANFA 2025
Kegiatan kedua adalah Lomba Poster bertema “Small Habits, Big Health Impact: Kebiasaan Kecil untuk Masa Depan yang Lebih Sehat”. Peserta dapat mengikuti lomba secara individu maupun kelompok dengan mengirimkan karya poster dalam bentuk PDF beserta narasi maknanya melalui formulir pendaftaran online.
Seluruh poster yang masuk kemudian diunggah oleh panitia ke akun Instagram resmi ANFA di @anfahimagiua, lengkap dengan narasi dari peserta pada bagian caption. Antusiasme peserta cukup tinggi, terlihat dari banyaknya karya kreatif yang diunggah.
Lomba ini menetapkan dua kategori pemenang:
Juara 1 berdasarkan penilaian juri, dengan hadiah Rp150.000 + sertifikat
Juara Favorit berdasarkan jumlah like terbanyak di Instagram, dengan hadiah Rp125.000 + sertifikat
Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami masyarakat, sekaligus meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam bidang komunikasi gizi.
Pekan Gizi ANFA 2025
Rangkaian acara ditutup dengan kegiatan Pekan Gizi yang dilaksanakan pada Minggu, 14 September 2025 di kawasan Car Free Day, Padang, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Sumatera Barat. Acara berlangsung meriah di tengah keramaian masyarakat yang sedang mengikuti kegiatan jalan sehat.
Pekan Gizi diawali dengan senam bersama, kemudian dilanjutkan dengan berbagai layanan kesehatan gratis seperti cek gula darah, pemeriksaan antropometri, dan konsultasi gizi. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, dengan lebih dari 160 peserta yang ikut berpartisipasi.
Selain itu, panitia juga membagikan buah gratis kepada peserta sebagai bentuk promosi konsumsi pangan sehat. Kegiatan ini turut dihadiri oleh beberapa dosen FKM Universitas Andalas yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
Batu Busuak — Kegiatan Gizi Mengabdi dengan tema “Jaga Jantungmu dengan Gizi yang Tepat: Makanan Sehat, Hidup Sehat” sukses dilaksanakan pada 27 April dan 4 Mei 2025 di Desa Batu Busuak RT 1 dan RT 2. Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan pemahaman warga mengenai pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan hidup sehat untuk mencegah penyakit jantung serta gangguan metabolik seperti hipertensi dan kolesterol tinggi.
Hari Pertama: Senam Bersama dan Penyuluhan Kesehatan Pelaksanaan hari pertama pada 27 April diawali dengan senam bersama yang diikuti antusias oleh warga dari berbagai rentang usia. Kegiatan senam ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga sebagai langkah nyata membiasakan masyarakat untuk aktif bergerak setiap hari.
Setelah senam, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi terkait penyakit hipertensi dan kolesterol. Pemateri menjelaskan penyebab, tanda-tanda, serta bahaya kedua penyakit tersebut yang semakin umum dialami masyarakat. Selain itu, peserta diberikan edukasi mengenai pola makan yang baik, seperti mengurangi konsumsi makanan berlemak jenuh, membatasi garam, serta meningkatkan asupan buah, sayur, dan sumber protein sehat. Penjelasan disampaikan dengan menggunakan contoh makanan sehari-hari sehingga lebih mudah diterapkan dalam kehidupan warga. Diskusi interaktif juga berlangsung aktif, dengan peserta bertanya mengenai tekanan darah, pilihan makanan yang aman, hingga cara memulai gaya hidup sehat. Suasana akrab membuat penyuluhan berjalan lancar dan penuh semangat.
Hari Kedua: Gotong Royong dan Pembagian Buah, Kegiatan berlanjut pada 4 Mei dengan pelaksanaan gotong royong membersihkan lingkungan desa. Warga RT 1 dan RT 2 kompak membersihkan jalan, selokan, serta area sekitar rumah warga. Gotong royong ini menjadi simbol bahwa kesehatan tidak hanya berasal dari makanan, tetapi juga dari lingkungan yang bersih dan nyaman.
Setelah gotong royong selesai, kegiatan ditutup dengan pembagian kenang kenangan seperti sertifikat dan tempat sampah yang telah disiapkan oleh panita. Dilanjutkan dengan makan buah bersama warga, seperti semangka dan pepaya. Pembagian buah ini menjadi ajakan nyata untuk meningkatkan konsumsi makanan sehat, khususnya buah-buahan yang kaya vitamin dan serat, sehingga baik bagi kesehatan jantung.
Melalui rangkaian kegiatan Gizi Mengabdi selama dua hari ini, diharapkan masyarakat Desa Batu Busuak semakin sadar akan pentingnya menjaga pola hidup sehat, mulai dari aktivitas fisik, pola makan seimbang, hingga menjaga kebersihan lingkungan. Pihak penyelenggara berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara rutin, sehingga mampu menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan peduli terhadap kesejahteraan bersama.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari warga yang merasa sangat terbantu dengan pengetahuan dan pengalaman praktis yang diberikan. Gizi Mengabdi membuktikan bahwa edukasi yang sederhana namun konsisten dapat membawa perubahan besar bagi kesehatan masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu agenda strategis pemerintah Indonesia sejak 2025 untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan makanan sehat bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. Dengan target lebih dari 82 juta penerima manfaat dan anggaran mencapai Rp71 triliun, program ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting, meningkatkan prestasi belajar, serta memperkuat ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM dan petani.
Namun, implementasi MBG menghadapi tantangan besar, terutama terkait keamanan pangan. Sejak Januari hingga Mei 2025, tercatat setidaknya 1.315 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program ini. Kasus terjadi di berbagai wilayah seperti Bogor, Cianjur, Bombana, Sumba Timur, hingga Sukoharjo. Sebagian siswa memerlukan perawatan intensif, sementara lainnya mengalami gejala ringan seperti mual, muntah, dan nyeri perut.
Salah satu kasus terbesar terjadi di Bogor, ketika 210 siswa mengalami gejala keracunan, dan 22 di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Di Cianjur, insiden lebih luas terjadi karena makanan MBG disajikan juga pada acara masyarakat sehingga total korban mencapai 176 orang. Insiden serupa juga ditemukan di Bombana ketika puluhan paket makanan MBG tercium berbau busuk, serta di Sumba Timur ketika 29 siswa keracunan setelah makan menu yang disajikan sekolah.
Evaluasi BGN menunjukkan bahwa sebagian besar insiden terjadi akibat lemahnya pengelolaan dapur oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang masih baru dan minim pengalaman. Faktor lain yang berkontribusi antara lain kebersihan pengolahan makanan yang buruk, penyimpanan bahan pangan tidak sesuai standar, penggunaan bahan secara massal tanpa uji kelayakan, serta kurangnya pelatihan higiene bagi penyedia makanan.
Untuk mencegah terulangnya kasus serupa, pemerintah menetapkan **standar keamanan pangan** yang ketat. Jasa boga yang terlibat wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sementara Dinas Kesehatan diwajibkan melakukan inspeksi lingkungan, pengambilan sampel makanan, serta pelatihan rutin tentang sanitasi pangan. BPOM turut melakukan pengawasan komprehensif terhadap rantai penyediaan bahan makanan, pengolahan, hingga distribusi.
Selain keamanan pangan, MBG turut menimbulkan dampak sosial dan ekonomi. Secara positif, program ini meningkatkan ketahanan gizi siswa, memperkuat ekonomi desa melalui keterlibatan UMKM dan BUMDes, serta membuka lapangan kerja seperti distribusi dan penyediaan makanan. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran ketergantungan masyarakat terhadap program pemerintah, berkurangnya pendapatan pedagang kecil di sekolah, serta tantangan logistik yang mengganggu pemerataan kualitas makanan.
Kasus keracunan MBG menjadi pelajaran penting bahwa program skala nasional memerlukan pengawasan ketat dan standar keamanan pangan yang kuat. Dengan perbaikan sistem pengelolaan makanan, edukasi bagi pengolah pangan, serta koordinasi lintas sektor, program ini tetap berpotensi memberikan manfaat besar jika keselamatan penerima menjadi prioritas utama.
Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan salah satu intervensi gizi yang telah lama dijalankan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan status gizi balita, anak sekolah, dan ibu hamil, terutama di wilayah rentan. Program ini pertama kali dirintis sebagai PMT-AS pada tahun 1991 di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Fokus awalnya adalah menurunkan masalah gizi buruk serta meningkatkan kehadiran dan prestasi belajar siswa melalui penyediaan makanan bergizi. Seiring perkembangannya, PMT menjadi bagian dari strategi nasional dalam menurunkan stunting, wasting, dan malnutrisi.
Secara konsep, PMT memberikan makanan tambahan yang padat gizi menggunakan bahan lokal yang aman, berkualitas, dan sesuai standar. Asupan tambahan tersebut tidak dimaksudkan menggantikan makanan utama, melainkan melengkapi kekurangan nutrisi untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal. Program ini menyasar balita dengan berat badan tidak naik, balita gizi kurang, serta ibu hamil dengan Kurang Energi Kronik (KEK). Pelaksanaannya dilakukan melalui posyandu, fasilitas kesehatan, hingga kunjungan rumah, disertai edukasi gizi bagi keluarga untuk menciptakan perubahan perilaku makan yang berkelanjutan.
Dalam praktiknya, keamanan pangan menjadi aspek yang sangat penting dalam PMT. Pengolahan makanan harus mengikuti standar CPPOB, bebas dari kontaminasi fisik, kimia, maupun biologis, dan melalui proses pengawasan ketat oleh BPOM dan Kementerian Kesehatan. Pelaku usaha pangan juga harus mendapatkan pelatihan higiene sanitasi, memastikan makanan yang diberikan aman untuk ibu hamil dan balita yang rentan.
Namun, kasus korupsi dalam pengadaan PMT telah mengungkap masalah serius yang menghambat efektivitas program. KPK menemukan dugaan korupsi pada periode 2016–2020, terutama terkait penurunan kualitas gizi biskuit PMT untuk balita dan ibu hamil. Komposisi premiks vitamin dan mineral dikurangi, sementara kandungan tepung dan gula ditingkatkan demi menekan biaya. Akibatnya, produk yang seharusnya menjadi suplemen gizi malah berubah menjadi camilan rendah nutrisi. Modifikasi ini tidak hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga menghilangkan manfaat kesehatan bagi penerima, sehingga tujuan pencegahan stunting tidak tercapai.
Dampak dari PMT yang tidak memenuhi standar gizi meliputi kurangnya asupan energi dan protein, meningkatnya risiko infeksi, serta kegagalan mencapai target berat badan ideal. Anak-anak yang menerima makanan tambahan rendah gizi tidak mengalami perbaikan status gizi, bahkan berisiko tetap mengalami stunting. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas makanan adalah faktor kunci keberhasilan program, bukan hanya jumlah atau distribusinya.
Untuk memastikan PMT berjalan efektif, diperlukan solusi menyeluruh. PMT harus diberikan secara rutin, minimal satu kali makanan lengkap per minggu, serta dilengkapi edukasi gizi kepada keluarga. Pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat harus bekerja sama melalui pemantauan pertumbuhan anak dan pelatihan pembuatan menu sehat berbasis bahan lokal. Pengawasan ketat terhadap kualitas bahan dan proses produksi juga wajib diperkuat untuk mencegah terulangnya penyimpangan.
Kesimpulannya, PMT merupakan program penting dalam upaya nasional menurunkan stunting dan meningkatkan kesehatan anak. Namun, kasus korupsi menunjukkan perlunya transparansi, akuntabilitas, serta pengawasan ketat. Dengan integrasi edukasi, keamanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat, PMT dapat menjadi strategi yang efektif mencetak generasi sehat dan berkualitas.
Menstruasi adalah proses biologis alami yang dialami perempuan setiap bulan. Meskipun merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi, pembahasan mengenai menstruasi masih dianggap tabu di banyak budaya, termasuk di Indonesia. Akibatnya, banyak remaja putri yang memasuki masa pubertas tanpa pemahaman yang cukup, merasa malu, bahkan takut menghadapi perubahan tubuhnya. Padahal, siklus menstruasi sangat dipengaruhi oleh faktor hormonal, kesehatan mental, dan gaya hidup.
Siklus rata-rata perempuan berlangsung sekitar 28 hari, tetapi variasinya bisa sangat luas. Perbedaan tidak hanya terjadi antar individu, tetapi juga dapat berubah dari bulan ke bulan pada orang yang sama. Ketidakteraturan ini sering kali dipengaruhi stres, pola aktivitas, perubahan berat badan, ataupun kondisi kesehatan tertentu. Stres, misalnya, dapat mempengaruhi kinerja hipotalamus dan hormon yang mengatur siklus menstruasi sehingga mengganggu ovulasi.
Sayangnya, stigma sosial membuat pembahasan mengenai haid kurang terbuka. Berbagai mitos masih diyakini, seperti larangan mencuci rambut saat haid atau anggapan bahwa olahraga harus dihentikan saat menstruasi. Penelitian menunjukkan bahwa mitos-mitos ini berdampak negatif pada kenyamanan dan kepercayaan diri remaja putri, bahkan dapat membuat mereka enggan mencari informasi atau bantuan medis ketika mengalami gangguan haid.
Kurangnya edukasi juga memperburuk masalah. Banyak siswi merasa cemas ketika mengalami dismenore atau ketidakteraturan haid karena mereka tidak memahami penyebab dan cara mengatasinya. Penelitian pada remaja menunjukkan bahwa pengetahuan yang rendah berkaitan dengan sikap negatif terhadap menstruasi. Bahkan, tekanan akademik dan konflik keluarga dapat memberi dampak terhadap siklus menstruasi melalui mekanisme stres.
Menstruasi tidak seharusnya menghambat aktivitas fisik. Dengan manajemen yang baik, siswi tetap dapat mengikuti olahraga dan kegiatan harian lainnya. Olahraga ringan seperti yoga dan jalan kaki justru dapat membantu meredakan nyeri haid dan memperbaiki suasana hati.
Dalam memahami kesehatan reproduksi, penting bagi remaja putri untuk mengenali berbagai gangguan menstruasi. Amenorea, misalnya, terjadi ketika haid tidak muncul dalam jangka waktu tertentu, baik karena gangguan hormon, kehamilan, penyakit, hingga efek penggunaan kontrasepsi. Dismenore, atau nyeri haid, dapat dialami sebagian besar perempuan pada hari pertama siklus akibat peningkatan prostaglandin. Ada pula menorrhagia, yaitu perdarahan berat yang dapat mengganggu aktivitas dan menyebabkan anemia. Gangguan lain seperti oligomenorea dan PMDD juga memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.
Selain gangguan medis, banyak mitos yang perlu diluruskan. Keramas saat haid tidak berbahaya, minum air dingin tidak menghambat aliran darah, dan menstruasi tidak “membersihkan darah kotor”. Bahkan, kehamilan tetap mungkin terjadi saat berhubungan seksual pada masa haid. Meluruskan mitos penting agar remaja putri memiliki pemahaman yang benar dan tidak dibatasi oleh informasi keliru.
Untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung, diperlukan peran orang tua, sekolah, dan masyarakat. Komunikasi yang terbuka mengenai menstruasi membantu perempuan muda merasa lebih percaya diri dan memahami tubuhnya dengan lebih baik. Dengan edukasi yang tepat, stigma dapat dikurangi dan perempuan dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat dan berdaya.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan prioritas pemerintah sebagai upaya meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya anak-anak, ibu hamil, balita, dan ibu menyusui. Program ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya masalah gizi di Indonesia, seperti stunting, wasting, dan anemia yang berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia. MBG diharapkan mampu menjadi intervensi jangka panjang untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui perbaikan gizi sekaligus peningkatan mutu pendidikan dan ekonomi lokal.
Namun, efektivitas program ini masih menjadi perdebatan. Hingga kini belum terdapat bukti kuat bahwa MBG secara signifikan memperbaiki status gizi nasional. Distribusi yang belum merata, terutama di daerah terpencil, menyebabkan kelompok paling rentan belum menikmati manfaat program secara optimal. Selain itu, pengalokasian anggaran yang sangat besar dirasa belum sebanding dengan hasil yang dicapai. Proses pengadaan, distribusi, dan pengawasan masih menjadi titik lemah utama yang menurunkan efektivitas pelaksanaan program.
Skema MBG diatur dalam Perpres No. 83 Tahun 2024 dan ditargetkan berlangsung hingga 2029. Anggaran awal sebesar Rp71 triliun kemudian terus meningkat menjadi Rp171 triliun hingga Rp217 triliun untuk menjangkau 82,9 juta penerima. Karena keterbatasan anggaran, pemerintah mengeluarkan Inpres 1 Tahun 2025 mengenai pemangkasan anggaran kementerian/lembaga sebesar Rp306,6 triliun untuk menambal dana MBG. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi melemahkan sektor pendidikan dan kesehatan yang juga vital bagi pembangunan SDM.
Hingga April 2025, penerima manfaat MBG mencapai 3,26 juta orang, dengan mayoritas berasal dari jenjang SD/MI. Namun, pemerataan manfaat masih menjadi masalah. Desa terpencil dan kawasan dengan akses pangan rendah masih minim menerima layanan ini.
Dilihat dari dampaknya, program MBG memiliki potensi multidimensi. Dari sisi pendidikan, pemberian makanan sehat dapat meningkatkan konsentrasi, memori, dan performa akademik siswa, terutama bagi mereka yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Dari sisi ekonomi, MBG diharapkan menjadi penggerak ekonomi lokal dengan melibatkan UMKM, petani, dan BUMDes dalam penyediaan bahan pangan. Jika dijalankan secara optimal, program ini berpotensi menciptakan hingga 1,9 juta lapangan kerja baru di berbagai sektor.
Namun, tantangannya juga besar. Skema logistik dan pengadaan yang tidak optimal dapat membuka celah bagi masuknya produk impor dan mengurangi manfaat bagi petani lokal. Risiko ketimpangan juga muncul bila penyedia besar memonopoli rantai pasok, menggeser peluang UMKM kecil. Efektivitas pengawasan sangat menentukan keberhasilan program, khususnya memastikan kualitas bahan pangan dan keamanan makanan.
Keberlanjutan MBG bergantung pada kondisi fiskal negara, efektivitas pelaksanaan, dan kemampuan pemerintah mengelola anggaran secara transparan. Dengan besarnya anggaran yang diperlukan, program ini berpotensi menjadi beban fiskal jika tidak memberikan dampak nyata.
Melalui kajian ini, diperlukan pengawasan ketat, pelibatan aktor lokal, audit independen, serta perbaikan mekanisme agar MBG benar-benar menjadi solusi perbaikan gizi, bukan sekadar program besar yang tidak efisien.
1. Definisi UPF
UPF (Makanan Universal) adalah jenis makanan yang diproduksi secara massal dan sebagian besar atau sepenuhnya terbuat dari bahan yang diolah secara industri, termasuk zat yang berasal dari bahan alami dan tambahan, dengan sedikit atau tanpa unsur makanan utuh. Produk ini mencakup berbagai item, seperti minuman berpemanis, permen, cokelat, snack, makanan manis, sereal untuk sarapan, roti, kue, es krim, pizza siap saji, ramen, dan makanan cepat saji lainnya.
2. Pengertian berdasarkan klasifikasi NOVA
NOVA merupakan sistem pengkategorian makanan yang paling banyak diterima secara global untuk mengevaluasi konsumsi makanan ultra-proses (UPF) di kalangan masyarakat serta untuk menganalisis hubungan antara konsumsi UPF dan hasil kesehatan. Dalam sistem NOVA, makanan dibagi menjadi empat kategori:
• Makanan yang tidak diproses atau diproses secara minimal,
• Bahan makanan yang telah diproses,
• Makanan yang sudah diproses, dan
• UPF.
Kategori terakhir, yaitu UPF, mencakup produk yang dibuat melalui metode industri yang canggih, seperti pemisahan bahan makanan utuh menjadi komponen tertentu serta modifikasi secara kimia seperti hidrogenasi, ekstrusi, pencetakan, penggunaan bahan tambahan makanan, dan pengemasan dengan material sintetis. Inilah alasan mengapa produk ini diberi label UPF. Proses produksi UPF dirancang untuk membuatnya sangat menarik, lezat, dan mudah dikonsumsi kapan saja dan di mana saja.
3. Karakteristik UPF
Pangan yang mengalami proses berlebihan umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Mengandung banyak gula, garam, serta lemak
• Kaya energi (kalori tinggi)
• Mengandung banyak bahan tambahan
• Rendah serat dan mikronutrisi
Ciri-ciri ini menyebabkan Pangan Ultra-Proses cenderung memiliki nilai gizi yang rendah tetapi sangat lezat dan membuat ketagihan.
4. Konsumsi Pangan Ultra-Proses Food di Indonesia
Konsumsi UPF secara internasional menunjukkan pola yang mengganggu. Menurut laporan WHO (2023), proporsi energi harian yang berasal dari makanan ultra-proses telah melampaui 50% dari jumlah kalori yang dikonsumsi di beberapa negara maju. Pola serupa mulai muncul di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, seiring dengan meningkatnya industri makanan dan perubahan kebiasaan makan di kalangan masyarakat kota. Produk seperti minuman manis, camilan kemasan, dan makanan siap saji kini menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari di berbagai kelompok usia. Kondisi ini mencerminkan pergeseran besar dalam pola makan nasional yang tidak hanya mempengaruhi kesehatan masyarakat, tetapi juga berisiko mengancam keberlangsungan ekosistem pangan di masa depan.
5. Tren Konsumsi UPF
Beberapa penelitian terkini di Indonesia menunjukkan adanya perkembangan yang mengkhawatirkan. Survei lokal dan penelitian berskala kecil mengindikasikan bahwa makanan ultra-olah (UPF) menjadi penyumbang utama asupan kalori harian di kalangan remaja dan dewasa muda di kawasan perkotaan. Beberapa analisis menunjukkan bahwa lebih dari seperempat kalori yang dikonsumsi dapat berasal dari produk olahan yang tinggi dalam kelompok sampel tertentu. Temuan dari survei kesehatan Indonesia yang terbaru memperlihatkan adanya peningkatan prevalensi obesitas di kalangan orang dewasa jika dibandingkan dengan survei nasional sebelumnya. Survei kesehatan terpadu tahun 2023 mencatat angka obesitas pada orang dewasa yang berkisar antara persentase rendah hingga menengah, dengan adanya variasi yang mencolok antara daerah perkotaan dan pedesaan serta antarprovinsi. Perkembangan ini disertai oleh peningkatan yang mengkhawatirkan dalam jumlah anak dan remaja yang mengalami kelebihan berat badan di berbagai subkelompok populasi, yang menunjukkan dampak antargenerasi dari perubahan pola makan.
6. Hubungan Pangan UPF dengan Obesitas
Beberapa studi di Indonesia telah secara langsung meneliti hubungan antara asupan makanan ultra-olahan dan masalah kelebihan berat badan atau obesitas. Penelitian yang dilakukan secara melintang dan longitudinal di berbagai provinsi serta area perkotaan di Indonesia telah mencatat tingginya prevalensi makanan ringan kemasan, mie instan, minuman manis, dan produk daging olahan dalam pola makan remaja dan orang dewasa, yang sering kali berkaitan dengan indeks massa tubuh dan adipositas regional yang lebih tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa tingginya konsumsi UPF berhubungan dengan IMT yang lebih besar dan peningkatan jumlah lemak tubuh.
Permintaan terhadap makanan UPF (Ultra-Purpose Food) semakin meningkat dari waktu ke waktu, dan alasan di baliknya dapat ditemukan dalam gaya hidup masyarakat saat ini: jadwal kerja yang padat, kurangnya waktu, dan kebutuhan untuk makanan yang cepat dalam pengelolaan sehari-hari mendorong permintaan akan makanan yang praktis dikonsumsi saat beraktivitas. Hal ini mengakibatkan konsumsi yang tidak disadari yang mempengaruhi fungsi saraf dan sistem pencernaan, sehingga mengganggu persepsi rasa lapar dan tingkat kepuasan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan konsumsi berlebih.
7. Dampak UPF Bagi Kesehatan
UPF memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem. Dari sudut pandang kesehatan, pola makan yang tinggi UPF terbukti meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan masalah jantung akibat asupan gula, garam, lemak jenuh, serta zat adiktif buatan yang berlebihan. Di sisi lain, dari perspektif lingkungan, proses pembuatan UPF secara massal berkontribusi terhadap penurunan keanekaragaman hayati, peningkatan emisi karbon, serta pencemaran yang disebabkan oleh limbah dari industri makanan dan kemasan plastik.
8. Upaya Pencegahan dan Penanggulanngannya
Penanggulangan dapat dilakukan dengan pendekatan yang terintegrasi melalui kebijakan publik, pendidikan gizi, dan pengembangan sistem pangan yang berkelanjutan yang mendorong pola makan alami dan bergizi secara seimbang. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus mempertahankan keberlanjutan ekosistem bumi.
Referensi:
• Fitriani, RJ (2025). Tren Konsumsi Makanan Ultra-Olahan dan Dampaknya terhadap Risiko Obesitas di Indonesia. Jurnal Nutrizione , 2 (3), 50-61.
• Shim, JS (2025). Konsumsi makanan ultra-olahan dan obesitas: tinjauan naratif tentang hubungan dan mekanisme potensialnya. Jurnal Obesitas & Sindrom Metabolik , 34 (1), 27.
• Hidayah, N., Nada, S. A. P., & Nasution, A. S. (2025). ULTRA PROCESSED FOODS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESEHATAN DAN LINGKUNGAN: LITERATUR REVIEW ULTRA-PROCESSED FOODS AND THEIR IMPLICATIONS FOR HEALTH AND THE ENVIRONMENT: A LITERATURE REVIEW. Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia (The Journal of Indonesian Community Nutrition), 14(2).
Pendahuluan
Fenomena Adiksi Kafein dan Lonjakan Gangguan Pencernaan (GERD) pada Generasi Z Pendahuluan Generasi Z (Gen Z), yang lahir antara tahun 1997–2012, dikenal sebagai generasi yang hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup serba cepat. Aktivitas akademik, pekerjaan, serta kebiasaan begadang sering mendorong konsumsi minuman berkafein seperti kopi, teh, minuman energi, dan minuman kekinian berbasis espresso. Di sisi lain, muncul peningkatan keluhan gangguan pencernaan, terutama Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yang banyak dialami oleh kalangan remaja dan dewasa muda. Fenomena ini menimbulkan perhatian karena konsumsi kafein yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor pemicu munculnya gejala GERD.
Adiksi Kafein pada Gen Z
Kafein merupakan zat stimulan yang bekerja pada sistem saraf pusat sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan mengurangi rasa lelah. Konsumsi kafein dalam jumlah wajar umumnya aman, namun konsumsi berlebihan dan berulang dapat menyebabkan ketergantungan atau adiksi kafein.
Pada Gen Z, budaya nongkrong di kafe, tren minuman kopi susu, serta penggunaan minuman energi untuk mendukung aktivitas belajar dan bekerja menyebabkan konsumsi kafein meningkat. Beberapa tanda seseorang mengalami adiksi kafein meliputi:
1. Sulit memulai aktivitas tanpa mengonsumsi kopi atau minuman berkafein.
2. Mengalami sakit kepala, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi saat tidak mengonsumsi kafein.
3. Meningkatkan jumlah konsumsi kafein untuk mendapatkan efek yang sama.
4. Tetap mengonsumsi kafein meskipun telah mengalami gangguan kesehatan.
Mengenal GERD
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang sehingga menimbulkan gejala seperti heartburn, rasa asam di mulut, mual, kembung, dan sulit menelan.
Hubungan Adiksi Kafein dengan GERD
Konsumsi kafein berlebihan dapat memperburuk gejala GERD melalui beberapa mekanisme: - Relaksasi sfingter esofagus bawah. - Peningkatan produksi asam lambung. - Pola makan tidak teratur. - Kurang tidur dan stres. Faktor yang Memperparah Fenomena pada Gen Z Selain konsumsi kafein, beberapa faktor lain yang meningkatkan risiko GERD pada Gen Z meliputi konsumsi makanan pedas dan berlemak, kebiasaan makan larut malam, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, tingkat stres yang tinggi, dan pola tidur yang buruk.
Upaya Pencegahan
1. Membatasi konsumsi kafein maksimal 400 mg per hari.
2. Menghindari konsumsi kopi saat perut kosong.
3. Mengurangi minuman energi dan kopi berkafein tinggi.
4. Menerapkan pola makan teratur.
5. Menghindari makan 2–3 jam sebelum tidur.
6. Menjaga berat badan ideal.
7. Mengelola stres.
8. Tidur cukup 7–9 jam per malam.
Kesimpulan
Adiksi kafein menjadi fenomena yang semakin umum pada Generasi Z akibat tuntutan akademik, pekerjaan, dan tren gaya hidup modern. Konsumsi kafein yang berlebihan, terutama jika disertai pola makan yang tidak sehat, dapat meningkatkan risiko munculnya atau memperburuk gejala GERD.
Referensi
Cappelletti, S., Daria, P., Sani, G., & Aromatario, M. (2015). Kafein: Peningkat kinerja kognitif dan fisik atau obat psikoaktif? Current Neuropharmacology, 13(1), 71–88.
Food and Drug Administration (FDA). (2024). Membahas kafein: Berapa banyak kafein yang terlalu berlebihan? U.S. Food and Drug Administration.
Mayo Clinic. (2024). Nyeri ulu hati (heartburn). Mayo Clinic.
Nehlig, A. (2018). Perbedaan individu dalam metabolisme kafein dan faktor-faktor yang mendorong konsumsi kafein. Pharmacological Reviews, 70(2), 384–411.
Pendahuluan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi selama ini sering dianggap sebagai penyakit yang hanya dialami oleh kelompok usia lanjut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus hipertensi mulai banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda, termasuk Generasi Z. Salah satu faktor yang diduga berperan besar adalah pola makan tinggi natrium yang semakin umum akibat meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, camilan kemasan, serta minuman siap saji. Pola konsumsi tersebut berpotensi meningkatkan risiko hipertensi sejak usia muda dan berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Pembahasan
Pengertian Natrium dan Hipertensi
Natrium merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, dan kontraksi otot. Namun, konsumsi natrium yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh sehingga volume darah meningkat dan tekanan pada pembuluh darah menjadi lebih tinggi. Kondisi ini dapat memicu terjadinya hipertensi.
Pola Konsumsi Natrium pada Generasi Z
Generasi Z cenderung memiliki gaya hidup yang praktis dan serba cepat. Kebiasaan mengonsumsi makanan instan, keripik, makanan cepat saji, sosis, nugget, serta berbagai jenis saus dan bumbu penyedap menyebabkan asupan natrium harian meningkat. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi natrium kurang dari 2.000 mg per hari atau setara dengan 5 gram garam. Faktanya, rata-rata konsumsi natrium masyarakat dunia mencapai sekitar 4.310 mg per hari, lebih dari dua kali lipat batas yang dianjurkan.
Hubungan Natrium dengan Hipertensi Dini
Konsumsi natrium yang tinggi berhubungan langsung dengan peningkatan tekanan darah. Saat kadar natrium dalam tubuh meningkat, ginjal harus bekerja lebih keras untuk mengeluarkan kelebihan natrium. Jika kemampuan ginjal tidak mencukupi, tubuh akan menahan lebih banyak air sehingga volume darah meningkat dan tekanan darah naik. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan hipertensi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam *International Journal of Epidemiology* menunjukkan bahwa asupan natrium memiliki hubungan positif dengan tekanan darah pada anak dan remaja. Setiap peningkatan 1 gram natrium per hari dapat meningkatkan tekanan darah sistolik dan diastolik sekitar 1 mmHg. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi natrium sejak usia muda dapat meningkatkan risiko hipertensi di kemudian hari.
Selain itu, penelitian pada remaja di Amerika Serikat menemukan bahwa konsumsi natrium yang sangat tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah sistolik tinggi, terutama jika disertai rendahnya asupan kalium.
Dampak Hipertensi Dini pada Generasi Z
Hipertensi yang muncul pada usia muda dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular di masa depan, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan gangguan ginjal. Karena hipertensi sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, banyak remaja dan dewasa muda tidak menyadari bahwa tekanan darah mereka sudah berada di atas batas normal.
Upaya Pencegahan
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko hipertensi dini pada Generasi Z antara lain:
1. Mengurangi konsumsi makanan cepat saji dan makanan olahan.
2. Membatasi penggunaan garam, penyedap rasa, dan saus tinggi natrium.
3. Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran yang kaya kalium.
4. Rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.
5. Memeriksa tekanan darah secara berkala.
6. Membiasakan membaca label kandungan natrium pada kemasan makanan.
Kesimpulan
Pola makan tinggi natrium merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko hipertensi dini pada Generasi Z. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, dan camilan tinggi garam dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sejak usia muda. Oleh karena itu, pengendalian asupan natrium serta penerapan pola hidup sehat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hipertensi dan berbagai komplikasi penyakit kardiovaskular di masa depan.
Daftar Pustaka
He, F. J., dkk. (2018). Sodium intake and blood pressure in children and adolescents: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Epidemiology,
World Health Organization. (2012). Guideline: Sodium Intake for Adults and Children. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2023). Reducing Sodium Intake to Reduce Blood Pressure and Risk of Cardiovascular Diseases in Adults. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2025). Sodium Reduction Fact Sheet. Geneva: World Health Organization.
Yang, Q., dkk. (2017). Dietary Sodium, Dietary Potassium, and Systolic Blood Pressure in US Adolescents. Journal of Clinical Hypertension,