Padang, PANITIA ALEK GIZI 2025 — Himpunan Mahasiswa Departemen Gizi (HIMA Gizi) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas sukses menyelenggarakan Alek Gizi 2025 pada Sabtu (1/11/2025) di Convention Hall Universitas Andalas. Acara tahunan ini kembali menjadi ruang pertemuan seluruh civitas akademika Departemen Gizi untuk memperkuat relasi dan mempererat kebersamaan lintas generasi. Pada tahun ini Alek Gizi mengusung tema “Manjago Nan Alah Ado, Manyambuang Nan Ka Tibo” yang memiliki makna menjaga hubungan baik yang sudah terjalin (alumni, nilai, tradisi) sekaligus menyambut dengan hangat yang akan datang (mahasiswa baru, generasi penerus
Kegiatan resmi dibuka oleh Wakil Dekan I FKM UNAND, Dr.Idral Purnakarya, SKM,MKM setelah sebelumnya diawali dengan laporan penyelenggaraan oleh Aisyah Nurul Jannah selaku Ketua Pelaksana. Acara turut dihadiri jajaran pimpinan, termasuk Rizki Ramadhani Arbi selaku Ketua HIMA Gizi, Nazwa Safa Salsabila selaku ketua DPA HIMA Gizi, Dr. Frima Elda S.K.M., M.K.M. selaku pembina hima gizi dan Dr. Syahrial, SKM, M.Biomed selaku Ketua Departemen Gizi, serta jajaran dosen dan tenaga pendidik program studi Gizi FKM UNAND
Memasuki rangkaian berikutnya, peserta mengikuti Sharing Hearing bersama dosen, menghadirkan Faza Yasira Rusdi, S.Gz., M.Gz. sebagai pemateri. Pada sesi ini, beliau membahas perjalanan akademik, tantangan di bidang gizi, serta langkah strategis yang dapat dipersiapkan mahasiswa untuk membangun karier sejak dini. Dilanjutkan dengan Talkshow menarik menghadirkan Aldi Ananda Saputra yang merupakan alumni jurusan gizi Universitas andalas yang pada saat ini bergabung menjadi salah satu bagian dari Badan Gizi Nasional, yang membahas tentang “Membangun Karier Sejak di Bangku Kuliah: Bagaimana Pengalaman, Tips, dan Keterampilan Penting Membentuk Masa Depan? "
Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya penampilan dosen, pemberian Dosen Award, serta berbagai penampilan bakat mahasiswa dari angkatan 2023, 2024, dan 2025. Seluruh penampilan berjalan meriah dan mendapat apresiasi besar dari peserta yang hadir. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi ISHOMA sebelum memasuki agenda pada siang hari.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah Catwalk yang meampilkan berbagai seragam yang digunakan oleh mahasiswa jurusan gizi fkm unand, seperti Almamater UNAND Baju kuliah mahasiswa/i FKM UNAND, Seragam jurusan gizi, Jas laboratorium, Baju kerja Hima Gizi KM FKM UNAND, Baju koki dan Baju kepaniteraan. Catwalk ini menunjukkan identitas mahasiswa gizi dari berbagai sudut pandang profesi dan berhasil menambah antusiasme seluruh peserta.
Padang – Andalas Nutrition Fair (ANFA) 2025 kembali digelar dengan rangkaian kegiatan edukatif dan inspiratif yang berlangsung sepanjang bulan Agustus hingga September 2025. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Gizi Universitas Andalas ini mengusung semangat peningkatan literasi gizi dan kesehatan bagi masyarakat luas, melalui tiga acara utama, yaitu Webinar Nasional, Lomba Poster, dan Pekan Gizi.
Webinar Nasional ANFA 2025
Kegiatan pertama berupa Webinar Nasional yang dilaksanakan pada Minggu, 24 Agustus 2025 melalui platform Zoom Meeting. Webinar ini menghadirkan dua narasumber kompeten, yaitu dr. Mohamad Hildan serta Fhadila Amelia, S.Gz., M.MedSc, salah satu dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.
Dengan topik “From Stress to Strength: How to Beat Emotional Eating and Sugar Addiction”, para pemateri membahas secara mendalam cara mengelola stres agar tidak berujung pada pola makan emosional dan kebiasaan konsumsi gula berlebih.
Webinar diikuti oleh sekitar 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa se-Indonesia serta tenaga kesehatan. Setiap peserta mendapatkan 2 SKP, sementara peserta aktif yang memberikan pertanyaan dan kontribusi dalam diskusi memperoleh reward khusus dari panitia.
Acara ditutup dengan penyerahan plakat serta sertifikat penghargaan kepada kedua pemateri sebagai bentuk apresiasi atas ilmu yang telah dibagikan.
Lomba Poster ANFA 2025
Kegiatan kedua adalah Lomba Poster bertema “Small Habits, Big Health Impact: Kebiasaan Kecil untuk Masa Depan yang Lebih Sehat”. Peserta dapat mengikuti lomba secara individu maupun kelompok dengan mengirimkan karya poster dalam bentuk PDF beserta narasi maknanya melalui formulir pendaftaran online.
Seluruh poster yang masuk kemudian diunggah oleh panitia ke akun Instagram resmi ANFA di @anfahimagiua, lengkap dengan narasi dari peserta pada bagian caption. Antusiasme peserta cukup tinggi, terlihat dari banyaknya karya kreatif yang diunggah.
Lomba ini menetapkan dua kategori pemenang:
Juara 1 berdasarkan penilaian juri, dengan hadiah Rp150.000 + sertifikat
Juara Favorit berdasarkan jumlah like terbanyak di Instagram, dengan hadiah Rp125.000 + sertifikat
Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami masyarakat, sekaligus meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam bidang komunikasi gizi.
Pekan Gizi ANFA 2025
Rangkaian acara ditutup dengan kegiatan Pekan Gizi yang dilaksanakan pada Minggu, 14 September 2025 di kawasan Car Free Day, Padang, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Sumatera Barat. Acara berlangsung meriah di tengah keramaian masyarakat yang sedang mengikuti kegiatan jalan sehat.
Pekan Gizi diawali dengan senam bersama, kemudian dilanjutkan dengan berbagai layanan kesehatan gratis seperti cek gula darah, pemeriksaan antropometri, dan konsultasi gizi. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, dengan lebih dari 160 peserta yang ikut berpartisipasi.
Selain itu, panitia juga membagikan buah gratis kepada peserta sebagai bentuk promosi konsumsi pangan sehat. Kegiatan ini turut dihadiri oleh beberapa dosen FKM Universitas Andalas yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
Batu Busuak — Kegiatan Gizi Mengabdi dengan tema “Jaga Jantungmu dengan Gizi yang Tepat: Makanan Sehat, Hidup Sehat” sukses dilaksanakan pada 27 April dan 4 Mei 2025 di Desa Batu Busuak RT 1 dan RT 2. Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan pemahaman warga mengenai pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan hidup sehat untuk mencegah penyakit jantung serta gangguan metabolik seperti hipertensi dan kolesterol tinggi.
Hari Pertama: Senam Bersama dan Penyuluhan Kesehatan Pelaksanaan hari pertama pada 27 April diawali dengan senam bersama yang diikuti antusias oleh warga dari berbagai rentang usia. Kegiatan senam ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga sebagai langkah nyata membiasakan masyarakat untuk aktif bergerak setiap hari.
Setelah senam, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi terkait penyakit hipertensi dan kolesterol. Pemateri menjelaskan penyebab, tanda-tanda, serta bahaya kedua penyakit tersebut yang semakin umum dialami masyarakat. Selain itu, peserta diberikan edukasi mengenai pola makan yang baik, seperti mengurangi konsumsi makanan berlemak jenuh, membatasi garam, serta meningkatkan asupan buah, sayur, dan sumber protein sehat. Penjelasan disampaikan dengan menggunakan contoh makanan sehari-hari sehingga lebih mudah diterapkan dalam kehidupan warga. Diskusi interaktif juga berlangsung aktif, dengan peserta bertanya mengenai tekanan darah, pilihan makanan yang aman, hingga cara memulai gaya hidup sehat. Suasana akrab membuat penyuluhan berjalan lancar dan penuh semangat.
Hari Kedua: Gotong Royong dan Pembagian Buah, Kegiatan berlanjut pada 4 Mei dengan pelaksanaan gotong royong membersihkan lingkungan desa. Warga RT 1 dan RT 2 kompak membersihkan jalan, selokan, serta area sekitar rumah warga. Gotong royong ini menjadi simbol bahwa kesehatan tidak hanya berasal dari makanan, tetapi juga dari lingkungan yang bersih dan nyaman.
Setelah gotong royong selesai, kegiatan ditutup dengan pembagian kenang kenangan seperti sertifikat dan tempat sampah yang telah disiapkan oleh panita. Dilanjutkan dengan makan buah bersama warga, seperti semangka dan pepaya. Pembagian buah ini menjadi ajakan nyata untuk meningkatkan konsumsi makanan sehat, khususnya buah-buahan yang kaya vitamin dan serat, sehingga baik bagi kesehatan jantung.
Melalui rangkaian kegiatan Gizi Mengabdi selama dua hari ini, diharapkan masyarakat Desa Batu Busuak semakin sadar akan pentingnya menjaga pola hidup sehat, mulai dari aktivitas fisik, pola makan seimbang, hingga menjaga kebersihan lingkungan. Pihak penyelenggara berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara rutin, sehingga mampu menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan peduli terhadap kesejahteraan bersama.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari warga yang merasa sangat terbantu dengan pengetahuan dan pengalaman praktis yang diberikan. Gizi Mengabdi membuktikan bahwa edukasi yang sederhana namun konsisten dapat membawa perubahan besar bagi kesehatan masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu agenda strategis pemerintah Indonesia sejak 2025 untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan makanan sehat bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. Dengan target lebih dari 82 juta penerima manfaat dan anggaran mencapai Rp71 triliun, program ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting, meningkatkan prestasi belajar, serta memperkuat ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM dan petani.
Namun, implementasi MBG menghadapi tantangan besar, terutama terkait keamanan pangan. Sejak Januari hingga Mei 2025, tercatat setidaknya 1.315 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program ini. Kasus terjadi di berbagai wilayah seperti Bogor, Cianjur, Bombana, Sumba Timur, hingga Sukoharjo. Sebagian siswa memerlukan perawatan intensif, sementara lainnya mengalami gejala ringan seperti mual, muntah, dan nyeri perut.
Salah satu kasus terbesar terjadi di Bogor, ketika 210 siswa mengalami gejala keracunan, dan 22 di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Di Cianjur, insiden lebih luas terjadi karena makanan MBG disajikan juga pada acara masyarakat sehingga total korban mencapai 176 orang. Insiden serupa juga ditemukan di Bombana ketika puluhan paket makanan MBG tercium berbau busuk, serta di Sumba Timur ketika 29 siswa keracunan setelah makan menu yang disajikan sekolah.
Evaluasi BGN menunjukkan bahwa sebagian besar insiden terjadi akibat lemahnya pengelolaan dapur oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang masih baru dan minim pengalaman. Faktor lain yang berkontribusi antara lain kebersihan pengolahan makanan yang buruk, penyimpanan bahan pangan tidak sesuai standar, penggunaan bahan secara massal tanpa uji kelayakan, serta kurangnya pelatihan higiene bagi penyedia makanan.
Untuk mencegah terulangnya kasus serupa, pemerintah menetapkan **standar keamanan pangan** yang ketat. Jasa boga yang terlibat wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sementara Dinas Kesehatan diwajibkan melakukan inspeksi lingkungan, pengambilan sampel makanan, serta pelatihan rutin tentang sanitasi pangan. BPOM turut melakukan pengawasan komprehensif terhadap rantai penyediaan bahan makanan, pengolahan, hingga distribusi.
Selain keamanan pangan, MBG turut menimbulkan dampak sosial dan ekonomi. Secara positif, program ini meningkatkan ketahanan gizi siswa, memperkuat ekonomi desa melalui keterlibatan UMKM dan BUMDes, serta membuka lapangan kerja seperti distribusi dan penyediaan makanan. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran ketergantungan masyarakat terhadap program pemerintah, berkurangnya pendapatan pedagang kecil di sekolah, serta tantangan logistik yang mengganggu pemerataan kualitas makanan.
Kasus keracunan MBG menjadi pelajaran penting bahwa program skala nasional memerlukan pengawasan ketat dan standar keamanan pangan yang kuat. Dengan perbaikan sistem pengelolaan makanan, edukasi bagi pengolah pangan, serta koordinasi lintas sektor, program ini tetap berpotensi memberikan manfaat besar jika keselamatan penerima menjadi prioritas utama.
Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan salah satu intervensi gizi yang telah lama dijalankan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan status gizi balita, anak sekolah, dan ibu hamil, terutama di wilayah rentan. Program ini pertama kali dirintis sebagai PMT-AS pada tahun 1991 di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Fokus awalnya adalah menurunkan masalah gizi buruk serta meningkatkan kehadiran dan prestasi belajar siswa melalui penyediaan makanan bergizi. Seiring perkembangannya, PMT menjadi bagian dari strategi nasional dalam menurunkan stunting, wasting, dan malnutrisi.
Secara konsep, PMT memberikan makanan tambahan yang padat gizi menggunakan bahan lokal yang aman, berkualitas, dan sesuai standar. Asupan tambahan tersebut tidak dimaksudkan menggantikan makanan utama, melainkan melengkapi kekurangan nutrisi untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal. Program ini menyasar balita dengan berat badan tidak naik, balita gizi kurang, serta ibu hamil dengan Kurang Energi Kronik (KEK). Pelaksanaannya dilakukan melalui posyandu, fasilitas kesehatan, hingga kunjungan rumah, disertai edukasi gizi bagi keluarga untuk menciptakan perubahan perilaku makan yang berkelanjutan.
Dalam praktiknya, keamanan pangan menjadi aspek yang sangat penting dalam PMT. Pengolahan makanan harus mengikuti standar CPPOB, bebas dari kontaminasi fisik, kimia, maupun biologis, dan melalui proses pengawasan ketat oleh BPOM dan Kementerian Kesehatan. Pelaku usaha pangan juga harus mendapatkan pelatihan higiene sanitasi, memastikan makanan yang diberikan aman untuk ibu hamil dan balita yang rentan.
Namun, kasus korupsi dalam pengadaan PMT telah mengungkap masalah serius yang menghambat efektivitas program. KPK menemukan dugaan korupsi pada periode 2016–2020, terutama terkait penurunan kualitas gizi biskuit PMT untuk balita dan ibu hamil. Komposisi premiks vitamin dan mineral dikurangi, sementara kandungan tepung dan gula ditingkatkan demi menekan biaya. Akibatnya, produk yang seharusnya menjadi suplemen gizi malah berubah menjadi camilan rendah nutrisi. Modifikasi ini tidak hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga menghilangkan manfaat kesehatan bagi penerima, sehingga tujuan pencegahan stunting tidak tercapai.
Dampak dari PMT yang tidak memenuhi standar gizi meliputi kurangnya asupan energi dan protein, meningkatnya risiko infeksi, serta kegagalan mencapai target berat badan ideal. Anak-anak yang menerima makanan tambahan rendah gizi tidak mengalami perbaikan status gizi, bahkan berisiko tetap mengalami stunting. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas makanan adalah faktor kunci keberhasilan program, bukan hanya jumlah atau distribusinya.
Untuk memastikan PMT berjalan efektif, diperlukan solusi menyeluruh. PMT harus diberikan secara rutin, minimal satu kali makanan lengkap per minggu, serta dilengkapi edukasi gizi kepada keluarga. Pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat harus bekerja sama melalui pemantauan pertumbuhan anak dan pelatihan pembuatan menu sehat berbasis bahan lokal. Pengawasan ketat terhadap kualitas bahan dan proses produksi juga wajib diperkuat untuk mencegah terulangnya penyimpangan.
Kesimpulannya, PMT merupakan program penting dalam upaya nasional menurunkan stunting dan meningkatkan kesehatan anak. Namun, kasus korupsi menunjukkan perlunya transparansi, akuntabilitas, serta pengawasan ketat. Dengan integrasi edukasi, keamanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat, PMT dapat menjadi strategi yang efektif mencetak generasi sehat dan berkualitas.
Menstruasi adalah proses biologis alami yang dialami perempuan setiap bulan. Meskipun merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi, pembahasan mengenai menstruasi masih dianggap tabu di banyak budaya, termasuk di Indonesia. Akibatnya, banyak remaja putri yang memasuki masa pubertas tanpa pemahaman yang cukup, merasa malu, bahkan takut menghadapi perubahan tubuhnya. Padahal, siklus menstruasi sangat dipengaruhi oleh faktor hormonal, kesehatan mental, dan gaya hidup.
Siklus rata-rata perempuan berlangsung sekitar 28 hari, tetapi variasinya bisa sangat luas. Perbedaan tidak hanya terjadi antar individu, tetapi juga dapat berubah dari bulan ke bulan pada orang yang sama. Ketidakteraturan ini sering kali dipengaruhi stres, pola aktivitas, perubahan berat badan, ataupun kondisi kesehatan tertentu. Stres, misalnya, dapat mempengaruhi kinerja hipotalamus dan hormon yang mengatur siklus menstruasi sehingga mengganggu ovulasi.
Sayangnya, stigma sosial membuat pembahasan mengenai haid kurang terbuka. Berbagai mitos masih diyakini, seperti larangan mencuci rambut saat haid atau anggapan bahwa olahraga harus dihentikan saat menstruasi. Penelitian menunjukkan bahwa mitos-mitos ini berdampak negatif pada kenyamanan dan kepercayaan diri remaja putri, bahkan dapat membuat mereka enggan mencari informasi atau bantuan medis ketika mengalami gangguan haid.
Kurangnya edukasi juga memperburuk masalah. Banyak siswi merasa cemas ketika mengalami dismenore atau ketidakteraturan haid karena mereka tidak memahami penyebab dan cara mengatasinya. Penelitian pada remaja menunjukkan bahwa pengetahuan yang rendah berkaitan dengan sikap negatif terhadap menstruasi. Bahkan, tekanan akademik dan konflik keluarga dapat memberi dampak terhadap siklus menstruasi melalui mekanisme stres.
Menstruasi tidak seharusnya menghambat aktivitas fisik. Dengan manajemen yang baik, siswi tetap dapat mengikuti olahraga dan kegiatan harian lainnya. Olahraga ringan seperti yoga dan jalan kaki justru dapat membantu meredakan nyeri haid dan memperbaiki suasana hati.
Dalam memahami kesehatan reproduksi, penting bagi remaja putri untuk mengenali berbagai gangguan menstruasi. Amenorea, misalnya, terjadi ketika haid tidak muncul dalam jangka waktu tertentu, baik karena gangguan hormon, kehamilan, penyakit, hingga efek penggunaan kontrasepsi. Dismenore, atau nyeri haid, dapat dialami sebagian besar perempuan pada hari pertama siklus akibat peningkatan prostaglandin. Ada pula menorrhagia, yaitu perdarahan berat yang dapat mengganggu aktivitas dan menyebabkan anemia. Gangguan lain seperti oligomenorea dan PMDD juga memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.
Selain gangguan medis, banyak mitos yang perlu diluruskan. Keramas saat haid tidak berbahaya, minum air dingin tidak menghambat aliran darah, dan menstruasi tidak “membersihkan darah kotor”. Bahkan, kehamilan tetap mungkin terjadi saat berhubungan seksual pada masa haid. Meluruskan mitos penting agar remaja putri memiliki pemahaman yang benar dan tidak dibatasi oleh informasi keliru.
Untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung, diperlukan peran orang tua, sekolah, dan masyarakat. Komunikasi yang terbuka mengenai menstruasi membantu perempuan muda merasa lebih percaya diri dan memahami tubuhnya dengan lebih baik. Dengan edukasi yang tepat, stigma dapat dikurangi dan perempuan dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat dan berdaya.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan prioritas pemerintah sebagai upaya meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya anak-anak, ibu hamil, balita, dan ibu menyusui. Program ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya masalah gizi di Indonesia, seperti stunting, wasting, dan anemia yang berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia. MBG diharapkan mampu menjadi intervensi jangka panjang untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui perbaikan gizi sekaligus peningkatan mutu pendidikan dan ekonomi lokal.
Namun, efektivitas program ini masih menjadi perdebatan. Hingga kini belum terdapat bukti kuat bahwa MBG secara signifikan memperbaiki status gizi nasional. Distribusi yang belum merata, terutama di daerah terpencil, menyebabkan kelompok paling rentan belum menikmati manfaat program secara optimal. Selain itu, pengalokasian anggaran yang sangat besar dirasa belum sebanding dengan hasil yang dicapai. Proses pengadaan, distribusi, dan pengawasan masih menjadi titik lemah utama yang menurunkan efektivitas pelaksanaan program.
Skema MBG diatur dalam Perpres No. 83 Tahun 2024 dan ditargetkan berlangsung hingga 2029. Anggaran awal sebesar Rp71 triliun kemudian terus meningkat menjadi Rp171 triliun hingga Rp217 triliun untuk menjangkau 82,9 juta penerima. Karena keterbatasan anggaran, pemerintah mengeluarkan Inpres 1 Tahun 2025 mengenai pemangkasan anggaran kementerian/lembaga sebesar Rp306,6 triliun untuk menambal dana MBG. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi melemahkan sektor pendidikan dan kesehatan yang juga vital bagi pembangunan SDM.
Hingga April 2025, penerima manfaat MBG mencapai 3,26 juta orang, dengan mayoritas berasal dari jenjang SD/MI. Namun, pemerataan manfaat masih menjadi masalah. Desa terpencil dan kawasan dengan akses pangan rendah masih minim menerima layanan ini.
Dilihat dari dampaknya, program MBG memiliki potensi multidimensi. Dari sisi pendidikan, pemberian makanan sehat dapat meningkatkan konsentrasi, memori, dan performa akademik siswa, terutama bagi mereka yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Dari sisi ekonomi, MBG diharapkan menjadi penggerak ekonomi lokal dengan melibatkan UMKM, petani, dan BUMDes dalam penyediaan bahan pangan. Jika dijalankan secara optimal, program ini berpotensi menciptakan hingga 1,9 juta lapangan kerja baru di berbagai sektor.
Namun, tantangannya juga besar. Skema logistik dan pengadaan yang tidak optimal dapat membuka celah bagi masuknya produk impor dan mengurangi manfaat bagi petani lokal. Risiko ketimpangan juga muncul bila penyedia besar memonopoli rantai pasok, menggeser peluang UMKM kecil. Efektivitas pengawasan sangat menentukan keberhasilan program, khususnya memastikan kualitas bahan pangan dan keamanan makanan.
Keberlanjutan MBG bergantung pada kondisi fiskal negara, efektivitas pelaksanaan, dan kemampuan pemerintah mengelola anggaran secara transparan. Dengan besarnya anggaran yang diperlukan, program ini berpotensi menjadi beban fiskal jika tidak memberikan dampak nyata.
Melalui kajian ini, diperlukan pengawasan ketat, pelibatan aktor lokal, audit independen, serta perbaikan mekanisme agar MBG benar-benar menjadi solusi perbaikan gizi, bukan sekadar program besar yang tidak efisien.
1. Definisi UPF
UPF (Makanan Universal) adalah jenis makanan yang diproduksi secara massal dan sebagian besar atau sepenuhnya terbuat dari bahan yang diolah secara industri, termasuk zat yang berasal dari bahan alami dan tambahan, dengan sedikit atau tanpa unsur makanan utuh. Produk ini mencakup berbagai item, seperti minuman berpemanis, permen, cokelat, snack, makanan manis, sereal untuk sarapan, roti, kue, es krim, pizza siap saji, ramen, dan makanan cepat saji lainnya.
2. Pengertian berdasarkan klasifikasi NOVA
NOVA merupakan sistem pengkategorian makanan yang paling banyak diterima secara global untuk mengevaluasi konsumsi makanan ultra-proses (UPF) di kalangan masyarakat serta untuk menganalisis hubungan antara konsumsi UPF dan hasil kesehatan. Dalam sistem NOVA, makanan dibagi menjadi empat kategori:
• Makanan yang tidak diproses atau diproses secara minimal,
• Bahan makanan yang telah diproses,
• Makanan yang sudah diproses, dan
• UPF.
Kategori terakhir, yaitu UPF, mencakup produk yang dibuat melalui metode industri yang canggih, seperti pemisahan bahan makanan utuh menjadi komponen tertentu serta modifikasi secara kimia seperti hidrogenasi, ekstrusi, pencetakan, penggunaan bahan tambahan makanan, dan pengemasan dengan material sintetis. Inilah alasan mengapa produk ini diberi label UPF. Proses produksi UPF dirancang untuk membuatnya sangat menarik, lezat, dan mudah dikonsumsi kapan saja dan di mana saja.
3. Karakteristik UPF
Pangan yang mengalami proses berlebihan umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Mengandung banyak gula, garam, serta lemak
• Kaya energi (kalori tinggi)
• Mengandung banyak bahan tambahan
• Rendah serat dan mikronutrisi
Ciri-ciri ini menyebabkan Pangan Ultra-Proses cenderung memiliki nilai gizi yang rendah tetapi sangat lezat dan membuat ketagihan.
4. Konsumsi Pangan Ultra-Proses Food di Indonesia
Konsumsi UPF secara internasional menunjukkan pola yang mengganggu. Menurut laporan WHO (2023), proporsi energi harian yang berasal dari makanan ultra-proses telah melampaui 50% dari jumlah kalori yang dikonsumsi di beberapa negara maju. Pola serupa mulai muncul di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, seiring dengan meningkatnya industri makanan dan perubahan kebiasaan makan di kalangan masyarakat kota. Produk seperti minuman manis, camilan kemasan, dan makanan siap saji kini menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari di berbagai kelompok usia. Kondisi ini mencerminkan pergeseran besar dalam pola makan nasional yang tidak hanya mempengaruhi kesehatan masyarakat, tetapi juga berisiko mengancam keberlangsungan ekosistem pangan di masa depan.
5. Tren Konsumsi UPF
Beberapa penelitian terkini di Indonesia menunjukkan adanya perkembangan yang mengkhawatirkan. Survei lokal dan penelitian berskala kecil mengindikasikan bahwa makanan ultra-olah (UPF) menjadi penyumbang utama asupan kalori harian di kalangan remaja dan dewasa muda di kawasan perkotaan. Beberapa analisis menunjukkan bahwa lebih dari seperempat kalori yang dikonsumsi dapat berasal dari produk olahan yang tinggi dalam kelompok sampel tertentu. Temuan dari survei kesehatan Indonesia yang terbaru memperlihatkan adanya peningkatan prevalensi obesitas di kalangan orang dewasa jika dibandingkan dengan survei nasional sebelumnya. Survei kesehatan terpadu tahun 2023 mencatat angka obesitas pada orang dewasa yang berkisar antara persentase rendah hingga menengah, dengan adanya variasi yang mencolok antara daerah perkotaan dan pedesaan serta antarprovinsi. Perkembangan ini disertai oleh peningkatan yang mengkhawatirkan dalam jumlah anak dan remaja yang mengalami kelebihan berat badan di berbagai subkelompok populasi, yang menunjukkan dampak antargenerasi dari perubahan pola makan.
6. Hubungan Pangan UPF dengan Obesitas
Beberapa studi di Indonesia telah secara langsung meneliti hubungan antara asupan makanan ultra-olahan dan masalah kelebihan berat badan atau obesitas. Penelitian yang dilakukan secara melintang dan longitudinal di berbagai provinsi serta area perkotaan di Indonesia telah mencatat tingginya prevalensi makanan ringan kemasan, mie instan, minuman manis, dan produk daging olahan dalam pola makan remaja dan orang dewasa, yang sering kali berkaitan dengan indeks massa tubuh dan adipositas regional yang lebih tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa tingginya konsumsi UPF berhubungan dengan IMT yang lebih besar dan peningkatan jumlah lemak tubuh.
Permintaan terhadap makanan UPF (Ultra-Purpose Food) semakin meningkat dari waktu ke waktu, dan alasan di baliknya dapat ditemukan dalam gaya hidup masyarakat saat ini: jadwal kerja yang padat, kurangnya waktu, dan kebutuhan untuk makanan yang cepat dalam pengelolaan sehari-hari mendorong permintaan akan makanan yang praktis dikonsumsi saat beraktivitas. Hal ini mengakibatkan konsumsi yang tidak disadari yang mempengaruhi fungsi saraf dan sistem pencernaan, sehingga mengganggu persepsi rasa lapar dan tingkat kepuasan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan konsumsi berlebih.
7. Dampak UPF Bagi Kesehatan
UPF memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem. Dari sudut pandang kesehatan, pola makan yang tinggi UPF terbukti meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan masalah jantung akibat asupan gula, garam, lemak jenuh, serta zat adiktif buatan yang berlebihan. Di sisi lain, dari perspektif lingkungan, proses pembuatan UPF secara massal berkontribusi terhadap penurunan keanekaragaman hayati, peningkatan emisi karbon, serta pencemaran yang disebabkan oleh limbah dari industri makanan dan kemasan plastik.
8. Upaya Pencegahan dan Penanggulanngannya
Penanggulangan dapat dilakukan dengan pendekatan yang terintegrasi melalui kebijakan publik, pendidikan gizi, dan pengembangan sistem pangan yang berkelanjutan yang mendorong pola makan alami dan bergizi secara seimbang. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus mempertahankan keberlanjutan ekosistem bumi.
Referensi:
• Fitriani, RJ (2025). Tren Konsumsi Makanan Ultra-Olahan dan Dampaknya terhadap Risiko Obesitas di Indonesia. Jurnal Nutrizione , 2 (3), 50-61.
• Shim, JS (2025). Konsumsi makanan ultra-olahan dan obesitas: tinjauan naratif tentang hubungan dan mekanisme potensialnya. Jurnal Obesitas & Sindrom Metabolik , 34 (1), 27.
• Hidayah, N., Nada, S. A. P., & Nasution, A. S. (2025). ULTRA PROCESSED FOODS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESEHATAN DAN LINGKUNGAN: LITERATUR REVIEW ULTRA-PROCESSED FOODS AND THEIR IMPLICATIONS FOR HEALTH AND THE ENVIRONMENT: A LITERATURE REVIEW. Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia (The Journal of Indonesian Community Nutrition), 14(2).
Pendahuluan
Fenomena Adiksi Kafein dan Lonjakan Gangguan Pencernaan (GERD) pada Generasi Z Pendahuluan Generasi Z (Gen Z), yang lahir antara tahun 1997–2012, dikenal sebagai generasi yang hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup serba cepat. Aktivitas akademik, pekerjaan, serta kebiasaan begadang sering mendorong konsumsi minuman berkafein seperti kopi, teh, minuman energi, dan minuman kekinian berbasis espresso. Di sisi lain, muncul peningkatan keluhan gangguan pencernaan, terutama Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yang banyak dialami oleh kalangan remaja dan dewasa muda. Fenomena ini menimbulkan perhatian karena konsumsi kafein yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor pemicu munculnya gejala GERD.
Adiksi Kafein pada Gen Z
Kafein merupakan zat stimulan yang bekerja pada sistem saraf pusat sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan mengurangi rasa lelah. Konsumsi kafein dalam jumlah wajar umumnya aman, namun konsumsi berlebihan dan berulang dapat menyebabkan ketergantungan atau adiksi kafein.
Pada Gen Z, budaya nongkrong di kafe, tren minuman kopi susu, serta penggunaan minuman energi untuk mendukung aktivitas belajar dan bekerja menyebabkan konsumsi kafein meningkat. Beberapa tanda seseorang mengalami adiksi kafein meliputi:
1. Sulit memulai aktivitas tanpa mengonsumsi kopi atau minuman berkafein.
2. Mengalami sakit kepala, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi saat tidak mengonsumsi kafein.
3. Meningkatkan jumlah konsumsi kafein untuk mendapatkan efek yang sama.
4. Tetap mengonsumsi kafein meskipun telah mengalami gangguan kesehatan.
Mengenal GERD
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang sehingga menimbulkan gejala seperti heartburn, rasa asam di mulut, mual, kembung, dan sulit menelan.
Hubungan Adiksi Kafein dengan GERD
Konsumsi kafein berlebihan dapat memperburuk gejala GERD melalui beberapa mekanisme: - Relaksasi sfingter esofagus bawah. - Peningkatan produksi asam lambung. - Pola makan tidak teratur. - Kurang tidur dan stres. Faktor yang Memperparah Fenomena pada Gen Z Selain konsumsi kafein, beberapa faktor lain yang meningkatkan risiko GERD pada Gen Z meliputi konsumsi makanan pedas dan berlemak, kebiasaan makan larut malam, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, tingkat stres yang tinggi, dan pola tidur yang buruk.
Upaya Pencegahan
1. Membatasi konsumsi kafein maksimal 400 mg per hari.
2. Menghindari konsumsi kopi saat perut kosong.
3. Mengurangi minuman energi dan kopi berkafein tinggi.
4. Menerapkan pola makan teratur.
5. Menghindari makan 2–3 jam sebelum tidur.
6. Menjaga berat badan ideal.
7. Mengelola stres.
8. Tidur cukup 7–9 jam per malam.
Kesimpulan
Adiksi kafein menjadi fenomena yang semakin umum pada Generasi Z akibat tuntutan akademik, pekerjaan, dan tren gaya hidup modern. Konsumsi kafein yang berlebihan, terutama jika disertai pola makan yang tidak sehat, dapat meningkatkan risiko munculnya atau memperburuk gejala GERD.
Referensi
Cappelletti, S., Daria, P., Sani, G., & Aromatario, M. (2015). Kafein: Peningkat kinerja kognitif dan fisik atau obat psikoaktif? Current Neuropharmacology, 13(1), 71–88.
Food and Drug Administration (FDA). (2024). Membahas kafein: Berapa banyak kafein yang terlalu berlebihan? U.S. Food and Drug Administration.
Mayo Clinic. (2024). Nyeri ulu hati (heartburn). Mayo Clinic.
Nehlig, A. (2018). Perbedaan individu dalam metabolisme kafein dan faktor-faktor yang mendorong konsumsi kafein. Pharmacological Reviews, 70(2), 384–411.
Pendahuluan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi selama ini sering dianggap sebagai penyakit yang hanya dialami oleh kelompok usia lanjut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus hipertensi mulai banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda, termasuk Generasi Z. Salah satu faktor yang diduga berperan besar adalah pola makan tinggi natrium yang semakin umum akibat meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, camilan kemasan, serta minuman siap saji. Pola konsumsi tersebut berpotensi meningkatkan risiko hipertensi sejak usia muda dan berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Pembahasan
Pengertian Natrium dan Hipertensi
Natrium merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, dan kontraksi otot. Namun, konsumsi natrium yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh sehingga volume darah meningkat dan tekanan pada pembuluh darah menjadi lebih tinggi. Kondisi ini dapat memicu terjadinya hipertensi.
Pola Konsumsi Natrium pada Generasi Z
Generasi Z cenderung memiliki gaya hidup yang praktis dan serba cepat. Kebiasaan mengonsumsi makanan instan, keripik, makanan cepat saji, sosis, nugget, serta berbagai jenis saus dan bumbu penyedap menyebabkan asupan natrium harian meningkat. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi natrium kurang dari 2.000 mg per hari atau setara dengan 5 gram garam. Faktanya, rata-rata konsumsi natrium masyarakat dunia mencapai sekitar 4.310 mg per hari, lebih dari dua kali lipat batas yang dianjurkan.
Hubungan Natrium dengan Hipertensi Dini
Konsumsi natrium yang tinggi berhubungan langsung dengan peningkatan tekanan darah. Saat kadar natrium dalam tubuh meningkat, ginjal harus bekerja lebih keras untuk mengeluarkan kelebihan natrium. Jika kemampuan ginjal tidak mencukupi, tubuh akan menahan lebih banyak air sehingga volume darah meningkat dan tekanan darah naik. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan hipertensi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam *International Journal of Epidemiology* menunjukkan bahwa asupan natrium memiliki hubungan positif dengan tekanan darah pada anak dan remaja. Setiap peningkatan 1 gram natrium per hari dapat meningkatkan tekanan darah sistolik dan diastolik sekitar 1 mmHg. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi natrium sejak usia muda dapat meningkatkan risiko hipertensi di kemudian hari.
Selain itu, penelitian pada remaja di Amerika Serikat menemukan bahwa konsumsi natrium yang sangat tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah sistolik tinggi, terutama jika disertai rendahnya asupan kalium.
Dampak Hipertensi Dini pada Generasi Z
Hipertensi yang muncul pada usia muda dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular di masa depan, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan gangguan ginjal. Karena hipertensi sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, banyak remaja dan dewasa muda tidak menyadari bahwa tekanan darah mereka sudah berada di atas batas normal.
Upaya Pencegahan
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko hipertensi dini pada Generasi Z antara lain:
1. Mengurangi konsumsi makanan cepat saji dan makanan olahan.
2. Membatasi penggunaan garam, penyedap rasa, dan saus tinggi natrium.
3. Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran yang kaya kalium.
4. Rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.
5. Memeriksa tekanan darah secara berkala.
6. Membiasakan membaca label kandungan natrium pada kemasan makanan.
Kesimpulan
Pola makan tinggi natrium merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko hipertensi dini pada Generasi Z. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, dan camilan tinggi garam dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sejak usia muda. Oleh karena itu, pengendalian asupan natrium serta penerapan pola hidup sehat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hipertensi dan berbagai komplikasi penyakit kardiovaskular di masa depan.
Daftar Pustaka
He, F. J., dkk. (2018). Sodium intake and blood pressure in children and adolescents: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Epidemiology,
World Health Organization. (2012). Guideline: Sodium Intake for Adults and Children. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2023). Reducing Sodium Intake to Reduce Blood Pressure and Risk of Cardiovascular Diseases in Adults. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2025). Sodium Reduction Fact Sheet. Geneva: World Health Organization.
Yang, Q., dkk. (2017). Dietary Sodium, Dietary Potassium, and Systolic Blood Pressure in US Adolescents. Journal of Clinical Hypertension,
Pendahuluan
Seiring bertambahnya usia, tubuh dan otak akan mengalami berbagai perubahan yang dapat memengaruhi kemampuan fisik maupun kognitif. Meskipun proses penuaan merupakan hal yang alami, risiko penurunan fungsi otak dapat meningkat apabila disertai dengan gaya hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah kurang bergerak atau terlalu banyak menghabiskan waktu untuk duduk. Di era modern, aktivitas seperti bekerja di depan komputer, menonton televisi, bermain gawai, atau berkendara dalam waktu lama telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Kebiasaan ini dikenal sebagai perilaku sedentari (sedentary behavior). Selama ini, perilaku sedentari lebih sering dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut juga berhubungan dengan meningkatnya risiko demensia pada usia lanjut. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami dampak gaya hidup kurang bergerak terhadap kesehatan otak agar dapat melakukan upaya pencegahan sejak dini.
Apa Itu Demensia?
Demensia adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, seperti kemampuan mengingat, berpikir, berkomunikasi, dan mengambil keputusan akibat kerusakan sel-sel otak. Kondisi ini bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan, melainkan suatu penyakit yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Salah satu bentuk demensia yang paling sering ditemukan adalah penyakit Alzheimer. Gejala awal demensia biasanya berupa mudah lupa, kesulitan berkonsentrasi, sering mengulang pertanyaan, hingga perubahan perilaku dan kepribadian. Seiring perkembangan penyakit, penderita dapat mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sederhana dan membutuhkan bantuan orang lain.
Hubungan Gaya Hidup Kurang Bergerak dengan Risiko Demensia
Penelitian yang dilakukan oleh University of Southern California (USC) bersama University of Arizona menemukan bahwa orang dewasa berusia 60 tahun ke atas yang menghabiskan lebih dari 10 jam setiap hari untuk aktivitas sedentari memiliki risiko lebih tinggi mengalami demensia dibandingkan mereka yang memiliki waktu duduk lebih sedikit. Penelitian ini melibatkan hampir 50.000 orang dewasa yang aktivitas hariannya dipantau menggunakan perangkat akselerometer selama satu minggu, kemudian diikuti selama rata-rata enam tahun untuk melihat kejadian demensia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan risiko demensia mulai terlihat secara nyata ketika total waktu sedentari mencapai lebih dari sekitar 10 jam per hari. Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa total waktu duduk memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan lamanya seseorang duduk tanpa jeda. Dengan kata lain, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas yang minim gerakan setiap harinya, semakin tinggi pula risiko mengalami penurunan fungsi kognitif di kemudian hari. National Institute on Aging (NIA) turut menyoroti hasil penelitian tersebut dan menyatakan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara perilaku sedentari dengan meningkatnya risiko demensia pada lansia. Menurut NIA, meskipun penelitian ini belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, temuan tersebut memberikan bukti yang semakin kuat bahwa mengurangi waktu duduk dan meningkatkan aktivitas fisik merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan otak pada usia lanjut. Para peneliti juga telah memperhitungkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi risiko demensia, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, pola makan, penyakit kronis, hingga faktor genetik. Setelah semua faktor tersebut dianalisis, hubungan antara waktu sedentari yang sangat tinggi dan meningkatnya risiko demensia tetap ditemukan.
Mengapa Kurang Bergerak Berbahaya bagi Otak?
Aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak. Bergerak secara aktif membantu meningkatkan aliran darah menuju otak sehingga suplai oksigen dan zat gizi yang dibutuhkan sel-sel saraf dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu, aktivitas fisik juga berperan dalam merangsang pembentukan hubungan antarsel saraf (sinaps), meningkatkan fungsi memori, serta membantu menjaga kesehatan pembuluh darah. Sebaliknya, kebiasaan duduk terlalu lama dapat menyebabkan berkurangnya stimulasi pada otak dan meningkatkan risiko gangguan metabolik, seperti obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Penyakit-penyakit tersebut diketahui merupakan faktor risiko yang dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif dan meningkatkan kemungkinan terjadinya demensia.
Upaya Mencegah Demensia
Risiko demensia dapat dikurangi melalui penerapan gaya hidup sehat, terutama dengan mengurangi perilaku sedentari. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
Mengurangi waktu duduk yang terlalu lama setiap hari.
Berdiri atau berjalan ringan setiap 30–60 menit ketika bekerja atau belajar.
Melakukan aktivitas fisik secara rutin, seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau senam.
Mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya buah, sayur, ikan, dan biji-bijian.
Menjaga berat badan ideal serta mengontrol tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol.
Melatih kemampuan otak melalui membaca, berdiskusi, bermain permainan yang merangsang berpikir, atau mempelajari keterampilan baru.
Menjalin interaksi sosial secara aktif karena aktivitas sosial juga berkontribusi dalam menjaga fungsi kognitif.
Kesimpulan
Demensia merupakan salah satu masalah kesehatan yang semakin meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA serta diberitakan oleh University of Southern California (USC) dan National Institute on Aging (NIA), perilaku sedentari yang berlangsung lebih dari sekitar 10 jam setiap hari berhubungan dengan peningkatan risiko demensia pada orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. Temuan ini menunjukkan bahwa menjaga tubuh tetap aktif tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan otak.
Oleh karena itu, membiasakan diri untuk lebih banyak bergerak, rutin berolahraga, serta mengurangi waktu duduk yang berlebihan merupakan langkah sederhana namun efektif dalam menjaga fungsi kognitif hingga usia lanjut. Dengan menerapkan gaya hidup aktif sejak dini, risiko terjadinya demensia dapat ditekan sehingga kualitas hidup pada masa tua dapat tetap terjaga.
Referensi
Raichlen, D. A., Aslan, D., dkk. (2023). Sedentary Behavior and Incident Dementia Among Older Adults. JAMA, 330(10), 934–940. https://doi.org/10.1001/jama.2023.15231
University of Southern California. (2023). Large Amounts of Sedentary Time Linked with Higher Risk of Dementia in Older Adults. Tersedia di: https://today.usc.edu/sedentary-behavior-dementia-risk/
National Institute on Aging. (2023). Strong Association Shown Between Being Sedentary and Dementia Risk. Tersedia di: https://www.nia.nih.gov/news/strong-association-shown-between-being-sedentary-and-dementia-risk
Generasi muda merupakan aset penting dalam menentukan arah dan masa depan suatu bangsa. Kualitas generasi muda tidak hanya ditentukan oleh pendidikan dan keterampilan, tetapi juga oleh kondisi kesehatan serta kecukupan gizi sejak dini. Pemenuhan gizi yang optimal menjadi salah satu faktor utama agar generasi muda dapat tumbuh sehat, memiliki kemampuan belajar yang baik, serta mampu beraktivitas secara produktif. Dalam konteks tersebut, pangan lokal memiliki peran strategis sebagai salah satu fondasi untuk mewujudkan generasi muda yang sehat dan berkualitas.
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumber daya pangan yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki bahan pangan khas yang dapat menjadi sumber karbohidrat, protein, vitamin, mineral, serat, dan berbagai zat gizi lainnya. Selain beras, masyarakat Indonesia mengenal berbagai sumber pangan lokal seperti jagung, singkong, ubi jalar, sagu, talas, kacang-kacangan, ikan, telur, serta beragam sayuran dan buah-buahan. Keanekaragaman tersebut merupakan potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya generasi muda.
Sayangnya, keberagaman pangan lokal belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Pola konsumsi masyarakat di beberapa wilayah cenderung bergantung pada jenis pangan tertentu dan semakin banyak mengonsumsi makanan instan atau makanan dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang tinggi (Martianto et al., 2009). Jika kebiasaan tersebut tidak diimbangi dengan konsumsi pangan bergizi dan beragam, generasi muda berisiko mengalami berbagai permasalahan gizi. Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola pikir bahwa makanan bergizi tidak selalu harus berasal dari produk mahal atau bahan pangan dari luar daerah. Pangan yang tersedia di lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber gizi yang baik apabila diolah dan dikonsumsi secara tepat.
Pangan lokal memiliki sejumlah keunggulan. Pertama, pangan lokal umumnya lebih mudah ditemukan karena diproduksi sesuai dengan potensi suatu daerah. Ketersediaan tersebut dapat membantu masyarakat memperoleh bahan makanan yang segar dengan harga yang relatif terjangkau. Kedua, pemanfaatan pangan lokal dapat mendukung ketahanan pangan karena masyarakat tidak terlalu bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Ketiga, konsumsi pangan lokal dapat membantu mempertahankan keberagaman budaya dan pengetahuan tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi (Darawati et al., 2016).
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan energi, pangan lokal juga dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang. Misalnya, singkong, jagung, ubi, dan sagu dapat menjadi sumber karbohidrat. Sementara itu, ikan, telur, daging, dan berbagai jenis kacang-kacangan dapat memenuhi kebutuhan protein. Sayuran dan buah-buahan menyediakan vitamin, mineral, serta serat yang penting bagi kesehatan tubuh. Dengan mengombinasikan berbagai kelompok pangan tersebut, masyarakat dapat membangun pola makan yang lebih beragam dan mendukung pertumbuhan serta perkembangan generasi muda.
Kecukupan gizi sangat berkaitan dengan produktivitas. Anak dan remaja yang memperoleh asupan gizi yang cukup memiliki modal yang lebih baik untuk tumbuh, belajar, dan melakukan berbagai aktivitas. Sebaliknya, kekurangan maupun kelebihan gizi dapat mengganggu kesehatan dan berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari Galluzi et al., 2025). Karena itu, pemenuhan gizi tidak seharusnya dipandang hanya sebagai persoalan kesehatan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.
Upaya meningkatkan pemanfaatan pangan lokal membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan sejak dini. Orang tua dapat mengenalkan berbagai jenis pangan lokal kepada anak dan mengolahnya menjadi makanan yang menarik serta sesuai dengan selera generasi muda. Sekolah juga dapat berperan melalui edukasi mengenai gizi seimbang, pengenalan makanan lokal, serta penyediaan pilihan makanan sehat di lingkungan sekolah.
Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat perlu menciptakan ekosistem yang mendukung pemanfaatan pangan lokal. Petani, nelayan, pelaku usaha kecil, dan produsen pangan lokal perlu mendapatkan dukungan agar mampu menghasilkan bahan pangan yang berkualitas dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Inovasi pengolahan juga diperlukan agar pangan lokal dapat disajikan dalam bentuk yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai gizinya. Dengan demikian, pangan lokal tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang relevan dengan kehidupan generasi muda.
Generasi muda sendiri memiliki peran yang tidak kalah penting. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, anak muda dapat menjadi agen perubahan dalam memperkenalkan pangan lokal kepada masyarakat luas. Kreativitas dapat digunakan untuk membuat berbagai olahan pangan lokal yang menarik, bergizi, dan sesuai dengan tren masa kini. Promosi melalui media sosial juga dapat membantu meningkatkan citra pangan lokal sehingga semakin diminati oleh masyarakat.
Pada akhirnya, pangan lokal merupakan salah satu kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk membangun generasi muda yang sehat, cerdas, dan produktif. Keberagaman pangan yang dimiliki Indonesia seharusnya menjadi modal untuk menciptakan pola konsumsi yang lebih beragam dan bergizi. Pemanfaatan pangan lokal bukan hanya tentang memilih makanan yang tersedia di sekitar, tetapi juga tentang membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan, mendukung perekonomian masyarakat, serta menjaga ketahanan pangan nasional.
Oleh karena itu, sudah saatnya pangan lokal ditempatkan sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas gizi generasi muda. Dengan sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah, pangan lokal dapat menjadi fondasi bagi terciptanya generasi yang sehat dan produktif. Generasi muda yang tumbuh dengan gizi optimal bukan hanya memiliki tubuh yang sehat, tetapi juga memiliki potensi lebih besar untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih maju.
Referensi:
Martianto, D., Briawan, D., Ariani, M., & Yulianis, N. (2009). Percepatan diversifikasi konsumsi pangan berbasis pangan lokal: Perspektif pejabat daerah dan strategi pencapaiannya. Jurnal Gizi dan Pangan, 4(3), 123–131. https://doi.org/10.25182/jgp.2009.4.3.123-131
Darawati, M., Riyadi, H., Damayanthi, E., & Kustiyah, L. (2016). Pengembangan pangan fungsional berbasis pangan lokal sebagai produk sarapan untuk remaja gemuk. Jurnal Gizi dan Pangan, 11(1). https://doi.org/10.25182/jgp.2016.11.1.%25p
Galluzzi, G., Cruz-Garcia, G. S., Togka, K. M., Visser, B., & Mbozi, H. (2025). The role that local food plants can play in improving nutrition security and reducing seasonal scarcity in rural communities: A multi-country study. Sustainability, 17(10), 4683. https://doi.org/10.3390/su17104683
Masa perkuliahan merupakan salah satu fase transisi paling krusial dalam siklus kehidupan seseorang. Pada periode ini, seorang individu bertransformasi dari remaja yang masih banyak bergantung pada orang tua menjadi orang dewasa muda yang dituntut mandiri. Mahasiswa mulai mengambil keputusan sendiri terkait jadwal harian, keuangan, hingga pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan dan istirahat. Di tengah kebebasan baru ini, lingkungan kampus baik secara fisik, sosial, maupun akademik hadir sebagai ekosistem utama yang membentuk dan mengarahkan kebiasaan serta pola hidup mereka sehari-hari.
1. Aksesibilitas Pangan dan Pola Konsumsi Nutrisi
Lingkungan di sekitar kampus memiliki andil besar dalam menentukan apa yang dimakan oleh mahasiswa setiap harinya. Lingkungan mikro pangan di area kampus meliputi kantin fakultas, warung makan sekitar (warteg), penjual makanan cepat saji, hingga pedagang kaki lima.
Tantangan Makanan Cepat Saji dan Terjangkau: Keterbatasan anggaran (budgeting) dan waktu membuat mahasiswa cenderung memilih makanan yang murah, porsi kenyang, dan cepat disajikan. Sayangnya, opsi makanan di sekitar kampus dominan tinggi karbohidrat, kalori, lemak jenuh, dan garam, namun minim serat serta zat gizi mikro (seperti buah dan sayuran segar).
Dampak Jadwal Kuliah yang Padat: Jam kuliah yang fluktuatif, jeda antar-kelas yang singkat, atau tuntutan praktikum sering kali memaksa mahasiswa untuk melewatkan waktu makan yang teratur, khususnya sarapan. Sebagai gantinya, mereka lebih sering mengonsumsi camilan instan atau minuman tinggi gula di sela-sela kegiatan.
2. Lingkungan Sosial dan Penularan Perilaku (Social Contagion)
Interaksi sosial dengan kawan sebaya (peer group) dan budaya komunitas di kampus merupakan prediktor kuat dalam membentuk gaya hidup mahasiswa. Dalam psikologi lingkungan, kebiasaan individu sangat mudah terpengaruh oleh norma sosial yang berlaku di kelompoknya.
Budaya Begadang dan Konsumsi Kafein: Aktivitas "nongkrong", berorganisasi, mengerjakan tugas kelompok di kafe hingga larut malam, atau sekadar bermain gim bersama telah berakar dalam budaya mahasiswa. Untuk menahan kantuk, konsumsi kopi atau minuman berkafein berlebihan kerap dianggap sebagai hal biasa. Akibatnya, terjadi pergeseran ritme sirkadian (jam biologis tubuh), yang berujung pada penurunan kualitas tidur dan masalah sleep deprivation (kurang tidur kronis).
Gaya Hidup Sedentari vs. Budaya Sehat: Penularan perilaku (social contagion) ini dapat berdampak ganda. Jika kelompok pergaulan memiliki minat pada olahraga, mahasiswa akan terdorong ikut aktif berolahraga. Namun sebaliknya, jika norma kelompoknya adalah menghabiskan waktu luang dengan duduk berjam-jam di depan layar (sedentary behavior), kebiasaan tidak sehat ini juga akan teradopsi secara tidak sadar.
3. Infrastruktur Kampus dan Keaktifan Fisik
Desain lanskap dan ketersediaan sarana-prasarana fisik di dalam area kampus menentukan tingkat mobilitas fisik harian mahasiswa tanpa mereka sadari.
Ketersediaan Fasilitas Pejalan Kaki: Kampus yang dirancang dengan jalur pedestrian yang aman, bersih, ramah penyandang disabilitas, serta memiliki peneduh (pohon atau kanopi) secara tidak langsung memaksa mahasiswa untuk berjalan kaki saat berpindah dari satu gedung ke gedung lain. Sebaliknya, kampus yang mendesain jalurnya dominan untuk kendaraan bermotor akan mendorong mahasiswa menggunakan sepeda motor atau transportasi daring meskipun jaraknya dekat.
Fasilitas Olahraga Terbuka: Ketersediaan sarana seperti lapangan olahraga yang terawat, pusat kebugaran (gym kampus), ruang terbuka hijau (RTH), serta aktifnya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di bidang olahraga memberi ruang aksesibel bagi mahasiswa untuk menyalurkan hobi dan menjaga kebugaran tubuh secara konsisten.
4. Beban Akademik, Stres, dan Kesehatan Mental
Ekosistem akademik menciptakan tekanan tersendiri yang berdampak langsung pada kesejahteraan psikologis dan fisik mahasiswa.
Tuntutan Akademik dan Prokrastinasi: Ujian, tenggat waktu (deadline) tugas yang bertumpuk, tuntutan presentasi, hingga pengerjaan skripsi merupakan sumber stresor utama. Stres kronis yang tidak dikelola dengan baik kerap menghasilkan mekanisme koping (coping mechanism) yang maladaptif, seperti emotional eating (makan berlebih saat stres), insomnia, hingga penundaan pekerjaan (procrastination).
Peran Layanan Dukungan Kampus: Kampus yang peka terhadap kesehatan mental biasanya menyediakan pusat layanan konseling mahasiswa, bimbingan akademik yang empatik, serta iklim akademik yang kolaboratif (bukan kompetitif secara tidak sehat). Dukungan psikologis ini membantu mahasiswa mengelola kecemasan dan membangun ketahanan diri (resilience).
5. Tantangan Kebiasaan Lainnya dan Pengaruh Teknologi
Selain pola makan dan tidur, lingkungan kampus modern juga dihadapkan pada tantangan era digital dan paparan zat adiktif.
Penggunaan Gawai Berlebihan: Tingginya ketergantungan pada pembelajaran digital dan media sosial membuat durasi menatap layar (screen time) mahasiswa sangat tinggi. Hal ini memicu kelelahan mata, sakit leher/punggung (text neck syndrome), serta berkurangnya interaksi fisik langsung.
Paparan Zat Adiktif: Tekanan akademis dan interaksi sosial di sekitar kampus tak jarang membuka akses terhadap kebiasaan merokok, penggunaan rokok elektrik (vape), hingga konsumsi alkohol sebagai cara pelarian dari stres.
Lingkungan kampus bukanlah sekadar latar tempat untuk menuntut ilmu, melainkan sebuah ekosistem hidup yang secara aktif membentuk pola pikiran, karakter, dan kebiasaan kesehatan jangka panjang. Dampak lingkungan kampus terhadap pola hidup mahasiswa sangat nyata bisa mendukung tumbuh kembang yang optimal, atau sebaliknya memicu masalah kesehatan fisik dan mental di masa depan.
Oleh karena itu, menciptakan mahasiswa yang sehat dan berprestasi membutuhkan sinergi dua arah:
a. Pihak Perguruan Tinggi: Perlu berkomitmen menyediakan kebijakan dan infrastruktur yang mendukung kesehatan, seperti regulasi kantin sehat, penyediaan ruang terbuka hijau, fasilitas olahraga yang memadai, serta pusat layanan kesehatan mental yang ramah.
b. Mahasiswa:Perlu mengasah kesadaran diri (self-awareness), manajemen waktu yang baik, serta literasi kesehatan agar mampu memfilter pengaruh lingkungan sosial dan memanfaatkan fasilitas kampus secara bijak.