Maumere memiliki destinasi wisata religi yang bersejarah. Salah satunya adalah Gereja Santo Ignantius Loyola atau yang dikenal di kalangan masyarakat sebagai Gereja Tua Sikka. Gereja ini merupakan peninggalan Bangsa Portugis lebih dari 100 tahun yang lalu.
Gereja ini memiliki arsitektur bernuansa Eropa yang dipadukan dengan budaya setempat.
Walaupun umur gereja ini cukup lama, gereja ini tetap berdiri kokoh dan menjalankan fungsinya untuk melayani umat Kristiani dengan mengadakan peribadatan sampai dengan hari ini.
LOKASI
Gereja St. Ignatius Loyola atau Gereja Tua Sikka ini penuh nilai historis ini berada di Kampung Sikka atau Natar Sikka, sebuah kampung pesisir yang terletak di ujung Selatan kota Maumere.
Kabupaten sikka merupakan salah satu kabupaten yang terdapat pada Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki banyak peninggalan oleh bangsa penjajah.
Ketika tiba di sini, kita akan disambut lambaian dedaunan kelapa di sepanjang jalan, serta bunyian debur ombak keras khas orkestra pantai selatan. Di antara barisan bukit dan bentangan pantai itulah, gereja yang beratap genteng merah marun ini anggun berdiri.
SEJARAH
Gereja ini menjadi salah satu penanda masa karya para imam Jesuit, selepas era Dominikan yang menaburkan benih iman Katolik di wilayah Sikka. Gereja dibangun oleh Pastor JF Le Cocq D'armanddaville SJ. Misionaris dari Portugis, dibantu oleh Raja Don Alexu Ximenes da Silva bersama masyarakat kerajaan Sikka. Adapun arsiteknya adalah Pastor Antonius Dijkmans SJ yang juga mendesain gedung Gereja Katedral Jakarta. Gereja ini diresmikan oleh Pastor Yohanes Engbers SJ pada tanggal 24 Desember 1899, dalam sebuah misa malam Natal.
Sejak peresmiannya, gereja yang memakai 360 kubik kayu jati yang didatangkan dari Pulau Jawa ini tetap kuat dan kukuh sampai saat ini. Bahkan ketika Maumere dilanda gempa dahsyat dan tsunami pada akhir tahun 1992, Gereja Tua Sikka tetap tegak berdiri.
Gereja ini dibangun oleh Pastor JF Le Cocq D'armanddaville SJ, seorang misionaris Portugis, dengan bantuan Raja Don Alexu Ximenes da Silva dan masyarakat kerajaan Sikka.
Arsitek gereja ini adalah Pastor Antonius Dijkmans SJ, yang juga merancang Gereja Katedral Jakarta. Gereja ini dibangun menggunakan 360 kubik kayu jati yang didatangkan dari Jawa, yang kemudian diawetkan secara alamiah oleh air laut karena cara pengangkutannya.
Gereja diresmikan pada tanggal 24 Desember 1899 oleh Pastor Yohanes Engbers SJ dalam misa malam Natal. Meskipun telah berusia lebih dari seabad, gereja ini tetap kokoh dan berdiri tegak, termasuk saat Maumere dilanda gempa dan tsunami pada tahun 1992.
Gereja Tua Sikka menjadi tempat penting dalam penyebaran agama Katolik di Sikka dan merupakan saksi bisu dari perjalanan iman umat Katolik di wilayah tersebut.
Gereja Tua Sikka kini menjadi salah satu destinasi wisata menarik di Flores, dengan keunikan arsitektur dan sejarahnya yang menarik wisatawan domestik dan mancanegara.