Setiap tahunnya, jumlah lulusan SMA/SMK di atas 3,5 juta orang. Hal ini tidak sebanding dengan daya tampung di perguruan tinggi sebanyak 1,8 juta orang per tahun. Itu artinya ada sekitar lebih dari 1,7 juta lulusan SMA/SMK di indonesia yang berpotensi untuk menempuh gap year. Belum lagi dengan adanya para peserta seleksi masuk PTN dari lulusan tahun-tahun sebelumnya yang ikut bersaing memperebutkan bangku kuliah ikut menyumbang jumlah lulusan SMA/SMK yang berpotensi gap year.
Dengan daya tampung perguruan tinggi yang hanya 1,8 juta orang per tahun, serta jalur penerimaan SNMPTN hanya menyerap rata2 125 ribu mahasiswa, sedangkan SBMPTN 2019 yang lalu hanya meloloskan 170 ribu alumni sma/smk dan SBMPTN 2020 hanya 167 ribu saja, lalu sisanya melalui jalur mandiri atau masuk di perguruan tinggi swasta, maka selain itu pilihan yang mereka miliki adalah menjalani gap year, atau bahkan melupakan impian untuk menempuh pendidikan ke jenjang selanjutnya dan memilih bekerja atau berwirausaha.
Stigma orang yang menempuh masa jeda (gap year) di Indonesia masih terkesan negatif. Banyak yang menganggap menunda kuliah atau menjadi seorang 'gapper' merupakan suatu kegagalan. Tak jarang dari mereka yang merasa minder lalu menghindar dari teman-teman dan menjadi tertutup. Apalagi saat melihat teman-teman seangkatan mereka dengan almamaternya yang baru menambah perasaan kecewa dan gagal.
Banyak diantara mereka yang tidak memiliki rencana dan arah yang jelas dalam menjalani masa jeda sehingga banyak waktu mereka terbuang sia-sia. dengan demikian mereka menjadi sangat rentan akan kegagalan dan kehilangan arah.
Disamping itu, perhatian pemerintah maupun masyarakat sangat minim, dan bahkan banyak yang belum menyadari keberadaan mereka padahal diusia dan status yang mereka jalani, keputusan yang mereka ambil sangat berdampak pada pembangunan kualitas manusia Indonesia.
bertolak belakang dengan itu semua, masyarakat di negara-negara maju telah memberi perhatian khusus kepada para gapper. Banyak organisasi dan komunitas yang didirikan untuk menyalurkan para gapper ini mengisi masa jeda mereka dengan kegiatan yang produktif yang mana ini merupakan peluang bagi para gapper dalam mempersiapkan kehidupan masa depan pendidikan dan karir mereka. dan hebatnya lagi, rata-rata komunitas yang bergerak datang dari kalangan mereka sendiri yang tergolong muda dan belia.
Untuk itulah saya secara pribadi mengajak teman-teman semua dan siapapun yang peduli untuk melakukan aksi nyata bersama-sama mendirikan dan menghidupkan komunitas ini. Yang dibutuhkan hanyalah kepedulian akan nasib dan masa depan saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian kita , dan masing-masing kita dapat berkontribusi sesuai kapasitas dan kesukarelaan mendukung hadirnya komunitas ini ditengah masyarakat
Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk menghapus stigma buruk mereka yang menempuh gap year dengan mengampanyekan pilihan untuk menempuh gap year sebagai suatu kesempatan dan bahkan sangat dianjurkan agar mereka tidak salah memilih jurusan atau terkesan asal-asalan. Selain itu komunitas ini mengajak seluruh masyarakat untuk membina dan mengayomi para gapper yang selama ini mendapat stigma negatif dan membantu mereka agar lebih siap dan matang dalam menentukan langkah masa depan sebelum masuk ke pendidikan formal.
Banyak gapper yang masih belum terarah baik dalam mengisi masa jeda dengan menjadi produktif, maupun dalam penentuan pilihan pendidikan dan karir serta dalam persiapan mengikuti seleksinya. Hal ini beresiko menjadikan para gapper tidak siap menempuh pendidikan formal selanjutnya dan kurang memiliki wawasan yang cukup untuk menentukan pilihan pendidikan dan karir mereka.
Komunitas ini nantinya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyediakan informasi, channel, dan bantuan bagi para gapper dalam mengisi masa jeda dan mempersiapkan pendidikan dan karir mereka dalam bentuk penyaluran tenaga magang dan part time, penyaluran volunteer/relawan, program homestay dan travelling, serta pemberian kursus dan pelatihan serta bimbingan persiapan ujian. Kami telah membagi proposal ini kedalam beberapa rincian untuk dipertimbangkan.
Visi
Mewujudkan masa jeda ( gap year ) yang bermakna dan penuh manfaat sehingga menjadikan para gapper lebih siap dalam menjalani pilihan karir dan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi
Misi
Merubah stigma buruk gapper dan menjadikan masa jeda ( gap year ) penuh inspirasi bagi para gapper dengan membina dan mengayomi para mereka agar lebih siap dan matang dalam menentukan langkah masa depan sebelum melanjutkan jenjang pendidikan formal
Melakukan edukasi, pendampingan, dan pelatihan serta perlindungan kepada para gapper agar tetap terarah dan produktif selama masa jeda ( gap year )
Membangun sarana komunikasi antara para gapper dengan masyarakat luas dan menjalin hubungan yang saling menguntungkan