Dunia memiliki sekitar 5.700 bahasa, 300 di antaranya ada di Indonesia. Pemakaian Bahasa Banjar (BB) mulai bergeser: banyak generasi muda tidak lagi mengenal kosakata aslinya, dan banyak nama benda atau makhluk hidup tergeser oleh bahasa Indonesia. Sekitar 100 kosakata nyaris tidak dipakai dan hanya tersimpan di kamus.
Contoh Kosakata
Dandaman kada bapancong: rindu yang tidak berkesudahan
Kurihing sintak: senyum yang cacat
Pilua: pakaian yang memiliki daya tarik
Pilanggur: kejadian akibat melanggar pamali
Takacak bigi waluh: perbuatan yang sia-sia
Mengapa BB Perlu Diperhatikan
BB menyimpan budaya dan kearifan lokal. Keunikannya meliputi kaya sinonim (sekitar 60 kata bermakna mirip, dengan bentuk berbeda berarti makna berbeda), kaya makna gramatikal, serta kaya sastra lisan dan tulisan. Untuk ungkapan halus, dapat digunakan kata seperti waluh dan pewaluhan.
Ciri Kebahasaan
Abjad: tidak memakai F, Q, Z (serapan), serta V dan X.
Dialek: Banjar Hulu (BBH) dan Banjar Kuala (BBK).
Fonem: BBH memiliki a, i, u; BBK memiliki a, i, u, o, e, ə.
Aksen: Hulu panjang dan berayun, Kuala datar. Sub-dialek Kandangan, Barabai, dan Amuntai berbeda pula dalam aksen dan partikel (tih, leh, luku).
Kata Ganti
Pertama tunggal: aku, ulun, unda (khas Kuala), saurang
Pertama jamak: kami, kita
Kedua tunggal: ikam, kau, andipa, nyawa, pian
Kedua jamak: pian barataan, bubuhan ikam
Ketiga tunggal: inya, sidin
Sastra dan Ungkapan
Berpantun dalam BB menuntut jumlah suku kata standar 8-14. Peribahasa dan ungkapan Banjar sangat kaya dan dapat dimanfaatkan untuk pementasan, sementara bahasa tubuh juga dapat menyampaikan pesan tanpa kata.
Upaya Pemertahanan
Mewariskan bahasa kepada generasi muda, menumbuhkan loyalitas penutur, memanfaatkan jalur formal dan informal, serta memasukkan karya sastra Banjar.
Beberapa catatan: bagian kata ganti ketiga jamak di catatan Anda masih kosong, jadi saya lewatkan. Saya juga mengasumsikan fonem "e" kedua adalah pepet (ə); silakan sesuaikan jika berbeda. Jika perlu versi lebih pendek (misalnya satu paragraf), kabari saja.
Laboratorium bunyi bersama Embie C. Noer dan Novyandi Saputra menegaskan bahwa musik adalah aktor dalam pertunjukan teater, bukan sekadar pemanis latar. Musik ikut "bermain", bernapas, dan menjadi bahasa ketika kata-kata tak sanggup menyampaikan perasaan.
Prinsip Utama
Lahir dari dialog. Karya tercipta melalui diskusi dan keprihatinan, bukan ego pribadi. Eksplorasi bunyi pun berawal dari keprihatinan.
Komposer berpikir seperti sutradara/dramaturg. Penata musik memosisikan diri sebagai pengiring, bukan penampil, dan tetap berpijak pada naskah serta arahan sutradara.
Tahu kapan bersuara dan kapan menahan diri. Bunyi yang keras belum tentu terdengar jelas, dan keinginan membuat yang "terhebat" tidak boleh merusak pertunjukan karena mengabaikan teknis panggung.
Instrumen kedaerahan dipakai dengan bijak tanpa merusak nilai dan esensi alat musik tersebut.
Pembacaan "urang Banjar" harus mendalam, karena ragamnya banyak. Hal ini memperkaya penciptaan karakter tokoh sekaligus bunyi pengiring.