"Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamd"
Gema takbir telah bersahutan dari masjid ke masjid pada malam Hari Raya. Sebuah pertanda berakhirnya bulan suci penuh kemuliaan dan barokah itu.
Halo teman-teman, selamat lebaran ya. Semoga kita semua masih dalam keadaan sehat wal afiat. Bagi teman-teman yang sedang mudik, jangan lupa jaga kesehatan dan protokol ya. Mari sama-sama kita wujudkan "Mudik Aman, Mudik Sehat"
Hari Raya Idul Fitri tidak hanya identik dengan ketupat, THR, atau maaf-maafan semata. Ada banbanyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita amati, terlebih jika kita menerawang sejarah dari Hari Raya ini. Yuk, scrool sampai bawah untuk ilmu yang lebih lengkap.
Sejarah Idul Fitri
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat jahiliyah di Arab telah memiliki dua hari raya, yaitu hari raya Nairuz dan Mahrajan yang dirayakan dengan sambutan pesta pora yang tidak bermanfaat. Masyarakat memperingati dua hari raya id dalam setahun di mana kondisi cuaca, panas, dan dingin stabil. Ukuran cuaca siang dan malam pada dua hari raya ini sama saja. Hari Id Nairuz adalah awal hari di mana kedudukan matahari beralih ke titik Aries (ekuinoks vernal). Sedangkan hari id Mahrajan adalah awal hari Libra.
Kemudian setelah Islam datang, Allah mengganti isi peringatan kedua hari raya masyarakat Arab dengan ekspresi kebahagiaan yang jauh dari kandungan dosa. Abu Dawud dan An-Nasai mendokumentasikan kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Madinah pada 622 M. Diawali dengan kesinggahan di Quba, pinggiran kota Madinah, Nabi Muhammad SAW mendapati dua hari raya yang berlaku sejak lama di masyarakat, Nairuz dan Mahrajan. Sahabat Anas RA bercerita bahwa ketika Rasulullah SAW mendatangi Madinah, masyarakat setempat telah memiliki dua hari raya di mana mereka bermain dan berpesta pora di dalamnya." Allah telah menggantikan keduanya dengan dua hari raya yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri," kata Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah.
Pada perayaan Idul Fitri pertama, kaum muslimin merayakan dua kemenangan perdana yakni pencapaian ritual puasa Ramadhan setelah berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, sekaligus juga keberhasilan dalam Perang Badar. Makna kemenangannya pun memiliki dua perspektif, spiritual dan sosial. Seiring dengan turunnya kewajiban menunaikan Ibadah puasa Ramadan pada tahun ke-2 Hijriyah, maka turunlah hadits tersebut oleh Rasulullah. Pada tahun ke-2 Hijriyah ini juga bertepatan dengan peristiwa Badar. Peperangan yang terjadi pada 17 Ramadhan tersebut terjadi karena aksi monopoli pasar dan blockade aktivitas dagang oleh kaum Quraisy Mekah terhadap muslim Madinah.
Pasukan yang dipimpin oleh Abu Jahal tersebut membawa pasukan besar sekitar 1.000 tentara lengkap dengan peralatan perang, sedangkan Nabi dari arah Madinah hanya membawa 300 sahabat yang kemudian menuju Badar. Meski jumlah pasukan Nabi jauh lebih kecil dibandingkan kaum kafir tersebut, atas izin Allah kaum Muslimin berhasil meraih kemenangan yang menakjubkan. Melihat dari sejarahnya, tak heran jika Idul Fitri kerap disebut sebagai hari kemenangan. Jika dahulu Idul Fitri adalah perayaan dari kemenangan perang, maka saat ini Idul Fitri menjadi perayaan dari kemenangan menahan hawa nafsu, haus dan lapar saat berpuasa satu bulan lamanya di bulan Ramadhan.
Ketentuan Menjelang Hari Raya Idul Fitri
1. Hendaknya Disunnahkan Kita Mandi Di Pagi Hari Sebelum Kita Pergi Ke Masjid.
Sebagaimana Diriwayatkan Oleh Imam Al - Baihaqi : “Bahwa Disunnahkan Mandi Sebelum Kita Pergi Menuju Sholat Ied”.
2. Dihari Raya Idul Fitri Kita Berusaha Memakai Pakai - Pakaian Yang Bagus dan Rapih.
“Disebutkan Dalam Hadits Bahwasannya Rasulullah Saw Memiliki Baju Yang Khusus Untuk Idul Fitri dan Menerima Tamu”.
Hadits Tersebut Harus Digaris Bawahi Bahwa Baju Tersebut Adalah Baju Yang Bagus Tidak Perlu Harus Baju Yang Baru, Karena Itu Yang Rasulullah Saw Lakukan.
3. Makan Dulu Sebelum Kita Berangkat Untuk Pergi Sholat.
Dalam Riwayat Abu Daud Disebutkan “Bahwa Rasulullah Saw Sebelum Berangkat Sholat Beliau Memakan Beberapa Kurma Terlebih Dulu Dihari Raya Idul Fitri, Adapun Dihari Raya Idul Adha Maka Tidak Disunnahkan Demikian”.
4. Kita Berangkat Menuju Ketempat Sholat Dengan Berjalan Kaki, Karena Sunnahnya Demikian. Rasulullah Saw dan Para Sahabatnya Berjalan Kaki Menuju Tempat Sholat, Kecuali Tempatnya Sangat Jauh. Lalu Memperbanyaklah Takbir Saat Diperjalanan.
5. Bertakbir Terus Sampai Ketempat Sholatnya, Sampai Imam Sholat Memulai Sholatnya, Dan Sholat Yang Kuat Adalah Fardu A'in. Karena Rasulullah Memerintahkan Seluruh Kaum Muslimin Termasuk Perempuan - Perempuan Yang Dipingit Dan Perempuan Haid Untuk Menyaksikan Sholat Ied. (H.R. Bukhori)
6. Ketika Sholat Selesai Disunnahkan Kita Untuk Mendengarkan Khutbah Imam, Dan Mendengarkan Khutbah Imam Ini Kata Para Ulama Hukumnya Sunnah Saja Tidak Sampai Wajib. Namun Kalau Kita Mendengarkan Itu Jauh Lebih Baik.
7. Setelah Sholat Ied Kita Pun Kemudian Diperbolehkan Untuk Saling Memberikan “Tahniah” Yaitu Ucapan Selamat Dengan Berjabat Tangan, Kecuali Yang Bukan Makhromnya Tidak Diperbolehkan. Sebagaimana Ibnu Hajar Menyebutkan Dalam Fathul Bari Dahulu Para Sahabat Memberikan “Tahniah” Satu Sama Lainnya Dengan Mengucapkan “Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim”.
Hikmah idul fitri
1.Hari Kemenangan dari Hawa Nafsu
Saat puasa berakhir, Allah memerintahkan kepada umat muslim untuk merayakannya. Merayakan bahwa muslim yang berpuasa, telah berhasil mengendalikan dirinya dari hawa nafsu berlebihan dan perbuatan yang buruk.
2.Mengembalikan Kita Kepada Fitrah
Hari Raya Idul Fitri mengembalikan kita kepada fitrah. Kepada kondisi, seolah-olah seperti bayi yang suci dan baru dilahirkan. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala (dan ridha Allah), maka niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Muttafaq ‘alaih).
3.Sebagai Media Penyambung Silaturahmi
Makna dan hikmah idul fitri adalah sebagai media penyambung silaturahmi. Mungkin saja selama ini kita terlalu sibuk hingga jarang berkomunikasi dengan teman, kerabat, bahkan keluarga besar. Idul fitri menjadi momen untuk kembali menyambung tali silaturahmi.
4.Mengingatkan Kita Untuk Terus Bersyukur
Hari Raya Idul fitri menjadi momen penuh makna dan hikmah yang mengingatkan kita untuk terus bersyukur. Bersyukur bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk hidup. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati berkah bulan Ramadhan. Bersyukur masih dapat bertemu dengan hari raya kemenangan idul fitri.
Bentuk rasa syukur dapat diungkapkan dengan ucapan Alhamdulillah, atau dengan melakukan kebaikan.
5.Sebagai Titik Awal Menjadi Lebih Baik
Hikmah Idul Fitri menjadi titik tolak bagi kita, menjadi awal untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Selama tiga puluh hari penuh kita menempa diri dengan kebaikan melalui ibadah puasa, shalat, mengaji, dan membayar zakat. Hasil ibadah kita memiliki makna dan hikmah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Nilai-nilai idul fitri
- Nilai ritual yang terdapat pada hari raya Idul Fitri yaitu shalat Idul Fitri dan gema takbir, “Takbir yang menggema di hari Idul Fitri sebagai bentuk untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah dan menegaskan bahwa Allah yang maha besar
- Nilai sosial, dalam menjalankan ibadah puasa Allah telah malatih umat Islam dengan cara menahan lapar, ini membuktikan bahwa ada unsur kepekaan sesama muslim untuk dapat merasakan bagaimana keperihan orang – orang miskin yang dalam kesehariannya merasakan kelaparan, “mulai dari bulan Ramadhan Allah melatih kita dengan menahan lapar dan mengeluarkan zakat”
- Nilai spiritual, pada hari raya idul fitri umat Islam saling mendoakan dan memaafkan dengan lafazh Taqabbalalluhu minna wa mingkum, waj’alna minal ‘Aidin Wal Faizin”.
Salam hangat dari kami Pengurus FOSJABAR
• Bila tangan tak dapat berjabat, mulut tak dapat berucap dan kaki kita tak dapat melangkah, biarlah hati dan keyakinan yang mengiringi bersama, di akhir bulan yang suci ini marilah kita bersama-sama meyakinkan dan meneguhkan hati maaf memaafkan dan membuka lembaran baru. Taqabalallahu minnaa wa minkum taqabbal ya kariim, wa ja'alanaallaahu wa iyyakum minal 'aaidin wal faaizin wal maqbuulin kullu 'aamin wa antum bi khair. selamat memperingati hari raya idul fitri 1443 Hijriah, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
• Biarlah kenangan manis dan pahit di hari lalu, tersusun rapi dalam renung hati, kini kita buka lembaran baru, dan membasuh segala kesalahan, Kuharap permintaan maaf ojan bisa menghapuskan dosa, Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin
• Hari kemenangan telah tiba, marilah kawan kita saling membuka pintu maaf untuk membuka lembaran baru. Taqobbalallahu minna waminkum. Minal aidzin wal faizin
• Taqobbalallaahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Minal 'aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan batin.
Beberapa kata dapat terucapkan, beberapa perasaan dapat dibiarkan terpendam. Tapi sebuah kesalahan tidak akan pernah terlupakan. Di hari yang suci ini, mohon maafkan segala khilaf. Selamat merayakan hari Raya idul fitri 1443H.