Tepat 12 November lalu adalah hari ayah, bagi mereka yang merayakan betapa bahagianya memiliki sosok ayah idaman; panutan dan kebanggaan.
Pun, bagi aku, yang merayakan betapa bahagianya melalui jalanan terjal ini setelah kehilangannya; sosoknya dan perannya.
Bukan hanya aku, tapi kita disini dan mereka di luar sana yang bernasib serupa.
Dulu, aku menangis memikirkan, barangkali kesalahanku yang membuat ayah pergi. Barangkali aku tak cukup layak untuk mendapatkan kasihnya. Barangkali aku tak cukup cantik dan pemberani untuk sekadar merasakan dukungannya. Barangkali kehidupanku adalah pengganti dari kepergiannya. Karna, begitu yang dikatakan anak-anak seusiaku pada masa sekolah. Katanya, itu ejekan untukku. Tapi bagiku, ku rasa itu kebenaran. Aku, selangkah demi selangkah mengakui mereka, hingga kalimat itu berjalan menuju hati terdalamku. Lama aku berpikir, bertanya, apa keberadaanku memang salah yaa, pak?
Saat anak-anak seusiaku bertamasya bersama ayahnya di akhir pekan dan menceritakan mimpi besarnya, aku memandangi fotomu dalam bingkai yang tersimpan rapi di lemari. Lalu aku bertanya dengan air mata yang sudah menggenang di kelopak mata, mengapa hanya kepergianmu yang menjadi karya terbesar yang dapat anakmu ini kenang, pak?
Aku, sedikit kecewa denganmu hari itu. Pertanyaanku tak dijawab olehmu. Bagai pungguk merindukan rembulan.
Tidakkah engkau lihat hariku, pak? Saat aku bersikeras menahan perutku yang lapar, sedang aku tak tahu lagi hendak mencari pertolongan siapa. Aku menangis. Aku menangis hingga rasa kantuk melawan rasa laparku. Hingga aku sadar bahwa aku kuat untuk menahan kosongnya perut hari itu.
Tidakkah engkau lihat, pak? Ketika orang-orang lain mengejekku, lalu aku hendak mencari perlindunganmu yang tak kunjung datang, sedang hatiku goyah dilingkupi takut yang menjadi-jadi, aku harus meminta bantuan siapa, pak? Aku tersedu-sedu hingga ku paksakan diriku berdiri menjadi pemberani menghadapi beragam kepayahan.
Tidakkah engkau lihat hariku, pak?
Ketika dunia begitu keras menempaku, aku berjalan tanpa arahan darimu. Aku terpojok pada pilihan hidup yang salah, pada jalan yang mencekam lagi membingungkan. Nafasku sesak, hingga terkadang otakku ingin jantungku berhenti. Hingga ku paksakan berjalan mencari putusan sendiri, melangkah sendiri. Melangkah dengan langkah getir yang mau tak mau, mampu tak mampu, harus ku lakukan.
Tidakkah engkau lihat hariku, pak? Saat semua menangis karena takdir yang tak berpihak, aku sering ikut menanggung beban itu. Begitu besar, hingga pundak kecilku tak sanggup lagi tegap. Hingga anakmu yang masih 7 tahun itu dipaksa dunia menjadi bijak dan dewasa. Menjadi manusia yang pandai menyembunyikan keluh dan tangis.
Kini, saat teman-teman seusiaku berswafoto dengan ayahnya untuk memperingati harimu, aku lagi-lagi memandangi fotomu dalam bingkai yang tersimpan rapi di lemari. Aku sedikit terisak dan sesak, menahan tangis. Tapi kini aku dapati jawaban dari pertanyaanku dulu pak, setelah mencarinya berbelas tahun seorang diri. Karna tak kutemukan juga engkau menjawabnya.
Tetapi sebelum itu, tidakkah engkau lihat aku hari ini, pak? Bahwa sosokmu yang lama tak ada dalam pandanganku, bahwa peranmu yang tak ku dapati itu adalah bentuk cintamu yang lain. Bentuk cinta yang terkadang masih amat sulit untuk aku terjemahkan kala dunia begitu keras memojokkanku. Tetapi ia, adalah bentuk cinta yang membuat aku lebih kuat, berani, dan berjalan meski pincang dan bimbang.