Nenek Ku
Tema: Kehilangan
Karya: Fahliza Syahira
Tahun ke tahun silih berganti
Tak terasa cerita antara aku dan kamu
Hanya tinggal kenangan yang tak akan terlupakan
Di relung hati ku yang sunyi
Hanya tersisa memori indah bersama mu.
Menjalani hari tanpa mu begitu rumit bagiku
Kehilangan mu, mimpi buruk bagiku
Merindukan mu, obat penenang bagi ku
Maka singgahla sebentar ke mimpi ku.
Aku tak pernah lupa kamu bagian dari separuh hidupku.
Dengan kedua tangan keriput mu.
Kamu menyambut ku ke dunia ini dengan kehangatan dan kasih sayang.
Kamu selalu terjaga dari istirahat mu dengan tangisanku.
Dulu aku pernah merasa bahwa aku akan memilikimu selamanya.
Namun, itu ternyata kesalahan terbesar ku.
Dibalik kesalahan dan kenangan itu aku berdoa untukmu.
Kini hanya kenangan dan doa yang mengingatkan ku kepadamu dengan filosofi yang manis.
Sajak Seonggok Jagung
(oleh W.S. Rendra)
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
Ia melihat petani;
Ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar…
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium bau kue jagung.
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung.
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja
Tetapi ini:
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik
etalase ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarnya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi
asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja
bila pada akhirnya
ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata
Di sini aku merasa asing dan sepiiiii!
Sekolah di Pulau Kelapa
(oleh Imam Budiman)
sebuah sekolah—sedikit daratan
halamannya laut dan langit terbentang
sejauh mata menghadang di batas lazuardi.
tiada roda empat, pula jalan aspal
motor matik melupakan masa lalu
menanggalkan spion kepalanya.
pada jam istirahat, ditambatkan kapal mesin
dan perahu milik nelayan. seragam hari senin
disapu terik, anak-anak berebut membeli jajan
kepada seorang perempuan muda bermata
indah penjual mie instan dadakan
di kejauhan seorang guru berwajah datar
memantau di depan pagar—barangkali
menyimpan amarah, mungkin pula
sedikit kesepian.
Menggapai Impian
(oleh Ni Nengah Restari)
Senyum terukir tipis
Menghias bibir yang manis
Langkah demi langkah berpijak
Mengejar angan yang bijak
Sejuta harapan kurengkuh
Laksa rintangan kutempuh
Laksa menuju kemenangan
Menggapai impian
Riang gembira jalan hidup
Hati ikhlas bahagia datang
Perjuangan dan doa penuh ikhlas
Bawa berkah yang berlimpah
Suara Murid Masa Kini
(oleh Pipit Sriwulan)
Inginku bebas inginku lepas
Terserah air mengalir ke mana
Melewati pasir, lembah dan telaga
Berlari sekuat-kuatnya yang tanpa batas
Kebebasan mengolah cipta, rasa, dan karya itu hak kami
Tuk memupuk sejuta potensi yang terpatri di sanubari
Maka waktu, ilmu dan maju akan tumbuh dalam diri
Kemerdekaan dalam bermain dan belajar haruslah ditaati
Dukunglah kami, bimbinglah kami
Menggapai keemasan sebagai wujud dari mimpi
Doakan kami, agar tiada jalan yang tak pantas tuk dilalui
Kami hanyalah seekor semut yang pantas tuk disayangi
Sungguh pendidikan adalah pusaka
Harus selalu dijaga kemurnian dan keutuhannya
Mengayomi, memfasilitasi mencetak generasi
sesuai keyakinan falsafah negeri
Menopang kuat kemajuan negara,
berakarkan budaya Indonesia
Guru
(oleh Maya Novita)
Yang pandangannya lurus ke depan
Yang duduk tapi menutup mata
Yang bersandar di tembok dengan bahu kanan
Yang menopang dagu sambil memainkan earphone
Yang selalu membalikkan badan untuk tahu sudah ada di mana arah jarum jam
Yang menunduk sambil menumpahkan semua imajinasinya melalui pensil di tangan
Semua perbedaan tabiat
Semua perbedaan kegiatan individu
Semua perbedaan cara menyerap sesuatu
Di antara mereka semua,
Siapa yang ternyata paling fokus menghiraukan satu sosok penolong masa depan mereka di mimbar?
Terima Kasih Guru
(oleh Chairil Anwar)
Terima kasih, guru
Untuk teladan yang telah kau berikan
Aku selalu mempertimbangkan semua yang kau ajarkan
Dan merefleksikan itu semua pada karakter pribadiku
Aku mau menjadi sepertimu
Pintar, menarik, dan gemesin
Positif, percaya diri, protektif
Aku mau menjadi sepertimu
Berpengetahuan, pemahaman yang dalam
Berpikir dengan hati dan juga kepala
Memberikan kami yang terbaik
Dengan sensitif dan penuh perhatian
Aku mau menjadi sepertimu
Memberikan waktumu, energi, dan bakatmu
Untuk meyakinkan masa depan yang cerah
Pada kita semua
Terima kasih, guru
Kau telah membimbing kami
Aku mau menjadi sepertimu
Sajak Ibunda
(oleh W.S. Rendra)
Mengenangkan ibu
adalah mengenangkan buah-buahan.
Istri adalah makanan utama.
Pacar adalah lauk-pauk.
Dan Ibu
adalah pelengkap sempurna
kenduri besar kehidupan.
Wajahnya adalah langit senja kala.
Keagungan hari yang telah merampungkan tugasnya.
Suaranya menjadi gema
dari bisikan hati nuraniku.
Mengingat ibu
aku melihat janji baik kehidupan.
Mendengar suara ibu,
aku percaya akan kebaikan manusia.
Melihat foto ibu,
aku mewarisi naluri kejadian alam semesta.
Berbicara dengan kamu, saudara-saudaraku,
aku pun ingat kamu juga punya ibu.
Aku jabat tanganmu,
aku peluk kamu di dalam persahabatan.
Kita tidak ingin saling menyakitkan hati,
agar kita tidak saling menghina ibu kita masing-masing
yang selalu, bagai bumi, air dan langit,
membela kita dengan kewajaran.
Maling juga punya ibu. Pembunuh punya ibu.
Demikian pula koruptor, tiran, fasis,
wartawan amplop, anggota parlemen yang dibeli,
mereka pun punya ibu.
Macam manakah ibu mereka?
Apakah ibu mereka bukan merpati di langit jiwa?
Apakah ibu mereka bukan pintu kepada alam?
Apakah sang anak akan berkata kepada ibunya:
“Ibu aku telah menjadi antek modal asing;
yang memproduksi barang-barang yang tidak mengatasi
kemelaratan rakyat,
lalu aku membeli gunung negara dengan harga murah,
sementara orang desa yang tanpa tanah
jumlahnya melimpah.
Kini aku kaya.
Dan lalu, ibu, untukmu aku beli juga gunung
bakal kuburanmu nanti.”
Tidak. Ini bukan kalimat anak kepada ibunya.
Tetapi lalu bagaimana sang anak
akan menerangkan kepada ibunya
tentang kedudukannya sebagai
tiran, koruptor, hama hutan,
dan tikus sawah?
Apakah sang tiran akan menyebut dirinya
sebagai pemimpin revolusi?
Koruptor dan antek modal asing akan
menamakan dirinya sebagai pahlawan pembangunan?
Dan hama hutan serta tikus sawah akan
menganggap dirinya sebagai petani teladan?
Tetapi lalu bagaimana sinar pandang mata ibunya?
Mungkinkah seorang ibu akan berkata:
“Nak, jangan lupa bawa jaketmu.
Jagalah dadamu terhadap hawa malam.
Seorang wartawan memerlukan kekuatan badan.
O, ya, kalau nanti dapat amplop,
tolong belikan aku udang goreng.“
Ibu, kini aku makin mengerti nilaimu.
Kamu adalah tugu kehidupanku,
yang tidak dibikin-bikin dan hambar seperti Monas dan Taman Mini.
Kamu adalah Indonesia Raya.
Kamu adalah hujan yang dilihat di desa.
Kamu adalah hutan di sekitar telaga.
Kamu adalah teratai kedamaian samadhi.
Kamu adalah kidung rakyat jelata.
Kamu adalah kiblat nurani di dalam kelakuanku.
Menjadi Kemacetan
(oleh M. Aan Mansyur)
kita lelah dan
mesin mesin tidak tahu bergerak
kau ingin aku menjadi sesuatu
yang ringan dan pandai terbang
aku lebih suka andai bisa menjadi mobil
bertumpuk di belakang pabrik
yang sudah pensiun
atau belukar yang menjadikannya taman
ular dari jendela mobil yang gelisah
tidak ada yang tampak indah bahkan
matahari yang menenggelamkan diri
dan jingga sebagian
hujan sejak lama sudah sial tercatat
di laporan tahunan departemen sosial
selebihnya
memilih sembunyi di sajak siapa penyair itu
dan aman jadi laut
atau langit
atau cuaca tanpa
ada yang mengubah namanya jadi keluhan
kau ingin aku jadi kekasih atau puisi yang tangannya
bisa memijat betismu yang kram
aku lebih suka andai bisa jadi trotoar
atau pohon tua
yang mengajakmu berlari-lari kecil
seperti bocah riang pulang sekolah
kita lelah dan kata-kata dusta
dan kota-kota jauh jatuh
dari layar telepon genggammu yang lelah
kau pandangi
kau sedih seolah semua orang yang kau
kenal tiba-tiba menghapusmu
kau ingin aku menjadi negara
atau hal-hal lain yang gemar berlibur
aku lebih suka andai bisa jadi buku
dongeng yang kau baca di tempat tidur
kau peluk aku
sambil tertawa membayangkan kita
sepasang anak kecil yang selamanya
ku peluk kau sambil membayangkan
lengan kita adalah negara satu satunya
mesin mesin ini tetap bodoh
dan tak tahu bergerak
teleponmu basah dan mati
dan lepas dari genggaman
tidur
atau mungkin maut memasuki tubuhmu
pelan-pelan
matamu museum kupu-kupu
ku lihat mimpi satu demi satu keluar dari
sana
aku
seperti biasa memikirkan cita-citaku
yang selalu
ingin segera berhenti jadi buruh
Karawang-Bekasi
(Oleh Chairil Anwar)
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi,
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai
Belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi kami adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi ada yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk
Kemerdekaan kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.