Video: Animasi Prinsip Kerja Sel Elektrolisis
(Sumber: Youtube Iis Elia Marifah)
Setelah membahas serunya sel volta yang menghasilkan listrik secara spontan, kini kita akan beralih ke "kembaran"nya yang punya sifat sedikit berbeda, yaitu sel elektrolisis! Kalau sel volta itu "pemberi" listrik, maka sel elektrolisis ini adalah "pemakan" listrik. Penasaran? Yuk, kita bedah!
Sel elektrolisis adalah sel elektrokimia yang punya misi unik: menggunakan energi listrik dari luar untuk "memaksa" terjadinya reaksi redoks non-spontan. Artinya, reaksi yang tadinya nggak akan terjadi sendirinya, jadi bisa berlangsung berkat dorongan listrik! Proses ini kita sebut elektrolisis, sebuah cara ampuh untuk menguraikan suatu senyawa jadi unsur-unsurnya atau senyawa yang lebih sederhana. Jadi, bedanya dengan sel volta jelas banget ya:
Sel Volta:
Reaksi redoks spontan → Menghasilkan listrik.
Sel Elektrolisis:
Membutuhkan listrik ← Reaksi redoks non-spontan.
Mari kita kenali komponen-komponen penting yang jadi "otak" sel elektrolisis ini!
Elektroda: Ini adalah "gerbang" tempat reaksi oksidasi dan reduksi terjadi.
Katoda: Di sinilah reaksi reduksi (penerimaan elektron) berlangsung. Dalam sel elektrolisis, katoda dihubungkan ke kutub negatif sumber arus listrik.
Anoda: Ini adalah tempat reaksi oksidasi (pelepasan elektron) terjadi. Anoda dihubungkan ke kutub positif sumber arus listrik.
Jenis Elektroda: Ada dua tipe:
Elektroda Inert: Nggak ikut bereaksi, cuma jadi perantara transfer elektron. Contohnya: platina (Pt) atau grafit (C).
Elektroda Aktif: Ikut serta dalam reaksi, bisa teroksidasi atau tereduksi. Contohnya: logam Cu atau Ag.
Elektrolit: Zat yang mengandung ion-ion bebas yang bisa menghantarkan listrik. Bisa berupa larutan ionik (garam, asam, basa dalam air) atau lelehan senyawa ionik (garam yang dipanaskan sampai leleh).
Sumber Arus Listrik DC (Direct Current): Ini dia "pemaksa" utama! Biasanya berupa baterai atau catu daya DC yang menyediakan energi listrik agar reaksi non-spontan bisa terjadi.
Prinsip kerjanya cukup menarik, seperti "tarian" ion-ion dalam larutan:
Pemberian Arus Listrik: Begitu sumber listrik dinyalakan, katoda langsung jadi bermuatan negatif, dan anoda jadi positif.
Pergerakan Kation: Ion positif dalam elektrolit akan "terpikat" dan bergerak menuju katoda yang bermuatan negatif. Di sana, mereka akan menerima elektron (tereduksi), berubah jadi atom netral atau spesies dengan biloks lebih rendah.
Pergerakan Anion: Ion negatif akan "terpikat" dan bergerak menuju anoda yang bermuatan positif. Di anoda, mereka akan melepaskan elektron (teroksidasi), berubah jadi atom netral atau spesies dengan biloks lebih tinggi.
Reaksi Redoks Non-Spontan: Intinya, energi listrik yang kita berikan itulah yang "memaksa" terjadinya oksidasi di anoda dan reduksi di katoda, padahal secara alamiah reaksi ini nggak akan terjadi begitu saja.
Contoh Sederhana: Elektrolisis Lelehan NaCl (Si Garam Dapur!)
Mari kita ambil contoh paling klasik: menguraikan lelehan garam dapur (NaCl) menjadi unsur-unsurnya!
Di Katoda (kutub negatif): Ion natrium (Na+) yang positif akan mendekat ke katoda.
Na+(l) + e− → Na(s)
(Ion natrium menerima elektron, berubah jadi logam natrium cair)
Di Anoda (kutub positif): Ion klorida (Cl−) yang negatif akan mendekat ke anoda.
2Cl−(l) → Cl2(g) + 2e−
(Ion klorida melepaskan elektron, berubah jadi gas klorin)
Reaksi keseluruhan: 2Na+(l) + 2Cl−(l) + arus listrik → 2Na(s) + Cl2(g)
Jadi, dari garam yang meleleh, kita bisa mendapatkan logam natrium (logam reaktif yang eksplosif!) dan gas klorin (gas beracun!). Wow!
Contoh Lain: Elektrolisis Larutan NaCl (Apa bedanya?)
Nah, setelah tahu hasil dari lelehannya, sekarang kita akan coba NaCl dengan larutannya. Emang apa bedanya? Kalau lelehan, berarti murni dari senyawa itu sendiri, sedangkan kalo larutan dibantu dengan senyawa yang lain. Dalam kasus ini, NaCl dibantu dengan senyawa air untuk berubah menjadi larutan NaCl!
Di Katoda (kutub negatif): nilai potensial elektroda dari air lebih tinggi daripada ion Na+, sehingga reaksi reduksi yang terjadi adalah:
2H2O(l) + 2e− → H2(g) + 2OH−(aq)
Di Anoda (kutub positif): Ion klorida (Cl−) yang negatif akan mendekat ke anoda dan terjadi reaksi oksidasi dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
2Cl−(aq) → Cl2(g) + 2e−
Reaksi keseluruhan: 2H2O(l) + 2Cl−(aq) + arus listrik → Cl2(g) + H2(g) + 2OH−(aq)
Beda jenis elektrolit, beda hasilnya kan? Lalu, apakah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi proses elektrolisis selain hal tersebut?
Ada beberapa faktor yang bisa "mengatur" hasil dari elektrolisis:
Jenis Elektrolit: Ion-ion apa saja yang ada di dalam larutan/lelehan akan menentukan produk akhirnya.
Jenis Elektroda: Apakah elektrodanya inert (cuek) atau aktif (ikut bereaksi)? Ini juga mempengaruhi produk. Agar semakin jelas perbedaan yang dihasilkan, teman-teman bisa melihat diagram elektroda pada gambar dibawah ini:
Gambar: Perbedaan Elektroda yang digunakan dengan hasil reaksinya
(Sumber: AkuPintar.id)
Potensial Elektroda: Ion mana yang lebih gampang direduksi atau dioksidasi tergantung dari nilai potensialnya.
Konsentrasi Ion: Terutama dalam larutan, konsentrasi ion bisa menentukan siapa yang "menang" dalam persaingan bereaksi.
Tegangan Listrik: Tegangan yang diberikan harus cukup kuat untuk "memaksa" reaksi berjalan. Kalau kurang, reaksinya nggak akan terjadi!
Sel elektrolisis memiliki banyak aplikasi penting dalam industri dan kehidupan sehari-hari, antara lain:
Produksi Logam: Salah satu proses terkenal dari produksi logam adalah proses Hall-Héroult. Proses ini digunakan untuk menghasilakn logam aluminium murni dari alumina (Al2O3) yang kemudian direduksi melalui proses elektrolisis. Persamaan reaksi sederhana yang terjadi pada proses ini adalah:
Anoda (Oksidasi) : 2O2-(g) → O2(g) + 4e−
Katoda (Reduksi) : Al3+(aq) + 3e− → Al(s)
Reaksi Sel* : Al2O3 → 4Al(s) + O2(g)
*Meskipun terdapat reaksi sampingan antara oksigen dengan karbon anoda, reaksi diatas menggambarkan proses pembentukan aluminium murni dari alumina
Pemurnian Logam: Pemurnian logam seperti tembaga (Cu) dari pengotornya melalui elektrolisis larutan garamnya. Reaksi yang terjadi adalah:
Anoda (Oksidasi) : Cu(s) → Cu2+(aq) + 2e−
Katoda (Reduksi) : Cu2+(aq) + 2e− → Cu(s)
Penyepuhan Logam (Electroplating): Melapisi permukaan suatu logam dengan lapisan tipis logam lain (misalnya, penyepuhan perak, emas, krom) untuk meningkatkan estetika atau mencegah korosi. Larutan yang digunakan mengandung ion dari logam penyepuh (seperti AgNO3). Reaksi umum penyepuhan logam adalah:
Anoda (Oksidasi) : Ag(s) → Ag+(aq) + e−
Katoda (Reduksi) : Ag+(aq) + e− → Ag(s)