PROPOSAL : PENGGUNAAN DAUN KERING SEBAGAI ALTERNATIF ARANG
SUB TEMA : BRIKET DARI SAMPAH ORGANIK
Disusun Oleh Kelompok 3 (XI-F4) :
Genta Nirwana
Hilman Ibrahim
Kayla Izza Latifah
M. Attalah Rizal
Naura Oriana Ointinia
Romy Octara Putra
Jl. Batu III No. 3, Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta
PROPOSAL PROJECT BASE LEARNING
SUB TEMA : BRIKET DARI SAMPAH ORGANIK
Dengan ini menyatakan bahwa proposal Project Based Learning dengan sub tema Eco-Leaf Charcoal telah disetujui untuk dilaksanakan.
Guru Pembimbing
Tanty Franky Marpaung S,PD.
NIP:
Motto : "Mengubah limbah menjadi manfaat, menghadirkan energi yang lebih ramah bagi lingkungan."
Persembahan : Proposal Penelitian Briket dari Sampah Organik ini kami persembahkan kepada semua pihak yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan mendukung terciptanya inovasi berkelanjutan. Semoga produk ini dapat menjadi langkah nyata dalam memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Briket dari Sampah Organik merupakan inovasi produk arang alternatif yang memanfaatkan limbah daun kering sebagai bahan baku utama. Pemanfaatan limbah daun selama ini masih belum optimal dan sering kali hanya dibakar atau dibuang, sehingga dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Melalui produk Briket dari Sampah Organik, limbah daun diolah menjadi arang yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis, sekaligus menjadi salah satu upaya dalam mengurangi jumlah limbah organik.
Dalam proses pembuatannya, daun kering dikumpulkan, dikeringkan, kemudian melalui proses pengarangan dan pengolahan hingga dapat dibentuk menjadi Briket dari Sampah Organik. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan siswa dalam mengolah bahan yang tidak terpakai menjadi produk yang memiliki manfaat, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Melalui proyek Briket dari Sampah Organik, diharapkan siswa dapat memahami pentingnya pemanfaatan limbah serta menerapkan konsep sederhana mengenai pengolahan bahan dan inovasi produk. Selain itu, produk ini diharapkan dapat menjadi contoh bahwa limbah daun yang sederhana dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan Proposal Penelitian kami yang berjudul "Penggunaan daun kering sebagai alternatif arang" dengan baik.
Proposal ini disusun sebagai bagian dari pelaksanaan tugas proyek sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan kreativitas, kerja sama, keterampilan, serta kemampuan siswa dalam menciptakan sebuah produk yang bermanfaat. Briket dari Sampah Organik merupakan ide produk yang memanfaatkan limbah daun kering sebagai bahan utama untuk diolah menjadi produk yang lebih berguna dan memiliki nilai tambah.
Melalui proyek ini, kami belajar bahwa permasalahan lingkungan di sekitar dapat menjadi peluang untuk menghasilkan sebuah inovasi sederhana. Pemanfaatan daun kering diharapkan dapat mengurangi limbah sekaligus meningkatkan kepedulian siswa terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dalam proses penyusunan proposal dan pelaksanaan proyek ini, kami mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing, pihak sekolah, orang tua, serta teman-teman yang telah memberikan dukungan, arahan, dan motivasi kepada kami.
Kami menyadari bahwa proposal ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar proyek dan proposal ini dapat menjadi lebih baik. Semoga proposal penelitian Briket dari Sampah Organik ini dapat memberikan manfaat serta menjadi pengalaman yang berharga bagi kami dalam belajar menciptakan inovasi yang kreatif dan peduli terhadap lingkungan.
DAFTAR ISI
1.1 Latar Belakang Masalah
Permasalahan sampah, khususnya sampah organik, merupakan tantangan serius di berbagai wilayah, baik perkotaan maupun pesisir. Sampah organik mendominasi komposisi timbunan sampah di Indonesia, dan dari jumlah tersebut, dedaunan serta ranting kering menyumbang porsi yang signifikan. Akumulasi sampah organik yang tidak terkelola dengan baik menyebabkan berbagai masalah lingkungan, seperti pencemaran air, kerusakan ekosistem, serta mengganggu kenyamanan dan sektor pariwisata di kawasan pesisir.
Selama ini, penanganan sampah organik, termasuk dedaunan kering, seringkali dilakukan dengan cara pembakaran terbuka. Praktik ini justru menimbulkan masalah baru berupa polusi udara dan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Sementara itu, pemanfaatan sebagai kompos dinilai kurang efektif karena prosesnya relatif lama dan hanya menyerap sebagian kecil dari volume sampah yang ada.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya alternatif pengelolaan sampah organik yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan volume sampah, tetapi juga mampu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan daun kering sebagai bahan baku briket arang (charcoal). Daun kering memiliki kandungan karbon yang dapat dimanfaatkan melalui proses karbonisasi dan pemadatan sehingga menghasilkan bahan bakar alternatif. Pemanfaatan ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengurangi penumpukan daun kering sekaligus menekan praktik pembakaran terbuka yang berpotensi mencemari lingkungan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, dikembangkan penggunaan daun kering sebagai alternatif arang, yaitu produk arang berbahan dasar daun kering yang diolah menjadi sumber energi alternatif yang lebih praktis dan bernilai guna. Inovasi ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah organik, tetapi juga menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan mengubah limbah yang sebelumnya kurang termanfaatkan menjadi produk yang dapat digunakan kembali. Dengan demikian, Penggunaan daun kering sebagai alternatif arang atau briket dari sampah organik (daun kering) diharapkan dapat menjadi salah satu solusi inovatif dalam mengurangi permasalahan sampah organik, meningkatkan pemanfaatan limbah daun kering, serta mendukung upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pemilihan produk briket dari sampah organik yaitu daun kering sebagai ide dalam Project Based Learning ini didasarkan pada permasalahan sampah daun kering yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Daun kering sering dianggap sebagai limbah yang tidak memiliki nilai guna dan biasanya hanya dikumpulkan, dibuang, atau dibakar. Melalui tugas ini, kami ingin mencoba melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dengan mengolah limbah daun kering menjadi produk yang lebih bermanfaat. Pemilihan produk ini juga didasari oleh pertimbangan bahwa bahan bakunya mudah diperoleh, relatif murah, dan dapat ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal.
Selain sebagai bentuk pemanfaatan limbah, pengembangan Briket Daun Kering juga menjadi sarana bagi kami untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama proses pembelajaran, khususnya mengenai pengolahan limbah, kreativitas, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Oleh karena itu, Kami memilih produk ini karena tidak hanya memiliki potensi untuk mengurangi permasalahan sampah organik, tetapi juga dapat memberikan pengalaman dalam menciptakan produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Dengan adanya Briket Daun Kering, kami berharap Project ini tidak hanya menghasilkan sebuah produk, tetapi juga meningkatkan kesadaran bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Sampah organik seperti dedaunan kering masih banyak yang belum dimanfaatkan dan sering dibakar atau dibuang begitu saja.
2. Pemanfaatan sampah organik seperti daun kering sebagai bahan bakar alternatif masih belum optimal.
3. Proses pembuatan briket dari sampah organik memiliki kendala dalam pengeringan, pencampuran bahan, dan kepadatan briket sehingga dapat memengaruhi kualitas dan daya bakarnya.
1.3 Pembatasan Masalah
Agar penelitian lebih terarah dan mendalam, maka masalah dibatasi sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya difokuskan pada pemanfaatan sampah dedaunan kering sebagai bahan baku pembuatan briket, tidak mencakup jenis sampah organik lainnya.
2. Pengujian briket dibatasi pada aspek fisik (warna, bentuk, kerapatan, dan ketahanan terhadap tekanan).
3. Penelitian berfokus pada proses pembuatan dan kemampuan briket untuk digunakan sebagai bahan bakar alternatif arang yang ramah lingkungan.
1.4 Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana proses pembuatan briket dari dedaunan kering dengan teknologi sederhana dan bahan perekat alami?
2. Bagaimana kualitas briket dedaunan kering ditinjau dari karakteristik fisiknya?
3. Bagaimana kemampuan pembakaran briket daun kering sebagai bahan bakar alternatif arang yang ramah lingkungan.
1.5 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui dan mendeskripsikan proses pembuatan briket dari dedaunan kering dengan teknologi sederhana dan bahan perekat alami.
2. Mengetahui dan menganalisis kualitas briket dedaunan kering ditinjau dari karakteristik fisik.
3. Mengetahui kemampuan pembakaran briket daun kering sebagai bahan bakar alternatif arang yang ramah lingkungan.
1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:
A. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan, khususnya dalam bidang pengelolaan sampah organik dan energi alternatif berbasis biomassa, serta menjadi bahan referensi bagi penelitian sejenis di masa mendatang.
B. Manfaat Praktis
1. Bagi Masyarakat: Memberikan solusi pengelolaan sampah dedaunan kering yang bermanfaat dan efektif.
2. Bagi Lingkungan: Mengurangi volume sampah organik, mencegah pencemaran akibat pembakaran terbuka, serta menyediakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya: Menjadi data dasar dan referensi untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai briket dari berbagai jenis biomassa.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
Sampah merupakan salah saatu permaslahan lingkungan yang muncul akibat adanya aktivitas manusia. Secara umum, sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik. Menurut Slamet J.S. (2009) Menjelaskan bahwa sampah merupakan benda atau bahan padat yang tidak lagi dikehendaki dan dibuang sebagai hasil dari aktivitas manusia. Berdasarkan sifatnya, sebagian sampah tersebut dapat membusuk dan terurai secara alami. Sampah yang mudah membusuk tersebut umumnya berasal dari bahan organik, seperti sisa makanan, sayuran, buah buahan, serta bagian tumbuhan.
Sampah Organik adalah jenis sampah yang berasal dari bahan bahan alami atau makhluk hidup dan dapat mengalami proses peguraian secara alami dengan bantuan mikroorganisme. Menurut Tchobanoglous, G. Theisen, H. dan Vigil, S. A. (1993) dalam Integrated Solid Waste Management, menjelaskan bahwa sampah organik merupakan material yang berasal dari organisme hidup, baik tumbuhan maupun hewan dan juga hasil dari aktivitas manusia, yang memiliki sifat mudah mengalami penguraian secara biologis. Bahan bahan seperti sisa makanan, daun, rumput, dan limbah hasil pertanian termasuk ke dalam kelompok sampah organik karena dapat diuraikan secara alami oleh mikroorganisme.
Daun Kering adalah bagian tumbuhan berupa daun yang telah mengalami proses penuaan, kehilangan kandungan air, dan akhirnya mengalami perubahan warna serta tekstur menjadi lebih kering dan rapuh. Proses tersebut terjadi secara alami ketika daun tidak lagi memperoleh atau mempertahankan kadar air yang cukup dari tumbuhan. Daun yang telah mengering kemudian dapat terlepas dari pohon dan menjadi bagian dari bahan organik yang terdapat di lingkungan. Menurut Taiz et al. (2015), daun yang telah mengalami proses penuaan (senescence) akan mengalami perubahan fisiologis dan biokimia. Proses tersebut menyebabkan berbagai senyawa dan unsur di dalam daun mengalami perubahan sebelum akhirnya daun gugur. Setelah gugur dan mengalami pengeringan, daun menjadi salah satu bentuk biomassa dari bagian tumbuhan.
Briket biomassa adalah bahan bakar padat yang terbuat dari bahan organik yang dipadatkan melalui proses pengepresan dengan atau tanpa bahan perekat. Briket memiliki bentuk yang seragam, sehingga lebih praktis dalam penggunaan, penyimpanan, dan distribusi dibandingkan bahan bakar konvensional seperti kayu bakar. Briket biomassa memiliki beberapa keunggulan, antara lain ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah, merupakan sumber energi terbarukan, dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, teknologi pembuatannya relatif sederhana, serta memiliki nilai ekonomi dan mengubah limbah menjadi produk bermanfaat.
Karakteristik fisik briket juga sangat penting untuk menentukan kualitasnya. Aspek-aspek yang umum diamati meliputi warna, bentuk dan ukuran, kerapatan, ketahanan terhadap tekanan, kadar air, dan kadar abu. Briket yang baik umumnya berwarna hitam pekat, memiliki bentuk yang seragam dan rapi, tidak mudah hancur, serta memiliki kadar air yang rendah. Bahan perekat alami seperti tepung tapioka, tepung sagu, dan tepung beras ketan berfungsi mengikat partikel-partikel bahan baku. Penggunaan perekat alami lebih dipilih karena ramah lingkungan dan tidak menghasilkan emisi berbahaya saat dibakar, namun penggunaan yang berlebihan dapat menurunkan nilai kalor briket.
2.2 Penelitian Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan pembuatan briket dari sampah organik antara lain:
Penelitian tentang pemanfaatan sampah daun kering menjadi briket arang menunjukkan bahwa dedaunan kering memiliki kandungan selulosa dan lignin yang cukup tinggi, sehingga berpotensi sebagai bahan baku briket. Briket yang dihasilkan memiliki nilai kalor yang cukup baik dan layak digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Proses pengarangan sebelum pencetakan dapat meningkatkan nilai kalor briket secara signifikan.
Penelitian tentang pengaruh jenis dan konsentrasi perekat terhadap kualitas briket biomassa membandingkan penggunaan berbagai jenis perekat alami seperti tepung tapioka, tepung sagu, dan tepung beras ketan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung tapioka merupakan perekat yang paling efektif karena menghasilkan briket dengan kekuatan tekan yang baik dan nilai kalor yang relatif tinggi. Konsentrasi perekat yang optimal berada pada kisaran 5-10% dari berat bahan baku, sedangkan konsentrasi di atas 15% cenderung menurunkan nilai kalor briket.
Penelitian tentang pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan sampah organik menjadi briket menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Masyarakat mampu memproduksi briket secara mandiri dan beberapa di antaranya telah memulai usaha kecil-kecilan berbasis briket. Program ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Penelitian tentang karakteristik briket dari berbagai jenis biomassa menunjukkan bahwa setiap jenis biomassa memiliki karakteristik nilai kalor dan kualitas fisik yang berbeda. Briket dari dedaunan menunjukkan nilai kalor yang berada di kisaran tengah dibandingkan jenis biomassa lainnya, namun memiliki keunggulan dari segi ketersediaan bahan baku yang melimpah dan biaya produksi yang rendah.
Penelitian tentang studi kualitas briket dari limbah daun kering dengan variasi bahan perekat menunjukkan bahwa briket dengan perekat tepung tapioka memiliki kualitas terbaik ditinjau dari aspek kerapatan, ketahanan terhadap tekanan, dan nilai kalor. Penelitian ini juga merekomendasikan komposisi optimal untuk pembuatan briket dedaunan kering.
2.3 Kerangka Berpikir
Sampah dedaunan kering merupakan limbah organik yang jumlahnya melimpah dan seringkali menjadi permasalahan lingkungan. Pengelolaan yang tidak tepat, seperti pembakaran terbuka atau pembuangan ke TPA, menimbulkan polusi dan dampak negatif lainnya bagi kesehatan dan lingkungan. Di sisi lain, dedaunan kering memiliki potensi sebagai bahan baku briket karena mengandung karbon dan memiliki nilai kalor yang cukup untuk dijadikan sumber energi alternatif.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengolah dedaunan kering menjadi briket dengan teknologi sederhana dan bahan perekat alami yang ramah lingkungan. Selanjutnya, dilakukan pengujian terhadap karakteristik fisik dan nilai kalor briket yang dihasilkan untuk mengetahui kualitasnya.
Dengan demikian, pengolahan dedaunan kering menjadi briket diharapkan dapat menjadi solusi pengelolaan sampah organik sekaligus menyediakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan usaha berbasis pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.
Kerangka Berpikir dalam Bentuk Skema
Permasalahan:
· Sampah dedaunan kering menumpuk di lingkungan
· Pengelolaan kurang tepat (dibakar atau dibuang ke TPA)
↓
Potensi:
· Dedaunan kering mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin
· Ketersediaan melimpah dan tidak memerlukan biaya pengadaan
↓
Pembuatan Briket:
Dedaunan kering diolah menjadi briket dengan teknologi sederhana dan perekat alami
↓
Pengujian Kualitas:
· Karakteristik fisik (warna, bentuk, kerapatan, ketahanan terhadap tekanan)
↓
Hasil yang Diharapkan:
· Briket berkualitas sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan
· Solusi pengelolaan sampah dedaunan kering
· Nilai ekonomi dan peluang usaha bagi masyarakat
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
Sampah merupakan salah saatu permaslahan lingkungan yang muncul akibat adanya aktivitas manusia. Secara umum, sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik. Menurut Slamet J.S. (2009) Menjelaskan bahwa sampah merupakan benda atau bahan padat yang tidak lagi dikehendaki dan dibuang sebagai hasil dari aktivitas manusia. Berdasarkan sifatnya, sebagian sampah tersebut dapat membusuk dan terurai secara alami. Sampah yang mudah membusuk tersebut umumnya berasal dari bahan organik, seperti sisa makanan, sayuran, buah buahan, serta bagian tumbuhan.
Sampah Organik adalah jenis sampah yang berasal dari bahan bahan alami atau makhluk hidup dan dapat mengalami proses peguraian secara alami dengan bantuan mikroorganisme. Menurut Tchobanoglous, G. Theisen, H. dan Vigil, S. A. (1993) dalam Integrated Solid Waste Management, menjelaskan bahwa sampah organik merupakan material yang berasal dari organisme hidup, baik tumbuhan maupun hewan dan juga hasil dari aktivitas manusia, yang memiliki sifat mudah mengalami penguraian secara biologis. Bahan bahan seperti sisa makanan, daun, rumput, dan limbah hasil pertanian termasuk ke dalam kelompok sampah organik karena dapat diuraikan secara alami oleh mikroorganisme.
Daun Kering adalah bagian tumbuhan berupa daun yang telah mengalami proses penuaan, kehilangan kandungan air, dan akhirnya mengalami perubahan warna serta tekstur menjadi lebih kering dan rapuh. Proses tersebut terjadi secara alami ketika daun tidak lagi memperoleh atau mempertahankan kadar air yang cukup dari tumbuhan. Daun yang telah mengering kemudian dapat terlepas dari pohon dan menjadi bagian dari bahan organik yang terdapat di lingkungan. Menurut Taiz et al. (2015), daun yang telah mengalami proses penuaan (senescence) akan mengalami perubahan fisiologis dan biokimia. Proses tersebut menyebabkan berbagai senyawa dan unsur di dalam daun mengalami perubahan sebelum akhirnya daun gugur. Setelah gugur dan mengalami pengeringan, daun menjadi salah satu bentuk biomassa dari bagian tumbuhan.
Briket biomassa adalah bahan bakar padat yang terbuat dari bahan organik yang dipadatkan melalui proses pengepresan dengan atau tanpa bahan perekat. Briket memiliki bentuk yang seragam, sehingga lebih praktis dalam penggunaan, penyimpanan, dan distribusi dibandingkan bahan bakar konvensional seperti kayu bakar. Briket biomassa memiliki beberapa keunggulan, antara lain ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah, merupakan sumber energi terbarukan, dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, teknologi pembuatannya relatif sederhana, serta memiliki nilai ekonomi dan mengubah limbah menjadi produk bermanfaat.
Karakteristik fisik briket juga sangat penting untuk menentukan kualitasnya. Aspek-aspek yang umum diamati meliputi warna, bentuk dan ukuran, kerapatan, ketahanan terhadap tekanan, kadar air, dan kadar abu. Briket yang baik umumnya berwarna hitam pekat, memiliki bentuk yang seragam dan rapi, tidak mudah hancur, serta memiliki kadar air yang rendah. Bahan perekat alami seperti tepung tapioka, tepung sagu, dan tepung beras ketan berfungsi mengikat partikel-partikel bahan baku. Penggunaan perekat alami lebih dipilih karena ramah lingkungan dan tidak menghasilkan emisi berbahaya saat dibakar, namun penggunaan yang berlebihan dapat menurunkan nilai kalor briket.
2.2 Penelitian Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan pembuatan briket dari sampah organik antara lain:
Penelitian tentang pemanfaatan sampah daun kering menjadi briket arang menunjukkan bahwa dedaunan kering memiliki kandungan selulosa dan lignin yang cukup tinggi, sehingga berpotensi sebagai bahan baku briket. Proses pengarangan sebelum pencetakan dapat meningkatkan kualitas serta ketahanan briket secara signifikan.
Penelitian tentang pengaruh jenis dan konsentrasi perekat terhadap kualitas briket biomassa membandingkan penggunaan berbagai jenis perekat alami seperti tepung tapioka, tepung sagu, dan tepung beras ketan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung tapioka merupakan perekat yang paling efektif karena menghasilkan briket dengan kekuatan tekan yang baik dan ketahanan yang cukup.
Penelitian tentang pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan sampah organik menjadi briket menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Masyarakat mampu memproduksi briket secara mandiri dan beberapa di antaranya telah memulai usaha kecil-kecilan berbasis briket. Program ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Penelitian tentang karakteristik briket dari berbagai jenis biomassa menunjukkan bahwa setiap jenis biomassa memiliki karakteristik nilai kalor dan kualitas fisik yang berbeda. Briket dari dedaunan menunjukkan nilai kalor yang berada di kisaran tengah dibandingkan jenis biomassa lainnya, namun memiliki keunggulan dari segi ketersediaan bahan baku yang melimpah dan biaya produksi yang rendah.
Penelitian tentang studi kualitas briket dari limbah daun kering dengan variasi bahan perekat menunjukkan bahwa briket dengan perekat tepung tapioka memiliki kualitas terbaik ditinjau dari aspek kerapatan, ketahanan terhadap tekanan, dan nilai kalor. Penelitian ini juga merekomendasikan komposisi optimal untuk pembuatan briket dedaunan kering.
2.3 Kerangka Berpikir
Sampah dedaunan kering merupakan limbah organik yang jumlahnya melimpah dan seringkali menjadi permasalahan lingkungan. Pengelolaan yang tidak tepat, seperti pembakaran terbuka atau pembuangan ke TPA, menimbulkan polusi dan dampak negatif lainnya bagi kesehatan dan lingkungan. Di sisi lain, dedaunan kering memiliki potensi sebagai bahan baku briket karena mengandung karbon dan memiliki nilai kalor yang cukup untuk dijadikan sumber energi alternatif.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengolah dedaunan kering menjadi briket dengan teknologi sederhana dan bahan perekat alami yang ramah lingkungan. Selanjutnya, dilakukan pengujian terhadap karakteristik fisik dan nilai kalor briket yang dihasilkan untuk mengetahui kualitasnya.
Dengan demikian, pengolahan dedaunan kering menjadi briket diharapkan dapat menjadi solusi pengelolaan sampah organik sekaligus menyediakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan usaha berbasis pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.
Kerangka Berpikir dalam Bentuk Skema
Permasalahan:
· Sampah dedaunan kering menumpuk di lingkungan
· Pengelolaan kurang tepat (dibakar atau dibuang ke TPA)
↓
Potensi:
· Dedaunan kering mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin
· Ketersediaan melimpah dan tidak memerlukan biaya pengadaan
↓
Pembuatan Briket:
Dedaunan kering diolah menjadi briket dengan teknologi sederhana dan perekat alami
↓
Pengujian Kualitas:
· Karakteristik fisik (warna, bentuk, kerapatan, ketahanan terhadap tekanan)
↓
Hasil yang Diharapkan:
· Briket berkualitas sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan
· Solusi pengelolaan sampah dedaunan kering
· Nilai ekonomi dan peluang usaha bagi masyarakat
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di (isi dengan lokasi penelitian) pada periode [isi dengan waktu pelaksanaan]. Pemilihan tempat penelitian didasarkan pada ketersediaan bahan baku dedaunan kering yang melimpah dan kemudahan akses terhadap fasilitas pendukung penelitian.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh sampah dedaunan kering yang terdapat di lokasi penelitian. Sampel yang digunakan adalah dedaunan kering yang diambil secara acak dengan kriteria daun sudah terlepas dari pohon, tidak membusuk, dan terbebas dari bahan pengotor.
3.3 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang memberikan perlakuan tertentu terhadap objek untuk mengetahui pengaruhnya. Dalam penelitian ini, perlakuan yang diberikan adalah pembuatan briket dari dedaunan kering dengan variasi komposisi perekat.
3.4 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, karena penelitian ini mengukur kualitas briket berdasarkan parameter numerik seperti karakteristik yang kemudian dianalisis secara statistik.
3.5 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, yaitu sampel diambil secara sengaja dengan kriteria tertentu: daun dalam kondisi kering, tidak membusuk, terbebas dari pengotor, dan berasal dari berbagai jenis pohon di lokasi penelitian.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui:
1. Observasi – mengamati langsung proses pembuatan briket dan mencatat karakteristik fisik yang muncul.
2. Eksperimen – membuat briket dengan variasi komposisi perekat untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kualitas.
3. Pengujian Laboratorium – menguji karakteristik fisik (warna, bentuk, kerapatan, ketahanan tekanan) dan nilai kalor menggunakan kalorimeter bom.
4. Dokumentasi – mengambil gambar pada setiap tahapan penelitian sebagai bukti visual.
3.7 Teknik Analisis Data
Data kualitatif seperti warna, bentuk, dan tekstur dianalisis secara deskriptif naratif. Data kuantitatif seperti kerapatan, ketahanan dan tekanan.
3.8 Alur Penelitian
Alur penelitian digambarkan sebagai berikut:
Persiapan → Studi literatur dan persiapan alat bahan
↓
Pengumpulan Bahan Baku → Pengumpulan dan pemilahan daun kering
↓
Pembuatan Briket → Pengeringan → Penggilingan → Pencampuran perekat → Pencetakan → Pengeringan akhir
↓
Pengujian Kualitas → Uji fisik dan Ketahanan
↓
Analisis Data → Analisis deskriptif dan perbandingan antar variasi
↓
Pelaporan → Penyusunan laporan hasil penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Data
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan sampah organik berupa daun kering sebagai bahan dasar pembuatan briket. Daun kering yang biasanya hanya menjadi sampah dan dibakar secara langsung dapat dimanfaatkan menjadi produk yang lebih berguna dan memiliki nilai ekonomis. Data penelitian diperoleh melalui proses pembuatan dan pengujian briket. Beberapa aspek yang diamati meliputi bentuk briket, tingkat kekeringan, kemudahan dalam penyalaan, lama waktu pembakaran, jumlah asap yang dihasilkan, serta kemampuan briket menghasilkan panas.
Berdasarkan data tersebut, daun kering dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar alternatif untuk pembuatan briket. Hasil yang diperoleh dapat berbeda tergantung pada jenis daun, tingkat kekeringan, komposisi bahan, serta proses pembuatan briket.
4.2 Uji Prasyarat Analisis
Uji prasyarat analisis dilakukan untuk memastikan bahwa data hasil penelitian dapat digunakan dalam proses pengujian selanjutnya. Dalam penelitian pembuatan briket dari daun kering, pengamatan dilakukan berdasarkan beberapa indikator, yaitu lama pembakaran, kemudahan penyalaan, jumlah asap, dan kondisi fisik briket. Karena penelitian ini merupakan projek pembuatan produk dengan skala sederhana, analisis lebih ditekankan pada hasil pengamatan dan perbandingan karakteristik briket. Data hasil pengujian dicatat secara sistematis agar dapat digunakan sebagai dasar dalam menarik kesimpulan mengenai kualitas briket yang dihasilkan.
4.3 Pengujian Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H₀ (Hipotesis Nol): Daun kering tidak dapat dimanfaatkan secara efektif sebagai bahan dasar pembuatan briket.
H₁ (Hipotesis Alternatif): Daun kering dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan briket yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Berdasarkan hasil pembuatan dan pengujian yang dilakukan, briket dari daun kering dapat menyala dan menghasilkan panas sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif sederhana. Dengan demikian, H₁ diterima dan H₀ ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa sampah organik berupa daun kering berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan briket.
4.4 Pembahasan Analisis Data
Berdasarkan hasil penelitian, pemanfaatan daun kering sebagai bahan dasar briket merupakan salah satu cara untuk mengurangi jumlah sampah organik yang terdapat di lingkungan. Daun kering yang sebelumnya hanya dikumpulkan atau dibuang dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat sebagai bahan bakar alternatif.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kualitas briket dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingkat kekeringan daun, proses penghancuran, komposisi bahan perekat, kepadatan saat pencetakan, dan proses pengeringan. Briket yang memiliki kepadatan dan tingkat kekeringan yang baik cenderung lebih mudah digunakan dan memiliki waktu pembakaran yang lebih stabil.
Selain mengurangi sampah organik, pembuatan briket juga dapat menjadi alternatif yang lebih bermanfaat dibandingkan membakar daun secara langsung. Produk ini juga dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya pengelolaan sampah, pemanfaatan kembali limbah organik, dan penggunaan sumber energi alternatif. Dengan demikian, pembuatan briket dari daun kering memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk sederhana yang ramah lingkungan sekaligus menjadi bentuk pemanfaatan sampah organik dalam kegiatan projek sekolah.