Sebelum munculnya sistem penamaan baku dalam ilmu pengetahuan, makhluk hidup dinamai berdasarkan dialek lokal, yang mengakibatkan beragam sebutan untuk satu jenis makhluk hidup. Sebagai contoh, buah mangga dikenal dengan berbagai nama seperti poah, pauh, atau pelem di berbagai daerah. Carl Linnaeus (1707–1778) dijuluki sebagai "Bapak Taksonomi" yang menciptakan sistem penamaan ganda (binomial nomenclature) untuk mengidentifikasi organisme, yang terdiri dari nama genus dan spesies. Selain itu, Linnaeus juga menggagas tingkatan taksonomi yang meliputi kingdom, filum, kelas, ordo, famili, genus, dan spesies (Huda et al., 2024).
Linnaeus memperkenalkan sistem penamaan ganda (binomial nomenklatur) dengan beberapa aturan penting. Nama ilmiah terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Latin, di mana kata pertama menunjukkan genus dan kata kedua menunjukkan spesies. Penulisan kata pertama diawali dengan huruf kapital, sedangkan penunjuk spesies ditulis dengan huruf kecil. Jika nama ditulis tegak, kedua kata digarisbawahi secara terpisah, tetapi jika dicetak miring, garis bawah tidak diperlukan. Apabila nama spesies terdiri dari lebih dari dua kata, kata kedua dan seterusnya digabung atau diberi tanda hubung. Selain itu, nama spesies dapat disertai inisial penemu atau tokoh yang pertama kali menamainya, misalnya pada jagung Zea mays L., di mana huruf “L” merujuk pada Linnaeus sebagai pencetus sistem penamaan ini. Contoh penulisan dapat ditemukan pada nama cumi-cumi (Loligo vulgaris). Ketika nama spesies terdiri atas lebih dari dua kata, kata kedua dan berikutnya harus disatukan atau menggunakan tanda hubung. Contohnya, nama siput bakau (Telescopium telescopium palustris) (Huda et al., 2024).
Daftar Pustaka
Huda, M. K., Sulasmi, S. S. T., Keb, M. T., Mukhoyyaroh, Q., Nasution, J., Sadat, L. A., MKK, S. O., Chandra, R. H., Ginting, N., & Agus Suprapto, S. (2024). BIOLOGI DASAR. Cendikia Mulia Mandiri.