Berikut adalah rangkuman berbagai sistem pertanian beserta istilah-istilahnya, yang dikelompokkan berdasarkan metode, teknologi, dan tujuannya:
Sistem ini populer di lahan sempit atau area perkotaan karena tidak bergantung pada kesuburan tanah alami.
Hidroponik (Hydroponics): Metode menanam dengan memanfaatkan air sebagai media utama untuk menyalurkan nutrisi ke tanaman. Media penyangga bisa berupa arang sekam, rockwool, atau kerikil.
Aeroponik (Aeroponics): Sistem bercocok tanam di udara di mana akar tanaman menggantung. Nutrisi diberikan dengan cara disemprotkan (kabut/mist) langsung ke akar.
Akuaponik (Aquaponics): Kombinasi antara akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik. Kotoran ikan menjadi pupuk bagi tanaman, dan tanaman membersihkan air untuk ikan.
Sistem ini berfokus pada keseimbangan alam, kesehatan tanah, dan meminimalkan dampak lingkungan.
Pertanian Organik (Organic Farming): Sistem budidaya yang menolak penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk kimia, pestisida). Mengandalkan pupuk kompos, pupuk kandang, dan pengendalian hama hayati.
Permakultur (Permaculture): Lebih dari sekadar bertani, ini adalah desain sistem kehidupan yang meniru pola alam. Tujuannya menciptakan ekosistem mandiri yang berkelanjutan (sustainable).
Agroforestri (Wanatani): Sistem penggabungan tanaman pertanian (semusim) dengan tanaman kehutanan (pohon kayu/buah) dalam satu lahan. Ini membantu mencegah erosi dan menjaga iklim mikro.
Pertanian Terpadu (Integrated Farming System): Sistem yang memadukan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan dalam satu siklus. Contoh: Limbah pertanian untuk pakan ternak, kotoran ternak untuk pupuk tanaman (konsep Zero Waste).
Pengelompokan ini melihat seberapa canggih alat dan metode yang digunakan.
Pertanian Konvensional: Pertanian umum yang berorientasi pada hasil maksimal (yield), seringkali menggunakan input kimia intensif, bibit unggul rekayasa, dan mekanisasi standar.
Smart Farming (Pertanian Cerdas) / Agrotech 4.0: Penerapan teknologi informasi modern. Melibatkan penggunaan IoT (Internet of Things), sensor tanah/cuaca, drone, robotika, dan AI untuk mengelola lahan secara presisi.
Precision Agriculture (Pertanian Presisi): Bagian dari Smart Farming, fokusnya adalah memberikan input (air, pupuk) dalam takaran yang sangat tepat sesuai kebutuhan spesifik setiap tanaman atau area kecil di ladang untuk efisiensi maksimal.
Istilah ini mengacu pada bagaimana tanaman diatur di atas lahan.
Monokultur (Monoculture): Menanam satu jenis tanaman saja di satu lahan dalam satu waktu (misal: sawah padi saja, atau kebun sawit saja). Rentan hama namun mudah dikelola mesin.
Polikultur (Polyculture): Menanam lebih dari satu jenis tanaman di lahan yang sama.
Tumpang Sari (Intercropping): Menanam dua jenis tanaman atau lebih secara bersamaan atau berselang-seling barisannya (misal: Jagung diselingi Kacang Tanah).
Mina Padi: Sistem spesifik di Indonesia, memadukan budidaya padi sawah dengan pemeliharaan ikan di air sawah tersebut.
Urban Farming (Pertanian Perkotaan): Aktivitas pertanian di dalam atau pinggiran kota, memanfaatkan lahan tidur, pekarangan, atau atap gedung (rooftop).
Vertical Farming (Pertanian Vertikal): Sistem bercocok tanam dengan menyusun tanaman secara bertingkat ke atas (vertikal), biasanya dilakukan di dalam ruangan (indoor) dengan kontrol cahaya lampu LED.