MATERI
MATERI
A. Definisi hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang (Wirakhmi et al, 2021; Chobanian et al, 2003: The National Heart, Lung and Blood Intitute, 2009). Definisi hipertensi menurut WG-ASH (Writing Group of The American Society of Hypertension) adalah gangguan kardiovaskular yang tidak hanya tekanan darah yang melebihi batas normal tetapi juga ada atau tidaknya kelainan fisiologis, rusaknya organ, dan faktor risiko hipertensi (Brookes, 2005 dalam Suling, 2018).
Penegakkan diagnosis hipertensi memerlukan pengukuran secara berulang dalam fase istirahat dan tidak boleh mengonsumsi alkohol, kopi, merokok, serta tidak mengalami ansietas selama fase pengukuran. Pengukuran harus dilakukan dua sampai tiga kali menggunakan sphygmomanometer dalam interval dua minggu (Suling, 2018)
B. Tanda dan gejala hipertensi
Hipertensi tidak memiliki gejala khusus tetapi keluhan yang sering ditemukan adalah :
1.Sakit kepala
2.Dada sesak
3.Pandangan kabur
Gejala-gejala ini menunjukkan sudah adanya tanda-tanda kerusakan organ:
a) Dada terasa nyeri
b) Sesak nafas
c) Punggung terasa sakit
d) Mati rasa
e) Penglihatan kabur
f) Sulit bicara
C. Klasifikasi Hipertensi
D. Faktor Risiko Hipertensi
Beberapa faktor risiko menurut (Mardianti et al., 2020) :
1. Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko utama untuk hipertensi. Proses ini melibatkan interaksi berbagai mekanisme biologis, hormonal, dan sistemik yang berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Badan yang gemuk akan memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh dan dinding karoid menebal sehingga dapat meningkatkan kerja jantung dan tekanan darah meningkat.
Patofisiologi obesitas yang menyebabkan hipertensi :
a. Aktivasi Sistem Saraf Simpatik
Obesitas dapat mengaktifkan saraf simpatik yang dapat menyebabkan hipertensi. Peningkatan kadar leptin, hormon yang diproduksi oleh sel-sel lemak, dapat merangsang sistem saraf simpatik, menyebabkan vasokonstriksi dan peningkatan denyut jantung. Hal ini berkontribusi pada peningkatan tekanan darah (Rumaisyah et al, 2023).
b. Aktivasi Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)
Obesitas meningkatkan aktivitas sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS), yang berperan penting dalam pengaturan tekanan darah. Pada jaringan lemak, terdapat peningkatan produksi angiotensinogen, prekursor angiotensin II. Angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan reabsorpsi natrium di ginjal, yang berkontribusi pada peningkatan tekanan darah (Lukito INASH, 2016).
c. Resistensi Insulin dan Hiperinsulinemia
Pada individu dengan obesitas, sering terjadi resistensi insulin, di mana sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Ini menyebabkan peningkatan kadar insulin dalam darah (hiperinsulinemia), yang berkontribusi pada retensi natrium di ginjal. Retensi natrium ini meningkatkan volume darah dan, akibatnya, tekanan darah (Tiara UI, 2020).
d.Peradangan dan Sitokin
Pada individu dengan obesitas, sering terjadi resistensi insulin, di mana sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Ini menyebabkan peningkatan kadar insulin dalam darah (hiperinsulinemia), yang berkontribusi pada retensi natrium di ginjal. Retensi natrium ini meningkatkan volume darah dan, akibatnya, tekanan darah (Tiara UI, 2020).
Obesitas juga merupakan kondisi inflamasi kronis yang ditandai dengan peningkatan sitokin pro-inflamasi seperti tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) dan interleukin-6 (IL-6). Sitokin ini dapat mempengaruhi fungsi endotel dan meningkatkan resistensi vaskular, yang berkontribusi terhadap hipertensi (Lukito INASH, 2016).
e. Perubahan Struktur Vaskular
Peningkatan massa lemak pada individu obesitas dapat menyebabkan perubahan struktural pada pembuluh darah, termasuk hipertrofi otot polos vaskular dan disfungsi endotel. Hal ini mengurangi kemampuan pembuluh darah untuk berelaksasi, sehingga meningkatkan tekanan darah (Tiara UI, 2020). Lemak aktif yang meningkat dapat menekan kerja jantung, sehingga jantung lebih keras memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh. 10 persen kenaikan berat badan dapat meningkatkan tekanan darah sebesar 6,5 mmHg (Lukito INASH, 2016). Selain itu kebutuhan oksigen dan makanan ke jaringan tubuh sebanding dengan massa tubuh. Hal ini dapat meningkatkan volume aliran darah pada individu yang obesitas sehingga memberikan tekanan yang lebih besar pada arteri (Mardianti et al., 2020). Kejadian obesitas dapat dideteksi dan diskrining dengan perhitungan indeks massa tubuh (IMT). Hal ini merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur kadar lemak pada tubuh (Mardianti et al., 2020).
2. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik berperan penting dalam pengelolaan tekanan darah, penelitiannya menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko hipertensi. Seseorang yang tidak aktif cenderung memiliki denyut jantung yang lebih tinggi, yang mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan pada dinding arteri, sehingga meningkatkan risiko hipertensi (Rhamdika MR et al, 2023).
Menurut hasil penelitaian Mardianti et al., (2020) menyatakan aktivitas fisik yang dilakukan kurang lebih 25 menit/hari dapat menurunkan tekanan diastole sebesar 1,4 mmHg. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas hormonal dan jantung. Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko obesitas yang berpengaruh pada peningkatan tekanan darah. Orang yang tidak aktif akan memiliki denyut jantung yang lebih tinggi sehingga jantung bekerja lebih keras untuk berkontraksi, sehingga semakin besar beban pembuluh darah arteri. Aktivitas fisik merupakan gerakan otot rangka yang dapat mengeluarkan tenaga dan energi. Individu yang melakukan aktivitas fisik ringan memiliki jumlah hipertensi tingkat 1 lebih banyak (5,5%) dari pada responden dengan aktivitas fisik sedang (0,8%) dan aktivitas fisik berat (1,6%). Hal ini memiliki makna yang berbanding terbalik semakin tinggi aktivitas fisik maka semakin rendah risiko hipertensi pada individu tersebut (Mardianti et al., 2020).
3. Riwayat keluarga
Genetik (riwayat keluarga) adalah salah satu risiko hipertensi pada remaja yang berusia 15-19 tahun dengan risiko lebih tinggi 1,93 kali dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi. Jika kedua orang tua memiliki riwayat hipertensi maka remaja berisiko terkena hipertensi sebesar 50%, sedangkan jika hanya salah satu maka remaja berisiko 30% terkena hipertensi (Mardianti et al., 2020).
Hipertensi dapat diturunkan dengan dua acara yaitu pertama secara mendelin atau monogenik terjadi paling sedikit akibat mutase pada 10 gen, kelainan ini dapat diturunkan seperti gangguan pada protein tubuli ginjal yang berperan dalam transportasi natrium. Kedua disebabkan oleh gen major dan minor yaitu Renin-Angiotensin Aldosteron (RAA) sistem, G-protein/signal transduction pathway system, noradregenik sistem dan inflamasi.
Telah terbukti bahwa bukan hanya tekanan darah, tapi juga mekanisme pengaturan sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron, sistem saraf simpatis, semuanya dipengaruhi secara genetik. Tehnik biomolekular modern telah melakukan pemeriksaan gen yang bertanggungjawab terhadap terjadinya hipertensi pada seseorang. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAAS) ini mengatur keseimbangan cairan dan tekanan darah. Genetik dapat mempengaruhi komponen dari sistem ini, termasuk produksi renin dan respons terhadap angiotensin II, yang semuanya berkontribusi pada pengaturan tekanan darah (Halomoan MS dr, 2023). Interaksi gen dengan faktor lingkungan seperti bising, panas, stres ,diet tinggi garam dan obesitas dapat berinteraksi dengan predisposisi genetik untuk meningkatkan risiko hipertensi. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi faktor genetik, nutrisi dan lingkungan dapat memperburuk kondisi (Teguh PW, 2007).
4. Jenis kelamin
Hipertensi memiliki pola kejadian yang berbeda antara pria dan wanita, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis dan hormonal. Secara umum, pria cenderung mengalami hipertensi lebih awal dalam hidup mereka dibandingkan wanita. Namun, setelah menopause, wanita menunjukkan peningkatan risiko hipertensi yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa pria sering mengalami tanda-tanda hipertensi pada usia akhir tiga puluhan, sementara wanita cenderung mengalami hipertensi setelah menopause, dengan prevalensi yang meningkat tajam setelah usia 55 tahun (Nurhayati UA et al, 2023). Hormon estrogen dan perlindungan kardiovaskular, sebelum menopause, wanita dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High-Density Lipoprotein (HDL) dan menjaga kesehatan pembuluh darah. Estrogen memiliki efek vasodilatasi yang membantu menurunkan tekanan darah (Nurhayati UA et al, 2023).Hormon androgen pada laki-laki memberikan pengaruh peningkatan darah lebih tinggi dibandingkan perempuan. Gaya hidup yang berbed a antara laki-laki dan perempuan seperti kebiasaan merokok juga dapat mempengaruhi risiko hipertensi (Siswanto et al., 2020).
5. Merokok
Merokok adalah aktivitas menghisap dan membakar rokok melalui mulut atau hidung untuk mendapatkan sebuah kenikmatan tertentu yang dapat dihirup oleh orang sekitar (R. P. Gusty, 2021). Setiap 1 batang rokok mengandung kurang lebih 4.000 bahan kimia dan 43 zat diantaranya adalah pemicu kanker, 200 bahannya beracun yang akan menyebabkan kesehatan (R. P. Gusty, 2021), yaitu :
1. Nikotin
Merupakan komponen yang paling banyak dalam rokok yang dapat menimbulkan peningkatan pembentukan plak pada pembuluh darah atau disebut aterosklerosis. Aterosklerosis dapat menyebabkan penyem itan pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
Mekanisme Aksi Nikotin :
a). Stimulasi Sistem Saraf Simpatik: Nikotin yang dihisap masuk ke dalam aliran darah dan merangsang sistem saraf simpatik. Ini menyebabkan pelepasan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin, yang meningkatkan denyut jantung dan menyempitkan pembuluh darah, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah (Umbas IM et al, 2019).
b). Peningkatan Frekuensi Denyut Jantung, akibat dari stimulasi ini frekuensi denyut jantung meningkat, yang memaksa jantung bekerja lebih keras. Peningkatan beban kerja jantung berkontribusi pada terjadinya hipertensi (Umbas IM et al, 2019).
c). Kerusakan Endotel Vaskular: Zat beracun dalam asap rokok, termasuk karbon monoksida dan nikotin, dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah. Kerusakan ini memicu proses aterosklerosis, di mana plak terbentuk di dinding arteri, mempersempit lumen arteri dan meningkatkan tekanan darah (Arsyad N et al, 2022).
2. Karbon monoksida (CO)
Karbon monoksida dapat mengikat zat hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah yang mengakibatkan tubuh mengalami kekurangan oksigen yang memicu terjadinya arterosklerosis dan meningkatkan tekanan darah.
3. Tar
Komponen pada asap rokok yang bersifat karsinogen yang dapat mengakibatkan permukaan gigi berwarna coklat dan mengendap pada saluran napas dan paru. Merokok yang lebih dari 10 batang/hari berisiko terkena hipertensi sebesar 1,13 kali dibandingkan dengan yang tidak merokok (Pardede, 2018). Penelitian menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Seseorang yang merokok lebih dari satu bungkus rokok per hari dapat menjadi dua kali lebih rentan terhadap hipertensi (Umbas IM et al, 2019), dan dalam studi yang dilakukan di beberapa lokasi, ditemukan hubungan signifikan antara kebiasaan merokok dan kejadian hipertensi, dengan nilai p < 0,05 menunjukkan bahwa kebiasaan merokok berkontribusi pada peningkatan tekanan darah (Widyanti TA, 2018).
6. Stres
Stres dapat terjadi pada seseorang dengan kondisi sedih, takut, tegang, dan merasa bersalah. Hal ini karena Stres bisa terjadi jika seseorang berada dalam kondisi tegang, perasaan tertekan, sedih, takut dan merasa bersalah. Kondisi ini dapat merangsang produksi hormone adrenal yang dapat meningkatkan kerja jantung, sehingga tekanan darah meningkat. Jika stress berlangsung lama dapat menyebabkan seseorang terkena hipertensi.
Peningkatan produksi hormon adrenalin, tiroksin, dan kortisol sebagai hormon utama stress akan naik jumlahnya dan berpengaruh secara signifikan pada sistem homeostasis, adrenalin yang bekerja secara simpatis inilah yang berpengaruh terhadap kenaikan denyut jantung, dan tekanan darah (Tika & Widya, 2019).
Stres dapat berisiko hipertensi disebabkan oleh:
a. Perubahan hormon
Stres psikogenik dapat menyebabkan perubahan hormon-hormon dalam tubuh, seperti hormon kortisol. Hormon kortisol dapat menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit, yang kemudian meningkatkan tekanan darah
b. Perubahan fisiologis
Stres dapat mengakibatkan perubahan fisiologis yang meningkatkan tekanan darah, seperti perubahan frekuensi jantung dan perubahan tingkat keseimbangan elektrolit.
c. Pola hidup tidak sehat
Stres dapat menyebabkan pola hidup yang tidak sehat, seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung garam berlebihan, melakukan kebiasaan minum alkohol, dan tidur yang buruk.
d. Kebiasaan tidur buruk
e. Stres dapat menyebabkan pola tidur buruk, yang dapat meningkatkan tekanan darah dan memperbesar risiko stroke atau penyakit jantung lainnya,
f. Kenaikan tekanan darah sementara
g. Stres dapat meningkatkan tekanan darah sementara, namun belum ada penelitian yang membuktikan bahwa stres bisa menyebabkan hipertensi dalam jangka panjang.
7. Konsumsi Natrium
Konsumsi natrium yang berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi. Retensi natrium akan meningkatkan cairan dari sel. Air akan bergerak kea rah larutan elektrolit yang memiliki konsentrasi tinggi. Hal ini mengakibatkan peningkatan volume plasma darah dan akan meningkatkan curah jantung, sehingga tekanan darah meningkat.
Sensitivitas garam pada usia remaja lebih rendah daripada usia dewasa dan meningkat sebanding dengan pertambahan usia. Natrium memiliki hubungan yang sebanding dengan timbulnya hipertensi. Semakin banyak jumlah natrium dalam tubuh maka akan mengakibatkan peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah. Reabsorbsi natrium pada tubulus ginjal akan meningkat pada penderita hipertensi primer. Stimulasi pengangkutan natrium di membran luminal dan menyediakan energi pada transport tersebut.
8. Lingkungan Kerja
Lingkungan adalah suatu media Dimana makhluk hidup tinggal, mencari, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang memilki peranan yang lebih kompleks dan riil (Rusdina, 2015). Sehat ialah keadaan Sejahtera dari badan, jwa dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis. Selanjutnya Kesehatan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009 adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social dan ekonomis. Sehat secara fisik adalah orang tersebut tidak memiliki gangguan apapun secara klinis, sedangkan sehat secara mental/psikis adalah sehatnya pikiran, emosional, maupun spiritual dari seseorang. Salah satu yang mempengaruhi Kesehatan seseorang adalah lingkungannya seperi lingkungan kerja (Potter & Perry, 2005).
Oleh karena itu lingkungan yang sehat merupakan lingkungan dimana makhluk hidup yang tinggal dan berhubungan secara timbal balik memiliki kondisi yang sehjahtera baik secara fisik, jiwa dan sosial. Komponen lingkungan Abiotik, Agustian (2014) menjelaskan faktor risiko lingkungan fisik rumah, fisik tempat kerja (kebisingan, panas atau suhu, polusi, kelembaban) yang berperan dalam menentukan terjadinya interaksi antara host (penjamu) komponen biotik, unsur penyebab (agent) dengan perilaku dan sikap sebagai komponen kultur dalam proses timbulnya kejadian penyakit hipertensi yaitu (Sulisyono, 2022) :
1) Pajanan Kebisingan
Pekerja lapangan tentunya tidak lepas dari mesin alat berat dengan intensitas kebisingan yang cukup tinggi. menurut (Irvani, 2020) pekerja Indonesia yang memiliki risiko pajanan kebisingan lebih dari 85 dB sebesar 30-50%. (Indriyanti, 2019) juga menjelaskan bahwa tempat kerja dengan pajanan kebisingan lebih dari 85 dB memiliki risiko terjadinya hipertensi pada pekerja
Gambar 4. The American Journal of Hypertension (2020
Studi menunjukkan bahwa paparan kebisingan, terutama selama waktu yang lama, dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah melalui mekanisme stress disfungsional yang melibatkan beberapa sistem tubuh. Sistem saraf simpatik dan sistem neuroendokrin berinteraksi dengan sistem pendengaran, yang kemudian bereaksi terhadap suara. Kadar katekolamin, seperti epinefrin dan norepinefrin dan hormon stres, seperti kortikosteroid, dapat mengarah pada reaksi ini (Indriyanti; hamdie, 2020).
Hipertensi dapat muncul sebagai hasil dari regulasi otomatis vaskular tubuh saat terpapar kebisingan terus-menerus. Sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA axis), yang mengontrol respons stres dan tekanan darah, diaktifkan oleh kebisingan (Indriyanti; Andjani, 2021). Stres meningkatkan pelepasan adrenalin, yang meningkatkan denyut jantung.
Studi lain menunjukkan bahwa karyawan yang terpapar kebisingan dengan intensitas lebih dari 85 dB memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi (Andjani, 2021; Marji et al., 2021). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Azzahra et al pada tahun 2023 menemukan bahwa orang yang tinggal di area dengan kebisingan tinggi (lebih dari 55 dB) memiliki risiko 1,4 kali lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan orang yang tinggal di tempat yang lebih tenang.
2) Pajanan Panas
Suhu tinggi, mesin atau alat yang menghasilkan panas, dan radiasi matahari, sumber panas alami, dapat menyebabkan panas pada pekerja di ruang kerja atau di lapangan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2018), peneliti menemukan bahwa karyawan yang bekerja di area produksi (lapangan) memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan karyawan yang bekerja di kontrol room
Gambar 5. The American Journal of Hypertension (2020)
Suhu tinggi Pajanan panas, terutama dalam lingkungan kerja yang ekstrem, dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Proses ini melibatkan beberapa mekanisme fisiologis yang kompleks yang mempengaruhi sistem kardiovaskular.
Mekanisme Patofisiologis
a. Respon Fisiologis Terhadap Panas: Ketika tubuh terpapar suhu tinggi, mekanisme termoregulasi diaktifkan. Vasodilatasi pembuluh darah perifer adalah respons utama untuk meningkatkan aliran darah ke kulit dan membantu dissipasi panas. Namun, dalam situasi tertentu, seperti beban kerja yang berat, ini dapat menyebabkan volume darah turun drastis, menyebabkan reaksi kompensasi.
b. Peningkatan Kerja Jantung: Karena kebutuhan tubuh akan lebih banyak oksigen ketika suhu tinggi, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Peningkatan tekanan darah dapat disebabkan oleh peningkatan frekuensi denyut jantung dan curah jantung. Penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang terpapar panas cenderung mengalami tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih tinggi (Febriandani A, 2020).
c.Stres Oksidatif dan Inflamasi: Pajanan panas dapat menyebabkan stres oksidatif, yang merusak endotel pembuluh darah dan mengganggu fungsi pembuluh darah secara normal. Akibatnya, kerusakan ini sering disertai dengan peningkatan sitokin pro-inflamasi, yang memperburuk disfungsi endotel dan menyebabkan hipertensi (Febriandani A, 2020).
d. Aktivasi Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAAS): Paparan panas dapat merangsang sistem RAAS, yang bertanggung jawab atas regulasi tekanan darah. Aktivasi sistem ini menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dan retensi natrium oleh ginjal, yang menyebabkan peningkatan tekanan darah dan volume cairan (Lukitaningtyas D, 2023). Studi lain menunjukkan hubungan positif antara pajanan panas dan hipertensi; dalam satu studi, pekerja di pabrik dengan suhu lebih dari 31,9°C memiliki risiko hampir 20 kali lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan pekerja di tempat kerja dengan suhu normal (Febriandani A, 2020).
3) jajanan Partikel Kecil
Menurut Santos (2019), pajanan partikel kecil berkontribusi pada peningkatan hipertensi pekerja lapangan. Pekerja lapangan dengan konsentrasi PM2.5 tidak terpajan memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi daripada pekerja lapangan yang terpajan partikel halus di udara dengan diameter 2,5 mikrometer. PM2.5 dapat masuk ke dalam sistem pernapasan manusia dan bahkan memasuki aliran darah karena ukurannya yang sangat kecil, menyebabkan gangguan pernapasan dan penyakit jantung (Alkausar M, 2023)
Gambar 6. The American Journal of Hypertension (2020)
4) Pajanan Timbal dalam Darah
Timbal adalah logam berat yang dapat terakumulasi dalam tubuh dan mempengaruhi berbagai sistem biologis, termasuk sistem kardiovaskular. Pajanan Timbal Pada Darah: Menurut Putri (2018), pajanan timbal pada pekerja disebabkan oleh adanya zat timbal pada logam atau metal yang mengenai organ tubuh. Timbal yang masuk ke dalam organ tubuh meningkatkan risiko hipertensi (Ambarwanto, 2015) karena kadar timbal yang tinggi menyebabkan hipertensi
Mekanisme Patofisiologis
Stres Oksidatif: Timbal dapat meningkatkan produksi reactive oxygen species (ROS), yang berperan dalam kerusakan sel dan jaringan. ROS dapat
a. mengganggu fungsi endotel vaskular, menyebabkan disfungsi endotel yang berkontribusi pada hipertensi (Ambarwarto, et 2015).
b. Gangguan Metabolisme Kalsium: Timbal mempengaruhi metabolisme kalsium dalam sel otot polos pembuluh darah. Kalsium berperan penting dalam kontraksi otot, dan gangguan pada metabolisme ini dapat menyebabkan peningkatan tonus vaskular dan tekanan darah (Kawatu et al 2009: Harwanto 2012).
c. Sistem Renin-Angiotensin: Paparan timbal juga dapat memicu aktivasi sistem renin-angiotensin, yang merupakan jalur penting dalam regulasi tekanan darah. Peningkatan aktivitas sistem ini akan menyebabkan vasokonstriksi dan retensi natrium, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan darah (Mutasir 2016).
d. Aktivasi Saraf Simpatik: Timbal dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatik, yang berkontribusi pada peningkatan denyut jantung dan vasokonstriksi. Ini menciptakan beban tambahan pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko hipertensi (Putri Ni Luh et al 2021).
5) Work shift
Jenis pekerjaan yang disebut shift kerja memiliki waktu kerja yang tidak normal, yaitu shift pagi dan shift malam, yang masing-masing berlangsung lebih dari 8 jam. Pekerja shift malam, khususnya, rentan terhadap hipertensi karena jadwal mereka berubah, di mana waktu malam digunakan untuk bekerja dan waktu siang digunakan untuk bersantai (Guo, 2013). Pekerja shift, menurut Noer (2014), memiliki risiko hipertensi sebesar 40% lebih tinggi daripada pekerja non-shift. Menurut Batubara (2019), persentase hipertensi pekerja shift adalah 59,4% lebih tinggi daripada pekerja non-shift.
Gambar 8. (Krisbiatoro et al, 2022)
6) Stress Kerja
Stress Kerja merupakan permasalahan pekerja yang cukup menjadi perhatian perusahaan. Stress kerja bisa mempengaruhi keselamatan pekerja yang lain apabila pekerja tersebut tidak fokus dalam bekerja. menurut (Faridah, 2017) dan (Kurniasari, 2017) stress kerja bisa memicu terjadinya hipertensi disebabkan adanya beban kerja yang berlebihan serta tempat kerja yang tidak nyaman
Gambar 9. The American Journal of Hypertension (2020)