Program kerja Dual Track Tata Boga di SMAN 2 Long Ikis diawali dengan pembentukan kelompok usaha siswa. Setiap kelompok terdiri dari 4–5 orang yang dipilih secara acak untuk melatih kerja sama, komunikasi, dan manajemen tim. Pada tahap ini, siswa didorong untuk menentukan struktur organisasi sederhana dalam kelompok, seperti ketua, bendahara, bagian produksi, serta bagian pemasaran. Dengan pembagian tugas tersebut, setiap anggota memiliki peran yang jelas dan bertanggung jawab dalam menjalankan usaha.
Tahap berikutnya adalah brainstorming ide produk masakan. Siswa diajak mendiskusikan menu yang akan dibuat dengan mempertimbangkan beberapa aspek, antara lain ketersediaan bahan baku lokal, biaya produksi, tingkat kesulitan, selera pasar, serta nilai jual. Dari hasil diskusi, setiap kelompok memilih satu hingga dua jenis produk masakan yang dianggap potensial untuk diproduksi, misalnya jajanan tradisional, kue modern, atau makanan ringan yang digemari kalangan pelajar.
Setelah ide produk ditentukan, siswa memasuki tahap perencanaan dan persiapan produksi. Mereka membuat daftar kebutuhan bahan, menghitung biaya, serta merencanakan waktu produksi. Guru pembimbing memberikan pengarahan tentang teknik memasak yang sesuai, standar kebersihan, serta cara mengolah bahan agar menghasilkan produk berkualitas. Pada tahap ini, siswa juga dilatih menyusun perkiraan modal awal dan proyeksi keuntungan sederhana.
Tahap selanjutnya adalah proses produksi. Siswa secara langsung mempraktikkan keterampilan memasak sesuai menu yang dipilih. Kegiatan ini dilakukan di dapur sekolah dengan pengawasan guru pembimbing. Siswa diajarkan cara bekerja secara sistematis, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah, hingga mengemas produk. Produk yang dihasilkan diutamakan tidak hanya enak dan higienis, tetapi juga memiliki tampilan menarik agar mampu menarik minat pembeli.
Setelah produk selesai dibuat, masuk ke tahap pemasaran dan penjualan. Siswa melakukan promosi sederhana dengan memanfaatkan media sosial, poster, maupun penjualan langsung di lingkungan sekolah. Mereka belajar menentukan harga jual yang sesuai dengan biaya produksi dan keuntungan yang diharapkan. Dalam kegiatan ini, siswa dilatih berinteraksi dengan konsumen, melayani pembeli dengan ramah, dan memahami pentingnya kepuasan pelanggan dalam usaha kuliner.
Tahap penting berikutnya adalah pencatatan keuangan. Setiap kelompok diwajibkan membuat laporan sederhana tentang jumlah modal yang digunakan, total penjualan, laba kotor, hingga laba bersih. Bendahara kelompok bertugas mencatat setiap transaksi, baik pengeluaran maupun pemasukan, dengan bimbingan guru. Dari laporan keuangan tersebut, siswa dapat melihat hasil usaha mereka, apakah memperoleh keuntungan atau masih perlu evaluasi dalam manajemen biaya dan harga.
Program kerja ini ditutup dengan evaluasi dan refleksi. Setiap kelompok mempresentasikan hasil usaha mereka, termasuk produk, strategi penjualan, serta laporan keuangan. Guru memberikan masukan tentang kelebihan dan kekurangan yang ditemui, sekaligus motivasi agar siswa terus mengembangkan keterampilan wirausaha. Dengan program ini, diharapkan siswa tidak hanya mahir dalam keterampilan tata boga, tetapi juga memahami siklus usaha secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, produksi, pemasaran, hingga evaluasi keuangan.