Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi anak -anak semoga kalian selalu dalam rahmat Allah swt, Aamiin, ini ibu kirim materi Bab 2, tolong dipelajari, setelah itu ada tugas dari ibu di kolom paling terakhir, dikerjakan ya, terima kasih
Materi
1. Pengertian Iman kepada Allah
Iman kepada Allah artinya percaya pada sifat-sifat-Nya, baik sifat yang wajib, mustahil, maupun jaiz. Iman kepada Allah artinya meyakini dengan sepenuh hati atas keesaan Allah baik zat, sifat, dan af’al Allah. Telah kita ketahui bahwa kita tidak dapat mengetahi zat Alah yang sebenarnya, karena Allah tidak dapat dilihat dengan panca indra kita. Kita hanya diwajibkan beriman dengan mengenal sifat-sifat kesempurnaannya. Kita beriman tidak hanya pada hati, tetapi hendaklah dibutktikan dengan kenyataan, sebagaimana telah diungkapkan dalam keterangan tokoh ahli tauhid;
اَلاِْيْماَنُ هُوَ تَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ وَإِقْرَارُ بِالِّسَانِ وَعَمَلُ بِالأَرْكَانِ
Artinya: ”Iman adalah sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, serta diwujudkan oleh amal perbuatan.”
Adapun beriman kepada Allah adalah mempercayai dan meyakini bahwa Allah itu adalah satu zat, sifat, dan satu af’alnya yang maha sempurna dan terhindar dari sifat-sifat kekurangan. Di samping itu juga Allah SWT sebagai al-Khaliq, artinya Allah SWT pencipta alam semesta dan isinya serta merupakan bukti bahwa Allah SWT itu ada. Oleh karena itu kita sebagai orang mukmin wajib mempercayai dan meyakininya. Allah telah berfirman pada Q.S. An-Nisa’ (4):136 sebagai berikut
yang artinya Hai -orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”.
2. Sifat-sifat Allah
Untuk mengetahui sifat-sifat Allah, ada dua cara, yaitu:
1. Bersifat Ijmali, artinya mengetahui dan beriman secara garis besarnya saja, seperti kita percaya kepada Allah sebagai maha pencipta, yang satu-satunya berhak disembah.
2. Bersifat Tafsili, artinya beriman kepada Allah secara mendalam dengan mengetahui sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz bagi Allah berdasarkan dalil aqli maupun naqli, yaitu:
a. Sifat Wajib, artinya sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah. Sifat wajib Allah berjumlah 13, dan ada yang menyebutnya 20 sifat.
b. Sifat Mustahil, artinya sifat-sifat yang tidak mungkin ada pada Allah. Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib. Jumlahnyapun sama dengan sifat wajib.
c. Sifat Jaiz, artinya sifatyang mungkin bagi Allah swt. untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Artinya Allah berbuat sesuatu tidak ada yang menyuruh dan tidak ada yang melarang. Sifat Jaiz Allah hanya 1, yaitu: “Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu” (فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ اَوْتَرْكُهُ) artinya: “Allah mungkin menciptakan sesuatu atau tidak menciptakan sesuatu”.
Sifat-sifat Allah dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu pertama, sifat nafsiyah ( satu zat dan sifat diri Allah). Yang termasuk sifat nafsiyah, yaitu Wujud. Kedua, sifat salbiyah (Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lilhawadits, Qiyamuhu binafsih, dan Wahdaniyyah). Dan ketiga, sifat ma’ani (Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayyat, Sama’, Bashar, dan Kalam).
Allah Swt. berfirman: “Dan Allah memiliki al-Asma‘u al-¦usna, (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma‘u al-¦usna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah al-A‘raf/7: 180)Ayat ini diturunkan ketika ada seorang sahabat Nabi Muhammad saw. sedang berdoa se-raya membaca, “Ya Rahman, Ya Rah³m" (Wahai ªat Yang Maha Pengasih, Wahai ªat Yang Maha Penyayang). Ketika mendengar itu, orang-orang musyrik langsung menyebarkan tuduhan dan fitnah bahwa Nabi Muhammad saw. dan para sahabat-nya menyembah dua Tuhan, yaitu Y± Rahm±n dan Y± Rah³m. Sebagai jawaban atas tuduhan orang kafir itu, maka turunlah ayat tadi (Surah al-A‘raf/7: 180). Dengan jelas dan tegas ayat ini me-nyatakan bahwa Allah Maha Esa, namun Allah Swt. memiliki sebutan lain berupa nama-nama yang indah. Indah untuk didengar, diucapkan, diterapkan, dan diteladani oleh hamba-Nya.Allah Swt. memiliki al-asma‘u al-Husna (nama-nama yang indah), seperti al-‘Al³m, ar-Khab³r, al-Sami’, al-Basir. Berdoalah kepada-Nya seraya menyebut al-asma‘u al-Husna, seperti ya Alim, ya Khabir, ya Sami’, ya Basir dan seterusnya karena doa yang demikian akan lebih dikabulkan Allah Swt. Doa yang demikian juga bisa menginspirasi kita agar menjadi manusia yang ‘al³m (berilmu), khab³r (mau meneliti), sam³ (menjadi pendengar yang baik), dan ba¡³r (pandai melihat kenyataan hidup).(Sumber: Dok. Kemdikbud)
Pernahkah kamu merasa dekat dengan Allah Swt. sehingga perasaanmu merasa begitu tenang? Pernahkah kamu merasa jauh dengan-Nya sehingga jiwamu terasa hampa? Melalui uraian berikut ini, mari kita belajar untuk lebih mengenal nama-nama Allah Swt. yang indah dan berusaha menjadi lebih dekat dengan-Nya.
Allah Swt. memiliki kasih dan sayang yang begitu besar terhadap hamba-Nya. Kita boleh bermohon apa saja kepada-Nya. Syaratnya, tentu kita harus yakin akan keberadaan Kalau kita belum yakin bahwa Allah Swt. itu ada, sudah barang tentu doa kita juga sia-sia.
Jadi, sebelum berdoa kepada Allah Swt., kita harus yakin terlebih dulu bahwa Allah Swt. dapat memberikan apa yang kita butuhkan. Itu artinya kita harus beriman kepadanya Allah Swt.
Apakah iman itu? Kata iman berasal dari bahasa Arab yang bermakna percaya. Makna iman dalam pengertian ini adalah percaya dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan sehari-hari.
Menjadi orang yang beriman bukan persoalan yang ringan atau mudah. Sebagai manusia yang memiliki pertanggungjawaban kepada Allah Swt., iman menjadi sangat penting. Allah Swt. sendiri yang memerintahkan kita untuk beriman, sebagaimana firman-Nya:
”Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kapada Rasulnya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah tersesat sejauh-jauhnya.(Surah an-Nisa’/4:136)
Keimanan seseorang itu bisa tebal dan bisa tipis, bisa bertambah atau berkurang. Salah satu cara untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah Swt. adalah dengan memahami nama-nama-Nya yang baik dan indah. Kita sering mendengar nama-nama indah itu dengan sebutan al-asma‘u al-Husna.
Makna Al-Asma‘ul Al-Husna
Al-asma‘ul Husna artinya nama-nama Allah Swt. yang baik. Allah Swt. mengenalkan dirinya dengan nama-nama-Nya yang baik, sesuai dengan firman-Nya:
“Dan hanya milik Allah al-asma‘ul ¥usna, (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-asma‘ul ¥usna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah al-A‘raf/7: 180)
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa nama-nama Allah Swt. yang baik (al-asma‘ul ¥usna) itu berjumlah 99. Barang siapa yang menghafalnya maka Allah Swt. akan memasukkan ke dalam surga-Nya.
Pada bab ini hanya empat al-asma‘u al-¥usna yang akan kalian pelajari, yaitu: al-‘Al³m, ar-Khab³r, al-Sam³’, al-Ba¡³r. Setelah mempelajari topik ini, kalian diharapkan dapat menjelaskan makna keempat al-Asm±‘u al-¦usn± tersebut, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
1. Al-‘Alim
Al-‘Al³m artinya maha mengetahui. Allah Swt. Maha Mengetahui yang tampak atau yang gaib. Pengetahuan Allah Swt. tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Segala aktivitas yang dilakukan oleh makhluk diketahui oleh Allah Swt. Bahkan, peristiwa yang akan terjadi pun sudah diketahui oleh Allah Swt. Dengan kata lain, pengetahuan Allah Swt. itu tanpa batas. Luar biasa, bukan? Agar lebih yakin perhatikan firman-Nya berikut ini.
”Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. dan Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lau¥ Ma¥fu§).” (Surah al-An’±m/6:59)
Subhanallah, luar biasa! Perlu kalian ketahui bahwa Allah Swt. menyuruh kita untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, agar kalian dapat mengetahui ciptaan-Nya, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Sesungguhnya, Allah Swt. sangat menyukai orang yang rajin mencari ilmu pengetahuan dan mengamalkannya.
Perilaku yang dapat diwujudkan dalam meyakini sifat Allah al-‘Al³m adalah kita harus terus-menerus mencari ilmu-ilmunya Allah Swt. dengan cara belajar dan merenungi ciptaan-Nya. Tapi ingat! Penting juga untuk diperhatikan bahwa kita tidak boleh merasa paling pandai. Orang berilmu itu harus tetap rendah hati. Seperti gambar padi di samping, semakin berisi semakin merunduk.
2. Al- Khab³r
Al-Khab³r artinya mahateliti. Allah Mahateliti terhadap semua ciptaan-Nya. Allah Swt. menciptakan berjuta-juta makhluk, semuanya berfungsi sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Tidak ada satupun ciptaan Allah Swt. yang salah sasaran. Ini menandakan bahwa Allah Mahateliti dalam menciptakan makhluk-Nya. Demikian pula Allah dapat mengetahui secara detail apa yang dikerjakan makhluknya. Dalam Surah at-Taubah/9: 16 Allah Swt. berfirman:
“... dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Surah at-Taubah/9: 16)
Perilaku yang dapat diwujudkan bagi orang yang percaya bahwa Allah Swt. Mahateliti adalah hendaklah kita harus waspada dan teliti betul apa yang kita lakukan atau yang akan kita lakukan. Kita harus teliti dan cermat dalam melaksanakan kegiatan, baik di sekolah, di rumah, maupun di tempat lainnya. Orang yang teliti akan mendapatkan hasil maksimal, dan tidak akan menyesal di kemudian hari.
3. As-Sam³’
As-Sam³’ artinya maha mendengar. Allah Swt. Maha Mendengar semua suara apa pun yang ada di alam semesta ini. Pendengaran Allah Swt. tidak terbatas, tidak ada satu pun suara yang lepas dari pendengaran-Nya, meskipun suara itu sangat pelan. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
”... dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Surah al-Baqarah/2:256)
Perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Allah Swt. yang memiliki sifat Maha Mendengar adalah kita harus mau mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Terlebih lagi jika yang sedang berbicara adalah guru atau orang tua kita. Lalu, bagaimana sikap kita jika tidak senang terhadap apa yang disampaikannya? Tentu kita harus sampaikan hal itu kepada lawan bicara kita dengan sikap dan bahasa yang santun.
As-Sam³’ juga bisa diteladani dengan cara menjadi orang yang peka terhadap informasi. Sebagai generasi muslim kalian tidak boleh ketinggalan informasi. Di samping itu kalian harus terus berlatih untuk dapat memilah informasi yang baik dan yang buruk, yang hak dan yang batil.
4. Al-Basir
Al-Ba¡³r artinya maha melihat. Allah Maha Melihat segala sesuatu walaupun lembut dan kecil. Allah Swt. melihat apa saja yang ada di langit dan di bumi, bahkan seluruh alam semesta ini dapat dipantau. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-¦ujur±t/49: 18)
Perilaku yang mencerminkan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat adalah hendaklah kita berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini sebagai bahan renungan akan kebesaran Allah Swt. Kita diajarkan untuk pandai dan cermat dalam memandang berbagai persoalan di sekeliling kita. Namun jangan lupa, kita juga harus selalu introspeksi diri untuk melihat kelebihan dan kekurangan kita sendiri agar hidup menjadi lebih terarah. Sungguh hal ini sangat indah untuk diamalkan
Hikmah Beriman kepada Allah Swt.E
Orang yang beriman tentu merasa dekat dengan Allah Swt. Oleh karena merasa dekat, dia berusaha taat, menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sungguh bahagia dan beruntung manusia yang bisa seperti ini. Jadi, orang yang beriman akan medapatkan berbagai keuntungan, antara lain sebagai berikut.
1.Selalu mendapat pertolongan dari Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
”Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).”(Surah al-Mu’min/40: 51).
2.Hati menjadi tenang dan tidak gelisah. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt.:
”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.”(Surah ar-Ra’d/13: 28).
3. Sepanjang masa hidupnya tidak akan pernah merasa rugi. Sebaliknya, tanpa dibekali iman sepanjang usianya diliputi kerugian. Sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini.