Author : Bung Indira (Mpu Mamet) 05 Maret 2025
Editor : Bung Kijay
"Naon sih anying ieu?" Suatu kalimat tanya penuh kebingungan atas realitas tubuh GmnI dewasa kini. Organisasi bagi para alumni GmnI yang memiliki PA, FA, dan IKA sependek pengetahuan penulis. Kemudian dualisme DPP GmnI, kekosongan DPP GmnI Jawa Barat, adanya 3 Cabang GmnI di Bandung. Adalah suatu hal gila dan onverschillig bagi hubungan fundamental dan transendental kita, secara teknis kita tetap bekerja, 'masing-masing'. Keterlemparannya kita yang begitu jauh dari apa yang semestinya kita pedomani lebih dari hal-hal primer sekalipun di organisasi adalah anasir azaz dan tujuan organisasi. Kredo GmnI yang perlu kita imani bersama, yang kita dapat, bukan yang kita pilih, yang perlu pemaknaan dan pelaksanaan tepat. Apa azaz kita? Apa tujuan organisasi kita? Apanya yang gerakan? Bagaimana kita bangga dengan adanya perpecahan yang berartikan buruknya propinkuitas, dan koneksi yang terangsingkan diluar jangkauan. Ayolah, GmnI bukan tongkrongan warung anak SMA atau SMP. Merokok, Merokok, Mabuk! Menjadi ruang bebas diluar jangkauan orang tua untuk mengeksploitasi diri demi eksplorasi kenakalan, kriminalitas, bahkan dosa. Tanpa AD/ART, paham seadanya, tanpa kejelasan struktur, tanpa sistematika manajemen organisasi.
Kampus mahasiswa adalah belantara bagi kawanan banteng ini untuk hidup dengan komisariat sebagai habitat sebagai tanah air, demi berjuang melangsungkan juga bertahan hidup, mencari pangan, berkembang biak, dan terus menerus menghasilkan peradaban. Dari sinilah pula anak-anak banteng itu akan mengembara keluar wilayahnya untuk menjadi. Pertumbuhan badan, peruncingan tanduk, cara-cara mencari pangan dari banteng-banteng sebelum kita, dan yang pasti suatu dasar yang perlu kita imani dan perjuangkan. Dari sinilah adanya. Memandang realitas dewasa ini menjadi tinjauan atas bobroknya; kaderisasi GmnI mulai dari tingkat komisariat (PPAB) juga pakem bagi para anak-anak banteng. Semisal konflik kepentingan, egosentris, pragmatis tahta dan harta, suatu kesombongan akibat dari gagalnya pengkaderan dan pemberian pakem. Ataukah kita sedang meniru pecahnya PNI?
Perpecahan adalah nadir dalam organisasi, salah satu kiamat kecil sebelum kiamat besar, bubar. Ketidakmampuan untuk membangun kepercayaan dapat mengarah pada kegagalan dalam mencapai tujuan bersama, serta rendahnya aktivitas produktif dan moral organisasi. Perpecahan adalah kemarau, masa sulit akibat perubahan iklim organisasi yang apabila berkepanjangan dapat berakibat fatal pada hilangnya sinyalemen sebagai banteng seruduk kanan sebab berhasil atau gagal beradaptasi, bayangkan banteng memanjat pohon tuk cari makan. Perpecahan begitu berpengaruh pada jalan panjang organisasi. Terasingkan, kurangnya dukungan, dan ketidakterbukaan merupakan segelintir ihwal yang dirasakan kawanan banteng, bertambahnya hutang yang harus menyatukan kembali dan fokus pada azaz dan tujuan bersama. Hidup yang bergulir maju adalah ketepatan yang mewajibkan kita untuk bisa melakukan manajemen perubahan. Konflik memang tidak selalu buruk, namun dalam ihwal seperti ini yang terbilang tidak terselesaikan dengan baik akan menghalangi kemajuan organisasi dan toksik bagi hubungan antar anggota, anggota-organisasi, dan organisasi-organisasi sebagai keutuhan kekuatan kolektif GmnI.
Penulis tidak ingin tur kaki melewati sepinya Alas Roban atau serta merta dalam terjal dan dinginnya Jayawijaya. Tidak juga menunggu giliran menaiki mikrolet di Jakarta. Tidak ingin juga berhari-hari dibawah langit mendung. Kesadaran penuh bagi kami adalah persatuan atas persaudaraan. Penulis akhiri, sudahlah! Jangan lupakan "GOTONG ROYONG". Mari berjibaku, berkeringat, demi membangun rumah persatuan dan kesatuan GmnI yang berbudaya. Sebab persatuan adalah syarat mutlak untuk maju. Semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu. Mahasiswa GMNI bersatulah segeraš¶.Ā