Author : Bung Rizqi (Kijay) 20 Mei 2025
Causa prima kuliah di Universitas yang tersemat nama 'Pendidikan' memang sudah menjadi beban untuk di stempel mengetahui pelbagai seluk-beluk pendidikan. Yah, padahal pendidikan bisa terjadi di mana saja, bahkan tempat tak layak sekalipun. Bila merunut ungkapan Ki Hajar Dewantara dalam quote-quote yang terpampang di postingan akun-akun instagram jelas bahwasanya setiap orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah.
Pendidikan di masa kini dengan berbagai probabilitas yang ada dan problematika yang tengah maupun akan dihadapi. Haruslah menjadi perhatian dan usaha Negara (kita semua, kecuali pemerintah). Pendidikan Nasional masa kini hanyalah odong-odong—bayar dulu baru naik, lalu si Emang akan menggowesnya hingga periodesasi beres tak luput setoran harian kepada si Obos. Tidak seperti pandangan filosofis dari Minahasa yang ‘Sitou Timou Tumou Tou’ manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain, hanyalah bisnis, hanyalah pembangunan karakter ‘homo homini lupus’.
Coba ingatlah kembali, lantunan “Sekolah dulu kunggak punya biaya, terpaksa ku harus mencari nafkah” dari Tegar Septian. Malah jauh dari pada itu, era Iwan Fals muda saja, si Budi kecil sudah jajakan koran—tetapi “sanggupkah si Budi diam di dua sisi?”. Adu Bagong! Perjuangan hidup mengarungi kondisi sistemik antara realita keadaan kini yang berkekurangan dengan sekolah setinggi-tingginya sebagai ‘aset’ masa yang akan datang, katanya. Tegar dan Budi adalah contoh dari kerasnya bisnis pendidikan dan terkaman manusia serigala pendidikan.
Sekolah menjadi begitu jauh jika kita tidak mampu secara ekonomi. Hadirnya beasiswa adalah akibat dari bisnis pendidikan, dan malah memperbanyak kandang untuk memelihara manusia serigala pendidikan itu sendiri. Lalu prinsip ekonomi untuk memperkaya terus bisa berjalan. Sementara itu, bansos pendidikan hanyalah alat untuk memperbuncit hutang negara tanpa menyelesaikan permasalahan pendidikan negara, keduanya hanya bermanfaat bagi para penerima—ibarat cermin yang sudah retak, kotor, dan berembun.
Begitukah pemerataan pendidikan itu? Yang kapitalis dan begitu komersial? Belum pernahkah mendengar cerita syiar Nabi dan Rasul Muhammad atau Yesus Kristus? Atau yang termaktub dalam sejarah kita, seperti rumah kebangsaan bapak kost HOS Tjokroaminoto yang melahirkan tokoh-tokoh pergerakan dan Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa-nya? Inilah keadaan sistemik yang dimobilisasi dengan begitu jahat. Apanya yang Gotong Royong?
Apalah-apalah memang, bukan hanya praktik memperbanyak dokat dari bangku yang terjual. Bahkan nilai, kelas, dan ijazah sekalipun. Tidak perlu miris begitu, karena ini termasuk kedalam new normal, kan? Jikalau PSIS Semarang masih terancam degradasi, maka pendidikan nasional kita sudah lebih dahulu terdegradasi. Ini adalah akibat dari disfungsi sosial pendidikan Indonesia, padahal dari Vygotsky hingga David Perkins selalu menekankan bahwa praktik pendidikan haruslah melibatkan fungsi sosial siswa yang nantinya akan memberi dampak positif secara kognitif, terutama psikologis.
Konflik antar kelas, lalu kepentingan dan kekuasaan adalah hujan badai bagi pendidikan kita hari ini yang membuat aliran sungai dari Puncak begitu deras dan meluap. Alhasil banyak korban hanyut baik dari kalangan siswa, orang tuanya, bahkan pihak sekolah sebagai kepanjangan tangan tukang odong-odong. Karena kita hanya dijadikan komoditas untuk sumber daya manusia bukan pembangunan kualitas sebagai manusia berdaulat untuk merdeka dan siap memanusiakan manusia. Bukan soal siap disiplin rambut rapi, pakaian standar, tiap hari pembiasaan tanpa penjelasan, makna mendalam & henteu jeung manahna.
Sampai saat ini, penulis masih merasa bodoh akan mata pelajaran hingga mata kuliah yang diberikan. Sedari SD s.d. Kuliah belajar Bahasa Inggris masih tidak membuat penulis fasih berbahasa Inggris atau dengan ilmu pasti seperti matematika. Bukan karena kesadaran akan keterbatasan pengetahuan yang penulis tidak ketahui. Namun karena semua itu begitu memeras otak, ibarat cangkir diisi air satu galon. Sementara dirumah ketika bertanya filosofis kenapa saya ada (dilahirkan)? Dijawab dengan lelucon ‘ditemukan di tong sampah’ atau ‘dibuat dari tepung’. Makhluk sosial macam apa yang bisa kita harapkan lahir dalam kondisi carut marut seperti ini?
Dari Masa ke Masa, Demi Massa Terdidik
Dunia pendidikan di Indonesia telah melalui berbagai perjalanan sejak zaman kerajaan. Mulai dari dari kelompok adat antara orang tua dengan anak juga melalui pemangku adat kepada masyarakat adat. Hingga masuk ke zaman kerajaan yang bermula dari kaum Brahmana atau pemuka agama yang menyoal pendidikan berbasis agama Hindu/Buddha, hingga pendidikan etika bagi keluarga kerajaan dan kelompok yang berada di lingkungan kerajaan yang kemudian akan berdampak pada masyarakat di wilayah kekuasaannya yang belum terdidik itu.
Begitupun masa Kerajaan Islam yang masih berbasis agama, namun tidak hanya terpaku pada lingkungan kerajaan. Pendekatan langsung dengan masyarakat. Hal serupa digunakan oleh Orang Portugis dengan 3G-nya itu menduduki wilayah dan mulai menyebarkan agama Katolik (Gospel) di samping pemenuhan 2G lainnya yang nantinya juga akan dilakukan oleh Orang Spanyol. Setelah itu Orang Inggris dan Belanda dengan Kristen Protestannya yang memamainkan peran di wilayah yang ia duduki.
Masuk masa kolonial Belanda, konsep sekolah formal mulai diperkenalkan, namun hanya untuk orang Belanda, sedangkan pribumi dianggap kelas dua. Era kolonial Belanda yang sudah modern kemudian membawa sistem pendidikan yang lebih formal dengan tujuan untuk mengatur masyarakat pribumi guna memenuhi kebutuhan industri mereka. Peran tokoh seperti Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa menjadi titik balik penting, sebab pendidikan tidak hanya untuk kalangan elite, tetapi untuk seluruh rakyat. Berbeda saat kehadiran Orang Jepang menguasai, segala usaha Jepang ditunjukan hanya untuk sumber daya penunjang perang.
Pasca kemerdekaan Indonesia, di masa Orde Lama sistem pendidikan nasional mengalami transformasi. Walaupun sulit, semangat untuk meratakan akses pendidikan semakin meningkat ke berbagai penjuru Indonesia. Dari gelora pendidikan sebagai Nation and Character Building; Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah Seluruh Indonesia; Penyusunan Ejaan Bahasa Indonesia 1947 (Ejaan Soewandi/Republik); dengan visinya PNSB (Pembangunan Nasional Semesta Berencana).
Orde lama berusaha membangun pendidikan yang berdiri di atas demokrasi, kesamaan hak dan kewajiban antara sesama Warga Negara. Sesuai amanat pembukaan UUD yang menyebutkan salah satu cita-cita pembangunan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Banyak pemikir-pemikir yang lahir pada masa itu, sebab ruang kebebasan betul-betul dibuka dan tidak mendikte. Tidak ada pula nuansa kepentingan politik sektoral tertentu untuk menjadikan pendidikan sebagai alat negara maupun kaum dominan pemerintah.
Masa Orde Baru ada perubahan kembali, pendidikan sebagai alat untuk pembangunan ekonomi & stabilitas nasional; Ejaan Bahasa yang disempurnakan; Program Wajib Belajar Sembilan Tahun; sangat terpusat; Indoktrinasi P4 yang begitu masif. Namun, orientasi sistem pendidikan dan kurikulum yang dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah pusat, meningkatkan kenihilan inovasi dan adaptasi di tingkat sekolah dan daerah, terlebih tergantung kebutuhan pasar. Selain itu, terhambatnya kemampuan berpikir kritis dan kebebasan berpendapat akibat Indoktrinasi P4 dan Program Wajib Belajar 9 tahun, yang bertujuan untuk mengatasi disparitas pendidikan di kota dan di desa ini kurang memperhatikan kualitas guru dan fasilitas sekolah.
Di Era reformasi hingga kini membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Fokusnya mulai beralih ke pemberdayaan siswa dan kurikulum yang lebih inklusif, walaupun masih mengikuti kebutuhan pasar. Pendidikan di Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk kesenjangan antar daerah, kualitas guru, dan ketidakmerataan fasilitas. Namun, terdapat juga perkembangan positif, terutama dalam pemanfaatan teknologi.
Sekilas Info Ki Hajar Dewantara
Hari Pendidikan Nasional tidak bisa lekang dari sang Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta hingga menjelang wafatnya tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta. Masih ditahun yang sama, Presiden Sukarno mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 316 Tanggal 16 Desember 1959 untuk menetapkan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei, tepat pada hari lahir Ki Hajar Dewantara. Selain itu, Keppres No. 316/1959 juga menetapkan tanggal 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Beliau bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, bangsawan Puro Pakualaman Yogyakarta yang merupakan cucu dari KGPAA Paku Alam III, ayahnya bernama GPH Soerjaningrat dan ibunya bernama Raden Ayu Sandiah, kemudian Istrinya yang setia R.A. Sutartinah. Saat genap 40 tahun usianya menurut penanggalan Jawa, ia mengurung nama bangsawannya dan menggantinya dengan nama Ki Hajar Dewantara (KHD) atau Soewardi saja, agar bisa lebih melekat dengan rakyat. KHD mulai mengenyam pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School) Kemudian Kweekschool dan lanjut di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) walaupun tidak tamat.
Bersama Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, Tiga serangkai, mendirikan Indische Partij (IP) pada 25 Desember 1912. Partai Politik pertama di Hindia Belanda untuk memperjuangkan bangsa walaupun dengan cepat bubar pada 31 Maret 1913 akibat anggapan partai radikal oleh pemerintah kolonial dengan alasan perkumpulan politik yang mengancam keamanan dan ketertiban umum dengan mengacu pada Pasal 111 Regerings Reglement. KHD adalah aktivis, sebelumnya beliau begitu aktif dalam organisasi termasuk Budi Utomo kemudian Sarekat Islam. Walaupun usianya singkat kehadiran IP membuat Pemerintah kolonial ketar-ketir yang berakibat pengasingan bagi Tiga Serangkai ditambah dampaknya melahirkan jiwa nasionalisme bangsa.
Pengasingan itu dialami ketika usianya masih 24 tahun mulanya diasingkan ke Bangka kemudian ke Belanda bersama dua rekannya, Tiga serangkai. Penyebab mereka bertiga diasingkan karena tulisan esai KHD yang saat itu masih disematkan dengan nama Soewardi yang amat keras menyindir pemerintah kolonial Hindia Belanda terkait perayaan kemerdekaan 100 tahun negara Belanda atas Prancis yang dirayakan di Hindia Belanda yang ironisnya mereka kala itu sedang menjajah bangsa-bangsa dan meminta sumbangan untuk perayaan besar-besaran tersebut. Bertajuk "Als ik een Nederlander was" (Seandainya aku seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar De Express yang dipimpin oleh Douwes Dekker pada 13 Juli 1913.
Saat diasingkan di Belanda, KHD turut aktif dalam organisasi para pelajar asal Hindia Belanda, bernama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Masa itu juga, ia merintis cita-citanya untuk memajukan pendidikan yang dikhususkan untuk kaum pribumi dengan mengenyam ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta (seperti ijazah).
Sekembalinya, demi memerdekakan dan memanusiakan manusia, mobilisasi politik juga sarasehan kaum terjajah untuk berpikir luas dan bebas; KHD mendirikan 'Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa' atau Perguruan Nasional Taman Siswa, 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Suatu bentuk kontras yang disebut Sekolah Rakyat Liar yang humanis dan populis untuk memelihara dunia dari pada sistem pendidikan kolonial yang materialistik, individualistik, intelektualistik dan diskriminatif yang tidak menyentuh semua kalangan.
Politik Etis Akhir Penjajahan Pemikiran Pribumi
Pada tanggal 17 September 1901, Ratu Belanda Wilhelmina mengumumkan bahwa Belanda akan bertanggung jawab secara moral demi kesejahteraan rakyat kolonial mereka yang berlangsung 1901 hingga 1942. Bermula atas desakan Kaum etis yang dipimpin oleh Pieter Brooshooft dan C.Th. van Deventer agar pemerintah kolonial bisa lebih memperhatikan nasib pribumi wilayah jajahan yang nantinya akan menjadi senjata makan tuan bagi eksistensi pemerintah kolonial. Ada 3 hal yang didesak dengan teorinya yakni, Trias van Deventer: Irigasi, Edukasi, dan Emigrasi.
Berfokustrasi pada proyek kedua Trias van Deventer yakni Edukasi. Adalah usaha dari penjajah kala itu untuk meningkatkan kualitas manusia di wilayah jajahan melalui pendidikan dan pastinya mengurangi angka buta huruf. Walaupun, pada masa itu hanya kaum laki-laki yang dapat menempuh pendidikan formal (ketat diskriminasi). contohnya:
1. Hollandsche Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk masyarakat pribumi (7 tahun). 2. Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk anak Eropa, timur asing, Tiongkok, dan para pembesar pribumi (7 tahun). 3. Hogere Burgerlijk School (HBS), sekolah menengah untuk siswa lulusan ELS. (5 tahun) Setara MULO + AMS. 4. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah untuk siswa lulusan HIS (3 Tahun). 5. Algemeene Middelbare School (AMS), sekolah menengah atas untuk siswa lulusan HBS dan MULO. (3 Tahun) 6. School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sekolah pendidikan dokter Jawa. STOVIA terdiri dari dua jurusan: jurusan persiapan (3 tahun) dan jurusan kedokteran (5 tahun yang kemudian menjadi 7 tahun). 7. Recht Hoge School, sekolah hukum. (5 Tahun) Pendidikan tersebut dibagi menjadi dua tahap: tahap pertama dengan ujian kandidat (candidaatsexamen) yang ditempuh dalam 2 tahun, dan tahap kedua dengan ujian doktoral (doctoraalexamen) yang ditempuh dalam 3 tahun. 8. Landbouw School, sekolah pertanian. Sekolah pertanian dasar yang menerima lulusan sekolah dasar, biasanya 3-4 tahun. 9. Middelbare Landbouw School (MLS): Sekolah menengah pertanian, menerima lulusan MULO atau HBS (3 tahun). 10. Landbouw Bedriff School: Sekolah pertanian yang menerima lulusan sekolah rakyat (5 tahun). 11. Technik Hoghe School, sekolah teknik. (4 tahun)
Dikarenakan pribumi golongan tertentu ini mulai mengenyam bangku sekolah yang memberikan penyadaran akan dunia luar, lahir suatu pencerahan, kesadaran akan Nasionalisme untuk memperjuangkan bangsa. Muncul beberapa tokoh pergerakan yang aktif menyerukan suaranya untuk kemajuan pendidikan bangsa Indonesia, seperti Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dkk. yang akhirnya mendirikan organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 dan disebut-sebut sebagai titik bangkitnya rasa kesatuan senasib sepenanggungan. Ihwal edukasi pribumi ini mengakibatkan juga lahirnya sekolah-sekolah yang dikelola langsung oleh pribumi dan menambah masif perjuangan perlawanan penjajahan. Hingga lahirlah anak zaman yang peka akan situasi dan kondisi yang tengah terjadi di wilayahnya yang terjajah oleh kolonial dan keberanian untuk memberangsek tatanan tersebut.
Ide Mulia Bapak Pendidikan Nasional bagi Pendidikan Rakyat Indonesia
KHD dengan hajat baiknya bagi dunia pendidikan pribumi memanifestasikan ide-idenya di Taman siswa, dengan ide terpenting yang perlu kita abadikan dalam pendidikan kita adalah berikut:
Tri Pusat Pendidikan: 1. Keluarga: Tempat belajar pertama dan utama, memberikan dasar-dasar, sikap, dan keterampilan dasar. 2. Sekolah: Menjadi penerus pendidikan keluarga secara formal, memberikan pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas. 3. Masyarakat: pendidikan & pengajaran non-formal. Tempat praktik dan uji coba kemampuan yang telah dipelajari, serta tempat belajar nilai-nilai sosial budaya.
Tri Karsa Pendidikan: 1. Ing Ngarsa Sung Tulada (Di Depan Memberikan Teladan): Pendidik harus memberikan contoh perilaku yang baik, sehingga peserta didik dapat meneladani. 2. Ing Madya Mangun Karsa (Di Tengah Memberikan Motivasi): Pendidik harus terus mendorong dan memotivasi peserta didik untuk maju, serta memberi ruang bagi mereka untuk berkreasi. 3. Tut Wuri Handayani (Di Belakang Memberikan Dukungan): Pendidik harus selalu mendukung dan mendorong peserta didik untuk maju, serta memberikan dorongan semangat.
Tri Karsa Pendidikan atau juga disebut sistem among yang berarti menuntun, adalah pemikirannya yang terkenal dan menjadi semboyan bagi Pendidikan Indonesia kini yang berdasar kepada asas-asas Panca Dharma Taman Siswa: Kodrat alam, Kemerdekaan, Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan. Terlebih semboyan Tut Wuri Handayani yang termuat menjadi lambang Pendidikan Indonesia, melekat di seragam-seragam sekolah, bahkan menjadi lagu. Sebagai harapan bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.
KHD selalu menekankan bahwa pendidikan harus memerdekakan siswa dengan memberi tuntunan agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada siswa agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Bahwa pendidikan efektif bukanlah hanya terfokus pada ilmu pengetahuan semata, tetapi juga memperhatikan pengembangan nilai dan moral (karakter), kemampuan sosial, dan spiritual siswa. Konsep utamanya Tri Pusat dan Tri Karsa Pendidikan sendiri perlu untuk disinergikan selalu secara komprehensif agar cakupannya holistik dan bisa mencapai sebenarnya merdeka itu.