Author : Bung Rizqi (Kijay) 20 Mei 2025
Pada diskusi tematik terarah yang rutin diselenggarakan DPK GMNI UPI, kami membahas pelbagai hal mulai dari sejarah pergerakan dan perjuangan perempuan, gagasan R. A. Kartini, dan Implementasi nilai-nilainya. Penulis selaku pemantik pada diskusi tersebut, memulai pembahasan dengan kilas balik pada awal abad 20, di mana banyak organisasi didirikan kaum perempuan seperti Poetri Mardika, Wanito Hado, Pawiyatan Wanito, dan masih banyak organisasi lainnya didirikan sebagai kesadaran untuk saling memberdayakan perempuan dan sebagai bentuk kritis dari kondisi yang ada.
PRA KEMERDEKAAN
Sejarah mencatat, perjuangan kaum perempuan dimulai ketika banyak organisasi perempuan bermunculan pada awal abad ke-20. Padahal jauh daripada itu, perempuan-perempuan pribumi telah lama berjuang dengan tangguh sebagai insan yang kuat, gigih, berani dan cerdas. Pergerakan kaum perempuan seakan dihapus dan tak diingat sebagai implikasi dari penjajahan kolonialisme.
Para kaum kolonial yang ketika itu menjajah Indonesia, menanamkan stigma bahwasanya Indonesia adalah negara yang bodoh, yang tak mampu berbuat apa-apa (dijinakkan). Propaganda tersebut diciptakan agar bangsa Indonesia tertipu dan tak pernah menjadi bangsa yang cerdas. Tetapi, perjuangan tak akan pernah mati, perempuan-perempuan pemberani akan terus lahir dan menyuarakan haknya. Perjuangan yang telah dimulai sejak dahulu kala tak akan lekang oleh gerusan kolonialisme. Darah perjuangan perempuan Indonesia tak akan terhenti walau sejarah menghapus pergerakan-pergerakan itu.
Masa-masa itu, perempuan masih dijadikan objek diskriminasi yang sangat kental dengan dibatasinya dan dikesampingkannya hak dan kewajiban serta ruang gerak bagi mereka. Organisasi-organisasi ini hadir, bergerak melalui pembuatan surat kabar yang rutin mengangkat isu perempuan serta ketimpangannya dalam hal sosial, terutama pendidikan—sebagai individu maupun kaum. Perempuan yang pada masa itu hanya dijadikan alat bekerja untuk menyelesaikan urusan dapur, melahirkan dan patuh pada suami saja menuai perlawanan dari banyak kaum perempuan. Organisasi-organisasi ini juga menolak dengan keras tindakan poligami yang hanya bertujuan untuk merendahkan dan menjatuhkan martabat kaum perempuan.
Setelah banyak kritik dan perlawanan yang muncul, akhirnya pemerintah kolonial pada 1919 membuat Algemene Middlebare School (AMS) yang memperbolehkan perempuan untuk mengenyam pendidikan. Namun disayangkan, diskriminasi juga masih terjadi sebab yang diperbolehkan bersekolah hanya perempuan-perempuan dengan keturunan ningrat saja. Hingga pada akhirnya, Taman Siswa dibuka pada tahun 1922 dengan memperbolehkan laki-laki dan perempuan mengenyam pendidikan yang sama. Dalam rentang waktu yang cukup lama (awal abad 20 hingga 1922), perempuan hanya mendapat haknya di bidang pendidikan dengan perjuangan yang tentu saja tidak kecil.
Organisasi perempuan yang tercipta di daerah akhirnya membuka jalan pergerakan yang jauh lebih besar, yakni dalam skala nasional. Berbagai organisasi daerah, tergabung dalam Indonesia Muda (IM) yang anggotanya berisikan kaum laki-laki dan perempuan, hingga pada 1928 IM melahirkan Sumpah Pemuda. Setelah semua pergerakan terhimpun di skala nasional, pada 22-25 Desember 1928, terjadilah kongres perempuan pertama Indonesia yang ke-1. Pada kongres ini, arah gerak perjuangan difokuskan untuk membahas pemikiran dan merumuskan perjuangan nasional. Dari kongres ini juga, lahirlah PPII atau Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia.
PASCA KEMERDEKAAN
Lalu pada Juli 1950, pasca kemerdekaan Indonesia, Gerwis didirikan dari gabungan sebanyak 500 aktivis perempuan dan enam (6) organisasi perempuan. Pada masa orde baru, Gerwis yang mengubah namanya menjadi Gerwani dianggap cukup radikal pada masa itu, sehingga para anggota Gerwani difitnah turut menyiksa para Jenderal di Lubang Buaya pada tragedi G30S PKI. Para Gerwani dikutuk, ditangkap, disiksa, diperkosa secara paksa, bahkan dibunuh dan dihilangkan. Hingga pada masa orde baru ini, pemerintah hanya memperbolehkan organisasi perempuan yang mengikuti para suaminya yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (Dharma Wanita).
Tahun 1965, dicatat sebagai titik balik perjuangan perempuan di Indonesia, di mana pada masa ini perempuan-perempuan khususnya yang bersekolah di perguruan tinggi mulai kembali membahas sejarah dan tujuan perjuangannya. Meski pada saat itu, perempuan yang berani melawan dianggap sebagai pelacur ataupun stigma liar lainnya, perempuan-perempuan ini tetap dengan gigih menjaga semangat perjuangan. Mereka menolak dengan keras bayang-bayang dan fitnah keji orde baru yang merugikan mereka, yang kerap memaksa mereka hanya berdiam diri dan melakukan pekerjaan domestik saja.
Lalu pasca reformasi, perempuan pada masa ini memang memiliki ataupun bisa meraih sedikitnya kebebasan dan keadilan yang telah begitu lama diperjuangkan. Namun tetap pemikiran patriarki, feodal, kolot, dan pelecehan tetap tidak seluruhnya menghilang. Dan realitas perjuangan kaum perempuan Indonesia yang sedari lampau dibangun seakan dihapus dan tidak diingat. Malah yang diingat dan diindahkan perempuan dewasa kini, hanyalah perjuangan perempuan di sisi lain dunia yang konteks keadaannya dan apa yang diperjuangkan belum tentu sama.
GAGASAN IBU KITA KARTINI & UPAYA IMPLEMENTASI
R. A. Kartini lahir pada 21 April 1879 yang di kemudian hari menjadi hari nasional. Peringatan Hari Kartini ini ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 yang ditandatangani pada tanggal 2 Mei 1964 yang didalamnya juga memuat penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Hal ini menjadi bentuk pengakuan dan representasi bahwa perempuan ikut berperan besar dalam membangun bangsa ini. Kartini yang vokal dalam memperjuangkan hak kaumnya, memiliki dampak yang besar bagi pendidikan kaum perempuan. Sehingga pada diskusi ini, DPK GMNI UPI mengerucutkan pembahasan pada pertanyaan yang kerap melekat di benak masyarakat. “Apa yang telah kita lakukan di dalam organisasi untuk mengimplementasikan pemikiran Kartini?”
Adapun upaya kami dalam menyelaraskan pemikiran Kartini agar tak menjadi hari peringatan semata, kami mendukung dan menyamaratakan kedudukan perempuan tanpa adanya pandangan patriarkis. Dalam sebuah organisasi yang sehat dan progresif, perempuan dan laki-laki berdiri berdampingan sebagai individu yang setara. Kontribusi mereka dihargai tanpa memandang jenis kelamin, melainkan berdasarkan kompetensi, keahlian, dan dedikasi. Setiap anggota organisasi, baik perempuan maupun laki-laki, memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, menyampaikan gagasan, dan mengembangkan potensi diri. Tidak ada batasan yang didasarkan pada stereotip gender, dan setiap individu didorong untuk meraih posisi kepemimpinan sesuai dengan kemampuan dan kualitas yang dimiliki.
Lalu untuk upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan, seperti yang diidam-idamkan Kartini semasa hidupnya, kami senantiasa menciptakan ruang diskusi. Ruang diskusi tercipta bukan hanya sebagai forum bertukar pendapat, namun sebagai lahan subur untuk menanam benih-benih pemikiran kritis dan inovatif. Setiap pertemuan adalah ziarah intelektual, di mana anggota saling berbagi ilmu, pengalaman, dan perspektif yang beragam. Layaknya Kartini yang mendambakan perempuan Indonesia memiliki akses terhadap pendidikan dan pengetahuan. Diskusi-diskusi yang hangat dan konstruktif membentang dari isu-isu internal organisasi hingga permasalahan sosial yang mengakar di lingkungan sekitar. Anggota didorong untuk tidak hanya menjadi pendengar yang baik, tetapi juga pemikir yang aktif dan kontributor ide yang berani.
Seiring dengan bertumbuh dan bertambahnya kecerdasan kolektif di dalam organisasi, muncul pula kesadaran yang mendalam akan tanggung jawab terhadap lingkungan. Semangat Kartini yang memperjuangkan emansipasi dan kemajuan bangsa, kini bertransformasi menjadi dorongan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Hingga besar harapan kami, dengan mencerdaskan anggota internal DPK GMNI UPI, akan berdampak besar kedepannya dengan pergerakan dan perjuangan. Kami setuju bahwa perjuangan bukan hanya terjadi di jalanan saja, tetapi terjadi juga di dalam ruang diskusi dan ruang akademis lainnya.
Tercatat ataupun tidak, kaum perempuan sedari dahulu sudah membersamai dan ikut andil dalam sejarah perjuangan, hal itu membuktikan bahwa kaum perempuan adalah kaum yang kuat, gigih dan berani. Sebagai seorang yang melahirkan peradaban, sudah sepatutnya kita sebagai kaum perempuan menjaga semangat-semangat yang sudah ada sejak dahulu, semangat perjuangan! Maka dari itu, kaum perempuan harus cerdas, kaum perempuan haruslah selalu berani!