Author : Bung Rizqi Kajayaan 28 Februari 2026
BANDUNG – Gelombang protes mahasiswa kembali menyeruak di Kota Bandung. Tergabung dalam aliansi Sarekat Mahasiswa UPI Peduli Demokrasi, puluhan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gate 1 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Dr. Setiabudi, pada Sabtu (28/2/2026).
Aliansi yang terdiri dari tiga elemen organisasi mahasiswa besar di kampus tersebut, yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) UPI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon FPIPS UPI, dan Front Mahasiswa Nasional (FMN) UPI, turun ke jalan membawa satu pesan tegas: menuntut keadilan atas tindakan represif aparat kepolisian.
Solidaritas untuk Arianto Tawakal
Aksi ini dipicu oleh tragedi kemanusiaan yang terjadi pada 19 Februari 2026, di mana seorang remaja berusia 14 tahun asal Maluku, Arianto Tawakal, tewas. Arianto diduga kuat kehilangan nyawanya akibat kekerasan fisik yang dilakukan oleh oknum personel kepolisian.
Kematian Arianto yang masih di bawah umur ini memantik amarah mahasiswa. Bagi massa aksi, peristiwa ini bukan sekadar insiden kelalaian, melainkan bukti nyata dari brutalitas aparat yang kian tak terkendali.
Dalam orasi dan rilis resminya, Sarekat Mahasiswa UPI Peduli Demokrasi menyatakan bahwa kasus ini telah menelanjangi wajah institusi kepolisian.
"Peristiwa ini membuka topeng asli kesewenang-wenangan kekuasaan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), khususnya Korps Brimob, yang bertindak anti-rakyat dan anti-demokrasi," tegas perwakilan massa aksi dalam pernyataan tertulisnya.
Mahasiswa menilai fungsi Polri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat telah luntur, berganti menjadi instrumen kekuasaan yang menindas.
"Polri tidak berdiri di sisi rakyat, melainkan menjadi pelindung kekerasan negara terhadap mereka yang tertindas," tambah mereka.
Menuntut Pengusutan Tuntas Rangkaian Kasus
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menegaskan bahwa kematian Arianto Tawakal bukanlah kasus tunggal, melainkan puncak gunung es dari rentetan kekerasan yang dilakukan negara. Massa aksi turut mengangkat kembali ingatan publik terhadap korban-korban represivitas sebelumnya, termasuk nama-nama seperti Gamma dan Affan Kurniawan yang juga menjadi korban dalam konflik dengan aparat.
Selain menuntut keadilan bagi para korban yang telah meninggal dunia, aliansi mahasiswa ini juga menyuarakan desakan politik yang kuat terkait penegakan demokrasi. Mereka menuntut agar ratusan tahanan yang ditangkap pasca-aksi massa pada Agustus 2025 segera dibebaskan tanpa syarat.
Aksi di Gate 1 UPI ini berjalan dengan penjagaan, di mana mahasiswa berharap seruan mereka didengar oleh para pemangku kebijakan untuk segera melakukan reformasi total di tubuh kepolisian dan menghentikan impunitas terhadap pelaku pelanggaran HAM.