“Setiap Halaman adalah Dunia Baru! Pilih bukumu, mulai petualanganmu, dan rasakan serunya membaca!”
“Setiap Halaman adalah Dunia Baru! Pilih bukumu, mulai petualanganmu, dan rasakan serunya membaca!”
“Om, kami mau bertanya tentang nano. Apa sih nano itu? Kami menemukan tulisan itu di bungkus pembersih lantai dan sabun pencuci baju,” tanya Rani.
“Ok, Om jelaskan ya. Nano itu Adalah… Lanjut membaca...
Yang selama ini kita khawatirkan telah menjadi kenyataan. Raja tidak pernah lagi keluar istana dan tidak mengetahui nasib kita. Semoga ini segera berakhir. Penduduk negeri kelaparan dan semakin menderita. Banyak penduduk negeri yang tidak tahan berpindah ke kerajaan lain, bahkan menyeberang ke luar pulau mencari pulau harapan baru. Lanjut membaca...
Matahari perlahan mulai terbenam. Rakian Sukat masih melayani serangan demi serangan yang dilancarkan oleh sepasang naga. Beberapa bagian tubuhnya mulai terlihat mengeluarkan darah karena tergores sisik naga yang menyerang dengan membabibuta. Lanjut membaca...
Puisi “Aku” menjadi buah bibir dan kontroversi di masyarakat. Puisi “Aku” ditolak terbit di koran resmi Jepang Asia Raya, namun dimuat di Panji Pustaka dengan berganti judul “Semangat”. Selanjutnya ada yang tahu apa yang melatarbelakangi lahirnya puisi “Aku”? Lanjut membaca...
“Ayah, dua hari yang lalu kami melihat seorang pemuda yang sangat tampan di pantai. Ayah harus menemukan pemuda tersebut. Tampaknya dia bukan penduduk sini”. “Baiklah, akan Ayah usahakan menemukan pemuda tersebut”.
“Ada apa ini? Mengapa kalian menahanku?”. “Kamu sudah cukup menyusahkan kami. Perawakanmu yang tampan membuat kami harus mencarimu dengan membuat pesta yang merugikan penduduk sini.”
Lanjut membaca...
Gedung ini sudah lama berdiri, sejak zaman penjajahan Belanda dulu tahun 1700-an. Dulu gedung ini merupakan Balai Kota Batavia. Tahu ‘kan? Dulu Jakarta namanya Batavia. Ayo, kita ke halaman belakang dulu. Aku mau memperlihatkan sesuatu. Dulu beberapa pahlawan terkenal pernah dipenjara di sini, seperti Untung Surapati, Cut Nyak Dien, dan Pangeran Diponegoro. Penjara ini tidak besar. Hanya ada lima ruangan. Namun, dulu banyak sekali tahanan yang dimuat di sini sehingga berdesak-desakan. Lanjut membaca...