Pada tahun 1912 di Desa Leuweunggajah bagian selatan (sekarang kawasan tersebut masuk wilayah Pemerintahan Desa Jatiseengkidul blok kliwon) berdirilah sebuah pabrik gula milik seorang keturunan Tionghoa yang dikenal si NONA (bukan nama yang sebenarnya).
Areal perkebunan tebunya meliputi Desa Jatiseeng, Leuweunggajah pabuaran, Cilengkrang, Pasaleman, dan Cigobang. Angkutan tebunya menggunakan gerobak yang ditarik dengan kerbau, untuk mengangkut tebu dari Cilengkrang, Pasaleman dan Cigobang hanya dilakukan pada musim kemarau karena harus turun melaui sungai Cisanggarung yang airnya agak kering, lokasinya ada di jalan perepatasan Cilengkrang dengan Cilengkranggirang (sekarang) naik ke Desa Jatiseengkidul blok bada’i langsung masuk ke pabrik untuk pengangkutan tebu maka di areal perkebunan itu dibuatlah jalan-jalan, lama kelamaan cara angkutan gerobak berubah menjadi angkutan lori tetapi masih ditarik dengan kerbau.
Untuk memperlancar angkutan, dilokasi yang sama dibuatlah jembatan darurat dengan pohon-pohon kelapa sebagai tiang-tiang penyangganya, kira-kira tahun 1924 pabrik gula milik SI NONA kolap bersamaan pabrik gula yang ada di desa tersana kecamatan pabedilan ( sekarang ) pada tahun itu pula di babakan dibangun pabrik gula yang lebih modern dengan nama pabrik gula tersana baru milik Pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1925 pabrik gula tersana baru membangun jembatan Cilengkrang yang kokoh dengan beton permanen, walaupun jembatan itu dapat dilalui roda empat namun sempit karena mengutamakan angkutan tebu dengan lori yang ditarik dengan lokomotif.
Jalan-jalan yang ada dipertinggi dan diperkeras tanah yang di gunakan untuk jalan-jalan tersebut adalah tanah milik Negara. Karena jawatan kehutanan membutuhkan jalan untuk angkutan kayu maka dibuatlah jalan dari Cilengkrang blok Dawolong sampai leuwi asem di hutan jati.
Pada tahun 1942 sebelum datang jepang jembatan Cilengkrang di bom oleh pemerintah Hindia Belanda.
Pada jaman Pemerintahan RI jembatan diperbaiki bersama-sama antara pabrik gula dengan jawatan kehutanan, karena kontruksinya kurang kuat sering mengalami kerusakan. Pada jaman Pemerintahan aksi polisi, Koramil belanda tahun 1948 pabrik gula kersana kolap.
Kegiatan penggilingannya dipindahkan kepabrik gula Tersana Baru di Babakan untuk angkutan tebu dari wilayah pabrik gula kersana menggunakan kereta lori membutuhkan jalan maka mulailah dari Cilengkrang blok Dawolong dibuatlah jalan lori sampai ke kersana jawa tengah melalui kampung Cihoe desa Ciledug Wetan. Karena jembatan Cilengkrang masih darurat maka pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Cirebon membangun jembatan Cilengkrang yang kokoh dan permanen. Pembangunan jembatan Cilengkrang yang permanen dan kokoh belum diimbangi dengan pembangunan jalan-jalan ekonomi untuk angkutan tebu rakyat padahal Kecamatan Pasaleman penghasil tebu terbesar di Kabupaten Cirebon.
Seluruh jalan-jalan angkutan tebu hancur, jembatan-jembatannya sudah putus semua, sejalan dengan kebutuhan jalan ekonomi maka pemerintah desa Cilengkrang mengajukan usulan agar dibuatkan jalan poros desa dari Cilengkrang sampai jembatan Cihoe jalan tersebut merupakan jalan utama untuk pengangkutan tebu rakyat dari Blok Darmaga, Dawolong, Kopo, Buara, Cihoe, Ande, Paneureusan dan dari Desa Tanjung Anom.