Desa Porame berdiri pada tahun 1920, pada saat itu masih dalam masa penjajahan Belanda sehingga kehidupan masyarakat masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, didalam mempertahankan kehidupan masyarakat berjuang untuk mengusir penjajah dengan perlengkapan senjata bambu runcing, parang, guma, tombak dan sumpit. Dalam kehidupan sehari-hari mereka bercocok tanam sepert bertani, berkebun dan berburu hingga mendiami satu tempat, dimana tempat ini berada dilereng pegunungan serta dianggap strategis untuk menyusun sebuah rencana melawan penjajah.
Suatu saat dilaksanakanlah musyawarah yang di hadiri beberapa Tadulako, dalam musyawarah tersebut membicarakan strategi untuk melawan para penjajah, musyawarah ini kemudian memperkuat tali silaturahmi serta kekompakan antar Tadulako sehingga mereka berjuang bersama melawan para penjajah belanda dan menumpas para penghianat Bangsa.
Dalam pertempuran, mereka berhasil mengalahkan para penjajah serta merayakan dengan kemenangan yang disebut PORAME dalam acara tersebut para Tadulako melakukan Ritual mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan para Leluhur, Karena dianggap telah membantu di dalam medan perang dan mereka semua berpesta serta menyantap berbagai suguhan dari warga masyarakat.
Dari sejarah tersebut disimpulkan PORAME berasal dari kata PO dan RAME yang mana artinya sebagai berikut:
PO artinya persatuan orang-orang atau Tadulako dalam melaksanakan musyawarah untuk mencapai mufakat serta melakukan kegiatan yang sifatnya perang, ritual, povunja dan ritual pobalia yang dilakukan secara bersama-sama.
RAME artinya pesta atau kegiatan ritual adat yang ramai dipusatkan disebuah tempat pemukiman penduduk untuk merayakan sebuah kemenangan dalam perjuangan secara bersama-sama.
Jadi menurut penjelasan diatas PORAME adalah sebuah kesepakatan untuk merencanakan, menimbang dan memutuskan sebuah keputusan mufakat dalam bentuk perjuangan maupun pelaksanaan acara ritual adat secara bersama sama oleh para punggava Tadulako dan masyarakat lainnya.