Desa Pagersari merupakan salah satu desa yang berlokasi di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Desa Pagersari juga merupakan desa yang berbatasan dengan Kabupaten Blitar, tepatnya Desa Krisik Kecamatan Gandusari Blitar
Terlepas dari letak geografis Desa Pagersari juga memiliki sejarah panjang. Mulanya Kata Pagersari diambil dari kata Pager yang berarti Benteng dan Sari yang berarti sari atau inti kehidupan masyarakat/panguripan. Secara harafiah Pagersari memiliki arti Sebuah benteng diri yang membatasi diri secara lahir dan batin masyarakat dari sifat keangkamurkaan
Menurut cerita setempat, babat alas (Bedah krawang) Desa Pagersari dilakukan oleh salah seorang keturunan kerajaan Dinasti Erlangga pada masa peradaban Hindu-Budha yaitu, KI EYANG SUKMA DIKORO. Kemudian dilanjutkan memimpin Desa oleh Mbah Wonokerto (Keturunan Ketujuh). Sebelum bernama Pagersari, pada masanya Desa ini bernama Desa Magersaren yang dalam arti penghidupan pada masa itu masyarakat ketergantungan dengan hasil dari hutan belantara. Seiringnya waktu bertambahnya masyarakat dan meluasnya perkampungan maka terjadi pergantian nama menjadi Pagersari.
Desa Pagersari mempunyai beberapa pecahan pedukuhan yaitu:
Dusun Pagersari Krajan
Tempat yang ditempati atau petilasan dari seorang pembabat/pembedah krawang desa tersebut atau sering juga dinamakan SENTONO. dan saat sekarang dengan sebutan Dusun Pagersari Krajan sebagai pusat penataan atau pemerintahan pada saat ini.
Dusun Sumbersari
Pembedah Krawang (babat Dusun) adalah seorang ulama yang pada masanya disebut Mbah Putih (Mbah Idris bin Samsudin) yang menurut cerita setempat masih merupakan keturunan Mataram. Mbah Putih memberi nama Sumbersari karena didaerah tersebut banyak ditemukan sumber mata air.
Dusun Claket
Pembedah krawang (babat Dusun) dusun Claket bernama Eyang Putri (Mbah Carik), melihat masyarakat yang suka bergotong royong dan sifat kekompakan tersebut Eyang Putri memberi nama Dusun Claket karena didaerah tersebut banyak terdapat "Pohon Claket" . Pohon ini memiliki buah yang ketika matang dan dimakan sedikit lengket. Serta kondisi tanah kebanyakan berunsur lempung (lumpur cekat).
Dusun Gombong
Pembedah kerawang (babat Dusun) dusun Gombong bernama Tumenggung Aryo Den Panjinoto dan Nyai Paerah. Penamaan Gombong dikaitkan dengan masyarakat di daerah tersebut banyak yang mencari "Air Nira Pohon Aren" (Kung Deres atau Deres Aren). Serta disana banyak terdapat Watu gombong (batu Apung), dan jalan menuju ke kampung tersebut agak jauh dari pusat keramaian itu yang dinamakan Nyonggo Embong dan juga bisa diartikan nama dusun tersebut dengan nama Dusun Gombong.
PARA PETINGGI DESA
Kademangan (Demang) (+- pada tahun 1821)
......................
Mbah Astro Krono (+- pada tahun 1892)
Mbah Krono Astro (Adik Astro Krono) (+- pada tahun 1923)
Mbah Arjo (+- tahun 1953)
Da'i (Tahun 1965)
Mbah Sastro Utomo (Tahun 1970-1990 )
Irianto (Tahun 1990 s/d 1998)
Sumaji Harianto (Tahun 1998-2012)
Jamari (Tahun 2012-2018)
H. Bambang Santoso, S.H ( Tahun 2019 s/d Sekarang)
(KASIH BAGAN PETINGGI)
PESAREHAN DESA PAGERSARI
Pesarehan Cungkup (Bukit Pandawa)
Pesarehan Sentono Krajan
Pesarehan Mbah Putih
Pesarehan Bu Carik
Pesarehan Mbah Turyo Den Panjinoto
Hari sakral Desa
Hari Rabu Paing : Sebagai ucapan rasa syukur masyarakat keseluruhan se Desa Pagersari atau disebut acara bersih Desa dan Sedekah Bumi.
(Kentongan 16-08-1925) kepemimpinan kronoastro