Dawet ireng sudah ada sejak lama dan berkembang di masyarakat pedesaan Purworejo. Awalnya, minuman ini dibuat secara sederhana oleh warga sebagai sajian segar di siang hari. Seiring waktu, popularitasnya meningkat dan kini menjadi ikon kuliner daerah. Nama “ireng” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “hitam”, merujuk pada warna cendolnya yang khas.Yang membedakan dawet ireng dengan dawet pada umumnya adalah warna hitam pada cendolnya. Warna ini dihasilkan dari abu jerami padi (merang) yang dicampurkan ke dalam adonan. Meskipun terdengar tidak biasa, bahan ini aman dan justru memberikan aroma serta cita rasa yang khas.