JERUK NIPIS
(Citrus Aurantifolia)
(Citrus Aurantifolia)
Tanaman jeruk nipis.
Sumber : dokumen pribadi
Oleh Devi Eka Yunita Sari
Kingdom: Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rutales
Famili : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus Aurantifolia
Lokal : Jeruk Nipis
Tanaman jeruk nipis.
Sumber : dokumen pribadi
Asal mula jeruk nipis dari daerah India dan Myanmar. Saat ini, jeruk nipis tumbuh dan tersebar di daerah tropis dan subtropis (Ramadhianto, 2017). Jeruk nipis merupakan tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia karena memiliki sifat yang multiguna sehingga jeruk nipis banyak dimanfaatkan dan ditanam oleh masyarakat (Khotimah dkk., 2023). Di Indonesia, jeruk nipis dikenal dengan berbagai nama yang berbeda di setiap daerah seperti Kelangsa di Pulau Sumatera, jeruk pecel dan jeruk nipis di Pulau Jawa, lemau epi di Kalimantan, lemo ape di Pulau Sulawesi, lemo kapassa di Bugis, dan lain sebagainya (Yuliana, 2021).
Jeruk nipis dapat diklasifikasikan sebagai tumbuhan perdu yang memiliki dahan dan ranting, serta mampu tumbuh tinggi sampai 150-350 cm. Jeruk nipis akan mulai berbuah ketika umurnya sudah mencapai 2,5 tahun. Buah yang dihasilkan dari tumbuhan jeruk nipis dapat dipanen 20-30 hari sekali. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Kartini, Krisnawan, & Jayani (2018) bahwa petani di Desa Tinggar bisa memanen buah jeruk nipis 20-30 hari sekali dengan perolehan 4-10 kg di setiap pohonnya.
Buah jeruk nipis dapat dikonsumsi secara langsung misalnya dengan dijadikan jus maupun selai. Air hasil perasan jeruk nipis juga dapat dimanfaatkan sebagai perasa makanan (Kartini & Nikmatul, 2018). Selain daging buahnya, kulit dan biji jeruk nipis juga dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi berbagai produk dengan harga jual yang cukup tinggi misalnya, sabun, pectin, gula tetes, aroma pada kue, dsb. (Adlini & Hafizah, 2020).
Tanaman jeruk nipis memiliki perakaran tunggang dengan akar lembaga yang tumbuh menjadi akar pokok dan berkembang melalui percabangannya menjadi akar-akar kecil (serabut akar). Pada ujung akar terdapat sel apikal yang terdiri atas sel-sel muda yang akan terus membelah. Ujung akar tanaman jeruk nipis dilindungi oleh tudung akar dengan bagian luar berlendir sehingga memudahkan ujung akar dalam menembus tanah (Yuliana, 2021).
Batang tanaman Jeruk Nipis.
Sumber: dokumen pribadi
Tumbuhan jeruk nipis memiliki batang berkayu yang ulet dan keras dengan kulit luanya berwarna cokelat tua. Batang jeruk nipis berbentuk bulat, percabangannya bersifat monopodial (batang utama terlihat jelas dan lebih panjang), dan terdapat duri pendek yang kaku dan tajam. Mata tunas yang terdapat pada batang jeruk nipis dikelilingi oleh bakal daun dan di bagian atasnya terdapat bakal cabang. Sel-sel tunas yang semakin jauh dari pucuk batang akan tumbuh membesar (Adlini & Hafizah, 2020). Batang jeruk nipis memiliki arah tumbuh mengangguk (nutans) dengan batang yang tumbuh ke atas, tetapi ujung batang membengkok kembali ke bawah (Yuliana, 2021).
Daun tanaman Jeruk Nipis.
Sumber: dokumen pribadi
Tumbuhan jeruk nipis memiliki daun majemuk dengan bentuk elips dan pangkal membulat. Daun jeruk nipis memiliki ujung tumpul dan tepi daun yang beringgit, serta helai daun yang tebal dan kasar. Daun jeruk nipis mampu tumbuh memanjang hingga 5-15 cm dan lebar 2-8 cm dengan tulang daun menyirip dan berwarna hijau (Adelina, Enny, & Hasriyanty, 2017).
Daun jeruk nipis memiliki petioles, tetapi tidak berkembang dengan baik sehingga lekukan daun tidak terlalu terlihat. Kutikula pada daun jeruk nipis juga kurang berkembang dengan baik sehingga warna dari daun tidak mengkilap. Tipe stomata pada daun jeruk nipis yaitu anomositik (sel penjaga dikelilingi sejumlah sel tertentu yang tidak memiliki perbedaan bentuk dan ukuran dengan sel epidermis).
Lapisan epidermis pada daun jeruk nipis tersusun atas selapis sel pada epidermis atas (adaxial) dan epidermis bawah (abaxial). Sedangkan, stomata hanya terdapat pada lapisan epidermis bawah (abaxial). Stomata merupakan celah yang terdapat pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup berisi kloroplas dengan bentuk dan fungsi yang berbeda (Tuasamu, 2018).
Bunga tanaman Jeruk Nipis.
Sumber: dokumen pribadi
Bunga pada tanaman jeruk nipis memiliki diameter 2,5 cm dengan mahkota berwarna putih kuning dan warna ungu di pinggir bunga (Ramadhianto, 2017). Jumlah kelopak bunganya 4-5 yang tersusun menyatu (kelompok) ataupun terlepas (tunggal). Mahkota bunga berjumlah 4-5 dan berdaun lepas. Bunga jeruk nipis memiliki benang sari 4-5 atau 8-10 dengan 2 ruang kepala sari. Pada bagian dasar bunga terdapat tonjolan beringgit atau berlekuk. Bunga tanaman jeruk nipis termasuk bunga beraturan dan berkelamin 2 dengan bentuk paying, tandan, atau mulai. Bunga tanaman jeruk nipis tumbuh dari ketiak-ketiak daun dan ujung-ujung ranting muda (Yuliana, 2021).
Buah tanaman Jeruk Nipis.
Sumber: dokumen pribadi
Tanaman jeruk nipis memiliki buah berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi kunig ketika tua. Buah jeruk nipis biasanya memiliki diameter 3,5-5 cm dan biji yang terletak di dalamnya berwarna putih dengan bentuk bulat telur dan pipih (Kartini & Nikmatilah, 2018). Buah jeruk nipis berbentuk spheroid dengan bentuk basalnya yaitu truncate. Apex buah jeruk nipis berbentuk rounded. Permukaan kulit buah jeruk nipis halus dan tipis dengan warna daging buah hijau muda. Buah jeruk nipis memiliki rasa asam dan menyegarkan, serta mengeluarkan aroma khas yang menyengat (Adlini & Hafizah, 2020).
Permukaan buah jeruk nipis yang berwarna hijau disebut epicarp atau flavedo yang berfungsi melapisi daging buah dan melindunginya dari kerusakan. Pada lapisan epicarp ini, terdapat kelenjar minyak essensial yang mengeluarkan aroma khas jeruk nipis. Lapisan kedua pada buah jeruk nipis disebut mesocarp atau albedo yang berwarna putih, bertekstur spons dan tebal. Jadi, kulit buah jeruk nipis tersusun atas epicarp dan mesocarp yang mengandung senyawa flovanoid seperti naringin, hesperidin, naringenin, hesperitin, rutin, nobiletin, dan targeretin (Yuliana, 2021).
Buah jeruk nipis dapat diklasifikasikan sebagai buah hesperidium karena kulit buahnya tebal dan daging buahnya mengandung banyak air. Permukaan buah jeruk nipis memiliki banyak kelenjar dan terkadang terdapat papila atas. Rasa asam pada buah jeruk nipis disebabkan karena kandungan asam sitrat sebanyak 7-8 % dari berat daging buahnya (Utami, Dewi, & Trimin, 2023).
Tanaman jeruk nipis memiliki sifat multiguna sehingga hampir seluruh bagian tumbuhannya dapat dimanfaatkan, mulai dari daun, buah, bahkan kulit buahnya sebagai obat herbal yang digunakan oleh masyarakat. Pada pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari, daun dan air perasan jeruk nipis dimanfaatkan untuk menambah cita rasa pada makanan, mengawetkan makanan, dan obat untuk mengatasi batuk berdahak, demam, melancarkan pencernaan, serta membantu mengatasi ketombe. Selain itu, kandungan flovanoid minyak atsiri pada daun, buah, dan kulit jeruk nipis dapat dimanfaatkan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri (antibakteri) dan antioksidan (Khotimah, dkk., 2023). Buah jeruk nipis juga dapat dijadikan infused water karena mengandung vitamin C dan antioksidan yang bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh (Ivakdalam & Zasendy, 2019).
Kulit jeruk nipis yang diolah dengan cara destilasi akan menghasilkan minyak esensial dan dapat digunakan dalam pembuatan perasa makanan, parfum, sabun, kosmetik, dan farmasi. Di negara Nigeria, pencampuran air jeruk nipis dan madu dimanfaatkan untuk mengatasi batuk, sedangkan di Malaya, air perasan jeruk nipis digunakan untuk peningkatan stamina, perwmajaan kulit, mengatasi nyeri sendi (athralgia), diabetes, dan aterosklerosis (plak kolestrol di dinding arteri). Air jeruk nipis juga dapat digunakan untuk menyembuhkan radang tenggorokan dengan cara diencerkan terlebih dahulu (Kartini & Nikmatul, 2018). Pada makanan, buah jeruk nipis dimanfaatkan untuk menambah cita rasa, menghilangkan bau amis, dan membuat minuman segar (Adlini & Hafizah, 2020).
Bagian-bagian tumbuhan jeruk nipis juga dapat dimanfaatkan seperti akarnya dapat dimanfaatkan untuk menurunkan demam, mengatasi disentri, diare, empedu, dan obat kolik; kulit buahnya dimanfaatkan sebagai antibakteri, antioksidan, penurun panas, anti depresan, disinfektan, antiseptik, antivirus, restiratif, dan anti rematik; daunnya dimanfaatkan untuk anti feedant serangga, antibakteri, dan larvasida; sedangkan, buah jeruk nipis dimanfaatkan untuk mengatasi sembelit, batuk, hipertensi, diabetes, anemia, bisul, penyakit kuning, dan sebagainya (Ramadhianto, 2017).
Asal mula jeruk nipis dari daerah India dan Myanmar. Tetapi, saat ini jeruk nipis dapat tumbuh dan tersebar di daerah tropis dan subtropis. Di Indonesia, tumbuhan jeruk nipis dapat hidup pada ketinggian 1-1000 m dpl (Ramadhianto, 2017).
Adelina, S. O., Enny A., & Hasriyanty. (2017). Identifikasi Morfologi dan Anatomi Jeruk Lokal (Citrus sp.) di Desa Doda dan Desa Lempe Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso. e-J Agrotekbis, 5(1), 58–65.
Adlini M. N. & Hafizah K. U. (2020). Karakteristik Tanaman Jeruk (Citrus sp.) di Kecamatan Nibung Hangus Kabupaten Batu Bara Sumatera Utara. KLOROFIL, 4(1).
Gambar akar jeruk nipis. Diperoleh dari https://images.app.goo.gl/ABFS7T66wv5S5dLc9 diakses pada 16 Oktober 2023 pukul 17:58 WIB.
Ivakdalam, L. M. & Zasendy R. (2019). Pengaruh Rendaman Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) terhadap Kandungan Vitamin C dan pH Minuman Infused Water. Jurnal Agribisnis Perikanan, 12(2), 344–349.
Kartini, Alfian H. K. & Nikmatul I. E. J. (2018). Peningkatan Produktivitas Petani dalam Pengolahan Jeruk Nipis menjadi Produk Minuman Kesehatan dan Sabun. Jurnal ABDIMAS, 11(1), 19–26.
Khotimah, D. F., dkk. (2023). Citra Powder: Inovasi Etnomedisin Jeruk Nipis sebagai Obat Herbal Pereda Batuk Masyarakat Desa karanglo Kidul. Jurnal Tadris IPA Indonesia, 3(1), 83–92.
Ramadhianto, Aldino. (2017). Uji Bioaktivitas Crude Buah Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) terhdaap Bakteri Eschericia coli secara In Vitro. Skripsi. Universitas Medan Area.
Tuasamu, Yati. (2018). Karakterisasi Morfologi Daun dan Anatomi Stomata pada beberapa Spesies Tanaman Jeruk (Citrus sp.). Jurnal Agribisnis Perikanan, 11(2), 85–90.
Utami D. N. Dewi R., & Trimin K. (2023). Karakteristik Morfologi Jenis-jenis Tanaman Obat di Kelurahan Prabujaya Kecamatan Prabumulih Timur Kota Prabumulih. Jurnal Indobiosains, 5(2), 56–65.
Yuliana, E. R. (2021). Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Lulur Tradisional dari Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) dan Ampas Kopi (Coffea sp.). Tugas Akhir. Politeknik Harapan Bersama.
Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Jalan Pramuka No. 156, Ronowijayan, Siman, Tonatan, Kec. Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63474, Indonesia. (0352) 481277
Email : ipa@iainponorogo.ac.id