Sleman, 4 September 2025 – Kelompok KKN Bumi Katon pada Kamis (4/9) menyelenggarakan workshop pembuatan jamu tradisional di Dusun Susukan 1, Margokaton, Sleman. Kegiatan ini menjadi salah satu program kerja individu Helena Nuryatul Hafifah yang menghadirkan founder Agradaya, Asri Saraswati Iskandar, sebagai narasumber utama.
Acara ini bernama Katon Herba : Workshop Jamu Tradisional. Workshop ini diikuti puluhan ibu-ibu PKK Susukan 1 dengan penuh antusias. Tujuannya sederhana namun bermakna: memberikan keterampilan dasar pembuatan jamu kepada warga agar selaras dengan pengembangan potensi Desa Wisata Margokaton.
Antusias Ibu-Ibu mengikuti Katon Herba
Acara diawali dengan sambutan Ketua PKK Dusun Susukan 1, Ibu Salamah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa keinginan membuat jamu sebenarnya sudah lama ada di kalangan ibu-ibu, tetapi edukasi yang merata masih terbatas.
Selanjutnya, Helena Nuryatul Hafifah selaku ketua pelaksana memaparkan latar belakang kegiatan. Ia menjelaskan bahwa Margokaton, khususnya kawasan Soesoehan Heritage, sedang dalam pendampingan menuju desa wisata oleh dinas terkait. Dari hasil diskusi dengan pemuda setempat, dibutuhkan program yang bisa melibatkan ibu-ibu PKK secara langsung.
“Ibu-ibu, sejalan dengan desa wisata di sini nantinya harapannya bisa bikin jamu. Jadi kalau ada tamu yang berkunjung, bisa disuguhkan jamu buatan sendiri atau bahkan diberi pengalaman belajar membuat jamu,” ujar Helena dalam sambutannya.
Memasuki sesi inti, narasumber Asri Saraswati Iskandar membawakan materi dengan gaya yang akrab dan cair, layaknya perbincangan sehari-hari. Ia membuka cerita dengan menyinggung lokasi tempat tinggalnya di Planden yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Dusun Susukan 1.
Asri kemudian berbagi kisah perjalanan Agradaya, sebuah komunitas yang ia dirikan untuk memberdayakan petani lokal melalui pengelolaan herba dan rempah-rempah. Kini, produk Agradaya telah menembus pasar internasional. Hal ini membuat peserta kagum sekaligus termotivasi, terlebih ketika Asri menjelaskan bahwa tanaman liar di sekitar rumah pun sebenarnya bisa bernilai ekonomi tinggi bila diolah dengan benar.
Setelah sesi cerita dan tanya jawab, kegiatan berlanjut pada praktik pembuatan jamu kunir asem. Ibu-ibu dibagi ke dalam dua kelompok dan dipandu langsung oleh Asri. Peralatan serta bahan sudah disiapkan sebelumnya, mulai dari kunyit segar, gula jawa, hingga asam jawa.
Dalam praktik ini, Asri memberikan sejumlah tips penting. Ia mencontohkan bagaimana cara membedakan gula jawa asli dengan yang sudah dicampur, serta mengajarkan teknik memilih kunyit yang berkualitas. “Kalau ingin lebih berkhasiat, kulit kunyit tidak usah dikupas. Cukup disikat bersih karena kulitnya juga mengandung banyak manfaat,” terangnya.
Suasana semakin hangat ketika ibu-ibu bergantian mencoba mencampur bahan, menakar komposisi, hingga mencicipi hasil jamu yang telah dibuat. Canda tawa mewarnai proses belajar, namun keseriusan tetap terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber.
Hanya dalam waktu 30 menit, jamu kunir asem pun siap disajikan. Peserta tampak antusias mencicipi hasil karya mereka. Banyak di antara ibu-ibu yang mengaku baru mengetahui cara sederhana namun tepat dalam membuat jamu sehari-hari.
Acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada narasumber serta foto bersama seluruh peserta. Helena berharap keterampilan ini bisa menjadi langkah awal bagi ibu-ibu PKK Susukan 1 untuk berkontribusi dalam desa wisata.
“Kami ingin ibu-ibu tidak hanya sebagai penonton dalam program desa wisata, tetapi juga sebagai pelaku aktif. Jamu ini bisa menjadi suguhan khas sekaligus pengalaman unik bagi wisatawan,” pungkasnya.