Anyang merupakan kuliner Melayu yang memiliki rasa yang khas. Kuliner anyang menjadikan pakis dan toge sebagai bahan utama dalam pengolahannya. Kuliner anyang sangat dekat dengan masyarakat Melayu. Masyarakat Melayu masih memasak dan mengkonsumsi kuliner anyang tersebut pada hidangan sehari-hari maupun acara-acara tertentu seperti acara perkawinan. Selain itu, kuliner anyang juga kerap disandingkan dengan bubur podas yang dipercaya masyarakat sebagai kuliner pembangkit selera ketika hendak mengawali puasa pada bulan suci Ramadan. Kekhasan kuliner anyang ini terletak pada rasa dan aroma yang dihasilkan dari buah kelapa dan ketumbar yang digongseng, serta keharuman bumbu-bumbu lain seperti serai dan jahe sebagai pelengkap kekhasan kuliner ini.
Buah Melako merupakan kuliner masyarakat Melayu yang memiliki rasa dan bentuk yang khas. Panganan ini dikenal juga dengan istilah “klepon”. Masyarakat Melayu masih memasak dan mengkonsumsi kuliner ini khususnya pada saat Hari Raya Idul Fitri dan acara-acara lain seperti upah-upah maupun hidangan pada acara adat lainnya. Penganan ini memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh gula merah yang memberikan kenikmatan ketika digigit, ditambah dengan rasa khas dari kelapa parut.
Bubur podas berasal dari dua kata yaitu bubur ‘bubur’ dan podas ‘pedas’. Bubur podas merupakan kuliner kebesaran masyarakat Melayu yang disajikan pada waktu menjelang puasa Ramadan. Bubur podas terbuat dari boras, kelapo, udang, kontang, garam, merica, daun pre, daun sop, bawang goreng dan bumbu lainnya.
Gulai ladang atau yang akrab disapa gulai lomak merupakan kuliner masyarakat Melayu yang berbahan dasar kelapo ‘kelapa’ yang menghasilkan santan yang lemak sehingga menjadikan kuliner ini sebagai kuliner dengan cita rasa yang khas. Berbeda dengan gulai pada umumnya, gulai ini tidak dimasak dengan minyak atau tidak ditumiskan. Masyarakat Melayu masih memasak dan mengkonsumsi kuliner ini pada acara-acara syukuran maupun masakan rumah sehari-hari.
Halwa botek merupakan manisan dari buah pepaya (Carica Papaya). Halwa botek sendiri berasal dari kata halwa yang berarti ‘manisan’ dan botek yaitu ‘pepaya’. Sesuai maknanya, halwa botek ini memiliki rasa yang sangat manis. Masyarakat Melayu masih membuat dan mengkonsumsi kuliner ini terkhusus pada upacara adat perkawinan maupun pada Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat Melayu mempercayai bahwa rasa manis yang terdapat pada kuliner halwa botik ini akan membawa kemanisan pada kehidupan masyarakat yang menyajikan dan mengkonsumsi kuliner ini.