Menurut UU No 16 Tahun 2006 Penyuluhan pertanian, perikanan, kehutanan yang selanjutnya disebut penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup
Gambaran keadaan secara umum, BPP Kecamatan Bringin meliputi 10 (Sepuluh) Desa, yang terbagi atas 52 kelompoktani. Sedangkan Luas tanah keseluruhan 6261,74 ha, yang tediri atas : Luas tanah sawah 1348,79 Terbagi sawah tehnis 679,95 ha, sawah 1⁄2 tehnis 75,08 ha, Sawah Tadah Hujan 593,76 ha. Luas Lahan kering 4912,96 Ha meliputi Tegak/kebun 796,58 Ha Pekarangan 588,65 Ha Lain-lain 478,34 Ha Hutan Negara 3049,41 Ha Waduk 386,00.
Pemanfaatan lahan sangat menentukan jenis komoditas pertanian yang dikembangkan di Wilayah BPP Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi. Pemanfaatan lahan di Wilayah BPP Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi dibedakan antara lain Lahan Persawahan, Lahan Kering dan Lahan Lainnya.
Luas lahan di Wilayah BPP Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi tahun 2020, seluruhya seluas 6647,75 ha dengan komposisi lahan sawah seluas 1348,79 ha. (20,29 % ) , lahan kering 4912,96 (73.90%), lahan lainnya seluas 478,34 (7,19%), Waduk 386,00 (5,84 %)
Pemanfatan lahan pertanian di Wilayah BPP Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi tahun 2020 meliputi lahan sawah dan lahan kering. Lahan sawah terdiri dari sawah irigasi teknis seluas 679,95 Ha (50%), sawah irigasi 1/2 teknis 75,08 Ha (6%), sawah irigasi sederhana 0 Ha (0%), dan sawah tadah hujan seluas 593,76Ha (44%). Dapat dilihat pada Grafik berikut.
Luas lahan kering di Wilayah BPP Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi seluas 4912,96 terdiri dari lahan pekarangan seluas 588,65 Ha (11,98%), Tegal/Kebun seluas 796,58 Ha (16,21%), kolam Hutan Negara seluas 3049,40 Ha (62,06%), dan lain-lain 478,34 Ha (9,73%). Selain lahan sawah dan lahan kering di Wilayah BPP Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi seluas juga terdapat Waduk seluas 386,00 Ha.
Kelembagaan penyuluhan merupakan jaringan pelayanan yang mampu mendukung interaksi antara petani / pelaku utama dengan penyuluh. Adapun data Kelembagaan Penyuluhan dan Kelembagaan Petani s/d Desember 2022. Terlihat bahwa jumlah kelembagaan kelompok tani yang ada di Wilayah BPP Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi antara lain Gapoktan ada 10, Poktan ada 52 dan LMDH ada 8.
Kelompok tani sebagai pelaku pembangunan pertanian terbentuk berdasarkan keakraban dan keserasian serta kebersamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumberdaya Pertanian bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Di Wilayah BPP Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi, jumlah kelompok tani pada tahun 2022 sebanyak 52 kelompok tani yang terdiri atas : Kelas Utama sebanyak 0 kelompok; Kelas Madya sebanyak 11 kelompok; Kelas Lanjut sebanyak 35 kelompok dan Kelas Pemula sebanyak 6 kelompok.
Luas areal panen dan produksi komoditi tanaman pangan (Padi,
Jagung dan Kedelai) tahun 2022 sebagai berikut :
Luas areal panen dan produksi komoditas Perkebunan tahun 2022, dapat dilihat pada Grafik berikut. Sedangkan luas panen dan produksi komoditas tanaman Perkebuanan ( Tembakau dan Tebu) selama tahun 2022. Tanaman tebu bukan tanaman historis untuk Kecamatan Bringin tetapi hanya pengembangan saja. Dan kebanyatan tanaman tebu hanya di tanam di lahan bengkok. Kalau tanaman tembakau hanya ditanam di musim kemarau. Namun sejak waduk pondok pondok dan waduk sangiran berfungsi, tanaman tembakau mulai tergeser oleh tanaman padi..
Luas areal panen dan produksi komoditas Hortikultura tahun 2022, dapat dilihat pada Grafik berikut. Dari grafik tersebut dapat diketahui luas panen dan produksi komoditas tanaman Hortukultura selama tahun 2022. Di Wilayah BPP Bringin Kabupaten Ngawi meskipun bukan merupakan sentra hortikultura tetapi cukup berpotensi untuk dikembangkan komoditi hortikultura, mengingat potenSI luas wilayah dan produksi yang dihasilkan cukup tinggi.
Pada grafik tersebut dapat dilihat potensi usahatani bidang peternakan di peternakan di Wilayah BPP Bringin Kabupaten Ngawi tahun 2022, dilihat dari cukup tingginya jumlah ternak yang ada di Wilayah BPP Bringin Kabupaten Ngawi tidak terlepas dari potensi wilayah yang mampu menyediakan pakan yang cukup untuk ternak tersebut sehingga dapat dijadikan sebagai ushatani alternative untuk menambah pendapatan petani.
Tingkat penerapan teknologi Ketahanan Pangan dan KRPL dari beberapa komoditi pertanian yang diusahakan para petani di Wilayah Kerja BPP Bringin pada Tahun 2022 adalah sebagai berikut. Grafik tersebut dapat dilihat bahwa penerapan teknologi Ketahanan Pangan dan KRPL dari empat kategori penanganan Keamanan Pangan merupakan rata-rata pesentase terendah yaitu Penyimpanan 30% dan hal tersebut disebabkan masih rendahnya Pengetahuan Pelaku utama untuk melakukan keamanan pangan. Diversifikasi Pangan dan Gizi masih rendah belum optimal karena sebagian besar Pengetahuan Pelaku utama masih rendah.
Padi, Palawija, Hortikultura dan Perkebunan tingkat penerapan teknologi. budidaya padi, palawija, dan hortikultura yang dilaksanakan oleh para petani di Wilayah BPP Bringin, diatas dapat diketahui tingkat penerapan teknologi anjuran pada budidaya tanaman pangan strategis di Wilayah BPP Bringin pada tahun 2022, yang terdiri 5 komponen. Penerapan tenologi anjuran perbaikan cara bercocoktanam merupakan tingkat penerapan teknologi paling rendah yaitu 20% dan Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu 30%.
Dengan tingkat penerapan teknologi yang masih rendah maka perlu dilakukan pembinaan dan bimbingan lebih intensif agar teknologi anjuran dapat dilaksanakan lebih baik lagi. diatas dapat diketahui tingkat penerapan teknologi anjuran pada komoditi polowijo dan hortikultura yang meliputi 5 komponen teknologi. Dari Empat komoditi utama di Wilayah BPP Bringin, Tahun 2022 yaitu Jagung, Kedelai, Bawang merahdan Melon. Dari 5 komponen teknologi anjuran, penerapan cara bercocok tanam, pengairan, benih unggul dan penggunaan pupuk secara rasional merupakan penerapan teknologi terendah yaitu masing-masing 30% sehingga perlu bimbingan dan pembinaan yang lebih intensif untuk meningkatkan penerapan teknologi anjuran tersebut. dapat diketahui tingkat penerapan teknologi anjuran pada komoditi hortikultura yang meliputi 5 komponen teknologi.
Dari dua komoditi utama di Wilayah BPP Bringin, Tahun 2022 yaitu Tembakau dan Tebu. Dari 5 komponen teknologi anjuran, penerapan PHT dan pengairan merupakan penerapan teknologi terendah yaitu masing-masing 35% dan 30%, sehingga perlu bimbingan dan pembinaan yang lebih intensif untuk meningkatkan penerapan teknologi anjuran tersebut.
Tingkat penerapan teknologi budidaya ternak yang telah dilaksanakan oleh para petani di Wilayah BPP Bringinpada tahun 2022 adalah sebagai berikut :
Grafik tersebut menunjukkan tingkat penerapan teknologi anjuran pada budidaya perternakan di Wilayah BPP Bringinpada tahun 2022 yang meliputi teknologi bibit /benih ternak, Pakan, Kandang, Pemeliharaan dan kesehatan hewan. Dari 5 komponen teknologi anjuran teknologi pemeliharaan kesehatan ternak, pemberian pakan yang berkualitas dan pambuatan kandangyang baik masih rendah, yaitu masing-masing berturut-turut 10%, 35% dan 30%. sehingga perlu bimbingan dan pembinaan yang lebih intensif untuk meningkatkan penerapan teknologi anjuran tersebut.