Arabica Java Preanger
Sejarah Kopi Garut tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya kopi ke Indonesia, khususnya ke daerah Priangan. Awalnya, tanaman kopi dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda untuk dibudidayakan di Batavia sekitar tahun 1696. Namun upaya tersebut gagal. Upaya budidaya kopi berikutnya dilakukan di tanah priangan pada awal 1700-an. Baru pada upaya ini kopi yang ditanam memberi hasil yang memuaskan. Satu abad berikutnya adalah masa pemerintah kolonial menjadikan daerah Priangan sebagai penghasil kopi terbesar dan terbaik di dunia. Ketika konsumsi kopi di dunia meningkat, pemerintah kolonial terus meningkatkan penanaman pohon kopi di Priangan, termasuk di Garut. Pada awal abad 19, tanah Pasundan menjadi produsen kopi yang menghasilkan separuh dari total produksi kopi di dunia. Gambar di bawah menunjukkan para pemetik kopi di Garut sekitar tahun 1900an Sayangnya, industri kopi ini terasa sangat pahit bagi penduduk pribumi. Pemerintah kolonial menerapkan sistem kerja paksa kopi, yang terkenal dengan sebutan Preanger Stelsel. Dalam sistem ini pemerintah melarang para petani untuk menanam tanaman lain selain kopi. Selain itu, pemerintah terus menaikkan setoran wajib. Pada saat bersamaan, pemerintah kolonial juga melarang penduduk mengambil biji kopi. Setiap harinya patroli keamanan dikerahkan untuk memeriksa rumah-rumah penduduk; mencari biji-biji kopi yang disembunyikan. Sejarah Kopi Garut di era modern tidak terlepas dari peran program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) yang digalakan oleh Perum Perhutani KPH Garut. Digulirkan tahun 2002, Perhutani berupaya untuk mewujudkan warga sejahtera yang berbasiskan konservasi. Perhutani ingin mengajak masyarakat sekitar hutan, agar bisa menikmati azas manfaat dari hutan, melalui bagi hasil dari produk ekonomi yang dihasilkannya, tanpa merusak maupun merambah ekologi sekitarnya. Tanaman kopi bisa ditanam di dalam area hutan-hutan Perhutani, dan masyarakat diharapkan berhenti merambah hutan untuk dijadikan kebun sementara. Hal ini disambut baik oleh masyarakat, serta Pemerintah Daerah Garut sendiri. Kini, industri kopi Garut sudah menggeliat. Pihak-pihak swasta telah melirik kopi Garut sebagai industri yang menarik dan menjanjikan. Hal ini bisa dilihat dari terus meningkatnya luasan kopi Garut serta berat kopi yang dihasilkan. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Garut bidang Perkebunan Pembangunan Kopi Rakyat yang ditanam pada Tanah Milik Para Petani sampai dengan Tahun 2016 telah mencapai 4.189,07 Ha terdiri dari Kopi Arabika seluas 3.315,59 Ha dan Jenis Robusta seluas 873,48 Ha. Sedangkan Jumlah Produksi Kopi Arabika dan Robusta sebesar 2.281.961 Kg/Tahun bentuk Berasan, dan Produktivitas sebesar 916 Kg/Ha Berasan. Tidak hanya di hulu, industri hilir pun mulai berkembang. Banyak kedai-kedai kopi di Garut bermunculan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, para pengolah kopi pun kini mulai berkembang dengan munculnya banyak usaha roastery (penyangrai) dan seiring bertambahnya kemampuan petani untuk mengolah kopi pasca panen. Sejarah Kopi Garut yang panjang, serta perkembangannya yang sangat pesat kini membuat Kopi Garut akan selalu memperkaya khazanah kopi Indonesia di masa yang akan datang.
Pohon Kopi
Kopi arabika kadar kafeinnya lebih rendah dibandingkan kopi robusta, harga kopi arabika lebih mahal dibandingkan kopi robusta, kopi bubuk yang umum dijual di pasar rakyat biasanya kopi robusta karena harga lebih ekonomis.
Kopi tidak selamanya hitam dan pahit, kopi arabika yang diseduh dengan V60 menghasilkan karakter rasa yang lembut dan menyerupai warna teh, bahkan untuk biji kopi sendiri dari tingkat penyangraian biji kopi tidak selamanya hitam, bisa cokelat pada medium roast ataupun cokela pudar pada light roast.
Kopi arabika dikenal dengan karakter rasa yang kompleks, dari mulai after taste yang seperti buah-buahan hingga seperti rempah, karamel dan lainnya. Sebabnya kopi arabika juga banyak diminati karena rasanya yang beragam tergantung single origin-nya.
Kopi arabika sebelum tersaji menjadi secangkir kopi banyak tahapannya, dari mulai penanaman, perawatan dan pengolahan buah ceri kopi, penyangraian biji kopi green bean, hingga diseduh menggunakan perhitungan teliti, sehingga fokus untuk optimalkan rasa seduhannya.
Petik Merah
Kulit ceri: adalah lapisan terluar dari buah ceri kopi. Kulit ceri berwarna hijau saat kopi belum matang dan berubah menjadi merah saat buah sudah matang. Bahkan ada yang berwarna kuning, tergantung dari varietas kopinya. Permukaan dari kulit ceri ini biasanya tebal. Hal ini berguna untuk melindungi biji kopi dari serangan hama serangga.
Lapisan Lendir: Lapisan ini adalah lapisan yang melekat di bagian dalam kulit ceri. Lapisan ini biasanya berfungsi untuk membantu proses fermentasi pada buah ceri yang sedang berkembang sebelum matang. Lapisan ini mempunyai rasa yang manis dan teksturnya mirip seperti buah anggur.
Lapisan Perkamen : adalah lapisan yang berfungsi untuk melindungi biji kopi secara menyeluruh. Biasanya lapisan ini hilang saat proses pengelupasan dan pemisahan biji dan kulitnya.
Lapisan perak (silverskin): adalah lapisan paling tipis dan paling dekat letaknya dengan biji kopi. Lapisan ini akan mengelupas sewaktu proses roasting biji kopi. Karena lapisan ini tidak tahan terhadap suhu tinggi.
Biji hijau: adalah bagian inti dari buah ceri. Biasanya di dalam satu buah ceri terdapat dua biji hijau, tapi ada juga yang hanya terdapat satu biji hijau. Biji hijau inilah yang di roasting kemudian digiling dan diseduh.
Proses Pulper Menjadi Gabah
Langkah pertama pada metode giling basah adalah pengupasan daging buah ceri kopi dengan menggunakan mesin. Setelah dikupas, biji kopi direndam di dalam air selama 1-2 jam agar bersih. Setelah selesai direndam, biji kopi diangkat lalu dijemur. Pada tahap ini, biji kopi harus sering dibalik agar tingkat kekeringannya merata. Di Sumatera, proses penjemuran tahap pertama memakan waktu sekitar 2-3 hari hingga kulit parchment terbuka. Saat kulit parchment terbuka, biji kopi akan mengering lebih cepat jika dibandingkan dengan proses basah (washed).
Proses selanjutnya adalah pengupasan kulit parchment. Serupa dengan proses basah, pengupasan ini dilakukan dengan menggunakan huller. Setelah selesai, biji kopi akan menjalani proses penjemuran yang kedua. Penjemuran ini dilakukan hingga kadar air di dalam kopi mencapai 10-12%. Angka tersebut adalah angka panduan standar yang digunakan di seluruh industri kopi, untuk menghindari kopi menjadi busuk atau rusak karena terlalu kering. Pada metode basah, aroma tanah akan memberikan rasa bitter, namun pada metode semi-washed sedikit berbeda. Aroma tanah ini menghasilkan aroma spicy serta profil yang kuat.
Proses Huller Menjadi Berasan
Kemas biji kopi dengan karung yang bersih dan jauhkan dari bau-bauan. Untuk penyimpanan yang lama, tumpuk karung-karung tersebut diatas sebuah palet kayu setebal 10 cm. Berikan jarak antara tumpukan karung dengan dinding gudang.
Kelembaban gudang sebaiknya dikontrol pada kisaran kelembaban (RH) 70%. Penggudangan bertujuan untuk menyimpan biji sebelum didistribusikan kepada pembeli.
Biji kopi yang disimpan harus terhindar dari serangan hama dan penyakit. Jamur merupakan salah satu pemicu utama menurunnya kualitas kopi terlebih untuk daerah tropis.
Proses Roasting
Roasting Coffee merupakan memasak kopi, pada dasarnya roasting adalah proses mengeluarkan air dalam kopi, mengeringkan dan mengembangkan bijinya, mengurangi beratnya memberikan aroma pada kopi tersebut. Ketika kopi dimasak ada suatu reaksi kimia yang menyertai sehingga karakter biji kopi pun berubah. Lebih lama biji kopi itu dimasak, semakin banyak pula bahan kimia yang berubah karakteristiknya. Ketika kopi di-roasting, kopi berubah menjadi berwarna coklat. Oleh karena itu, apabila biji kopi berwarna lebih gelap berarti di-roasting lebih lama. Namun bagaimanapun, me-roasting biji kopi bukanlah suatu hal yang sederhana, sesederhana memasukkannya ke alat pemanggang dan kemudian me-roastingnya. Biji kopi sesungguhnya akan menghasilkan kopi yang berbeda apabila di-roasting dalam suhu yang berbeda meskipun hasil akhirnya berwarna sama, karena teknik me-roasting kopi merupakan suatu seni.
Proses Grinder (Kopi Bubuk)
Untuk membuat kopi tubruk yang nikmat, panaskan air hingga mendidih lebih dahulu. Lalu, biarkan sekitar 2 menit. Dengan demikian, suhu air akan turun menjadi 90 derajat celsius. Saat itu, baru air menjadi pas untuk membuat secangkir kopi. Agar kopinya lebih pas, maka siapkan sekitar 13-14 gram kopi atau sekitar 2 sendok makan untuk membuat satu cangkir kopi dengan ukuran air 200 ml. Setelah dibuat, biarkan selama 4 menit, baru dihidangkan. Nah, kopi tubruk yang mantap sudah siap untuk disruput. Kenapa harus kopi tubruk yang Anda buat dan nikmati? Jawabannya, karena kopi tubruk akan menampilkan karakter kopi yang sesungguhnya.