Di sebuah desa kuno di Tiongkok, terdapat sebuah kuil tua yang dikenal sebagai Kuil Xianlong.
Kuil ini didedikasikan untuk menghormati para leluhur dan dewa-dewa pelindung desa.
Di dalam kuil tersebut, terdapat sebuah pintu merah besar yang dihiasi dengan ukiran naga emas.
Menurut legenda, pintu merah itu adalah gerbang antara dunia manusia dan dunia roh.
Setiap tahun, pada malam Festival Hantu, penduduk desa mengadakan upacara besar di kuil tersebut untuk menghormati leluhur mereka dan mengusir roh-roh jahat.
Mereka percaya bahwa pada malam itu, pintu merah akan terbuka dan roh-roh dari dunia lain akan berkeliaran di dunia manusia.
Oleh karena itu, mereka menyalakan lentera-lentera dan membakar dupa untuk menenangkan roh-roh tersebut.
Pada malam Festival Hantu, saat penduduk desa sibuk dengan upacara di halaman kuil, Xiao Mei diam-diam menyelinap masuk ke dalam kuil.
Di dalam kuil, suasana terasa sangat hening dan mistis.
Tiba-tiba, ia merasakan angin dingin berhembus dan pintu merah itu mulai terbuka perlahan.
Xiao Mei mundur beberapa langkah, terkejut melihat bayangan-bayangan aneh muncul dari balik pintu.
Dari kegelapan di balik pintu, muncul seorang wanita tua dengan wajah pucat dan mata yang kosong.
Xiao Mei merasa ketakutan, tetapi ia tidak bisa bergerak.
Wanita tua itu melangkah mendekatinya, dan dalam suara berbisik yang mengerikan, ia berkata, "Anak muda, mengapa kau mengganggu kami?"
Xiao Mei mencoba menjawab, tetapi suaranya tersangkut di tenggorokannya.
Wanita tua itu melanjutkan, "Pintu merah ini adalah gerbang suci, mereka yang tidak menghormati akan mendapatkan kutukan."
Tiba-tiba, wanita tua itu menghilang dan Xiao Mei merasakan sesuatu yang berat menekan bahunya.
Dengan susah payah, Xiao Mei berhasil melarikan diri dari kuil dan kembali ke rumahnya.
Dalam mimpinya, ia selalu berada di depan pintu merah, dan bayangan wanita tua itu selalu muncul dengan tatapan penuh dendam.
Semakin hari, Xiao Mei semakin merasa bahwa mimpinya bukan hanya sekedar mimpi.
Ia mulai melihat bayangan wanita tua itu di sudut-sudut rumahnya, dan suara berbisik yang mengerikan selalu mengganggunya di malam hari.
Keluarganya yang khawatir, membawa Xiao Mei ke seorang tabib dan pendeta desa untuk meminta bantuan.
Pendeta desa, seorang pria bijaksana bernama Tuan Li, mendengarkan cerita Xiao Mei dengan seksama.
Tuan Li berkata, "Kau telah melanggar aturan suci dengan membuka pintu merah itu"
"Kita harus mengadakan upacara pemurnian untuk menenangkan roh-roh yang terganggu"
Pada malam berikutnya, Tuan Li dan penduduk desa mengadakan upacara pemurnian di Kuil Xianlong.
Baca selengkapnya...
SLOT GACOR
PLAYSLOTS88
PLAYSLOT88