a. Pengertian Nafsu Syahwat
Secara istilah, nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Syahwat secara lughawi artinya menyukai atau menyenangi. Yaitu kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya. Kecintaan itu sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allah ’azza wa Jalla dengan tujuan untuk mendapatkan yang lezat–lezat. Adapun secara istilah syari’at, nafsu syahwat adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at. Maka hakikat syahwat (keinginan) nafsu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai dengan tabi’atnya (watak) dan menjauhi sesuatu yang tidak disukai dan dicintai. Akan tetapi, sebenarnya keberadaan syahwat pada manusia itu tidak tercela, karena terdapat faedah dan manfaat didalamnya. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat. Misalnya, menuruti nafsu syahwat dengan melakukan kemaksiatan mulai dari menonton film porno, berpacaran dan akhirnya sampai pada perizinaan.
Dorongan nafsu syahwat mengarah kepada tiga hal besar, yaitu :
1) Syahwat dan kesenangan terhadap harta benda,
sehingga melahirkan kerakusan, perampokan, pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik, seperti pembunuhan dan penganiayaan.
2) Syahwat dari kesenangan terhadap seks, sehingga
melahirkan kejahatan dan kekejian berupa perzinaan, pemerkosaan dan penyimpangan seksualitas lainnya, bahkan hanya karena seks terjadi pembunuhan dan penganiayaan fisik.
3) Syahwat dan kesenangan terhadap jabatan dan kedudukan, sehingga melahirkan para pejabat dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator. Akhirnya menindas siapa saja yang akan menghalang-halangi.
b. Bahaya Menuruti Nafsu Syahwat
Salah satu sifat dari nafsu syahwat adalah “tidak pernah terpuaskan”, disaat kita menuruti satu keinginannya, nafsu itu akan menuntut hal lain dan akan terus begitu hingga tak ada habisnya. Mempunyai satu gunung emas pun masih tak cukup ia masih ingin yang lebih. Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allah Swt. dan Rasul-Nya. Dia akan selalu menjadikan hawa nafsu menjadi tolak ukurnya, dia dibuat buta dan tuli oleh hawa nafsunya. Orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa terkendali akan mengakibatkan bahaya besar sebagai berikut.
1) Merusak potensi diri seseorang. Nabi Saw. mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan membawa kehancuran.
2) Mendatangkan kesusahan dan kesempitan
3) Mengakibatkan rusaknya lingkungan alam karena nafsu mengeksploitasi alam yang berlebih-lebihan.
4) Melahirkan kerakusan, perampokan, pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik, seperti pembunuhan dan penganiayaan. Sebagai dampak menuruti syahwat harta.
5) Lahirnya para pejabat dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator.
6) Dampak menuruti syahwat kesenangan terhadap kelezatan makanan, akan menimbulkan berbagai macam penyakit tubuh.
7) Nafsu akan mendorong manusia untuk berbuat jahat, melampiaskan syahwat dan menentang ajaran agama. Apabila pelampiasan nafsu syahwat sex pada remaja akan menimbulkan dampak yang lebih berbahaya diantaranya adalah putus sekolah, uramnya masa depan, perceraian, melahirkan anak terlantar, dan tumbuhnya generasi yang memerosotkan harkat dan martabat negara.
b. Cara Menundukkan Nafsu Syahwat
Walaupun memenuhi kebutuhan hidup yang disukainya itu diperbolehkan, namun bukan berarti seorang mukmin dibolehkan selalu menuruti hawa nafsunya bahkan dia harus mengendalikannya. Termasuk menahan syahwat perut, yang kemudian timbul syahwat kemaluan dan rakus harta benda. Maka wajib bagi kita berusaha untuk menundukkan nafsu itu demi keselamatan dan kesejahteraan dunia akhirat dengan jalan sebagai berikut.
1) Meningkatkan taqwa kepada Allah dengan menerapi diri dengan rasa takut kepada Allah Swt.
2) Dengan Mujaahadah
Mujaahadah berasal dari kata al-jihad yaitu berusaha dengan segala kesungguhan, kekuatan dan kesanggupan pada jalan yang diyakini benar. Mujaahadah artinya berusaha untuk melawan dan menundukkan kehendak hawa nafsu. Rasulullah bersabda seorang mujahid yaitu seorang yang berjihad, yaitu dia yang melawan hawa nafsunya karena Allah.
”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al- Ankabut [29]: 69)
Dengan kata lain, seorang yang bermujahadah rela meninggalkan apa yang disukainya demi memburu sesuatu yang diyakininya benar, baik dan betul. Imam al-Ghazaly berkata: ”Antara tanda kecintaan hamba kepada Allah ialah mengutamakan perkara yang disukai Allah dari pada kehendak nafsu serta pribadinya.” Mujaahadah melawan nafsu dengan cara menempuh tiga langkah seperti berikut :
1) Takhalli, mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela.
2) Tahalli, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji
3) Tajalli, tersingkapnya tabir yang menghalangi antara manusia dan Allah, rasa dilihat dan diawasi oleh Tuhan, kerinduan hanya tertuju pada Tuhan. Ketiga peringkat ini hendaklah dilakukan dengan melaksanakan latihan-latihan rohaniah yang dinamakan riyadah al nafs yakni latihan untuk melawan atau menentang atau memerangi semua kehendak-kehendak nafsu yang jahat. Latihan menundukkan hawa nafsu ini perlu dilaksanakan sedikit demi sedikit tetapi istiqamah, selain itu hendaklah bermujahadah dalam beramal. Perjuangan untuk melawan hawa nafsu tidaklah mudah. Imam al- Ghazali dalam Raudatu al-taalibin berkata ”berhati-hatilah kamu dengan hawa nafsu. Ia adalah musuh kita yang paling ketat dan yang paling sukar untuk dikalahkan.”
4) Dengan jalan riyadah
Riyadah adalah latihan kerohanian dengan menjalankan ibadah dan menundukkan keinginan nafsu syahwat. Riyadah ini dapat ditempuh dengan dua cara yaitu riyadah badan yaitu dengan mengurangi makan, minum, tidur dan mengurangi berkata-kata. Yang kedua riyadah rohani yaitu dengan memperbanyak ibadah, berzikir, bertafakkur, memperhatikan kejadian alam dan susunannya, serta memperhatikan segala keadaan masyarakat yang penuh kejahilan akibat menuruti hawa nafsu.
c. Hikmah Menundukkan Nafsu Syahwat
Nafsu syahwat pada diri manusia itu tidak boleh dihilangkan, tetapi penting untuk ditundukkan dan diarahkan sehingga akan memperoleh manfaat kebaikannya sebagai berikut.
1) Menjadi motivasi untuk berbuat baik, beribadah dan meraih kesuksesan
2) Hidup lebih terarah dan terkontrol. Selamat dan bahagia dunia akhirat
3) Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar
4) Disukai banyak orang