Padi adalah komoditas yang paling banyak dibudidayakan di wilayah Kabupaten Sragen. Padi tergolong salah satu dari 8 komoditas unggulan nasional. Kabupaten Sragen merupakan salah satu penyangga pangan nasional. Dari beberapa komoditas tanaman pangan utama, padi sawah merupakan komoditas yang menyumbang nilai luas panen dan produksi terbesar. Sragen adalah wilayah di eks Karesidenan Surakarta yang merupakan daerah penghasil padi terbesar, bahkan Sragen pernah mengalami surplus rata-rata 205 ribu ton beras pertahun. Dengan produktivitas tersebut,Sragen juga dikenal sebagai salah satu Lumbung Padi Jawa Tengah. Sragen kabupaten agraris yang potensi pertaniannya sangat luar biasa (Dinas Pertanian dan Pertahanan Pangan Kabupaten Sragen, 2020).
Pada lahan basah (sawah irigasi), curah hujan tidak menjadi faktor pembatas tanaman padi, tetapi pada lahan kering tanaman padi membutuhkan curah hujan yang optimum >1.600 mm/tahun. Padi memerlukan bulan basah yang berurutan minimal 4 bulan. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm dan tersebar secara normal atau setiap minggu ada turun hujan sehingga tidak menyebabkan tanaman stress karena kekeringan. Suhu yang optimum untuk pertumbuhan tanaman padi berkisar antara 24-29°C. Padi biasa ditanam pada lahan kering dataran rendah, sedangkan pada areal yang lebih terjal dapat ditanami di antara tanaman keras. Tanaman padi dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah. Reaksi tanah (pH) optimum berkisar antara 5,5-7,5 (Pujiharti dkk., 2008).
Produksi padi di Kabupaten Sragen meniingkat setiap tahunnya dari tahun 2018 hingga 2021. Produksi padi tertinggi adalah di Kecamatan Sidoharjo dengan produksi mencapai 64.457 ton pada tahun 2021.
Referensi:
Dinas Pertanian dan Pertahanan Pangan Kabupaten Sragen, 2020. Profil Pertanian dan Pangan 2020. Sragen: Dinas Pertanian dan Pertahanan Pangan Kabupaten Sragen.
Pujiharti, Y., Barus, J., & Wijayanto, B. (2008). Teknologi Budidaya Padi. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.