Penanggungjawab
Tri Suraning Wulandari , S.Kep., Ns., M.Kep.
Penanggungjawab
Tri Suraning Wulandari , S.Kep., Ns., M.Kep.
Laboratorium Keperawatan Dasar merupakan sarana pembelajaran praktik yang disediakan untuk menunjang proses pendidikan mahasiswa keperawatan, khususnya dalam penguasaan keterampilan dasar keperawatan sebelum memasuki praktik klinik di lapangan. Laboratorium ini berfungsi sebagai tempat bagi mahasiswa untuk mempelajari, memahami, dan melatih prosedur keperawatan secara bertahap, sistematis, aman, dan terstandar melalui kegiatan demonstrasi, simulasi, dan praktik langsung.
Laboratorium Keperawatan Dasar dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyerupai situasi pelayanan kesehatan nyata, sehingga mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap profesional, serta kemampuan berpikir kritis dalam memberikan asuhan keperawatan. Di laboratorium ini, mahasiswa dibimbing untuk menguasai berbagai kompetensi dasar, seperti hand hygiene, penggunaan alat pelindung diri, pemeriksaan tanda-tanda vital, pemenuhan kebutuhan dasar pasien, teknik mobilisasi, komunikasi terapeutik, prinsip patient safety, pencegahan infeksi, dan tindakan dasar lainnya.
Sebagai unit penunjang akademik, Laboratorium Keperawatan Dasar juga memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, terutama pada aspek pengetahuan, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan sikap profesional. Melalui pembelajaran laboratorium, mahasiswa tidak hanya belajar melakukan tindakan dengan benar, tetapi juga dibentuk untuk memiliki ketelitian, disiplin, tanggung jawab, etika, serta kepedulian terhadap keselamatan pasien dan keselamatan kerja.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Dasar dilaksanakan melalui metode demonstrasi oleh dosen, praktik mandiri maupun berkelompok, pembimbingan keterampilan, serta evaluasi melalui observasi dan ujian praktik seperti skillab dan OSCE. Seluruh kegiatan laboratorium didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran, seperti bed pasien, manekin, alat pemeriksaan dasar, alat tindakan sederhana, bahan habis pakai, serta media pembelajaran lainnya yang relevan.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Dasar menjadi bagian yang sangat penting dalam proses pendidikan keperawatan karena berperan sebagai wahana pembentukan kompetensi awal mahasiswa agar siap mengikuti pembelajaran klinik secara lebih optimal, aman, dan profesional.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI
Mampu menghitung pernapasan
Mampu memposisikan pasien fowler dan semi fowler dan mengedukasi pengaturan posisi
Mampu mengumpulkan sputum untuk pemeriksaan
Mampu memberikan oksigen nasal kanul
Mampu melatih dan mengedukasi latihan nafas dalam
Mampu melatih dan mengedukasi teknik batuk efektif
PEMENUHAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Mampu mengukur tekanan darah
Mampu menghitung nadi
Mampu melakukan pemantauan intake dan output cairan
Mampu melakukan pemantauan kadar elektrolit
Mampu melakukan pemberian minuman
Mampu melakukan pemberikan minum per oral
Mampu mengumpulkan urin untuk pemeriksaan
Mampu melakukan pemasangan kondom kateter
Mampu menghitung keseimbangan cairan
Mampu merawat infus
Mampu mengganti cairan infus
Mampu melepas infus
Mampu memonitor tetesan infus
PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI
Mampu mengukur berat badan, tinggi badan, lingkar lengan dan lingkar paha
Mampu menghitung IMT
Mampu memberikan makan per oral
Mampu memberikan latihan menelan
Mampu melakukan promosi berat badan
Mampu melakukan pemantauan berat badan
PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI URINE
Mampu melakukan pemasangan diapers/popok
Mampu mengedukasi pengenalan tanda berkemih: Bladder
Mampu melakukan pemantauan pola eliminasi urin
Mampu memfasilitasi berkemih yang teratur
Mampu melakukan pemantauan tingkat distensi kandung kemih
Mampu membantu pasien eliminasi BAK diatas tempat tidur
Mampu melakukan edukasi dan prosedur perawatan kateter
PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI FEKAL
Mampu membantu pasien eliminasi BAB diatas tempat tidur
Mampu memfasilitasi makanan tinggi serat
Mampu melakukan pemantauan bising usus
Mampu melakukan pemantauan pola eliminasi fekal
PEMENUHAN KEBUTUHAN AKTIVITAS
Mampu menerima pasien baru
Mampu memindahkan pasien dari TT ke TT, dari TT ke brankard, dari TT ke kursi roda, mengangkat pasien sendiri/bersama
Mampu memposisikan pasien litotomi, dorsal recumbent, sim (miring kanan/kiri), trendelenburg, supinasi, dll)
Mampu embantu ambulasi/berjalan tanpa alat bantu dan dengan alat bantu jalan (kruk, walker, tripot)
Mampu memberikan tirah baring
Mampu melakukan dukungan mobilisasi fisik
Mampu melakukan edukasi aktivitas fisik (olahraga)
Mampu melakukan edukasi ambulasi
Mampu melakukan pemantauan toleransi aktivitas
Mampu melakukan pemantauan kelelahan fisik dan emosional
PEMENUHAN KEBUTUHAN PERAWATAN DIRI DAN BERHIAS
Mampu melakukan dukungan perawatan diri: BAB/BAK
Mampu melakukan dukungan perawatan diri: berpakaian
Mampu melakukan dukungan perawatan diri: makan/minum
Mampu melakukan dukungan perawatan diri: mandi
Mampu melakukan perawatan kaki, kuku mulut dan integritas kulit
Mampu melakukan edukasi perawan diri
Mampu melakukan edukasi perawatan gigi palsu, kaki, dan mulut
Mampu melakukan promosi kebersihan diri
PEMENUHAN KEBUTUHAN KESEIMBANGAN SUHU TUBUH
Mampu mengukur suhu tubuh: oral, axila, rectal dan penggunaan thermogun
Mampu memberikan kompres hangat dan dingin
PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR
Mampu memfasilitasi berdoa/ritual menjelang tidur
Mampu meningkatkan ligkungan kondusifÂ
Mampu memfasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur
PEMENUHAN KEBUTUHAN AMAN DAN NYAMAN
Mampu memberikan latihan relaksasi fisik, backrub
Mampu melakukan pemeliharaan lingkungan pasien
PEMENUHAN KEBUTUHAN MENJELANG DAN AKHIR KEHIDUPAN
Mampu memberikan dukungan spiritual menjelang ajal pada pasien dan keluarga
Mampu memfasilitasi kegiatan beribadah: Bersuci dan sholat saat sakit
Mampu melakukan perawatan jenazah
PEMERIKSAAN FISIK
Mampu melakukan pemeriksaan Kepala Leher: Pengkajian area kepala, mata, hidung,telinga, mulut, tenggorokan, dan leher
Mampu melakukan pemeriksaan Mata: Visus mata dan buta warna
Mampu melakukan pemeriksaan Leher: pengukuran JVP (Jugularis Venous Presure), IPPA leher
Mampu melakukan pemeriksaan mulut
Mampu melakukan pemeriksaan telinga: Tes pendengaran
Mampu melakukan pemeriksaan hidung
Mampu melakukan pemeriksaan tenggorokan
Mampu melakukan pemeriksaan jantung (IPPA)
Mampu melakukan pemeriksaan paru (IPPA)
Mampu melakukan pemeriksaan abdomen (IAPP)
Mampu melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
Mampu melakukan pemeriksaan ekstremitas atas (sendi bahu, lengan atas, lengan bawah, siku, pergelangan tangan, rentang pergerakan sendi atas
Mampu melakukan pemeriksaan ekstremitas bawah: sendi panggul, tungkai atas, sendi lutut, tungkai bawah, pergelangan kaki, rentang pergerakan sendi bawah
Mampu melakukan pengukuran vital sign: mengukur nadi, suhu, respirasi, SPO2
Mampu mengukur tekanan darah dan mengisi grafik TTV
Mampu melakukan pengukuran skala kekuatan otot
Mampu melakukan pengukuran refleks fisiologis dan patofisiologis
Mampu melakukan pemeriksaan 12 nervus
Mampu melakukan pemeriksaan tingkat kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) dan AVPU
FARMAKOLOGI
Mampu melakukan pemberian obat oral, sublingual, dan membuat puyer
Mampu melakukan pemberian obat inhalasi, topikal dan supositorial
Mampu melakukan pemberian obat parenteral: IC, SC, IM, IV
Mampu melakukan transfusi darah
Laboratorium Keperawatan Maternitas merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada ibu selama siklus reproduksi, mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan bayi baru lahir. Laboratorium ini dirancang sebagai lingkungan simulasi klinik yang menyerupai pelayanan kesehatan maternitas di fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga mahasiswa dapat berlatih secara aman dan terkontrol sebelum memasuki praktik klinik.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan maternitas yang komprehensif dan berpusat pada ibu dan keluarga (mother and family-centered care). Mahasiswa dilatih untuk memahami proses fisiologis dan patologis dalam kehamilan dan persalinan, melakukan pengkajian ibu dan janin, serta memberikan intervensi keperawatan yang tepat sesuai kebutuhan.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Maternitas meliputi keterampilan dasar hingga lanjutan, antara lain pemeriksaan kehamilan (antenatal care), pemantauan kondisi ibu dan janin, teknik persalinan dasar, perawatan ibu nifas, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, serta edukasi kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana (KB). Selain itu, mahasiswa juga dilatih dalam komunikasi terapeutik dengan ibu dan keluarga, serta penerapan prinsip patient safety, pencegahan infeksi, dan keselamatan kerja (K3) dalam praktik maternitas.
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan alat praktik yang mendukung, seperti manekin ibu hamil, manekin persalinan, manekin bayi baru lahir, alat pemeriksaan kehamilan, alat simulasi persalinan, serta media edukasi kesehatan reproduksi. Fasilitas ini memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan secara optimal dalam lingkungan yang aman dan sesuai standar.
Laboratorium Keperawatan Maternitas juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek keterampilan klinis maternitas, kemampuan berpikir kritis dalam pengambilan keputusan, komunikasi terapeutik, serta sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman, efektif, dan berkualitas. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi instruktur, penilaian keterampilan, serta ujian praktik untuk memastikan kompetensi mahasiswa tercapai secara optimal.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Maternitas menjadi wahana penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan agar mampu memberikan asuhan keperawatan kepada ibu dan bayi secara holistik, aman, dan profesional di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
ANTENATAL
Mampu melakukan anamnesa pada ibu hamil untuk menentukan usia kehamilan dan taksiran persalinan
Mampu melakukan prosedur pemeriksaan fisik pada ibu hamil: pemeriksaan head to toe, pemeriksaan leopold 1-4, denyut jantung/DJJ, menghitung taksiran BB janin
Mampu melakukan pemeriksaan laboratorium dan diagnostik:Â
Mempersiapkan spesimen untuk pemeriksaan penunjang: darah, urinalisa, kultur urin, fungsi ginjal, titer rubella, test tuberculin, test serologi, skrining HIV, skrining glukosa serum
Melakukan pemeriksaan pap smear dan usapan vagina
Melakukan pemeriksaan EKG dan USG, histerolaparascopy
Mampu melakukan prosedur tindakan pada ibu hamil
Melakukan pemeriksaan fisik
Menghitung usia kehamilan
Menentukan taksiran partus melalui tinggi fundus
Melakukan pendidikan kesehatan ibu hamil
Melakukan edukasi perawatan kehamilan
Mengidentifikasi riwayat kehamilan dan persalinan, sindroma premenstruasi
Melakukan pemeriksaan tanda-tanda kehamilan
Melakukan perawatan perdarahan selama kehamilan
Melakukan persiapan klien untuk pemeriksaan amniosintesis
Melakukan senam hamil
Melakukan kolaborasi penanganan komplikasi kehamilan
Melakukan pendampingan klien dengan kehamilan risiko tinggi
INTRANATAL
Mampu melakukan prosedur anamnesa pada ibu intra natal
Mampu melakukan prosedur pemeriksaan fisik pada ibu intra partum: kesadaran umum, his, skala nyeri dan denyut jantung janin (DJJ) dan pencatatan proses persalinan dalam patograph
Mampu melakukan prosedur pemeriksaan laboratorium dan diagnostik pada intra partum: persiappan spesimen darah: Hb, Ht, leuko dan persiapan pasien untuk pemeriksaan CTG
Mampu melakukan tindakan pemantauan perdarahan
Mampu melakukan edukasi pendampingan persalinan
Mampu melakukan manajemen nyeri
Mampu melakukan pengawasan kala I (pemeriksaan dalam dan pemantauan pembukaan)
Mampu melakukan pengawasan kala II (proses persalinan bayi)
Mampu melakukan pengawasan kala III (proses pengeluaran plasenta)Â
Mampu melakukan pengawasan kala IV (proses pengawasan)
Mampu melakukan identifikasi kondisi fisik ibu bersalin, psikososial ibu bersalin, persalinan risiko tinggi
Mampu melakukan pemantauan gerak janin, his/kontraksi pemantauan patograph
Mampu melakukan pemberian infus tokolisis, magnesium sulfat
Mampu melakukan pemeriksaan DJJ dengan dopler
Mampu melakukan perawatan ibu bersalin berisiko tinggi
Mampu melakukan persiapan klien untuk prosedur induksi persalinan dengan balon kateter, persiapan persalinan dengan tindakan
POST NATAL
Mampu melakukan anamnesa pada ibu post partum
Mampu melakukn prosedur pemeriksaan fisik pada ibu post partum
Pemeriksaan keadaan umum
Pemeriksaan TTV
Mengukur TFU.
Menilai kontraksi rahim, posisi dan letak rahim
Pemeriksaan kandung kemih.
Pemantauan lochea
Pemantauan involusi
Pengawasan perdarahan
Mampu melakukan prosedur tindakan pada ibu post partum
Bounding attachment
Dukungan ambulasi dan dan mobilisasi pasca persallinan
Asilitasi kebutuhan berkemih dan kenyamanan ibu pasca salin
Vulva hygiene
Perawatan perineum dan payudara
Cara pemberian ASI
Penyimpanan ASI
Mampu melakukan edukasi kebutuhan dasar ibu pasca salin
Mampu melakukan edukasi perawatan perinium pasca salin dan tanda bahaya pasca salin
Mampu melakukan persiapan pasien untuk pembukaan tampon vagina
Mampu melakukan pemberian (Administering) obat vaginal
Mampu melakukan pemeriksaan lochea, perineum dan payudara
Mampu melakukan pemantauan tanda homan
Mampu memberikan latihan otot panggul
Mampu melakukan latihan senam nifas
Mampu melakukan pijat oksitosin
Mampu memberikan konseling ASI terutama ASI eksklusif
BAYI BARU LAHIR
Mampu melakukan anamnesa bayi baru lahir
Mampu melakukan prosedur pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir
Pemeriksaan keadaan umum
Suhu tubuh dan pemeriksaan head to toe
Menulai APGAR score
Menimbang BB, PB, LK, LLA LD, lingkar abdomen dan refleks
Mampu melakukan persiapan prosedur pemeriksaan laboratorium dan diagnostik
Mampu melakukan tindakan
Mempertahanan suhu tubuh bayi
Pemantauan TTV bayi
Memberi salep mata
Memberi vitamin K
Mendeteksi perkembangan bayi
Melakukan edukasi perawatan bayi baru lhir
Memandikan bayi baru lahir
Memantau antropometri pada bayi (BB, TB. lingkar kepala)
Melakukan inisiasi menyusui dini
Memfasilitasi interaksi orang tua dan bayi/janin
Mengidentifikasi kemampuan ibu merawat bayi
Melakukan perawatan tali pusat
Melakukan imunisasi HB-0
KELUARGA BERENCANA
Mampu melakukan persiapan pasien pemberian alat kontrasepsi
Mampu melakukan edukasi keluarga dan kontrasepsi
Mampu memberikan kontrasepsi pil, suntik dan AKDR
Mampu melakukan pemantauan kontrasepsi IUD dan AKBK
Mampu melakukan rujukan pelayanan KB
GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI
Mampu melakukan pengkajian pada gangguan sistem reproduksi: riwayat haid, riwayat kehamilan, keluhan pada sistem reproduksi
Mampu melakukan proseur pemeriksaan fisik head to toe
Mampu melakukan persiapan pasien untuk pemeriksaan diagnostik dan laboratorium: pap smear, USG, dan IVA
Mampu melakukan perawatan perioperatif
Mampu melakukan perawatan post operasi
Mampu melakukan kolaborasi skrining fertilitas
Mampu melakukan persiapan pap smear dan IVA
Mampu melakukan promosi kesehatan reproduksiÂ
Mampu melakukan deteksi dini keganasan organ reproduksi dan peyimpangan perilaku seksual
Mampu melakukan edukasi pencegahan perilaku seksual berisiko
Laboratorium Keperawatan Kritis merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kondisi kritis dan membutuhkan perawatan intensif. Laboratorium ini dirancang menyerupai lingkungan perawatan intensif seperti Intensive Care Unit (ICU), sehingga mahasiswa dapat berlatih dalam suasana yang realistis, aman, dan terkontrol sebelum memasuki praktik klinik di rumah sakit.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam menangani pasien dengan gangguan fungsi organ vital yang memerlukan pemantauan ketat dan intervensi cepat. Mahasiswa dilatih untuk memahami konsep dasar keperawatan kritis, termasuk stabilisasi pasien, pemantauan hemodinamik, manajemen jalan napas, serta penanganan kondisi yang mengancam jiwa secara sistematis dan berbasis evidence.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Kritis meliputi keterampilan dasar hingga lanjutan, antara lain pemantauan tanda vital secara kontinu, interpretasi monitor pasien, penggunaan alat bantu napas sederhana, perawatan pasien dengan gangguan pernapasan, pemberian terapi cairan dan obat, serta manajemen pasien dengan kondisi kritis seperti syok, gagal napas, dan gangguan kesadaran. Selain itu, mahasiswa juga dilatih dalam komunikasi efektif dengan tim kesehatan serta pengambilan keputusan klinis yang cepat dan tepat.
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan peralatan yang mendukung, seperti manekin pasien kritis, monitor pasien, alat bantu pernapasan (ventilator simulator), infus pump, syringe pump, serta peralatan tindakan keperawatan intensif lainnya. Lingkungan laboratorium dirancang untuk mendukung simulasi kasus kritis secara nyata, sehingga mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan klinis dan kemampuan berpikir kritis dalam situasi kompleks.
Laboratorium Keperawatan Kritis juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek keterampilan klinis keperawatan kritis, kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, komunikasi profesional, serta sikap tanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman dan berkualitas. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi instruktur, penilaian keterampilan, serta ujian praktik seperti OSCE berbasis skenario kondisi kritis.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Kritis menjadi wahana penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan agar mampu memberikan asuhan keperawatan secara optimal pada pasien dengan kondisi kritis, serta siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan di unit perawatan intensif.
Mampu melaksanakan prosedur terapi oksigen non rebreathing mask dan rebreathing mask
Mampu membedakan pemantauan hemodinamik invasive dan non invasive
Mampu menjelaskan komponen pemantauan hemodinamik non invasive
Mampu menjelaskan prosedur pemantauan hemodinamik non invasive
Mampu mendemonstrasikan prosedur pemantauan hemodinamik non invasif
Mampu memberikan obat melalui syringe pump
Mampu mendemonstrasikan tindakan mengecek, menyiapkan trolly emergency
Penanggungjawab
Parmilah , S.Kp., M.Kep.
Laboratorium Keperawatan Gawat Darurat merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam menangani kondisi kegawatdaruratan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Laboratorium ini dirancang menyerupai situasi pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), sehingga mahasiswa dapat berlatih dalam lingkungan simulasi yang realistis dan aman sebelum menghadapi kondisi nyata di lapangan.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan dasar hingga lanjutan dalam penanganan pasien gawat darurat, baik pada kondisi trauma maupun non-trauma. Mahasiswa dilatih untuk melakukan penilaian awal (primary survey), penilaian lanjutan (secondary survey), serta melakukan tindakan penyelamatan hidup sesuai dengan prinsip Basic Life Support (BLS) dan bantuan hidup lanjut (advanced life support) secara sistematis dan terstandar.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Gawat Darurat meliputi berbagai keterampilan penting, antara lain resusitasi jantung paru (RJP), manajemen jalan napas (airway management), pemberian oksigen, pemasangan infus darurat, penanganan perdarahan, imobilisasi, triase pasien, serta komunikasi efektif dalam tim kegawatdaruratan. Selain itu, mahasiswa juga dilatih dalam pengambilan keputusan cepat, kerja sama tim (teamwork), serta penerapan prinsip patient safety dan keselamatan kerja (K3).
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan peralatan, seperti manekin resusitasi (CPR manikin), alat bantu napas (ambu bag), monitor pasien, tandu, peralatan trauma kit, serta media simulasi kasus kegawatdaruratan. Lingkungan laboratorium didesain untuk mendukung simulasi skenario darurat secara nyata, sehingga mahasiswa dapat mengasah keterampilan klinis dan respons cepat dalam situasi kritis.
Laboratorium Keperawatan Gawat Darurat juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek keterampilan klinis kegawatdaruratan, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan cepat, komunikasi efektif, serta sikap profesional dalam menangani pasien dalam kondisi darurat. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi instruktur, penilaian keterampilan, serta ujian praktik seperti OSCE berbasis skenario kegawatdaruratan.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Gawat Darurat menjadi wahana penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan agar mampu memberikan penanganan awal yang cepat, tepat, dan profesional dalam situasi kegawatdaruratan, sehingga dapat meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan kepada pasien.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
Mampu mendemonstrasikan prosedur pemasangan neck collar
Mampu menjelaska definisi corpus alineum mata, telinga dan jalan napas
Mampu menjelaskan penatalaksanaan corpus alineum di mata, telinga dan jalan napas
Mampu mendemonstrasikan irigasi telinga
Mampu mendemonstrasika prosedur irigasi mata
Mampu mendemonstrasikan prosedur mengeluarkan benda asing di mulut
Mampu mendemonstrasikan prosedur pengeluaran benda asing di tenggorokan atau Heimlich manuver
Mampu menjelaskan berbagai metode menghentikan perdarahan
Mampu mendemonstrasikan berbagai metode menghentikan perdarahan
Mampu menjelaskan prosedur inisiasi awal bencana
Mampu menjelaskan prosedur evakuasi korban bencana
Mampu menjelaskan cara transportasi korban bencana
Mampu melaksanakan simulasi prosedur pertolongan korban bencana: triase, initial assessment, stabilisasi korban, penghentian perdarahan, evakuasi dan transportasi
Mampu menjelaskan konsep pengkajian circulation Airway Breathing (CAB)
Mampu mendemonstrasikan pengkajian pasien gawat darurat Circulation Airway Breathing (CAB)
Mampu menjelaskan prosedur EKG
Mampu mendemonstrasikan prosedur pemeriksaan EKG
Mampu melakukan interpretasi pemeriksaan EKG
Mampu menyebutkan contoh kasus dengan kelainan EKG
Mampu menjelaskan vervagai cara mengukur tingkat kesadaan
Mampu mendemonstrasikan prosedur pengukuran tingkat kesadaran
Mampu mendemonstrasikan metode pengukuran denyut nadi dan berbagai area pengukuran nadi pada kondisi gawat darurat
Mampu mendemonstrasikan prosedur pemeriksaan pernapasan pada kondsi gawat darurat
Mampu mendemonstraskan prosedur pemeriksaan pernapasan pada kondisi gawat darurat
Mampu mendemonstrasikan prosedur buka jalan napas
Mampu mendemonstrasikan prosedur pemberian napas buatan dengan alat dan manual
Mampu mendemonstrasikan prosedur RJB
Laboratorium Keperawatan Medikal Bedah merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dewasa dengan berbagai kondisi medikal dan bedah. Laboratorium ini dirancang sebagai lingkungan simulasi klinik yang menyerupai kondisi nyata di rumah sakit, sehingga mahasiswa dapat berlatih secara aman dan terkontrol sebelum terjun ke praktik klinik.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien dengan gangguan sistem tubuh, baik yang bersifat akut maupun kronis. Mahasiswa dilatih untuk melakukan pengkajian, menetapkan diagnosa keperawatan, merencanakan intervensi, melaksanakan tindakan keperawatan, serta melakukan evaluasi secara sistematis dan berbasis evidence.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Medikal Bedah meliputi berbagai keterampilan dasar hingga lanjutan, seperti pemeriksaan tanda vital, pemasangan infus, perawatan luka, pemasangan kateter, suction, perawatan pasien pasca operasi, serta penerapan prinsip patient safety, pencegahan infeksi, dan keselamatan kerja (K3). Selain itu, mahasiswa juga dilatih dalam komunikasi terapeutik serta pengambilan keputusan klinis melalui simulasi kasus.
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mendukung, seperti manekin dewasa, tempat tidur pasien (bed), alat tindakan keperawatan, alat monitoring, perlengkapan prosedur invasif sederhana, serta media pembelajaran berbasis simulasi. Fasilitas tersebut memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan klinis secara optimal dalam lingkungan yang aman dan sesuai standar.
Laboratorium Keperawatan Medikal Bedah juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek keterampilan klinis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi profesional, serta sikap tanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi instruktur dan ujian praktik seperti OSCE untuk memastikan kompetensi mahasiswa tercapai secara optimal.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Medikal Bedah menjadi wadah penting dalam proses pendidikan keperawatan, karena berperan dalam mempersiapkan mahasiswa agar mampu memberikan asuhan keperawatan yang aman, efektif, dan berkualitas kepada pasien dewasa di berbagai setting pelayanan kesehatan.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Oksigen Patologis Sistem Pernapasan dan Kardiovaskuler
Mampu melakukan pemeriksaan kecukupan oksigen dan sirkulasi, perubahan irama napas dan jantung, pemeriksaan bunyi napas dan jantung
Mampu melakukan pemeriksaan diagnostik perekaman EKG, pengambilan spesimen darah vena dan arteri, menyiapkan pasien untuk echocardiography, treadmil test
Mampu melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan oksigen: Memberikan oksigen simple mask, rebreathing mask, non rebreathing mask, melakukan hisap lendir, memasang dan memonitor transfusi darah, melakukan postural drainase, melakukan inhalasi (nebulizer), fisioterapi dada, latihan pursed-lip breathing, perawatan selang dada, perawatan trakeostomi, pencegahan aspirasi, pengambilan sampel darah kapiler, pengambilan sampel darah vena, pemantauan hasil analisa gas darah, pemantauan respirasi, pemantauan tanda gejala ketidakseimbangan asam basa, pemantauan tanda hiperventilasi, skrining tuberkulosis, pengambilan sampel darah arteri
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Kebutuhan Cairan
Mampu melakukan pemeriksaan fisik: pemeriksaan tingkat dehidrasi, pemeriksaan overload cairan/edema, pemeriksaan kekurangan mineral dan elektrolit
Mampu melakukan asuhan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan cairan: pemantauan akses intravena terhadap flebitis dan infiltrasi, pemantauan tanda dan gejala hipovolemia, pemanauan tanda dan gejala hipervolemia
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Kebutuhan NutrisiÂ
Mampu melakukan pemeriksaan fisik saluran cerna, kesulitan mengunyah dan menelan, bising usus
Mampu melakukan pemeriksaan diagnostic: barium enema, USG abdomen, endoskopi dan GDS
Mampu melakukan prosedur pemenuhan kebutuhan nutrisi: merawat NGT, memberikan makan melalui NGT, pemantauan kepatenan selang NGT, pemantauan residu gaster, pemasangan selang NGT, deteksi dini status gizi, edukasi DM (aktivitas/lathian fisik, edukasi diet, hipoglikemia/ hiperglikemia, dan pemantauan kadar glukosa
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Kebutuhan EliminasiÂ
Mampu melakukan persiapan pasien untuk pemeriksaan BNO/IVP., persiapan USG ginjal
Mampu melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan cairan: pemasangan kateter, blader training, persiapan pasien untuk tindakan HD, pemberian edukasi tentang prosedur hemodialisis, pelaksanaan prosedur hemodialisis, pengaturan filtrasi hemodialisis, tindakan mengatasi hipotensi selama proses hemodialisis, tindakan penghentian hemodialisa jika klien mengalami kondisi membahayakan
Mampu melakukan latihan eliminasi fekal, perawatan stoma dan evakuasi feses secara manual
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Kebutuhan Aktivitas
Mampu melakukan edukasi menggunakan alat bantu
Mampu memfasilitasi ambulasi dengan alat bantu jalan: kursi roda, kruk, dan tripot
Mampu melakukan perawatan gips dan traksi
Mampu melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik sistem muskuloskeletal, indera dan persarafan: bentuk dan gait tubuh, fungsi sensorik, motorik dan keseimbangan pemeriksaan refleks dan visus
Mampu melakukan pemeriksaan kekuatan otot, ROM, pemantauan tingkat kesadaran, peningkatan tekanan intrakranial, latihan orientasi, kognitif
Mampu melakukan anamnesa pada pasien yang mengalami gangguan pemenuhan aktivitas dengan patologi sistem muskuloskeletal, indera dan persarafan
Mampu melakukan pemeriksaan fisik bentuk dan gait tubuh, fungsi sensorik, motorik dan keseimbangan pemeriksaan reflek dan visus
Mampu melakukan pemeriksaan diagnostik: persiapan pasien untuk pemeriksaan CT scan otak, MS, MRI, EEG, angiografi serebral dan fungsi lumbal
Mampu melakukan asuhan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas: mengukur kekuatan otot, melatih ROM, pemberian tirah baring dan pengaturan posisi tubuh optimal untuk gerak sendi pasif/aktif, elevasi ekstremitas, latihan orientasi, kolaborasi dengan fisioterapi, kolaborasi dengan terapis okupasi, ruukan ke unit rehabilitasi, pemantauan/pencegahan kejang berulang, parastesia, GCS/tingkat kesadaran, peningkatan tekanan intrakranial, tingkat delirium, tingkat orientasi, perubahan sensasi, pencegahan manuever valsava, stimulasi taktil dan verbal, pemantauan status neurologis, pemantauan tanda dan gejala disrefleksia, pemantauan CPP (Cerebral Perfusion Pressure), latihan memori, stimulasi kognitif
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien Perioperatif
Mampu menyiapkan tempat tidur aether bad
Mampu melakukan anamnesa dan observasi sirkulasi (TD, nadi, pernapasan, dan suhu tubuh)
Mampu melakukan observasi perdarahan
Mampu melakukan pemeriksaan kesadaran
Mapu mengobservasi bising usus
Mampu melakukan perawatan pasca operasi
Mampu melakukan edukasi perawatan post operasi (nutrisi, perilaku terhadap luka, aktivitas)
Mampu melatih ambulasi
Mampu melakukan perawatan amputasi
Mampu melakukan perawatan luka
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Kebutuhan Istirahat dan Tidur serta Aman Nyaman
Mampu melakukan tindakan relaksasi dan distraksi (massage, imaginary)
Mampu membantu melaksanakan ritual tidur
Mampu melakukan edukasi manajemen nyeri
Mampu melakukan pemantauan nyeri secara mandiri
Mampu melakukan pengaturan posisi yang nyaman (misal topang dengan bantal, jaga sendi selama pergerakan)
Mampu melakukan latihan otogenik
Mampu melakukan pemberian teknik relaksasi terbimbing
Mampu memberikan terapi musik
Mampu menyusun jadwal aktivitas dan istirahat harian
Mampu memberikan akupresur
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman Patologis Sistem Integumen dan Sistem Immune: Luka Bakar, Dermatitis, Reaksi Obat dan Alergi, SLE
Mampu melakukan anamnesa gangguan kebutuhan rasa aman dan nyaman
Mampu melakukan prosedur pemeriksaan fisik: pemeriksaan terhadap integritas kulit/jaringan, tanda penurunan kesadaran, pemeriksaan tanda kecemasan
Mampu melakukan prosedur diagnostik: persiapan pasien untuk pemeriksaan spesimen darah, pemeriksaan elisa
Mampu melakukan tindakan perawatan luka bakar dan kompres luka
Melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Kebutuhan Keseimbangan Suhu Tubuh Patologis Berbagai Sistem Tubuh: Hipotermi dan Hipertermi
Mampu melakukan pengkajian riwayat infeksi sistem tubuh
Mampu melakukan pemeriksaan fisik dan diagnostik menyiapkan spesimen untuk pemeriksaan leukosit, PRC, pemeriksaaan serologi dan kelainan imunologi
Mampu memasang cooler blanket, memasang warmer blanket
Laboratorium Keperawatan Dasar merupakan sarana pembelajaran praktik yang disediakan untuk menunjang proses pendidikan mahasiswa keperawatan, khususnya dalam penguasaan keterampilan dasar keperawatan sebelum memasuki praktik klinik di lapangan. Laboratorium ini berfungsi sebagai tempat bagi mahasiswa untuk mempelajari, memahami, dan melatih prosedur keperawatan secara bertahap, sistematis, aman, dan terstandar melalui kegiatan demonstrasi, simulasi, dan praktik langsung.
Laboratorium Keperawatan Dasar dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyerupai situasi pelayanan kesehatan nyata, sehingga mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap profesional, serta kemampuan berpikir kritis dalam memberikan asuhan keperawatan. Di laboratorium ini, mahasiswa dibimbing untuk menguasai berbagai kompetensi dasar, seperti hand hygiene, penggunaan alat pelindung diri, pemeriksaan tanda-tanda vital, pemenuhan kebutuhan dasar pasien, teknik mobilisasi, komunikasi terapeutik, prinsip patient safety, pencegahan infeksi, dan tindakan dasar lainnya.
Sebagai unit penunjang akademik, Laboratorium Keperawatan Dasar juga memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, terutama pada aspek pengetahuan, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan sikap profesional. Melalui pembelajaran laboratorium, mahasiswa tidak hanya belajar melakukan tindakan dengan benar, tetapi juga dibentuk untuk memiliki ketelitian, disiplin, tanggung jawab, etika, serta kepedulian terhadap keselamatan pasien dan keselamatan kerja.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Dasar dilaksanakan melalui metode demonstrasi oleh dosen, praktik mandiri maupun berkelompok, pembimbingan keterampilan, serta evaluasi melalui observasi dan ujian praktik seperti skillab dan OSCE. Seluruh kegiatan laboratorium didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran, seperti bed pasien, manekin, alat pemeriksaan dasar, alat tindakan sederhana, bahan habis pakai, serta media pembelajaran lainnya yang relevan.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Dasar menjadi bagian yang sangat penting dalam proses pendidikan keperawatan karena berperan sebagai wahana pembentukan kompetensi awal mahasiswa agar siap mengikuti pembelajaran klinik secara lebih optimal, aman, dan profesional.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI
Mampu menghitung pernapasan
Mampu memposisikan pasien fowler dan semi fowler dan mengedukasi pengaturan posisi
Mampu mengumpulkan sputum untuk pemeriksaan
Mampu memberikan oksigen nasal kanul
Mampu melatih dan mengedukasi latihan nafas dalam
Mampu melatih dan mengedukasi teknik batuk efektif
PEMENUHAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Mampu mengukur tekanan darah
Mampu menghitung nadi
Mampu melakukan pemantauan intake dan output cairan
Mampu melakukan pemantauan kadar elektrolit
Mampu melakukan pemberian minuman
Mampu melakukan pemberikan minum per oral
Mampu mengumpulkan urin untuk pemeriksaan
Mampu melakukan pemasangan kondom kateter
Mampu menghitung keseimbangan cairan
Mampu merawat infus
Mampu mengganti cairan infus
Mampu melepas infus
Mampu memonitor tetesan infus
PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI
Mampu mengukur berat badan, tinggi badan, lingkar lengan dan lingkar paha
Mampu menghitung IMT
Mampu memberikan makan per oral
Mampu memberikan latihan menelan
Mampu melakukan promosi berat badan
Mampu melakukan pemantauan berat badan
PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI URINE
Mampu melakukan pemasangan diapers/popok
Mampu mengedukasi pengenalan tanda berkemih: Bladder
Mampu melakukan pemantauan pola eliminasi urin
Mampu memfasilitasi berkemih yang teratur
Mampu melakukan pemantauan tingkat distensi kandung kemih
Mampu membantu pasien eliminasi BAK diatas tempat tidur
Mampu melakukan edukasi dan prosedur perawatan kateter
PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI FEKAL
Mampu membantu pasien eliminasi BAB diatas tempat tidur
Mampu memfasilitasi makanan tinggi serat
Mampu melakukan pemantauan bising usus
Mampu melakukan pemantauan pola eliminasi fekal
PEMENUHAN KEBUTUHAN AKTIVITAS
Mampu menerima pasien baru
Mampu memindahkan pasien dari TT ke TT, dari TT ke brankard, dari TT ke kursi roda, mengangkat pasien sendiri/bersama
Mampu memposisikan pasien litotomi, dorsal recumbent, sim (miring kanan/kiri), trendelenburg, supinasi, dll)
Mampu embantu ambulasi/berjalan tanpa alat bantu dan dengan alat bantu jalan (kruk, walker, tripot)
Mampu memberikan tirah baring
Mampu melakukan dukungan mobilisasi fisik
Mampu melakukan edukasi aktivitas fisik (olahraga)
Mampu melakukan edukasi ambulasi
Mampu melakukan pemantauan toleransi aktivitas
Mampu melakukan pemantauan kelelahan fisik dan emosional
PEMENUHAN KEBUTUHAN PERAWATAN DIRI DAN BERHIAS
Mampu melakukan dukungan perawatan diri: BAB/BAK
Mampu melakukan dukungan perawatan diri: berpakaian
Mampu melakukan dukungan perawatan diri: makan/minum
Mampu melakukan dukungan perawatan diri: mandi
Mampu melakukan perawatan kaki, kuku mulut dan integritas kulit
Mampu melakukan edukasi perawan diri
Mampu melakukan edukasi perawatan gigi palsu, kaki, dan mulut
Mampu melakukan promosi kebersihan diri
PEMENUHAN KEBUTUHAN KESEIMBANGAN SUHU TUBUH
Mampu mengukur suhu tubuh: oral, axila, rectal dan penggunaan thermogun
Mampu memberikan kompres hangat dan dingin
PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR
Mampu memfasilitasi berdoa/ritual menjelang tidur
Mampu meningkatkan ligkungan kondusifÂ
Mampu memfasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur
PEMENUHAN KEBUTUHAN AMAN DAN NYAMAN
Mampu memberikan latihan relaksasi fisik, backrub
Mampu melakukan pemeliharaan lingkungan pasien
PEMENUHAN KEBUTUHAN MENJELANG DAN AKHIR KEHIDUPAN
Mampu memberikan dukungan spiritual menjelang ajal pada pasien dan keluarga
Mampu memfasilitasi kegiatan beribadah: Bersuci dan sholat saat sakit
Mampu melakukan perawatan jenazah
PEMERIKSAAN FISIK
Mampu melakukan pemeriksaan Kepala Leher: Pengkajian area kepala, mata, hidung,telinga, mulut, tenggorokan, dan leher
Mampu melakukan pemeriksaan Mata: Visus mata dan buta warna
Mampu melakukan pemeriksaan Leher: pengukuran JVP (Jugularis Venous Presure), IPPA leher
Mampu melakukan pemeriksaan mulut
Mampu melakukan pemeriksaan telinga: Tes pendengaran
Mampu melakukan pemeriksaan hidung
Mampu melakukan pemeriksaan tenggorokan
Mampu melakukan pemeriksaan jantung (IPPA)
Mampu melakukan pemeriksaan paru (IPPA)
Mampu melakukan pemeriksaan abdomen (IAPP)
Mampu melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
Mampu melakukan pemeriksaan ekstremitas atas (sendi bahu, lengan atas, lengan bawah, siku, pergelangan tangan, rentang pergerakan sendi atas
Mampu melakukan pemeriksaan ekstremitas bawah: sendi panggul, tungkai atas, sendi lutut, tungkai bawah, pergelangan kaki, rentang pergerakan sendi bawah
Mampu melakukan pengukuran vital sign: mengukur nadi, suhu, respirasi, SPO2
Mampu mengukur tekanan darah dan mengisi grafik TTV
Mampu melakukan pengukuran skala kekuatan otot
Mampu melakukan pengukuran refleks fisiologis dan patofisiologis
Mampu melakukan pemeriksaan 12 nervus
Mampu melakukan pemeriksaan tingkat kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) dan AVPU
FARMAKOLOGI
Mampu melakukan pemberian obat oral, sublingual, dan membuat puyer
Mampu melakukan pemberian obat inhalasi, topikal dan supositorial
Mampu melakukan pemberian obat parenteral: IC, SC, IM, IV
Mampu melakukan transfusi darah
Penanggungjawab
Ratna Kurniawati , S.Kep., Ns., M.Kep.
Laboratorium Keperawatan Jiwa merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada individu dengan masalah kesehatan jiwa. Laboratorium ini dirancang sebagai lingkungan simulasi terapeutik yang menyerupai situasi pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit maupun komunitas, sehingga mahasiswa dapat berlatih secara aman, terkontrol, dan beretika sebelum memasuki praktik klinik.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa yang komprehensif, humanistik, dan berorientasi pada pemulihan (recovery-oriented care). Mahasiswa dilatih untuk memahami konsep kesehatan jiwa, gangguan mental, faktor psikososial, serta respon individu terhadap stres dan masalah kehidupan.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Jiwa meliputi keterampilan komunikasi terapeutik, teknik wawancara keperawatan, pengkajian status mental (Mental Status Examination), identifikasi masalah keperawatan jiwa, serta intervensi keperawatan seperti teknik relaksasi, terapi aktivitas kelompok (TAK), manajemen perilaku, dan edukasi kesehatan jiwa. Selain itu, mahasiswa juga dilatih dalam penanganan kondisi tertentu, seperti kecemasan, depresi, halusinasi, dan perilaku agresif melalui simulasi kasus dan role play.
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung, seperti ruang simulasi konseling, ruang terapi kelompok, alat bantu komunikasi, media edukasi kesehatan jiwa, serta skenario kasus berbasis pembelajaran. Lingkungan laboratorium dirancang untuk menciptakan suasana yang nyaman, aman, dan kondusif bagi pembelajaran keterampilan komunikasi dan interaksi terapeutik.
Laboratorium Keperawatan Jiwa juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek komunikasi terapeutik, kemampuan berpikir kritis, empati, serta sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan yang berfokus pada kebutuhan psikologis dan sosial pasien. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi instruktur, penilaian keterampilan, serta ujian praktik seperti OSCE berbasis skenario untuk memastikan kompetensi mahasiswa tercapai secara optimal.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Jiwa menjadi wahana penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan agar mampu memberikan asuhan keperawatan jiwa secara profesional, empatik, dan beretika, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di masyarakat.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
Praktik Terapi Aktivitas Kelompok Sesuai Gangguan Psikososial
Mampu melakukan demonstrasi dan Praktik Terapi Aktivitas Kelompok sesuai gangguan psikosisial (Halusinasi, HDR, DPD, RPK, Isolasi sosial)
Praktik Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Citra Tubuh
Mampu melakukan promosi citra tubuh, dukungan spiritual, harapan, harga diri, hubungan positif, kepercayaan diri, koping
Praktik Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Kehilangan dan Berduka
Mampu melakukan dukungan proses berduka
Mampu menerapkan komunikasi terapeutik pada pasien berduka dan kehilangan
Praktik Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Harga Diri Rendah
Mampu memberikan rekomendasi terlibat dalam kelompok pendukung
Mampu melakukan promosi dukungan spiritual, harapan, harga diri, hubungan positif, kepercayaan diri, kesadaran diri, koping, sistem pendukung
Mampu memberikan edukasi komunikasi efektif
Mampu memberikan dukungan penampilan peran
Mampu melakukan modifikasi perilaku keterampilan sosial
Mampu memberikan promosi dukungan keluarga, sosial, keutuhan keluarga, komunikasi efektif, pengasuhan efektif keluarga, sosialisasi
Mampu menerapkan strategi pelaksanaan komunikasi pada pasien HDR
Praktik Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Isolasi Sosial
Mampu memberikan rekomendasi terlibat dalam kelompok pendukung
Mampu melakukan promosi dukungan spiritual, harapan, harga diri, hubungan positif, kepercayaan diri, kesadaran diri, koping, sistem pendukung
Mampu memberikan edukasi komunikasi efektif
Mampu memberikan dukungan penampilan peran
Mampu memodifikasi perilaku keterampilan sosial
Mampu memberikan promosi dukungan keluarga, sosial, keutuhan keluarga, komunikasi efektif, pengasuhan efektif keluarga, sosialisasi
Mampu menerapkan strategi pelaksanaan komunikasi pada pasien isolasi sosial
Praktik Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sensori Persepsi Halusinasi
Mampu melakukan manajemen halusinasi
Mampu memiinimalisasi rangsangan
Mampu melakukan pengekangan kimiawi
Praktik Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Perilaku Kekerasan
Mampu melakukan edukasi keterampilan koping, metode modulasi pengalaman emosi (misal: latihan asertif, teknik relaksasi, jurnal, aktivitas penyaluran energi), pemantauan mood secara mandiri, penanganan gangguan mood, seklusi teknik distraksi dan teknik pencegahan ekspresi marah maladaptif
Mampu mengidentifikasi penyebab/ pemicu kemarahan
Mampu memediasi konflik
Mampu melakukan pemantauan potensi perilaku agresif
Mampu membeberikan kesempatan mengekspresikan marah secara adaptif, pemberian teknik distraksi
Mampu mencegah aktivitas pemicu agresi, cedera fisik akibat ekspresi marah
Mampu melakukan prosedur restrain dan manajemen pelepasan
Mampu menerapkan SP komunikasi terapeutik pada pasien PK
Praktik Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Perilaku Kekerasan
Mampu memberikan dukungan pengungkapan kebutuhan perawatan diri: BAB/BAK, berpakaian, makan/minum, mandi
Mampu mengedukasi perawatan diri
Mampu melakukan perawatan kaki, kuku, mulut, rambut
Mampu melakukan promosi kebersihan diri
Mampu melibatkan keluarga dalam perawatan
Mampu menerapkan komunikasi terapeutik pada pasien DPD
Penanggungjawab
Anie Yuliastuti , S.Kep., Ns., M.Kep.
Laboratorium Keperawatan Gerontik merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan kepada lanjut usia (lansia). Laboratorium ini dirancang sebagai lingkungan simulasi yang menyerupai kondisi pelayanan kesehatan pada lansia, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di lingkungan keluarga dan komunitas, sehingga mahasiswa dapat berlatih secara aman dan terkontrol sebelum memasuki praktik klinik.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan gerontik yang komprehensif, holistik, dan berkesinambungan. Mahasiswa dilatih untuk memahami proses penuaan (aging process), perubahan fisiologis, psikologis, dan sosial pada lansia, serta berbagai masalah kesehatan yang sering dialami oleh kelompok usia lanjut, seperti penyakit kronis, penurunan fungsi kognitif, dan keterbatasan aktivitas sehari-hari.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Gerontik meliputi keterampilan dalam melakukan pengkajian geriatri, penilaian aktivitas sehari-hari (ADL), skrining risiko jatuh, pengelolaan penyakit kronis, perawatan lansia dengan gangguan kognitif, serta edukasi kesehatan bagi lansia dan keluarga. Mahasiswa juga dilatih dalam komunikasi terapeutik yang sesuai dengan karakteristik lansia, serta pendekatan perawatan yang berpusat pada pasien dan keluarga.
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan media pendukung, seperti manekin lansia, alat bantu aktivitas (tongkat, walker), alat penilaian fungsi fisik dan kognitif, serta media edukasi kesehatan lansia. Selain itu, tersedia simulasi lingkungan rumah lansia untuk mendukung pembelajaran berbasis kasus dan simulasi kunjungan rumah.
Laboratorium Keperawatan Gerontik juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek keterampilan klinis geriatri, kemampuan berpikir kritis, komunikasi interpersonal, serta sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman dan berkualitas. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi instruktur, penilaian keterampilan, serta ujian praktik seperti OSCE untuk memastikan kompetensi mahasiswa tercapai secara optimal.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Gerontik menjadi wahana penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan agar mampu memberikan asuhan keperawatan kepada lansia secara holistik, aman, dan profesional, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di lingkungan keluarga dan komunitas.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
Mampu melakukan pengkajian pada lansia (gerontik): SPMSQ, MMSE, Risiko jatuh (TUG Test), skala depresi, spiritual, nyeri
Mampu mengaplikasikan terapi modalitas melalui pendidikan kesehatan pada lansia: berkebun, TTS (teka-teki silang), aroma terapi, terapi dengan binatang, rekreasi, keagamaan, keluarga
Mampu melakukan terapi aktifitas fisik pada lansia: senam lansia
Mampu melakukan posyandu Lansia
Mampu memberikan terapi kognitif: senam otak pada lansia, latihan memori
Penanggungjawab
Retno Lusmiati Anisah, S.Kep., Ns., M.Kep
Laboratorium Keperawatan Anak Sehat dan Sakit merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak, baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Laboratorium ini dirancang sebagai lingkungan simulasi klinik yang menyerupai kondisi pelayanan kesehatan anak, sehingga mahasiswa dapat berlatih secara aman sebelum terjun ke praktik klinik nyata.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan pediatrik yang komprehensif. Mahasiswa dilatih untuk memahami karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak, kebutuhan dasar anak, serta pendekatan komunikasi yang sesuai dengan usia dan kondisi anak. Selain itu, mahasiswa juga dibekali keterampilan dalam melakukan pengkajian, tindakan keperawatan, serta edukasi kesehatan kepada anak dan keluarga.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Anak Sehat dan Sakit meliputi berbagai keterampilan dasar dan lanjutan, antara lain pemeriksaan tanda vital pada anak, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, pemberian nutrisi, teknik pemberian obat, perawatan anak sakit, komunikasi terapeutik dengan anak dan keluarga, serta penerapan prinsip patient safety dan pencegahan infeksi. Pembelajaran dilakukan melalui metode demonstrasi, simulasi, praktik langsung menggunakan manekin anak, serta pembelajaran berbasis skenario kasus.
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan alat praktik yang mendukung, seperti manekin bayi dan anak, alat ukur pertumbuhan (timbangan bayi, pengukur panjang badan), alat pemeriksaan dasar, perlengkapan tindakan keperawatan anak, serta media edukasi kesehatan. Fasilitas ini memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan secara optimal dalam suasana yang terkontrol dan aman.
Laboratorium Keperawatan Anak Sehat dan Sakit juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek keterampilan klinis pediatrik, komunikasi terapeutik, serta sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan yang berpusat pada pasien dan keluarga (family-centered care). Dengan demikian, laboratorium ini menjadi wadah penting dalam mempersiapkan mahasiswa agar mampu memberikan pelayanan keperawatan anak yang aman, efektif, dan berkualitas.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
Mampu melakukan screening tumbuh kembang pada anak: Menimbang BB, mengukur TB, LK, LLA, IMT, Stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang pada anak, Screening pertumbuhan dan perkembangan pada anak dengan menggunakan SDIDTK/KPSP deteksi dini stunting
Mampu melakukan asuhan keperawatan pada anak berkebutuhan khusus: Konseling keluarga, Pemenuhan ADL, Pemenuhan istirahat, Pemenuhan nutrisi, Stimulasi tumbuh kembang dan kemampuan komunikasi, Edukasi parenting, Penyusunan jadwal aktivitas/ADL dan istirahat harian, Perawatan paliatif pada anak, Promosi aktivitas/latihan fisik pada anak
Mampu melakukan pemerisaan fisik dan antropometri pada anak dengan gangguan kebutuhan nutrisi
Mampu melakukan pemeriksaan diagnostik dan laboratorium: pemeriksaan barium meal/barium enema, USG abdomen dan endoskopi
Mampu melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak: merawat NGT, memberi makan melalui NGT, pemantauan kepatenan NGT, pemantauan residu gaster, memberikan obat sesuai program terapi, deteksi dini status gizi, deteksi dini stunting, edukasi diet, pencegahan hipo dan hiperglikemia pada anak, pemantauan kadar gula darah
Mampu melakukan pemeriksaan fisik pada anak dengan gangguan aktifitas: bentuk dan gait tubuh, pemeriksaan fungsi syaraf kranial, fungsi sensorik, motorik, keseimbangan dan pemeriksaan refleks
Mampu melakukan pemeriksaan diagnostik: persiapan pasien dengan CT scan otak, dan EEG, EMG, MRI, Angiografi cerebral, dan pungsi lumbal
Mampu melakukan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan aktifitas: melatih pasien menggunakan alat bantu jalan kursi roda, kruk, tripot, melatih ROM, mengukur dan melatih kekuatan otot, pemantauan TIK, pemantauan delirium dan tingkat kesadaran, kolaborasi ke unit rehabilitasi/fisioterapis
Mampu melakukan asuhan keperawatan untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit: menghitung balance cairan, pembatasan cairan, pemberian cairan intravena, perawatan infus, perawatan kateter, memberikan obat sesuai program terapi, pemantauan hipovolemia/dehidrasi, resusitasi cairan
Mampu melakukan pemeriksaan perubahan irama napas dan irama jantung dan pemeriksaan bunyi napas dan bunyi jantung
Mampu melakukan prosedur diagnostik: perekaman EKG, pengambian sputum, spesimen darah, menyiapkan pasien untuk pemeriksaan echocardiographi
Mampu melakukan asuhan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan oksigen: pemantauan TTV dan saturasi, membuka jalan napas dengan posisi ekstensi, fowler, semi fowler dan postural drainage, memberikan oksigen nasal kanul dan simple mask, pemasangan monitor jantung, melakukan fisioterapi dada, memberikan terapi inhalasi (nebulizer), melakukan suction/penghisapan lendir, memasang dan memonitor tranfusi darah, pemberian kemoterapi dan disferal, perawatan anak dengan kemoterapi
Mampu melakukan asuhan keperawatan pada anak dengan kejang demam, lympoma, OMA, masoiditis, retinoblastoma dan campak: pengkajian dengan praktika anamnesa, prosedur pemeriksaan fisik, prosedur persiapan pasien untuk pemeriksaan diagnostik/laborat
Mampu melakukan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan dan nyaman: melakukan water tepid sponge, pembersihan telinga bagian luar, melakukan pendampingan saat kejang, prinsip isolasi pada anak dengan campak, pembersihan serumen, pencegahan kejang, pemantauan kejag berulang dan reorientasi pasca kejang, melakukan teknik restrain pada anak, melakukan penatalaksanaan saat kejang pada anak, irigasi telinga, edukasi perawatan alat bantu
Mampu melakukan asuhan keperawatan neonatus esensial: mempertahankan status pernapasan pada bayi baru lahir, mempertahankan termoegulasi pada bayi, pencegahan infeksi pada bayi, mempertahankan kecukupan nutrisi pada bayi, cara mempertahankan status pernapasan pada bayi baru lahir, cara mempertahankan termoregulasi pada bayi dengan menggunakan inkubator, cara pencegahan infeksi pada bayi, cara mempertahankan kecukupan nutrisi pada bayi: konseling ASI, cara pemberian ASI, cara memerah dan menyimpan ASI, Edukasi promosi perkembangan bayi/anak
Mampu melakukan anamnesa pada bayi resiko tinggi, prosedur pemeriksaan fisik pada bayi resiko tinggi dengan menimbang BB, PB, LK, LLA, LD, mengukur balard score, mengukur derajat ikterus/jaundice
Mampu melakukan pemeriksaan diagnostik persiapan spesimen darah untuk pemeriksaan golongan darah, bilirubin, uji comb, rontgen thoraks, USG
Mampu melakukan asuhan keperawatan pada bayi risiko tinggi: pemberian minum melalui cawan pada bayi, edukasi pijat bayi, edukasi terapi skin to skin/metode kanguru, edukasi cara perawatan bayi di rumah, edukasi menyusui, perlekatan saat menyusui, pemberian MPASI, perawatan pemberian OGT dan feeding drip, perawatan bayi dalam inkubator, perawatan bayi dengan fototerapi.blue light
Mampu melakukan anamnesa pada bayi dan anak dengan gangguan eliminasi ANC, INC, PNC pola eliminasi fekal dan urine
Mampu melakukan pemeriksaan fisik rectal tuse, bising usus
Mampu melakukan pemeriksaan penunjang: barium enema, USG/rontgen abdomen
Mampu melakukan pencegahan aspirasi, pemberian nutrisi melalui dor/OGT/cawan, edukasi perawatan kateter urin, perawatan kateter urin, stoma, urostomy, irigasi kandung kemih dan stoma, pemberian obat sesuai program, persiapan pre operatif care dengan menyiapkan inform consent, perawatan pre dan pasca operasi dengan menyiapkan tempat tidur aether bed, anamnesa dan observasi sirkulasi, observasi perdarahan, pemeriksaan kesadaran, observasi bising usus, bimbing latihan naaps dalam, latihan ambulasi, edukasi perawatan stoma, irigasi urostomy
Laboratorium Keperawatan Keluarga merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan berbasis keluarga. Laboratorium ini dirancang sebagai lingkungan simulasi yang merepresentasikan kondisi kehidupan keluarga di masyarakat, sehingga mahasiswa dapat memahami konteks sosial, budaya, dan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan keluarga.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk melakukan pengkajian keluarga secara komprehensif, mengidentifikasi masalah kesehatan dalam keluarga, serta merencanakan dan melaksanakan intervensi keperawatan yang tepat berbasis kebutuhan keluarga. Pendekatan yang digunakan menekankan pada family-centered care dan community-based care, di mana keluarga dipandang sebagai satu kesatuan sistem yang saling mempengaruhi.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan Keluarga meliputi keterampilan dalam melakukan pengkajian keluarga, identifikasi faktor risiko kesehatan, edukasi kesehatan, promosi kesehatan, pencegahan penyakit, serta pengelolaan penyakit kronis dalam keluarga. Mahasiswa juga dilatih dalam komunikasi terapeutik, konseling kesehatan, serta pengambilan keputusan berbasis masalah keluarga melalui simulasi kasus dan role play.
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan berbagai media dan fasilitas pendukung, seperti ruang simulasi keluarga, alat peraga edukasi kesehatan, media promosi kesehatan, serta perangkat pembelajaran untuk simulasi kunjungan rumah (home visit). Fasilitas ini memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan secara kontekstual sesuai dengan kondisi nyata di masyarakat.
Laboratorium Keperawatan Keluarga juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek kemampuan berpikir kritis, komunikasi interpersonal, promosi kesehatan, serta sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan yang holistik dan berkesinambungan. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi instruktur, penilaian keterampilan, serta ujian praktik seperti OSCE berbasis komunitas untuk memastikan kompetensi mahasiswa tercapai secara optimal.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Keluarga menjadi wahana penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan agar mampu memberikan asuhan keperawatan berbasis keluarga secara komprehensif, promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif di berbagai tatanan pelayanan kesehatan.
Adapun target kompetensi yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
Mampu melakukan pengkajian keluarga, menentukan diagnosa keperawatan keluarga, dan menentukan prioritas masalah keperawatan dengan skoring
Mampu memberikan promosi dukungan keluarga pada pasien dengan penyakit tidak menular (Hipertensi, Asam Urat, Diabetes)
Laboratorium Keperawatan Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan salah satu unit penunjang pembelajaran praktik dalam Program Studi Keperawatan yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit tidak menular. Laboratorium ini dirancang sebagai lingkungan simulasi yang menyerupai pelayanan kesehatan di fasilitas primer maupun lanjutan, sehingga mahasiswa dapat berlatih secara optimal sebelum memasuki praktik klinik di masyarakat maupun rumah sakit.
Laboratorium ini memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam menangani berbagai penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama, seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan penyakit paru kronis. Mahasiswa dilatih untuk memahami faktor risiko, proses penyakit, serta pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam pengelolaan PTM secara berkesinambungan.
Kegiatan pembelajaran di Laboratorium Keperawatan PTM meliputi keterampilan dalam melakukan skrining faktor risiko (tekanan darah, kadar gula darah, indeks massa tubuh), edukasi kesehatan, manajemen penyakit kronis, monitoring kondisi pasien, serta pemberian asuhan keperawatan berbasis evidence. Mahasiswa juga dilatih dalam komunikasi terapeutik, konseling kesehatan, serta pemberdayaan pasien dan keluarga untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan dan perubahan gaya hidup.
Sebagai sarana pembelajaran, laboratorium ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan peralatan yang mendukung, seperti alat ukur tekanan darah, glukometer, timbangan dan pengukur tinggi badan, alat monitoring sederhana, media edukasi kesehatan, serta perangkat simulasi kasus penyakit kronis. Lingkungan laboratorium juga mendukung pembelajaran berbasis komunitas dan promotif-preventif yang menjadi ciri utama penanganan PTM.
Laboratorium Keperawatan PTM juga berperan dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan, khususnya pada aspek keterampilan klinis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi terapeutik, serta sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan yang berfokus pada pencegahan dan pengendalian penyakit kronis. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi instruktur, penilaian keterampilan, serta ujian praktik seperti OSCE untuk memastikan kompetensi mahasiswa tercapai secara optimal.
Dengan demikian, Laboratorium Keperawatan Penyakit Tidak Menular menjadi wahana penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan agar mampu memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, berkesinambungan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis.
Mampu mendemonstrasikan rehabilitasi fisik pada pasien pasca stroke
Mampu menganalisis karakteristik luka diabetik (diabetic foot ulcer)
Mampu melakukan perawatan luka modern pada pasien DM
Mampu menjelaskan konsep perawatan penyakit jantung koroner dan pencegahannya
Mampu menerapkan asuhan keperawatan paliatif dan manajemen nyeri pada pasien kanker