Oleh: Elfans Bawalsyah SA
“Banyak pendidikan saat ini yang berjalan tidak efektif. Kita terlalu sering memberikan generasi muda rangkaian bunga, dimana kita seharusnya mengajarkan mereka bagaimana menumbuhkan tanaman mereka sendiri”
[John W. Gardner]
Menyiapkan alumni sekolah yang unggul adalah cita –cita setiap kepala sekolah, guru, dan orang tua, termasuk Anda. Sekarang, Anda dikepung oleh dua raksasa besar yang siap membumi hanguskan masa depan yang cerah bagi anak didik Anda. Dua raksasa itu adalah disrupsi teknologi & pandemi Covid 19.
Kita patut bersyukur, kemajuan teknologi membawa banyak kemudahan dalam kehidupan kita. Namun, perkembangan teknologi juga membawa dampak negatif, ketika kita tidak siap beradaptasi, dengan sendirinya kita akan punah. Tak berkembang sama sekali. Inilah yang disebut dengan era disrupsi teknologi. Contohnya seperti yang dialami produsen HP Nokia, Sonny Erickson, Kodak, & Yahoo adalah sederet institusi yang menolak & menyangkal perubahan, pada akhirnya mereka bangkrut & ditinggalkan.
Hal yang sama juga bisa terjadi pada anak didik kita. Mereka yang baru memulai hidup pasca sekolah, sementara tidak sadar cara menyiapkan diri dengan baik, pada akhirnya akan terbawa arus & tergilas zaman. Hal terburuk yang terjadi, mereka tidak mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan, lalu memilih jalur pendidikan & karir yang tidak lagi prospek, sehingga besar kemungkinan mereka akan jadi pengangguran terdidik di masa depan. Tentu Anda tidak ingin hal ini terjadi pada anak didik Anda bukan ? Kemandirian mereka untuk menghadapi tantangan ini perlu ditumbuhkan. Anda harus memberi mereka visi yang jelas !
Begitu juga ancaman yang ditimbulkan pandemi Covid 19. Banyak jenis kompetensi, pendidikan, & karir yang tutup usia karena tak bisa beradaptasi dengan protokol kesehatan yang ketat. Bidang pendidikan konvensional (sekolah & kampus tatap muka), pariwisata, hotel & restoran adalah salah satu bidang yang terpukul. Walaupun jargon era new normal sudah dikumandangkan, tetap saja beberapa bidang tersebut terseok – seok.
Salah satu bidang kompetensi, pendidikan, & karir yang bisa bertahan hidup menghadapi dua raksasa tadi adalah mereka yang bisa memaksimalkan internet & pendekatan digital sebagai basis pelayanan. Ada beberapa strategi yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi dua raksasa tersebut. Pertama, Anda bisa menjadikan kompetensi penguasaan teknologi digital sebagai basis kegiatan belajar – mengajar. Penggunaan Google Classroom, Google Form, Google Meet, Zoom meeting, WA, Telegram, dan platform digital gratis lainnya, bisa menjadi solusi untuk menjaga kualitas layanan tinggi walau durasi pertemuan tatap muka dibatasi. Tentu, Anda harus menyiapkan anggaran untuk melatih tenaga pendidik, agar bisa mengoperasikan aplikasi tersebut. Training edukasi digital akan menjadi arah baru untuk sertifikasi tenaga pendidik dimasa depan.
Kedua, Anda bisa menjadikan kompetensi kreatif & digital sebagai penopang pembelajaran & memangkas kompetensi yang tidak dibutuhkan. Contoh: mendirikan ekstrakulikuler fotografi, videografi, bahasa pemograman komputer, kelas desain coreldraw & photoshop, kelas public speaking, kelas youtuber, dll. Lalu, meminta anak didik mengimplementasikan pengetahuan tersebut untuk menyelesaian tugas/PR/ujian yang diberikan oleh Guru mata pelajaran. Tentu saja, model tugas/PR/ujian tak lagi menggunakan cara biasa. Harapannya, tak hanya kompetensi dasar & inti mata pelajaran tercapai, kompetensi kreatif & digital mereka pun ikut berkembang, sehingga mereka siap berkiprah dimanapun dengan modal dasar tersebut.
Ketiga, Anda harus memberikan supervisi akademis dan non-akademis yang fokus dan terarah. Kita sadari, tak semua pengetahuan di setiap mata pelajaran yang benar-benar mereka butuhkan untuk melanjutkan pendidikan & karir di jenjang yang lebih tinggi. Misalkan, untuk anak didik yang ingin menjadi dokter, mereka harus memiliki pencapaian besar dibidang mata pelajaran kimia & biologi untuk lulus lewat jalur SNMPTN atau jalur talent scouting yang diadakan kampus-kampus besar. Tak hanya pencapaian nilai rapor, mereka harus didorong membangun portofolio yang baik seperti menjadi juara olimpiade/kejuaraan akademik mata pelajaran kimia & biologi atau ikut aktif menjadi duta corona, duta HIV, duta GENRE, dan duta bidang kesehatan lainnya. Cara yang sama juga berlaku untuk mereka yang ingin jadi teknisi, manajer, seniman, dll.
Namun, apakah semudah itu memberikan setiap pelajar arahan tersebut ? Anda perlu sebuah sistem bimbingan informasi pendidikan & karir yang efektif & efisien untuk mengawal visi Anda. Lalu bagaimana caranya ?
Salah satu caranya adalah menggunakan Tes Bakat sebagai panduan umum bagi pelajar. Hanya saja, Anda perlu selektif memilih tes bakat sesuai untuk anak didik Anda. Tentu Anda tidak mau menggunakan layanan tes bakat yang terlanjur mahal, namun tidak aplikatif bukan ?
Anda tentu butuh tes bakat yang mudah dipahami, lebih praktis, & harganya sangat terjangkau. Hasil tesnya mampu memetakan karakter pelajar berdasarkan kondisi terkini, sehingga pelajar tahu dari mana harus memulai untuk mewujudkan cita-citanya. Ada juga di dalamnya nilai akademis yang dibutuhkan untuk lulus seleksi SNMPTN & SBMPTN. Tak Cuma itu, dilengkapi dengan klaster PTN yang paling mungkin dipilih, berdasarkan kecocokan dengan kepribadian standar MBTI & standar Permenristek Dikti No. 15 tahun 2017, sehingga memudahkan sekolah meminimalisir pelajar yang memilih jurusan yang sama, agar memperbesar peluang lulus lewat jalur SNMPTN, SBMPTN, & Sekolah Kedinasan. Jika ini yang Anda butuhkan ? Anda bisa menyarankan pelajar Anda mengikuti pemetaan Self Passion Journey. Produk pemetaan ini didedikasikan untuk membantu pelajar merencanakan pendidikan dan karirnya sejak dini. Sangat sesuai untuk mereka dalam menghadapi perubahan masyarakat dunia di era 5.0.
Oleh: Elfans Bawalsyah SA
"Anak saya tidak mau mengerjakan tugas dari sekolah." Kata orang tua A.
"Saya banyak pekerjaan di kantor, pulang ke rumah, anak saya menyodorkan buku PRnya. Sekolah tetap bayar, tapi belajar tetap orang tua yang tanggung jawab, bagaimana ini ?” Kata orang tua B ikut mengompori.
“Belajar daring bikin pusing. Paket 17 GB untuk sebulan bisa ludes dalam 5 hari untuk belajar anak. Mana jualan susah lagi”, kata orang tua C mengeluh
"Saya mendapat banyak keluhan dari orang tua murid. Padahal itulah beban sehari-hari kami di sekolah ketika mendidik anak mereka, mudah-mudahan mereka bisa mulai menghargai profesi guru", kata guru D menimpali.
"Sudahlah harus mengerjakan tugas sebagai guru, saya masih perlu mendampingi anak saya belajar di rumah.", Kata guru E tak kalah sengit
"Banyak banget sih tugasnya! Aku tidak mau!!!", Teriak si anak
Inilah sekelumit narasi yang beredar saat ini. Saling menyalahkan tentu tak akan menyelesaikan masalah apapun. Apakah memaksa pemerintah membuka sekolah di masa pandemi adalah langkah yang bijak, ditengah kasus positif menanjak ? Contoh di Pariaman sana. Baru beberapa hari kebijakan sekolah tatap muka akan digelar, beberapa guru dan staf sekolah langsung positif Covid-19. Daerah yang awalnya hijau, berubah status menjadi kuning. Di Kalimantan Barat juga demikian. Sekolah jadi klaster baru penularan Covid-19. Lalu apa solusinya ?
Beberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman tulisan di sebuah grup WA. Ada warga di Jawa Barat sana yang bisa mensinergikan potensi RT nya. Semua warga urunan. Fasilitas Wifi dibuat jadi fasilitas publik. Anak-anak bisa mengerjakan tugas di spot Wifi. Password Wifi dirubah setiap hari, agar tidak disalah gunakan untuk bermain game. Tempat belajarnya pun representatif. Peserta belajar dibatasi hanya se RT. Remaja, pemuda, & mahasiswa di RT itu diberdayakan menjadi pengajar pendamping membantu adek – adek tetangganya. Beberapa unit komputer disediakan untuk membantu anak yang tidak punya smartphone untuk belajar. Benar-benar gotong-royong yang epik ! Peran yang harus bisa dimainkan kongsi sosial yang ada di setiap RT. Lalu, kenapa tidak kita tiru dan duplikasi saja ide ini di Sumbar ?
Jika dikaji, ternyata pelaksanaan di lapangan tak semudah itu. Tidak semua RT punya manajerial yang baik untuk melaksanakan program. Tidak semua RT dihuni oleh kepala keluarga kelas menengah ke atas, sehingga bisa membiayai program secara simultan. Ada kesenjangan ekonomi antar tempat domisili yang perlu dijembatani. Begitupun SDM pengajar pendamping, tidak semua RT punya SDM yang bisa diberdayakan.
Saya mencoba diskusi dengan teman yang juga seorang guru. Di komplek beliau tinggal, hampir rata keluhan orang tua terhadap pembelajaran jarak jauh anak-anaknya. Walau seadanya, beliau & istrinya berinisiatif menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar anak-anak tetangga. Lalu beliau berseloroh, kita perlu gerakkan kongsi sosial di RT ini menjadi gerakan kongsi belajar. Otak saya berpikir keras, bagaimana menjawab semua kebutuhan belajar tersebut beserta pernak-pernik permasalahannya.
Eureka ! alhamdulillah, diskusi itu membuka pikiran kami. Sebenarnya, kita bisa menduplikasi ide belajar di lingkup RT di daerah Jabar tersebut. Di luar sana sebenarnya banyak orang – orang baik yang bisa membantu merealisasikan ide itu. Ada yang mungkin punya Wifi di rumahnya yang bisa disumbangkan untuk kegiatan belajar. Bahkan, mungkin rumahnya bisa dipakai untuk kegiatan belajar se RT. Ada yang mungkin berlebih secara finansial, tapi di RT nya itu mayoritas keluarga yang mampu. Mereka bisa jadi donatur untuk pengadaan Wifi, peralatan belajar, dll. Ada juga yang cuma punya tenaga & keterampilan mengajar, maka orang – orang ini bisa sedekah tenaga menjadi pengajar pendamping. Jika semua potensi ini bisa dihubungkan, maka jadilah gerakan kongsi belajar ini.
Jika gerakan ini berjalan efektif, beban biaya kuota internet untuk belajar bisa teratasi. Beban pikiran dan perasaan orang tua karena terkendala dalam mengajar anak jga bisa diatasi. Barangkali jika gerakan ini didukung dinas pendidikan, maka guru tak perlu lagi pergi absen ke sekolah untuk mengajar bangku kosong. Mereka cukup datang ke titik-titik pertemuan kongsi belajar, lalu menjadi relawan tenaga pengajar di RT nya. Hemat biaya, efektif dan efisien untuk waktu & tenaga. Pelaporannya pun bisa dibuat realtime memanfaatkan fitur google for education serta google map. Jadi masyarakat bisa melihat sendiri dari rumah, dimana saja titik – titik pembelajaran itu di buat dan seperti apa perkembangan terkini di tiap titik pertemuan. Insya Alloh, gerakan sosiopreneur ini akan menjadi solusi alternatif pembelajaran anak di masa pandemi.
Lalu, saya dan teman-teman inisiator mencoba bergerak cepat. Menggali segala kemungkinan yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya. Kami butuh keluasan sudut pandang untuk itu. Kami butuh masukan, kritikan & saran dari masyarakat yang lebih luas. Oleh sebab itu, kami adakan survei untuk membuka kemungkinan ini.
Kemudian, muncul pertanyaan dari orang-orang peragu. Apa untungnya mengerjakan program ini ? Apa tidak takut rugi ?, apalagi kondisi ekonomi serba sulit. Saya percaya dengan sebuah jawaban di dalam Al Qur’an, surat Ali Imran ayat 133-134: _” "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang -orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh mencintai mereka yang berbuat kebaikan”_ .
Tuhan menguji kita dengan pandemi Covid-19 bukan untuk melihat seberapa keras kita mengeluh dan bertahan sendirian. Namun, untuk melihat seberapa bersegera kita bertahan bersama-sama dalam kebaikan. Mempertahankan entitas & identitas kita sebagai manusia sekaligus hamba. Baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Semua orang mungkin bisa menjadi baik ketika kondisi lapang, lalu apakah kita masih bisa mempertahankan kebaikan itu ketika kondisi sulit saat ini? Jika iya, itulah kualitas ketakwaan kita.
Padang, 17 Agustus tahun 2020 menjadi moment spesial bagi warga RT 04/RW 02 Kel. Kurao Pagang, RT 07/RW 02. AHA-eDuku mengadakan Soft Launching Gerakan Kongsi Belajar sebagai hadiah untuk warga dalam rangka mensukseskan program peringatan hari HUT RI ke 75. Hadiah spesial untuk warga di hari yg spesial ini mengusung tema “Merdeka Belajar di Masa Pandemi”.
Program ini mendapat sambutan luar biasa dari orang tua dan anak- anak yg berada di Jl. Saiyo IV tersebut. Mereka akan mendapat pendampingan dan konsultasi dalam membimbing anak belajar dari rumah. ”Bagaimana tidak, siswa dan orang tua akan sangat terbantu dalam menyelesaikan tugas belajar daring yg belum tentu kapan akan berakhir”, Kata salah seorang warga. Anak – anak pun bisa belajar dengan senang hati dan tanpa tekanan.
Hj. Daslinar, Komisaris AHA-eDuku pada kesempatan itu menyampaikan. “Para siswa yang sudah sangat merindukan suasana belajar di sekolah, merasa bahagia karena bisa belajar bersama dengan tetangga, sesama teman bermain, berasal dari sekolah yang berbeda”.
“Pada program ini, anak – anak akan dibimbing untuk saling asah, saling asih dan saling asuh, sehingga akan tercipta kedamaian dan kerukunan diantara mereka”, tukuk Hj. Daslinar yang juga Ketua Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak FORKOMWIL PMP3A Sumbar.
Arnaldy, Guru SMAN 13 yang juga Inisiator gerakan ini menyampaikan pada kesempatan terpisah. “Program ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap beban yang dirasakan warga. Pendampingan belajar ini adalah bentuk suplemen tambahan untuk membantu anak mencerna pembelajaran jarak jauh yang memunculkan kesulitan tersendiri bagi anak”.
Hal ini juga diaminkan oleh Elfans Bawalsyah, CEO AHA-eDuku. “Sesuai rencana, ke depan program Gerakan Kongsi Belajar dari Warga untuk Warga ini, akan dikembangkan ke seluruh wilayah di Sumatera Barat. Ada 9025 titik lokasi kongsi belajar yang akan kita bentuk. Saat ini sudah terbentuk 3 titik lokasi, diantaranya Chapter RT 02/RW 10 Komplek Jihad Batang Kabung, Chapter Masjid Darussalam Mata Air-Padang Selatan, & Chapter RT 07/RW 02 Kurao Pagang”.
“Kami berkomitmen menyediakan fasilitas Wifi gratis bagi siswa untuk mengerjakan tugas daring. Selain itu juga ada tenaga pengajar direkrut dari warga sekitar, minimal berpendidikan SLTA dan siap mengabdi berbagi ilmu untuk masyarakat. Pemasangan Wifi dan operasionalnya, kita mendapat suport dari para dermawan. Dalam pelaksaannya, kita tetap memperhatikan protokol kesehatan di era new normal seperti: cuci tangan, pakai masker, dll”. Terangnya.
Gerakan ini diharapkan mampu menjadi jawaban kegundahan orang tua dan siswa selama masa pembelajaran jarak jauh. Gerakan ini diharapkan dapat menghidupkan semangat swadaya dan gotong royong warga. Inilah alasan, kenapa gerakan ini dinamakan Gerakan Kongsi Belajar dengan semboyan dari warga untuk warga.
_____________________
GERAKAN KONGSI BELAJAR
dari warga untuk warga
IG : @gerakan.kongsibelajar
_____________________
#DirgahayuRepublikIndonesia
#MerdekaBelajar
#DukungGerakanKongsiBelajar