Upaya Penyelamatan Sungai Pedes dari Longsor: Kita Harus Kompak
Desa Tonjong, yang dikelilingi oleh aliran sungai, sejak lama menghadapi ancaman longsor akibat banjir. Setiap musim hujan, debit air yang meningkat sering kali menggerus tebing dan tanggul, sehingga mengancam pemukiman warga. Masalah ini menjadi perhatian serius bagi Agus Supriyanto, yang telah lama berjuang untuk mencari solusi dalam mencegah bencana ini. Selain melakukan langkah nyata melalui penanaman pohon sebagai penahan tanah, ia juga aktif mengusulkan dan menghubungi dinas terkait agar dilakukan penanganan yang lebih sistematis agar arus sungai tidak semakin mengarah ke pemukiman warga.
Pada tahun 2012, Agus Supriyanto terlibat langsung dalam upaya mencari solusi dengan menjadi delegasi Kecamatan Tonjong dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Brebes. Dalam forum itu, ia mengusulkan Normalisasi Kali Pedes, sebuah langkah penting untuk mengendalikan arus sungai agar tidak terus mengikis tebing dan membahayakan warga. Namun, hingga kini, usulan tersebut belum terealisasi, membuat warga harus terus berhadapan dengan risiko longsor setiap tahunnya.
Ketika ancaman longsor kembali terjadi pada tahun 2019 dan 2021, Agus Supriyanto tidak tinggal diam. Dengan segala upaya, ia berhasil mendatangkan excavator untuk melakukan pengalihan arus Kali Pedes agar tidak semakin merusak tanggul dan mendekati rumah warga. Langkah ini terbukti efektif dalam jangka pendek, tetapi tidak bisa bertahan lama karena tanpa normalisasi yang menyeluruh, aliran sungai kembali mengancam wilayah pemukiman.
Pada Lebaran tahun 2025, peringatan bencana kembali terjadi. Arus sungai yang deras telah menghantam tanggul yang selama ini bertahan dan mulai mengarah ke pemukiman lagi. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan bagi warga, terutama mereka yang rumahnya berada di daerah rawan longsor. Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin bencana yang lebih besar bisa terjadi.
Di tengah situasi yang semakin darurat ini, muncul inisiatif dari kelompok Praktisi Ekologi Indonesia Mandiri, yang berupaya untuk melakukan normalisasi sungai sebagai solusi jangka panjang. Mengetahui hal ini, Agus Supriyanto menyambut gembira dan menyatakan dukungannya terhadap segala upaya yang bertujuan menyelamatkan pemukiman warga. Ia percaya bahwa langkah ini harus segera dilakukan agar masalah longsor tidak terus berulang dari tahun ke tahun.
Namun, penyelamatan lingkungan bukan hanya tugas satu atau dua orang. Ini adalah tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, masyarakat Desa Tonjong harus bersatu dan kompak dalam menghadapi ancaman ini. Kesadaran kolektif sangat diperlukan agar upaya penyelamatan tidak hanya bergantung pada pemerintah atau pihak luar, tetapi juga menjadi gerakan bersama warga untuk menjaga tempat tinggal mereka sendiri.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk ikut berkontribusi. Mulai dari melakukan penghijauan di sekitar tebing sungai, mengurangi aktivitas yang dapat mempercepat erosi, hingga turut serta dalam gotong royong untuk memperkuat tanggul secara mandiri. Selain itu, warga juga harus terus mendorong pemerintah agar segera merealisasikan proyek normalisasi sungai yang sudah lama diajukan.
Agus Supriyanto percaya bahwa dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, Desa Tonjong bisa menghadapi tantangan ini. Jika semua pihak mau bergerak bersama, maka bencana longsor bisa dicegah, dan pemukiman warga bisa lebih aman di masa depan.
Mari bersama-sama menjaga lingkungan, memperjuangkan normalisasi sungai, dan menyelamatkan desa dari ancaman longsor. Jika kita bersatu, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Ini bukan hanya perjuangan satu orang, tapi perjuangan kita semua!